Selasa, 15 November 2011

Sabtu, 10 April 2010

EROTIC STORY COLLECTION 1

Dua mingguan setelah peristiwa 'Akibat Main Mobil Goyang' aku sedang makan di kantin mahasiswa bersama Ratna. Kami ngerumpi sambil menunggu jam kuliah berikutnya, saat itu jam 12.00 jadi kantin sedang penuh-penuhnya. Waktu sedang larut dalam canda tawa, tiba-tiba pundakku ditepuk dari belakang dan orang itu langsung duduk di sebelah kiriku.

"Hallo girls, gabung yah, penuh nih!" sapa orang itu yang ternyata si Dimas, salah satu playboy kampusku yang dua minggu lalu terlibat 'bercinta' denganku (baca Akibat Main Mobil Goyang).
"Penuh apa alasan buat bisa deketin kita, heh?" goda Ratna padanya.
"Iya nih, dasar, itu tuh disana aja kan ada yang kosong, hus.. hus..!!" kataku dengan nada bercanda.
"Maunya sih.. cuma kalau saya disana takutnya ada yang merhatiin saya, jadi mendingan saya deketin sekalian" kelakarnya dengan gaya khas seorang playboy.
"Gila nggak tahu malu amat, jijay loe!" sambil kucubit lengannya.

Kami bertiga menikmati makan dan obrolan kami semakin seru dengan datangnya pemuda ini. Harus kuakui Dimas memang pandai berkomunikasi dengan wanita dan menarik perhatian mereka. Dalam empat sekawan geng-ku saja dia sudah pernah menikmati petualangan sex dengan tiga diantaranya (termasuk aku), tinggal si Indah yang belum dia rasakan.
"Kuliah jam berapa lagi nih kalian?" tanyanya
"Saya sih masih lama, jam tiga nanti, pulang tanggung" jawabku.
"Kalau saya sih sebentar lagi jam satu masuk, BT deh kuliahnya Bu Dinah yang killer itu" jawab Ratna sambil mengelap mulutnya dengan tisu.
"Halo Ci.. hai Nana (Ratna)!" sapa Indah yang tiba-tiba nongol dari keramaian orang lalu duduk di sebelah Ratna.
Hari itu Indah tampil dengan penampilan barunya yaitu rambutnya yang panjang itu dicat coklat sehingga nampak seperti cewek indo. Dia terlihat begitu menawan dengan baju pink yang bahunya terbuka dipadu celana panjang putih.

Kuperkenalkan Dimas pada Indah, berbeda dengan kami bertiga yang dari fakultas yang sama, Sastra Inggris, Indah berasal dari Fakultas Ekonomi sehingga dia belum mengenal Dimas. Begitu kenal dengan Indah, Dimas langsung beraksi dengan kata-kata dan pujian gombalnya. Dengan sifat Indah yang gaul itu mereka cepat akrab dan omongannya nyambung.
"Dasar aligator darat," begitu gumamku dalam hati sambil menyedot minumanku.
Tak lama kemudian HP Ratna berdering lalu dia pamitan karena ada janji mau mengerjakan tugas kelompok dengan temannya di perpustakaan. Jadi sekarang tinggallah kami bertiga.
"Ngapain yah enaknya sambil nunggu, bosen kan disini terus?" kata Indah setelah menghabiskan kentang goreng dan minumnya. Ternyata dia sedang menunggu kuliah jam tiga juga.
"Ke kost saya gimana? Saya sih sudah beres nggak ada apa-apa lagi," usul Dimas.
Kami pun mengiyakan daripada menunggu dua jam lebih di kampus, di kostnya kan banyak film jadi bisa nonton dulu. Kami pun berjalan ke gerbang samping yang menuju ke kostnya setelah membayar makan.

Hanya dalam lima menit kami sudah tiba di tujuan. Kostnya cukup besar dan bagus karena termasuk kost yang mahal di daerah sini, terdiri dari dua tingkat dengan kamar mandi di kamar masing-masing. Penghuninya campur pria-wanita, tapi menurut Dimas lebih dari setengahnya wanita, makannya dia betah di sini.
"Welcome to my room, sori yah rada berantakan," dia membukakan pintu dan mempersilahkan kami masuk ke kamarnya di tingkat dua.
Ini bukan pertama kalinya aku ke sini, aku bahkan pernah 'bercinta' disini saat one night stand dengannya. Pada temboknya terpampang beberapa poster pemain sepak bola, juga ada sebuah poster anime Kenshin. Foto pacarnya yang kuliah di luar negeri dipajang diatas meja belajarnya yang sedikit acak-acakan. Kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati snack hingga akhirnya obrolan kami mulai menjurus ke masalah seks. Dimas tanpa basa-basi menawarkan nonton film bokep koleksinya, dipilihnya salah satu vCD bokep Jepang favoritnya. Aku tidak ingat judulnya, yang pasti adegannya membuatku merinding. Kami bertiga hening menatapi layar komputer seakan terhanyut dalam adegan yang pemerkosaan masal seorang wanita oleh beberapa pria, sperma pria-pria itu berhamburan membasahi si wanita.

Darahku serasa memanas dan selangkanganku mulai basah. Indah di sebelahku juga mulai gelisah, dia terlihat menggesek-gesekkan kedua pahanya. Dan, si Dimas.. oh dia meremas-remas tangan Indah, dia juga mulai berani mengelus lengannya. Melihat reaksi Indah yang malu-malu mau dan sudah terangsang berat, Dimas makin berani mendekatkan mulutnya ke pundak Indah yang terbuka. Indah menggelinjang kecil merasakan hembusan nafas Dimas pada leher dan pundaknya. Karena sudah merasa horny, ditambah lagi Dimas dan Indah mulai beraksi, akupun tidak malu-malu lagi mengekspresikan nafsuku pada Indah yang duduk paling dekat denganku. Tanganku merayap lewat bagian bawah bajunya dan terus menyelinap ke balik bra-nya. Aku dapat merasakan putingnya makin mengeras ketika kumain-mainkan dengan jariku. Mulutku saling berpagutan dengannya, lidah kami saling beradu dan bertukar ludah. Sementara di sebelah sana, Dimas mulai menjilati leher dan pundaknya, disibakkannya rambut panjang itu lalu dihirupnya wangi tubuhnya sebelum cupangannya berlanjut ke leher dan belakang telinganya.

Indah mendesah tertahan menikmati perlakuan ini, tangannya mulai bergerak meraih penis Dimas yang masih tertutup celana jeansnya, diraba-rabanya benda yang sudah mengeras itu dari luar. Ciuman Dimas menurun lagi ke bahu Indah sambil menurunkan pakaian dengan bahu terbuka itu secara perlahan-lahan, suatu cara profesional dan erotis dalam menelanjangi seorang wanita. Aku juga ikut menurunkan pakaian Indah dari sebelah kiri sehingga pakaian itu sekarang menggantung di perutnya. Dengan cekatan Dimas menurunkan cup BH kanannya dan langsung melumatnya dengan rakus. Indah melenguh merasakan payudaranya dihisap kuat oleh Dimas. Aku sekarang melepaskan pakaianku sendiri hingga bugil lalu mendekati Dimas yang sudah merebahkan tubuh Indah di ranjangnya. Kupeluk pinggangnya dari belakang dan melepaskan sabuknya disusul resleting celananya. Dimas berhenti sejenak untuk membiarkanku melucuti dirinya, disaat yang sama Indah juga melepasi pakaiannya. Kini kami bertiga sudah telanjang bulat. Kami menyuruh Dimas rebahan di ranjang agar bisa menservis penisnya. Penis yang sudah mengeras kukocok dan kujilati, lalu kumasukkan ke mulutku.

Bersama dengan Indah, kami bergantian melayani 'adik' Dimas dengan jilatan dan emutan. Indah melakukan aktivitasnya dengan terngkurap diatas tubuh Dimas dengan kata lain mereka dalam posisi 69, jadi Dimas bisa menikmati vagina Indah sementara kami berdua menikmati penisnya. Dimas sangat menikmati vagina Indah, hal ini nampak dari cara dia menjilat dan menyedot liang itu, terkadang suara hisapannya terdengar jelas sehingga membuat Indah mengerang pendek. Beberapa menit kemudian Indah mengerang lebih panjang dan suara seruput Dimas terdengar lebih jelas, ternyata Indah sudah mencapai orgasme pertama. Dimas mengganti posisi, Indah disuruh telungkup di ranjang dan pantatnya diangkat menungging, Dimas sendiri mengambil posisi di belakangnya dan mengarahkan senjatanya ke vagina Indah. Indah merintih sambil meremas sprei menikmati penis Dimas melesak masuk membelah bibir bawahnya. Ketika penis itu masuk sebagian, Dimas menghentakkan pinggulnya dengan bertenaga sehingga penisnya amblas seluruhnya dalam vagina Indah. Tubuhnya tersentak pelan dengan mata membelalak diikuti dengan erangan nikmatnya.

Dimas memompa Indah dengan gerakan-gerakan yang mantap dan erotis sehingga Indah tidak sanggup berkata apa-apa selain mengap-mengap keenakan. Kedua tangannya menjelajahi payudara Indah yang berukuran sedang tapi padat, kedua putingnya dipencet-pencet atau dipelintir. Aku sendiri yang tidak tahan hanya menonton mengambil posisi berselonjor di depan Indah, kedua pahaku kubuka lebar dan kudekatkan ke wajah Indah.
"Ndah.. jilatin punya saya yah.. nggak tahan nih!"
Indah mulai menjilati paha dan vaginaku, lidahnya menari-nari menggelikitik klitorisku yang sudah menegang sementara tangannya meraih payudaraku dan mencubit-cubit putingku. Lidah Indah memberi rangsangan tak terkira pada kemaluanku sehingga aku tidak tahan untuk tak mendesah. Desahan kami bertiga pun terdengar memenuhi kamar ini. Kami berganti posisi menjadi woman on top, Indah bergoyang di atas penis Dimas dan aku naik ke wajah Dimas berhadapan dengan Indah, kini vaginaku dilayani oleh Dimas dengan lidahnya.

Sambil terus bergoyang aku berciuman dengan Indah, aku kembali menikmati lidah sesama jenisku, kami bercipokan sambil mengeluarkan desahan-desahan tertahan. Ciuman Indah terus turun ke leherku hingga berhenti di payudara kananku, sebuah gigitan kecil disertai hisapan pada daerah itu membuatku menggeliat, disusul tangan Dimas menjulur dari bawah mencaplok yang kiri. Ooohh.. sepertinya bagian sensitifku diserang semua, lidah Dimas yang dikeraskan itu melesak masuk lebih dalam dan bergoyang menggelikitik dinding kemaluanku, tangannya yang satu meremas dan sesekali menepuk pantatku yang sekal. Aku semakin erat mendekap Indah sambil satu tanganku meremas payudaranya. Tak lama kemudian aku merasa sesuatu yang mendesak keluar dari bawah sana, ahh.. aku tak sanggup lagi menahan cairan cinta yang mulai membasahi vaginaku. Hal yang sama juga dialami Indah tak lama kemudian, dia melepas emutannya pada putingku, nafasnya makin memburu dan dia menaik-turunkan tubuhnya dengan lebih cepat.

Tubuh kami berdua mengejang hebat dan erangan klimaks keluar dari mulut kami. Dimas menusuk-nusukkan jarinya ke vaginaku membuat cairan itu makin membanjir dan tubuhku makin tak terkendali, aku mendesah panjang tanpa mempedulikan rasa sakit dari kuku Indah yang mencakar lenganku. Cairanku diseruput Dimas dengan rakusnya, vagina Indah juga mengeluarkan banyak cairan sehingga menimbulkan bunyi kecipak air. Goyangan kami mulai mereda, kami berpelukan menikmati sisa-sisa orgasme barusan, kami menghimpun nafas kami yang kacau balau, keringat seperti embun membasahi dahi dan tubuh kami. Akhirnya kujatuhkan diriku ke samping dan Indah jatuh di dekapan Dimas. Dimas menoleh ke samping bertatapan muka denganku lalu mengembangkan senyum, nampak mulutnya masih basah oleh cairan cintaku. Hebat juga dia, bisa membuat dua wanita klimaks dalam waktu hampir bersamaan, begitu pujiku dalam hati.

"Gimana girls, ready for next round? Saya belum keluar nih," katanya sambil mengelus rambut panjang Indah.
"Hhh.. kamu duaan aja dulu deh, saya kumpul tenaga dulu. Heh sialan kamu Ndah, pakai cakar-cakaran segala sakit tahu, nih!" omelku memperlihatkan bekas cakaran di lengan kiriku yang sedikit berdarah sambil mencubit lengannya.
"Hihihi.. sory dong Ci, tadi kan kita lagi lupa daratan lagi, yang penting kan enjoy juga," jawabnya santai sambil tersenyum kecil.
Sebentar kemudian Dimas sudah membalikkan tubuh Indah menjadi telentang dibawahnya, lalu kembali penisnya dimasukkan ke vagina Indah diiringi desahannya. Ranjang ini sudah mulai bergetar lagi oleh goyangan tubuh mereka. Sambil menggenjot Dimas meraih payudaraku dan memencetnya lembut sebagai sinyal mengajakku segera bergabung.
"Ntar yah, saya mau minum dulu nih, haus," kataku sambil bangkit berdiri dan mengambil sebuah gelas, aku membuka kran dispenser yang terletak di dekat jendela untuk mengisi air.

Ketika sedang meneguk air tiba-tiba aku mendengar suara kresek-kresek di pintu. Kutajamkan pendengaranku dan melihat ada seperti bayangan di celah bawah pintu, pasti seseorang mengintip kami pikirku. Aku tadinya bermaksud memberitahu mereka, tapi sebaiknya kuselidiki sendiri karena mereka sedang sibuk berpacu dengan nafsu sampai tidak begitu menghiraukanku. Kusingkap sedikit tirai jendela untuk melihat siapa di luar sana, ada seseorang pria sedang menempelkan telinganya pada pintu, dia juga berusaha mencari-cari lubang untuk mengintip, tapi wajahnya tidak jelas. Dalam pikiranku terbesit sebaiknya kuajak saja dia untuk meramaikan, mumpung aku dari tadi belum dimasuki penis karena Dimas sedang asyik menggumuli Indah. Maka sebelumnya aku melihat dulu sekeliling apa ada orang lain lagi selain dia, letak kamar ini cukup strategis agak ujung dan jauh dari keramaian, setelah yakin tidak ada siapapun lagi selain pengintip ini kuberanikan diri membuka pintu mengejutkannya. Pelan-pelan gagang pintu kuputar dan.. hiya.. orang itu terdorong masuk karena sedang menyandarkan tubuhnya pada pintu, dengan cekatan pintu kembali kututup. Orang itu benar-benar terkejut, bingung, dan terangsang melihat sekelilingnya bugil dan ada yang bersenggama pula.

Dimas dan Indah yang sedang berasyik-masyuk kontan ikut terkejut, Indah menyambar guling untuk menutupi tubuhnya dan menjerit kecil. Belakangan aku tahu dia adalah kacung di kost ini, namanya Dadan, usianya masih 17 tahun, anaknya tinggi kurus dan berkulit sawo matang. Tadinya dia cuma mau mengambil barang di gudang yang kebetulan harus lewat kamar ini, ketika itulah dia mendengar suara-suara aneh dan terpancing untuk mendengar dan mengintipnya. Dia langsung tertunduk-tunduk minta maaf berkali-kali karena dimarahi Dimas yang merasa gusar diintip olehnya. Namun ketika Dimas merenggut kerah baju pemuda itu dan hendak memukulnya buru-buru aku mencegah dan menenangkan si Dimas yang bertemperamen tinggi.
"Ehh.. sudah-sudah, dia kan nggak sengaja tadi, kita juga yang salah terlalu keras suaranya.. sudah kamu sana aja terusin pestanya sama Indah, biar dia, saya yang urus, lagian di sini kurang cowoknya," bujukku mengedipkan sebelah mata pada Dimas.
Kuelus-elus dada Dimas dan berusaha menenangkannya, setelah kubujuk-bujuk akhirnya dia mundur juga.
"Tenang Mas, kamu orang terusin aja, biar saya urus yang ini"

Akupun tersenyum padanya mencoba mengajak bicara sambil memegangi kedua lengannya, kurasakan tubuhnya masih agak gemetar dan tertunduk, entah karena tegang, kaget, atau malu.
"Nama kamu Dadan ya?" tanyaku dengan lembut dan dijawab dengan anggukan kepalanya.
"kamu tadi sudah ngeliat apa aja Dan?" tanyaku lebih lanjut
"Belum liat apa-apa kok Non, sumpah.. saya cuma denger suara-suara terus saya cari tahu" jawabnya terbata-bata
"Terus kamu tahu apa yang kita kerjain barusan itu?" dijawab lagi dengan anggukan kepala.
"Kamu pernah ngerasain ngentot sebelumnya?"
"Nggak pernah Non, paling cuma liat di VCD sambil coli"
"Ya sudah Dan, berhubung kamu sudah disini gimana kalau Mbak ajarin kamu soal gituan," aku tersenyum lagi dan mengangkat wajahnya yang tertunduk, walaupun gugup tapi matanya terus ke arah tubuhku yang polos, sebentar-sebentar juga melihat ke arah Indah.

"Sini Mbak bukain bajunya, biar enakan, ayo.. jangan malu-malu disini semua bugil kok!" kulucuti pakaiannya tanpa menunggu responnya, dia masih malu-malu menutupi penisnya dengan tangan.
Kutepis tangannya dan kugenggam penis yang masih setengah tegang itu, aku berlutut di depannya dan mulai menjilati benda itu, kemasukkan bagian kepalanya ke mulutku dan kuemut pelan. Aku melirik ke atas melihat reaksi wajahnya dengan mata merem-melek dan menelan ludah memperhatikan aku mengoralnya. Makin kukocok benda itu terasa makin keras dan besar, memang nggak jumbo size sih, namanya juga ABG, tapi kerasnya lumayan.
"Hmmhh.. Mbak.. geli Mbak!" erangnya gemetaran.
"sudah jangan cerewet, dikasih enak gratisan malah bawel, nanti juga ketagihan kok" jawabku.

Tiba-tiba terdengarlah suara musik heavy metal mengalun di kamar ini, sambil terus menyepong kulirikkan bola mataku ke arah suara. Ternyata si Dimas menyalakan MP3 di komputernya dan menyetel volume suaranya untuk meredam suara kami. Kemudian mereka yang tadinya melongo memperhatikanku mengerjai anak muda sudah mulai lagi dengan kesibukan mereka. Kini Dimas menaikkan kedua tungkai Indah ke bahunya dan kembali melesakkan penisnya ke vaginanya. Setelah beberapa kumainkan dalam mulutku, penis itu mulai berkedut-kedut, pemiliknya juga mendesah makin tak karuan. Akupun semakin dalam menelan benda itu hingga menyentuh daging lunak di tenggorokanku.
"Mbak.. ohh.. enakk banget Mbak.. aahh!" desahnya panjang bersamaan dengan spermanya yang ngecret di dalam mulutku.
Pipiku sampai kempot mengisap dan menelan cairan itu dengan nikmat, tak setetes pun tertinggal. Kemudian akupun bangkit berdiri sambil tetap menggenggam penisnya yang masih ngaceng tapi agak berkurang tegangnya.

"Gimana Dan, pernah diginiin nggak sama cewek sebelumnya, rasanya gimana?" tanyaku dengan senyum nakal.
"Baru pertama kali Mbak.. he-eh emang enak banget," katanya masih dengan nafas terengah-engah.
"Ini baru pemanasan Dan, masih banyak yang lebih enak kok, yuk sini deh!" kataku seraya menaikkan pantat ke meja belajar dan mengangkangkan kedua belah paha mulusku.

Kubimbing penisnya ke arah vaginaku yang terkuak lebar, setelah tepat sasaran kusuruh dia menggerakkan pinggulnya ke depan. Bless.. terbenamlah penis itu ke dalamku diiringi desahan nikmat kami. Tanpa kuajari lagi dia mulai menggerak-gerakkan pinggulnya maju-mundur, sodokannya walaupun terasa makin mantap tapi rasanya masih ada yang kurang yaitu dia tidak memberi rangsangan pada bagian sensitifku lainnya, maklumlah namanya juga perjaka, masih amatiran. Aku harus terus berinisiatif mengajarinya, maka kutarik kepalanya mendekati payudaraku yang membusung, kusuruh dia mengeyotnya sepuas hati. Barulah dia mulai berani menjilati dan mengulum payudaraku, bahkan tangan satunya kini aktif menggerayangi payudaraku yang lain.

Entah karena terlalu nafsu atau kelepasan dia gigit putingku yang kanan dengan cukup keras, sampai aku menjerit.
"Aakkhh.. Dan sakit, jangan keras-keras dong!"
Di seberang sana Indah sudah dibuat orgasme entah yang keberapa kalinya. Tak sampai lima menit berikutnya Dimas pun mendesah panjang mencapai klimaksnya, dia mencabut penisnya dari vagina Indah dan menumpahkan isinya diatas perut rata Indah. Merekapun roboh bersebelahan, Indah mengusap-ngusapkan sperma itu ke tubuhnya dan menjilati sisa-sisanya di jari. Dadan masih terus menyodokku dari depan, gairahku makin memuncak saja, vaginaku terasa makin panas akibat gesekan dengan penisnya, suara erangan kami terlarut bersama dengan dentuman musik rock dari komputer. Bosan dengan posisi ini, dia memintaku ganti gaya. Sekarang kami melakukannya dengan gaya berdiri, aku berpegangan pada tepi meja sambil disodok dari belakang, dengan posisi demikian tangannya lebih bebas menggerayangi payudaraku yang bergantung, putingku dipencet dan dipilin-pilin terkadang agak kasar sampai benda itu mencuat tegang.

"Dan.. tambah cepet dong.. Mbak sudah mau nih..!!" aku mengerang lirih saat kurasakan klimaks sudah diambang.
"Ooohh.. ahh.. saya juga.. kok rasanya tambah.. enak Mbak" sahutnya dengan menambah goyangannya.
"Keluarin di.. dalam.. jangan cabut penis kamu.. ahh" kataku dengan suara bergetar.
Kamipun mencapai orgasme bersama, tubuhku menggelinjang hebat, aku berteriak seolah mengiringi lagu di komputer, kepalaku terangkat dan mataku merem-melek. Si Dadan juga mendesah nikmat merasakan orgasme pertamanya bersama seorang wanita. Spermanya menyembur banyak sekali di dalam rahimku, cairan hangat dan kental itu juga membasahi daerah selangkanganku serta sebagian meleleh turun ke pahaku. Tubuhku lemas bersimbah peluh dan jatuh terduduk di kursi terdekat. Kubentangkan pahaku lebar-lebar agar bagian itu mendapat angin segar, soalnya rasanya panas banget setelah begitu lama bergesekan. Liang kenikmatanku nampak menganga dan sisa-sisa cairan persengamaan masih menetes sehingga membasahi kursi di bawahnya.

"Saya mau lagi dong Mbak, abis vagina Mbak legit banget sih, lagi yah Mbak!" pintanya sambil menggenggam penisnya yang masih tegang itu di dekat wajahku.
"Iyah, tapi nanti yah, Mbak istirahat sebentar," jawabku sambil mengelap keringat di wajahku dengan tisu.
Kulihat Dimas bangkit dan mendekatiku, senjatanya sudah dalam posisi siap tempur lagi setelah cukup istirahat. Dia belai rambutku dan meraih tanganku untuk digenggamkan pada penisnya.
"Yuk, Cit.. sambil kumpulin tenaga, kasih senjata gua amunisi dulu dong!" pintanya.
Akupun memijati benda itu diselingi jilatan. Melihat si Dadan yang bengong aku pun menarik tangannya menyuruh berdiri di sisi kananku. Maka dihadapanku sekarang mengacunglah dua batang senjata yang saling berhadapan dan masing-masing kugenggam dengan kedua tanganku. Kugerakkan tangaku mengocok keduanya, mulutku juga turut melayani silih berganti.

Merasa cukup dengan pemanasan, Dimas menyuruhku berhenti, dan menyuruhku bangun dulu, lalu dia duduki kursi itu baru menyuruhku duduk lagi di pangkuannya (sepertinya mau gaya berpangkuan deh). Dengan agak kasar dia menyuruh Dadan menyingkir
"Heh, sana lo.. kali ini giliran gua tahu, jangan ganggu lagi!"
"Eee.. sudah jangan galak ah, gitu-gitu juga dia kan yang bantu-bantu kamu orang di sini" sahutku mengelus lengan Dimas.
"Dan kamu minta Mbak yang itu aja buat ngajarin kamu," lanjutku, "Ndah mau yang ajarin dia bentar kan, masih pemula nih."

Sekarang Dadan tidak segrogi saat pertama main denganku barusan, dia menindih tubuh Indah yang masih terbaring. Indah mengajarinya teknik berciuman, nampaknya Dadan cepat dalam mempelajari teknik-teknik bercinta yang kami ajarkan, sebentar saja dia sudah nampak beradu lidah dengan panasnya bersama Indah, tangannya juga kini lebih aktif menjelajahi lekuk-lekuk tubuh Indah memberi rangsangan. Indah yang gairahnya sudah bangkit lagi merespon dengan tak kalah hebat. Dia berguling ke samping sehingga dia kini di atas Dadan, lidahnya tetap bermain-main dengan lidah lawannya sementara tangan lembutnya meraih penis pemuda tanggung itu serta mengocoknya, Dadan mendesah-desah tak karuan menghadapi keliaran Indah. Indah membimbing penis itu memasuki vaginanya, dengan posisi berlutut dia turunkan tubuhnya hingga penis itu melesak masuk ke dalamnya. Kemudian mulailah dia menaik-turunkan tubuhnya dengan gencar membuat pemuda tanggung itu kelabakan. Kedua tangan Dadan mencengkram kedua payudara Indah dan meremasinya dengan bernafsu.

Di tempat lain aku sedang asyik menggoyangkan tubuhku di pangkuan Dimas. Vaginaku dihujam penisnya yang sekeras batu itu. Otot-otot kemaluanku serasa berkontraksi makin cepat memijati miliknya. Tangannya yang mendekapku dari belakang terus saja menggerayangi payudaraku dengan variasi remasan lembut dan kasar. Kutengokkan wajahku agar bisa berciuman dengannya, lidah kami saling membelit dan beradu dengan panasnya. Beberapa menit kemudian mulutnya merambat ke telingaku, dengusan nafasnya dan jilatannya membuatku merinding dan makin terbakar birahi. Mulutnya terus mengembara ke tenguk, leher, dan pundakku meninggalkan bekas liur maupun bercak merah. Tanpa terasa goyangan tubuh kami semakin dahsyat sampai kursinya ikut bergoyang, kalau saja bahannya jelek mungkin sudah patah tuh kursi. Posisi ini berlangsung 20 menit lamanya karena kami begitu terhanyut menikmatinya. Selama itu terdengar dua SMS yang masuk ke ponselku namun tak kuhiraukan agar tak merusak suasana.

Akhirnya akupun tak bisa menahan orgasmeku, tubuhku kembali menggelinjang dahsyat, pandanganku serasa berkunang-kunang. Mengetahui aku akan segera keluar, dia makin bergairah, tubuhku ditekan-tekan sehingga penisnya menusuk lebih dalam, tangannya pun semakin kasar meremasi payudaraku.
"Aaahhkk..!" jeritku bersamaan dengan lagu mp3 yang hampir berakhir.

Kugenggam erat lengan Dimas dan menggigit bibir merasakan gelombang dahsyat itu melanda tubuhku. Aku merasakan cairan cinta yang mengalir hangat pada selangkanganku. Akupun akhirnya bersandar lemas dalam dekapannya, penisnya tetap menancap di vaginaku, nafas kami tersenggal-senggal dan keringatpun bercucuran dengan derasnya. Kemudian dia angkat tubuhku hingga penisnya tercabut, tangan satunya menyelinap ke lipatan pahaku. Diangkatnya tubuhku dengan kedua lengan, aku menjerit kecil saat dia tiba-tiba menaikkanku ke lengannya karena kaget dan takut jatuh. Dibawanya aku ke ranjang lalu diturunkan di sana, nafasku belum teratur sehingga nampak sekali dadaku turun naik seperti gunung mau meletus. Tepat disebelah kami Dadan sedang menindih tubuh telanjang Indah dengan gerak naik-turun yang cepat. Indah hanya bisa menggelinjang dan mendesah, rambut panjangnya sudah kusut tak karuan, matanya menatap kosong pada kami.

"Lagi yah Ci, dikit lagi tanggung gua belum keluar nih," pinta Dimas sambil merenggangkan kedua pahaku.
Aku hanya pasrah saja mengikuti apa maunya. Dengan lancar penisnya yang sudah basah dan licin itu meluncur ke dalam vaginaku, aku mendesis dan meremas sprei saat dia hentakkan pinggulnya hingga seluruh penisnya masuk. Lagu dari komputer entah sudah berganti berapa kali, kali ini yang mengalun adalah lagunya Aerosmith yang dipakai soundtrack film 'Armageddon'nya Bruce Willis. Lagu ini mengiringi permainan kami dalam babak ini. Perkasa juga si Dimas ini, dia masih sanggup menggenjotku dengan frekuensi tinggi sampai tubuhku terguncang hebat, padahal sebelumnya dia sudah membuatku dan Indah orgasme, kekuatannya jauh lebih meningkat dibanding ketika pertama kali one night stand denganku setahun lalu. Aku menggenggam tangan Indah dan bertatapan wajah dengannya
"Sudah berapa kali Ndah?" tanyaku bergetar
"Nggak tahu.. sudah aahh.. keenakan.. nggak hitung.. lagi," jawabnya dengan mata merem melek.

Aku makin tak terkontrol, kepalaku kugelengkan ke kiri-kanan, sesekali aku menggigit jari saking nikmatnya kocokan Dimas. Dia mempermainkan birahiku dengan sengaja tidak menyentuh payudaraku membiarkannya bergoyang-goyang seirama badanku, sehingga aku sendiri yang berinisiatif meraih tangannya dan meletakkannya di payudaraku, barulah dia mulai memencet-mencet putingku membuatku semakin terbakar. Akhirnya akupun sudah tidak kuat lagi, perasaan itu kuekspresikan dengan sebuah erangan panjang dan menarik sprei di bawahku hingga berantakan.
"Sudah dulu dong, Mas.. gua gimana bisa kuliah ntar!" pintaku dengan terengah-engah.
Tubuhku basah seperti mandi saja, habis AC kamarnya lagi rusak sih, sementara ini cuma ada kipas angin berukuran sedang, sedangkan iklim di Jakarta tahu sendiri kan seperti apa gerahnya. Paham dengan kondisiku, dia biarkan aku beristirahat, dikecupnya bibirku dengan lembut disertai sedikit kata-kata manis dan pujian, setelah itu dia beralih ke Indah untuk menuntaskan hajatnya yang tinggal sedikit lagi. Kuseka dahiku yang bercucuran keringat lalu kulirikkan arlojiku, 20 menit lagi jam tiga, harus segera siap-siap kembali ke kampus.

Indah yang sedang dalam posisi dogie digarap dari dua arah oleh mereka. Dadan yang menyodoknya dari belakang akhirnya klimaks, dia mengeluarkan penisnya dan menyiramkan isinya di punggung dan pantat Indah. Si Dimas yang sedang menyetubuhi mulut Indah juga tak lama kemudian menyusul, dia mengerang sambil menahan kepala Indah pada penisnya. Indah sendiri hanya bisa mengerang tertahan dan matanya merem melek menerima semprotan sperma Dimas, nampak cairan putih itu meleleh sedikit di pinggir bibir mungilnya. Dimas ambruk di sisiku dengan memeluk Indah yang menyandarkan kepalanya ke dada bidangnya, si Dadan terduduk lemas di bawah ranjang (karena ranjang sudah penuh sesak). Setelah tubuhku cukup stabil, pelan-pelan aku bangkit menuju kamar mandi dengan langkah gontai. Disana aku mencuci muka, dan membersihkan ceceran sperma di tubuhku dengan air. Indah masuk ketika aku sedang duduk di toilet buang air kecil.
"Huh.. ngagetin aja kamu Dah, rambut acak-acakan kaya kuntilanak gitu lagi!" ujarku.
"Kuntilanak bajunya putih oi, nggak bugil gini," jawabnya asal, lalu menyalakan kran wastafel.

Setelah selesai berbenah diri, kami mengenakan kembali pakaian kami untuk kembali kuliah. Saat itu jam sudah menunjukkan hampir pukul tiga, maka itu kami agak terburu-buru sampai aku melupakan ponselku sehingga pulang kuliah aku harus balik lagi ke sini untuk mengambilnya. Kami berlari-lari kecil ke kampus, mana ruang kuliahku di lantai tiga lagi, aku sampai ke kelas terlambat lima menit, untung belum melebihi toleransi keterlambatan. Di kelas pun aku tidak bisa fokus karena selain masih lelah, dosennya, Pak Iwan ngomongnya juga slow motion, bikin ngantuk saja sehingga beberapa kali aku menguap. Temanku di sebelah bahkan bertanya
"Baru bangun tidur kamu Ci? Kok kusut gitu" karena make up ku memang agak luntur waktu cuci muka tadi.
"Iyah nih masih ngantuk tadi di kost temen belum cukup tidurnya," jawabku tersenyum dipaksa.
Lelah sekali hari itu sehingga begitu sampai di rumah aku langsung tiduran dan bangun jam tujuh malam, baru mandi untuk bersiap-siap menunggu jemputan Verna dan lainnya untuk nge-dugem di salah satu tempat favorit kami 'Seribu Satu'

Aku menggeliat kedinginan. Suhu AC di kamar ini dingin sekali. Aku menengok ke kiri dan kekanan untuk mencari remote control mesin pendingin itu. Ketika Sedang mencari-cari, pandanganku tertumbuk pada tubuh polos telanjang seorang pria yang masih terbaring tidur. “Lelap sekali dia…”, pikirku. Di sebelahnya ada anak perempuan kecil, dia Fanny, anakku. Aku melihat jam yang ada di meja disamping tempat tidur, “Jam 6…”, gumamku.
Aku malas sekali untuk pulang. Aku masih ingin disini, di rumah Alex. O.. Iya… Alex itu adalah nama pria yang masih tidur di sampingku. Dia bukan suamiku, aku baru mengenalnya kemarin siang. Tapi kami sudah saling melakukan penjelajahan pada tubuh kami berdua selama semalaman ini.
Aaahhh…. Dingin sekali kamarnya Alex. Saking dinginnya, putting susu di payudaraku mendadak mengeras. Sambil senyam-senyum sendiri, niat isengku timbul, aku membalikkan tubuh Alex yang sangat atletis itu. Seketika itu juga, aku disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Sebuah benda yang sangat panjang dan besar, yang selama beberapa jam tadi telah membuatku lupa akan keberadaan suamiku, telah kembali bangkit berdiri tanpa disadari pemiliknya. Dan seolah-olah menyuruhku untuk menjilati dan mengulumnya. Tapi aku belum sepenuhnya tergoda.
Sambil menggenggam batang keras itu, akupun mengelus-elus liang vagina ku sendiri, dan entah kenapa, pikiranku menerawang ke saat aku dan pemilik penis besar ini bertemu….

***

Pukul 11 siang. Aku dan Fanny sedang berbelanja bulanan di sebuah supermarket. Sambil mendorong trolly, aku berjalan dari lorong ke lorong, berusaha mencari barang-barang yang ada di daftar belanjaan ku. Sampai suatu ketika, aku membelokkan trollyku ke lorong minuman. Tapi karena aku tidak melihat sisi sebelah kiri lorong –karena terhalang oleh sebuah rak display- trollyku menabrak trolly lain yang ada di sisi luar display tadi. Kontan saja aku meminta maaf. Pria yang trollynya aku tabrak tadi tersenyum, “Nggak apa-apa kok…”, katanya.
“Bener gak apa-apa?”, Tanya ku memastikan.
“Iya, “ jawabnya. “Makanya non, jangan sambil melamun. Mikirin apa sih?” tanyanya lagi sambil tersenyum.
“Aku nggak mikirin apa-apa kok….” Jawabku agak sedikit genit (Aku sendiri heran, kenapa bisa bergenit-genit gitu)
Lalu, tanpa terduga, pria tadi mengajukan tangannya dan mengajak berkenalan.
“Mmh… boleh tahu namanya gak non?”
Terus terang, aku kaget. Tapi entah kenapa, aku juga mengajukan tangan dan berkenalan dengan pria tinggi, putih dan ganteng yang berdiri di depanku ini.
“Kenapa nggak kamu duluan?” tantangku.
Sambil tersenyum maaanniiisss sekali, dia menyebutkan namanya….
“Alex… kamu?”
“Mmmhh…. Mia! Dan ini anakku… Fanny…”
“Oo.. anakmu tho non….” Sahutnya.
“Iya…” jawabku, “emang kenapa?”
“Nggak papa… Eh iya… boleh tahu no hp mu nggak?” tanyanya lagi.
Dan sekali lagi, entah kenapa… aku dengan entengnya memberikan no hp ku. Padahal biasanya, aku gak pernah kaya gini. Setelah mencatat no ku ke dalam hp nya, Alex me-misscall-ku. “Itu no ku…” katanya. Tak lama setelah itu, kami pun berpisah dengan berjanji akan saling telfon, paling tidak, sms-an.

Pukul 11.30 siang.
Aku baru saja sampai dirumah. Aku menyuruh pembantuku membereskan belanjaan, sementara aku masuk kekamar untuk berganti pakaian. Pas… ketika kain peradaban terakhir yang melingkar menutupi daerah sensitifku meluncur turun melalui kedua paha dan betis indahku, Hp ku berbunyi… aku lihat nama si penelfon. Ternyata Alex!!!
“Hallo…” kataku.
“Hallo non… lagi ngapain?” jawab Alex.
“Mmh… lagi ganti baju. Ngapain telfon?”
“Lho… kok sinis sih? Aku Cuma mau ngobrol kok…”
“Iya… iya…. Nggak sinis kok..!!” kataku mengoreksi, “maksudku, kok telfonnya cepet banget… kirain besok-besok…”
“Mmh… tapi nggak papa kan?” Tanyanya…
Kami ngobrol-ngobrol hampir 1 ½ jam sebelum aku (dengan herannya pada diriku ini) Memberikan no telfon rumahku. Ternyata, Alex lagi sendirian dirumah. Istrinya lagi ke Semarang dengan anaknya. Tanpa diduga, Alex mengajakku untuk ketemuan. Setelah aku pikir-pikir, toh cuma ketemuan ini…. Ya sudah, akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Janjiannya di PIM, didepan bioskop 21, jam 7 nanti malam.

Pas jam ½ 6, aku mengajak Fanny untuk mandi bareng (Alex membolehkanku untuk mengajak Fanny). Didalam kamar mandi, Fanny bertanya kepadaku…
“Mami kenapa? Kok senyum-senyum?” tanyanya lugu.
“Gak papa”, kataku, “mami mau ketemu sama Om Alex… tapi Fanny jangan bilang-bilang sama papi ya…. Nanti kalo Fanny nurut, mami beliin baju baru….”
“Asiiikkk…” sahut Fanny, “tapi…” katanya lagi, “kok ketemu Om Alex, mami seneng bener?”
Aku tersenyum mendengar pertanyaan Fanny, “Iya lah… Om Alex lebih ganteng dari papi, terus badannya bagus banget. Mami rasa, kontolnya Om Alex besar banget deh Fan….”
“Kontol apaan sih Mam?” Tanya Fanny lugu.
“Kontol itu buat dimasukkin kesininya mami!” jelasku sambil memperlihatkan belahan indah dibagian selangkanganku ini.
“Fanny juga punya….” Sahut Fanny seraya memperlihatkan memek kanak-kanaknya.
“Iya… tapi belum boleh dimasukkin kontol… nanti kalo Fanny sudah SMP atau SMU, Fanny mami bolehin deh masukkin kontol ke itunya Fanny”
“Emangnya kontol itu kaya gimana sih mam?”
Sedikit bingung njelasinnya, aku ngomong gini ke Fanny, “Kalo nanti Mami diajak ngewe sama Om Alex, mami kasih tahu ya…. Tapi inget… jangan bilang-bilang ke papi ya…!”
“Emangnya kenapa?”
“Nanti papi-mu ngiri…. Jangan bilang ke papi ya?”
Fanny mengiyakan saja…

Ketika aku dandan, suamiku bertanya, “kamu mau kemana?” Aku menjawab, kalau aku mau ke rumah Rieke, temanku, tapi suamiku gak tahu kalo aku sudah menelfon Rieke dan bilang kalo aku ada janji sama cowok… Rieke cuma ketawa kecil tapi ngerti. Lah… si Rieke ini jagonya selingkuh… hihihihihihi…..
Dan herannya, suamiku kok seperti gak curiga dengan dandananku. Aku memakai rok jeans ketat dan pendek (yang pendek sekali malah, buat nutupin selangkanganku, aku pake g-string putih tipis dan tembus pandang. Tapi jangan harap bisa ngeliat bulu-bulunya… soalnya aku cukur habis), buat atasannya, aku hanya pake tanktop putih jenis body fit (saking fit-nya, toketku terlihat padat berisi dan seolah ingin berontak keluar - ditambah dengan puting susuku yang juga tercetak jelas sekali… but,… who cares?). Sekitar jam ½ 7, aku dan Fanny, dengan menggunakan Taxi, cabut ke PIM.

Pertemuanku dengan Alex sangat menyenangkan. Dia selalu bisa membuatku tertawa dengan banyolan dan joke-joke pornonya. Bahkan dia membelikan Fanny, baju dan boneka. Kami juga sempat makan, belanja dan saling memuji. Katanya, rambut panjangku yang hitam sangat menarik, ditambah dengan tubuh yang proporsional, membuat dia ingin memeluk, mencium dan mencumbuku. Mau gak mau, aku cerita ke dia, kalo’ tadi pas lagi mandi, aku sempat membayangkan ‘barangnya’. Sambil tertawa, dia ngomong, “Ya ampun non, kamu sempat mikir gitu?”
“Iya!” jawabku singkat sambil tersipu malu.
Lalu ia membungkukkan badannya dan berbisik padaku, “Non, kamu mau nginap dirumahku gak? Nanti aku akan memuaskan rasa penasaranmu. Bahkan kamu boleh ngotak-ngatik barang yang tadi kamu bayangin.” Lalu ia mengecup pipiku dan tersenyum.
Tanpa banyak basa-basi, aku langsung meng-iyakan ajakannya. Di mobil, dalam perjalanan ke rumah Alex, aku menelfon suamiku. Aku bilang kepadanya, kalo’ aku dan Fanny menginap dirumah Rieke. Setelah menutup Hp-ku, aku bilang ke Alex… “Tonight, I’m yours!”
Dan Alex berkata (seolah untuk suamiku) “Sorry man! Tonight, your lovely, sexy, adorable and juicy wife is mine!”, lalu ia tertawa.
Aku ikut tertawa, sambil mengecup bibirnya, aku berkata, “Kamu lupa satu lagi!”
“Apa itu?” tanyanya…
“My pussy… my hairless, tight and warm pussy is yours too, tonight!”
“Yeah… baby! And my red neck dick is yours!” katanya…
Aku menjawab dengan gairah dan nafsu yang menggebu, “You’re right, baby! Can I try it now?”
Tanpa banyak basa-basi, Alex segera melepas celananya sebagian dan mengeluarkan benda yang dari tadi mengganggu pikiranku. Belum bangun sih… tapi itu saja sudah membuatku sesak nafas, karena besar sekali.
Sisa perjalanan ke rumah Alex diisi oleh suara-suara kecipak dan hisapan, tanpa ada suara lain. Aku sibuk dengan ‘barang baru’, Alex nyetir sambil keenakkan (terkadang, dia mengelus rambutku dan meremas toketku). Sementara Fanny, anakku, duduk di jok belakang dan diam saja menyaksikan aksi maminya ini. Di dalam kepalaku terlintas wajah Rieke (yang mungkin juga lagi sibuk dengan salah satu selingkuhannya) dan wajah suamiku yang samar-samar, karena dikalahkan dengan bayangan aku dan Alex yang saling bergulat di depan Fanny yang tidak tahu apa-apa.

Sesampainya dirumah, Alex langsung mengunci pintu dan jendela. Lalu ia menelfon istrinya dan berpura-pura ber ‘miss u-miss u’an, sementara tangan kirinya menggenggam batangannya sendiri, berusaha untuk menjaga agar tetap tegang.
Aku sendiri hanya tinggal memakai g-string saja. Sisa pakaianku tergeletak pasrah di pintu depan. Tak lama setelah mentup telfon, Alex memelukku dari belakang. Tangan kanannya merogoh cd-ku dan memainkan jarinya di kelentitku, sementara tangan kirinya saling bergantian meremas kedua payudaraku. Aku yang melingkarkan tanganku di belakang lehernya, memasrahkan bibir dan lidahku untuk dilumat bibir dan lidah Alex.
Lalu kami melanjutkan aksi kami dengan ber-69 ria. Ketika sedang bertukar posisi (sekarang aku tengkurap diatas tubuh Alex yang berbaring terlentang), Fanny mendatangi kami.
“Mami lagi ngapain?” tanyanya.
Sambil terengah-engah (Lidah Alex tidak mau keluar dari liang vaginaku), aku berusaha menjawab, “ssh… lagi ngisep… kontolnya… mmmhh… Om Alex! Uuuh… enak baangget Lex…”
Setelah itu, Alex menghentikan serangannya dan menyuruhku berlutut sambil menghisap zakarnya, sementara ia duduk di sofa dan menyuruh Fanny duduk di sampingnya.
“Fanny lihat mami kan?” Tanya Alex.
“Iya, Om… mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngisep kontolya Om Alex, sayang.” Jelas Alex.
Aku menghentikan seranganku dan menjelaskan ke Fanny, kalau benda panjang, besar dan keras yang sedang aku hisap ini adalah kontol. Fanny mengangguk mengerti, mungkin ia ingat omonganku di kamar mandi tadi sore.
“Fan…” kata Alex, “nanti mami sama Om Alex mau ML. Fanny diam aja ya…”
Fanny mengiyakan saja, walaupun ia tidak tahu apa itu ML.
Lalu aku bangkit berdiri dan duduk di samping Alex sambil memangku Fanny. “Fan, inget pesen mami ya… jangan bilang ke papi. Nanti, kalo Fanny bialang, kasihan mami… gak bisa ML lagi sama Om Alex… ya?”
“Iya mam…” jawab Fanny polos.
“Dan kamu…” kataku ke Alex, “mulai hari ini, memekku punya kamu. Dan gak usah ikut mikir suamiku. Kalo sama dia kan kewajiban… kalo sama kamu namanya hak… hak untuk menikmati kontolmu yang besar ini!”
Alex tertawa, “Kalo’ memekmu punyaku, berarti kontolku boleh kamu acak-acak!”
Setelah menurunkan Fanny, kami berpelukan dan saling mengulum bibir kami.

Kemudian, Alex menyuruhku terlentang dan dia membuka kakiku lebar-lebar. Setelah itu, vaginaku mulai dijajah oleh jari dan lidahya. Aah… nikmat sekali. Tak lama kemudian, aku meraskan ada cairan yang membasahi vaginaku, rupanya cairan pelumasku keluar. Mengetahui hal ini, Alex segera berlutut dan berusaha memasukkan penisnya yang besar itu kedalam vaginaku.
“Ssshh… Alex… eeennaaakkkk…. Baangeeettt…. Mmhhh!!!!”
Aku tahu kalo’ vaginaku ini memang sempit, tapi aku heran, ternyata barang kesayanganku ini sanggup menelan zakar Alex yang panjang dan besar itu. Pergulatan kami dilanjutkan dengan doggy style. Baru saja aku nungging, memek kesayanganku ini langsung disumbat oleh batang besarnya Alex. Alex merangsak maju mundur, walau sesekali dia menancapkan dalam-dalam batangannya lalu diam, seolah menyuruh dinding bagian dalam vaginaku untuk merasakan denyutan-denyutan dari urat dan kelenjar di batang besar itu.
Hujaman-hujaman Alex kian liar tatkala dia tahu aku bocor untuk yang pertama. Aaahhh… nikmat sekali rasanya (suamiku pun belum pernah memberikan yang seperti ini). Gerakan maju mundur Alex kian lancer saja, karena memekku sudah basah banget. Lalu Alex melepas kontolnya dan menyuruhku berbaring miring.
Dengan gerakan cepat, Alex mengangkat kaki kananku dan menancapkan kontolnya dengan mantap di liang surgaku dari belakang. Rupanya ini jurus andalannya. Dan ternyata, gayanya ini membawaku ke orgasme kedua, aahhh…. Lebih nikmat dari yang pertama!! Di tengah hujaman-hujaman itu, Alex berkata;
“Non… mmmhh… aku mau keluar yaaa….?!”
Baru saja aku mau bilang ‘didalam aja ngeluarinnya!’, Alex sudah mengerang hebat. Pada saat yang sama, bagian dalam vaginaku disiram dengan kencang sekali oleh cairan yang hangat, lengket, kental… dan sepertinya banyak sekali.
Pokoknya enak banget! Kemudian Alex melepas kontolnya dan menyuruhku terlentang. Lalu dia menempelkan kepala kontolnya di mulutku lalu mengocoknya. Ternyata masih ada cairan yang keluar dari bapak beranak satu ini. Peju lengket dan hangat itu muncrat di mulut dan lidahku. Sebagian memang ada yang ku kumur-kumurkan dulu sebelum kutelan, tapi sebagian lagi (dan itu yang paling banyak) langsung aku nikmati dari batang tempat keluarnya tadi. Setelah selesai, Alex langsung bersandar di sofa, sementara aku masih terbaring terlentang, merasakan kenikmatan luar biasa. Sementara Fanny berlutut dan membungkukkan badannya didepan vaginaku. Kakiku memang aku buka selebar-lebarnya, walau aku menaikkan kedua lututku. Kata Fanny, “Mami, kok pipisnya putih?” Sambil berusaha mencerna pertanyaan Fanny, aku merasakan ada sisa cairan sperma Alex yang mengalir keluar dari vaginaku.

10 menit kemudian, aku dan Alex ke kamar mandi untuk membersihkan ‘kotoran’ yang ada di tubuh kami. Setelah itu, kami bertiga ke kamr tidur Alex. Aku dan Alex saling mencumbu lagi, sementara Fanny masih menyaksikan kami. Tiba-tiba Hp ku berbunyi, kulihat siapa yang menelfon… ternyata suamiku!
“Sayang…” kataku ke Alex, “ini suamiku. Kamu diam dulu ya… main sama Fanny dulu kek!” Lalu aku berkata ke Fanny, “Fan, kamu jangan berisik dulu yaa… main sama Om Alex dulu giih?!”
Fanny dan Alex menjawab berbarengan, “Iya mami…”
Lalu aku mengangkat telfon. Suamiku bertanya dimana aku sekarang. Aku bilang saja, ada di rumah Rieke. Sekarang, Rieke lagi keluar sama anaknya dan Fanny… lagi cari makan. Sementara aku menelfon, aku melihat Fanny sedang memegang-megang penis Alex, dan pakaiannya telah dilucuti Alex sejak entah kapan. Aku terus berbicara di telfon sambil berusaha menahan senyum melihat Fanny dan Alex. Tak lama kemudian, aku menyudahi pembicaraan telfon dengan suamiku.
Setelah aku kembali ke tempat tidur, Alex ngomong ke aku, “Non, sekarang Fanny sudah tahu darimana dia berasal…”
“Kamu ngomong apa ke Fanny?” tanyaku. Lalu Alex menjelaskan pembicaraannya dengan Fanny. Aku hanya senyam-senyum aja dengerinnya. Sambil terus mendengarkan, aku dengan posisi berbaring miring menghadap Alex, kembali menggenggam batangan Alex dan mengocoknya. Sementara Alex yang berbaring terlentang, terus bercerita sambil terkadang meremas payudaraku yang besar dan memilin-milin putting susuku. Akibatnya, kami saling mencumbu lagi dan langsung memulai babak ke 2 pertandingan seru antara memekku dan kontol Alex.
Pergulatan itu berlangsung dalam berbagai gaya dan cara. Aku sampai 2 kali lagi mengalami orgasme. Untuk babak ini, Alex sengaja menyemprotkan spermanya di tubuh Fanny. Anakku kaget sekali disiram cairan kenikmatan Alex yang hangat, lengket dan banyak itu, tapi aku langsung menenangkannya. Seteha tenang, aku langsung membersihkan sperma itu dengan cara menjilati dan menelannya semua… sampai bersih. Aku dan Alex benar-benar gila sekali malam itu.

“We’re not makin’ love… we’re fuck!” kata Alex. Aku mengiyakan saja, sambil terus menjilati dan menciumi kepala zakar Alex. Sampai ½ 5 pagi, Alex sudah 4 kali mengeluarkan peju, sementara orgasmeku sudah tak terhitung lagi. Sekitar jam 5, kami tidur.

***



Tiba-tiba, aku tersadar dari lamunanku. Setelah mencium kontol Alex. Aku kamar mandi untuk sikat gigi dan mandi, lalu ke dapur untuk membuat sarapan (aku masih bugil). Ketika sedang membuat kopi, tubuhku dipeluk dari belakang, aku kaget sekali. Setelah melihat siapa dia, ternyata Alex.
“Pagi sayang!” kataku.
“Pagi juga Mia cantik…” jawab Alex sambil mengecup bibirku. “Kok kamu sudah bangun? Kenapa?”
“Aku kedinginan. Ya sudah, aku mandi aja pakai air hangat!” jawabku sambil memeluk tubuhnya yang tegap. “Kamu belum mandi! Kamu gak ke kantor?”
Alex menjawab sambil melepas pelukanku dan menyandarkan tubuhnya ke lemari kecil di sampingnya. “Kalo aku ke kantor, kamu kemana?”
“Ya… disini aja… nungguin kamu pulang!” jawabku.
“Tapi aku males masuk. Aku pingin ML lagi sama kamu… seharian ini!”
Aku kembali memeluk tubuh Alex yang telanjang itu, dan membiarkan penisnya menempel di perutku. “Aku juga mau! Tapi gimana kalo dirumahku aja?”
“Boleh…! Aku setuju!” sahut Alex sambil tersenyum. Senang sekali dia.

Singkat cerita, aku dan Fanny pulang jam 9 pagi, Alex ikut kerumahku. Dalam perjalanan pulang itu, aku mengenakan baju terusan yang sexy dan tipis sekali (punya istri Alex). Baju itu tanpa lengan (hanya tali saja) dan panjangnya hanya se pahaku. Baju ini agak ketat dan otomatis mengikuti kontur tubuhku, sehingga kedua toket indah dan bulatan besar pantatku tampak menonjol sekali. Sementara didalamnya, aku tidak memakai apa-apa… no bra… no kancut! Di lain pihak, Alex hanya mengenakan kaos dan celana pendek. Sesampainya di rumah, suamiku sudah berangkat, hanya pembantuku saja. Kepadanya, aku bilang kalau Alex ini adalah rekan baruku dalam bisnis yang baru kurintis (bohong siiihh… ) Jadi, aku aku dan Alex akan berdiskusi dikamarku. Dan aku berpesan, supaya jangan ada yang masuk ke kamarku. Kalau ada yang telfon, bilang aja gak ada ; Tapi kalau suamiku yang telfon, bilang aja aku sudah pulang dari pagi, tapi pergi lagi sama Rieke.

Didalam kamar, Aku dan Alex langsung melepas baju kami dan kembali bugil! Setelah mengunci pintu, penis Alex langsung aku sepong lagi. Kali ini, Alex sudah dapat mengontrol dirinya. Hisapan-hisapanku ditanggapinya dengan tenang dan tidak grasak-grusuk. Sekitar 5 menit kemudian, aku minta Alex gantian menjilati memekku. Alex langsung memainkan peranannya, jilatan lidahnya pada kelentitku sangat hebat sekali dampaknya… cairan pelumasku keluar, basah sekali memek tersayangku ini. Mengetahui hal ini, Alex segera membalikkan tubuhku, sehingga aku dalam posisi menungging. Segera saja Alex memasukkan akar tunjangnya ke tempat yang seharusnya. Sambil bekerja keluar-masuk, penis Alex terkadang diputar-putarkan didalam memekku.
Batang besar itu lancar sekali bekerja, karena vaginaku sudah basah sekali. Setelah itu, Alex melepas zakarnya dan berbaring terlentang.
Melihat hal ini, aku faham. Aku duduki pahanya, dan kujepit kontolnya dengan memekku. Aksiku yang satu ini ditanggapi Alex dengan meremas-remas toket besarku. Ketika sedang nikmat-nikmatnya menggenjot batangan Alex, aku merasakan akan orgasme… “Lex, aku mau dapet… enaaakkk banngeeetttt!!” erangku sambil bergetar hebat. Ternyata, Alex juga mau keluar. Tanpa dikomando lagi, aku dan Alex orgasme berbarengan. Cairan orgasmeku membasahi kontol Alex yang pada saat bersamaan, menyemprotkan spermanya, yang kutahu banyak sekali. Dan sepertinya, vaginaku gak sanggup menampung semua sperma Alex, sehingga sebagian ada yang mengalir keluar. Setelah itu, (tanpa mengeluarkan kontol Alex) kami saling berpelukan dan berciuman, menikmati orgasme kami masing-masing.

Ketika sedang berciuman. Hp ku berbunyi, kulihat nama penelfonnya. Ternyata Rieke! Aku angkat telfon…
“Eh Ke… ngapain telfon?” tanyaku.
Di seberang sana, Rieke menjawab. Suaranya terdengar agak panik, “Ngapain… ngapain… Gila lo! Laki lo nyariin, nelfonin gue terus. Dimana lo?”
“Di rumah. Lo dimana?” tanyaku tenang.
“Di rumah? Sinting lo ya…” Rieke menghela nafas lega, “tadi malam nginep dimana neng? Gw sampe bohong sama laki lo.”
“Ada aja…” jawabku genit. Sementara Alex sedang memelukku dari belakang (kami masih di tempat tidur) sambil meremas-remas toket dan menciumi leherku. “Eh… elo dimana?” tanyaku lagi.
“Gw lagi di taksi. Mau jalan-jalan sama Meta (anaknya-pen)”
“Ke sini aja neng!” kataku lagi sambil melirik Alex yang tampak kaget. Lalu aku menyuruh Alex tenang.
“Ke rumah lo? Ngapain? Sepi, gak ada apa-apa!” kata Rieke, “gue mau nyari ‘lontong’ di mall!”
“Hahahahaha….. dasar lo! Gak jauh-jauh dari kontol. Gak pernah puas apa? Tiap hari ngewe…”
“Lo tau gue kan neng… Gue belum nemu ‘lontong’ yang pas buat serabi botak gue.” Tiba-tiba Rieke tertawa, seolah menyadari sesuatu, “Eh… dari tadi gue ngomong ‘lontong’ terus ya… hihihi… supr taxi ngeliatin gue sambil senyam-senyum. Dia ngerti, barangnya gue sebut dari tadi!”
Aku tersenyum, “Ya udah… makanya kesini aja… disini ada kontol satu, tapi gede banget! Mau nyoba gak?”
“Ha? Waaahhh…. Gue ngerti kemana lo semalem. Di perkosa sama tu laki-laki dirumahnya ya? Gila lo…. Ya udah gue ke rumah lo!”
Hubungan terputus………

“Ku berangkat dulu ya sayang…” kata suamiku sambil mengecup keningku. Aku masih terbaring di tempat tidur, baru bangun. “Iya… hati-hati ya!” jawabku, “pulang jam berapa nanti?”
“Gak tahu. Tapi kayaknya gak pulang deh.”
Aku sedikit tersentak mendengar jawaban suamiku, setengah senang-setengah bingung. “Kok tumben? Kenapa?” tanyaku.
“Mia…” jawab suamiku, “hari ini, aku harus ngawasin proyek yang di Sukabumi. Soalnya sudah mau deadline, dan harus segera dibuat laporannya. Jangan marah ya…”
Aku menjawab sambil pura-pura kesal, padahal aku seneng banget. “Ya sudah lah, terserah! Tapi jangan lupa makan… biar gak sakit!”
“Iya… iya… ya sudah, aku berangkat dulu. Luv U!”
“Luv U too!”
Lalu suamiku berangkat.

Setelah suamiku pergi, aku ngulet sebentar. Aku melihat jam… Mmh… jam 6. Aku bangun dari tempat tidur. Aku masih telanjang bulat, sisa pertarungan gak seru semalam. Aku melihat di cermin lemariku, melihat vaginaku yang agak tebal dan sedikit merekah… ulah Alex! Selama sebulan ini, aku digenjot terus-terusan. Ya main berdua lah, bertiga lah, berempat lah… Gila! Bonyok memek gue bisa-bisa, pikirku. Walaupun begini, suamiku sepertinya gak sadar, tapi kayaknya, dia memang gak ngerti. Bayangin aja… selama kenal Alex, aku sudah di perkosa sama beberapa teman dan sepupunya. Sering juga sih 3some bareng Rieke, terus pernah 3some sama temen kantornya, pernah berempat sama 2 sepupunya… vaginaku di gilir. Tapi gak apa-apa… mereka semua punya zakar yang besar, jadinya aku juga ikut puas… lagipula, akunya juga suka kok!
Sepanjang pagi itu, aku gak pakai apa-apa dirumah. Pembantuku sedang pulang kampung dan Fanny lagi di rumah ibuku. Bener-bener sendiri. Setelah mandi, aku sarapan terus nonton TV sampai jam ½ 9. Sekitar jam 9 kurang seperempat, Alex telfon. Dia bilang, dia harus ke Surabaya selama 2 minggu, tugas kantor katanya. HUH… BT! Gak ada orang di rumah, gak ada Alex… emangnya memekku mau nganggur selama 2 minggu? Ya sudah… aku terusin aja nonton Tv.

Sekitar jam 10an, ada yang memencet bel rumah. Siapa sih pagi-pagi begini? Pikirku malas-malasan, dan aku memang malas kalau harus berapih-rapih. Ya sudah… aku tutupi saja tubuhku dengan kain pantai yang tipis sekali. Kain itu tidak bercorak apapun, hanya warna krem saja… polos! Kain pantai itu gak panjang, juga gak lebar. Jadi, setelah aku pakai, tubuhku hanya tertutup sebatas toket sampai kira-kira 15 cm dibawah pantat. Itu saja hanya menutupi toketku beberapa cm saja diatas putting susuku. Sehingga belahan payudaraku yang besar ini, kelihatan banget. Sementara di dalam, aku gak pakai apa-apa. Lagipula, mungkin itu tamu yang gak penting. Lalu aku berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
Ternyata, tamunya adalah teman kantor suamiku, namanya Andre. Kami sudah saling kenal.
“Eh ‘Ndre… ada apa? Kok gak ke kantor?” tanyaku setelah mempersilahkan dia duduk. Andre tampak kaget sekali melihat dandananku. Tapi bodo amat, paling Cuma sebentar.
“Eh… mmhh… anu…” katanya sedikit gugup. “Aku mau ngambil gambar blue print proyek nya Tino (suamiku-pen). Tadi katanya ketinggalan”
“Tinonya mana?” tanyaku lagi.
“Dia buru-buru ke Sukabumi, ke proyek. Maka itu dia nyuruh aku…” jawab Andre sudah lebih tenang.
“Ooo… ya sudah. Kamu cari sendiri aja di kamar! Aku nggak tahu… ngomong-ngomong, mau minum apa say?”
“Mmh… es teh manis aja deh…” katanya sambil tersenyum. (Anjrit… manis juga senyumnya, pikirku). Lalu dia pergi ke kamarku. Tapi kayaknya dia sempet melihat belahan surgaku deh… soalnya, yang bangun duluan kan aku, pas bangun, aku agak sedikit mengangkang. Aah… bodo amat!

Pas lagi bikin teh didapur, aku mikir… Andre… Mmh… dia sudah married, dia temen suamiku, tapi dia ganteng banget. Tinggi, putih… jujur saja, waktu aku lihat dia berenang di laut waktu ada acara outing kantor suamiku dulu, dia tuh keren banget. Pas ngeliat dia pakai celana renangnya… Uuh… aku dan 4 ibu muda lainnya yang lagi ngumpul di teras bungalow, langsung pada ber-fantasi ria. Menurut kami, dan itu disetujui oleh semua, enak kali ya, kalau di ‘hajar’ pake barang segede gitu?! Hihihi…. Nakal ya kami…. Tanpa di duga, tiba-tiba selangkanganku basah. Anjing! Gue horny, pikirku.
”Hei… kok bengong?” kata Andre mengagetkan aku dari belakang.
“Eh… eee… mmhhh…. Gak apa-apa kok” sahutku sedikit panik dan gugup. “Sudah ketemu anunya?”
Andre tersenyum, “Anunya apa?”
“Ee… blue printnya maksudku…”
“Oo… sudah… nih!” Kata Andre lagi sambil menunjukkan 3 gulung kertas blue print yang tadi dicarinya. “Mi, mana teh ku?”
“Ini…” kataku sembari memberikan gelas tehnya. “Liat-liat apa di kamarku? Soalnya aku belum beres-beresin kamar!”
“Nggak liat apa-apa… Cuma lingerie yang sexy banget, bra, kondom, g-string hitam yang tipis dan bentuknya imut banget, 3 vcd blue, sama fotomu yang pakai bikini” jawab Andre sambil tersenyum.
“Aah… kamu tuh, iseng banget sih?” kataku sambil memukul pelan pundaknya (dan berharap dia agak-agak terangsang melihat aku. Horny berat niiihhh!!!)
“Lagian berantakan gitu!” katanya lagi, “Mi, kamu tuh sexy banget ya…”
“Mmh… genit deh. Kenapa? Karena dandananku sekarang?”
“Enggak… mmhh…. Iya juga sih!”
“Lagian,… males banget pake baju. Kirain gak ada siapa-siapa yang dateng.”
“Ya… tapi kan….”
“Aah… udah ah…” potongku genit, “gak usah di omongin!”
“Ya sudah… tapi aku penasaran deh… itu kamu gak pake…”
Aku memotong lagi, “Enggak… gak pake apa-apa!”
“Bohong…..”
“Nih lihat!” kataku sambil melepas kain tipis yang menutupi tubuh indahku ini. Sekarang aku bugil lagi. Aku tersenyum.
“Bangsat…” kata Andre, “Sumpah! Bagus banget bodymu Mi!” Tiba-tiba, Andre membungkuk dan ngeliatin vaginaku sedemikian rupa.
“Ngeliat apa kamu say?”
“Ini lho…” kata Andre, “memekmu basah gini… kamu lagi horny ya Mi?” tanya Andre sambil tersenyum.
“Kalo iya, kenapa?” tantangku.
Tanpa banyak cingcong, Andre segera memeluk dan menciumku. Dia melumat bibirku dengan liar, ya sudah, aku membalas lebih liar lagi. Lalu Andre melingkarkan tangannya ke belakang tubuhku dan meremas kedua belahan pantatku. Demikian juga aku, ku tarik kepalanya dan ku hisap dalam-dalam lidahnya. Andre memanas… Dia membuka baju dan celananya, tapi ketika hendak membuka CD-nya, dia kutahan.
“Ini bagianku!” kataku. Akupun langsung melepas celana dalam Andre, pelan… pelan… pelan… sampai aku berlutut di depannya, sementara mulutku face to face dengan batang kontolnya yang baru setengah bangun. Setelah melihat Andre dan saling tersenyum, zakarnya langsung aku masukkan ke mulutku dan ku kulum, perlahan tapi pasti. Butuh sekitar 3 menitan untuk membuatnya benar-benar menjadi KONTOL. Setelah mengeras, aku lepas kulumanku, dan ku genggam erat-erat dan mengocoknya perlahan-lahan, sambil sesekali menjilati bagian kepalanya.
Tak lama setelah itu, Andre menyuruhku berdiri dan membopongku ke kamar tidur. Sesampainya di kamar, Andre membaringkan aku terlentang. Dan dia pun ‘balas budi’. Vaginaku di ciumi, di jilati, dan kelentitku di gosok-gosok menggunakan jarinya. Cairan pelumasku keluar lagi. Vaginaku sudah basah kuyup. Tanpa banyak basa-basi, Andre membuka pahaku lebar-lebar dan memasukkan benda keras dan panjang itu ke dalam lubang kesayanganku. Sumpah! Rasanya enak banget. Setelah itu, batangannya mulai merangsak maju mundur (kadang berputar) di dalam memekku.
Sekitar 10 menit kemudian, Andre menyruhku menungging. Dia ingin doggy style rupanya. Lalu dia berlutut dan menghajar memekku dari belakang. Tusukan-tusukannya sangat cepat tapi berirama, dan membawa dampak kurang baik bagiku, karena orgasmeku cepat sekali mau datang. Sesekali Andre menghentikan serangannya, membiarkan dinding vaginaku merasakan denyutan urat kontolnya. Dan itu enak banget! Pada kali keempat dia berhenti, aku orgasme! Merasa batangannya disiram mendadak, teman suamiku ini malah menggenjot aku semakin cepat. Andre memegang kedua sisi pinggangku dengan erat, dan dia menghajar, menusuk dan mengeweku semakin keras dan liar. Goyangan buah dadaku yang seperti lampu gantung kena gempa, menandakan buasnya serangan bapak beranak 2 ini. Keringat kami deras sekali mengucur, sementara desahan, erangan dan teriakan kenikmatan ku sangat keras sekali terdengar.
Tiba-tiba, aku merasakan akan orgasme lagi… “Gila!”, pikirku… “cepet banget!” Tak lama setelah aku orgasme kedua (dan itu enak banget!), Andre mengerang. Aku tahu…. Dia mau orgasme. Benar saja, tak lama kemudian, Andre menghentikan serangannya, dan menarik pinggulku dengan cepat, supaya kontolnya masuk semua. Dia muncrat di dalam memekku. Nikmat sekali rasanya, bagian dalam itil kesayanganku disiram cairan hangat, kental dan lengket. Dan kayaknya banyak banget! Lalu dia mengeluarkan penis besarnya dan membaringkan aku terlentang, setelah itu, dia menumpahkan sisa spermanya ke mulutku, yang segera aku minum dan telan.
“Gurih juga pejumu, Ndre!” kataku. Andre hanya tersenyum mendengar komentarku tentang cairan kenikmatannya itu. Lalu kami berdua berbaring kelelahan. Setelah bercumbu sebentar, kami ke kamar mandi untuk membersihkan jejak-jejak pertempuran kami yang hebat sekali. Kemudian, Andre berpakaian dan akan langsung ke Sukabumi. Sejujurnya, aku gak mau… tapi, mau gimana lagi?

Aku mengantarkan Andre sampai pintu depan, dengan masih bertelanjang bulat. Di depan pintu (yang belum dibuka) aku secara terang-terangan ngomong ke Andre…
“Sayang… Usahain nanti bikin Tino agak lama di sana ya… 2 – 2 harian gitu deh. Syukur-syukur sebulan….?!”
“Kenapa?” tanya Andre bingung.
“Mmh… aku mau lagi di perkosa sama kamu…”
Andre tersenyum mendengar ucapanku, “Ya sudah… pasti aku usahain!”
“Tapi kamu nanti balik lagi kesini, ya…. Bilang aja sama istrimu, kamu nginep di Sukabumi…!”
“Ya sudah. Aku usahain jam-jam 7 aku sudah sampai disini lagi!” sahut Andre.
“Bener ya…?” rengekku agak manja, “Janji lho! Aku beneran nih hornynya….!”
“Iya… iya….!”
Lalu kami berpelukan dan berciuman dengan bernafsu sekali. Akibatnya… kami ML lagi di depan pintu sambil berdiri (Andre hanya melepas celananya saja). Setelah selesai, Andre berangkat ke Sukabumi. Sementara aku berbaring kelelahan di sofa dengan sperma Andre mengalir pelan, keluar dari vagina indahku yang kian menebal dan lubang surganya yang mulai merekah, karena selalu dihajar oleh batang-batang zakar yang besar-besar. Dan aku berfikir, semua orang yang ML sama aku selalu membuang cairan kenikmatannya di dalam memekku (tapi aku nggak khawatir hamil. Soalnya aku selalu minum pil KB)… Tapi nggak apa-apa… akunya juga suka kok!

Sekitar jam ½ 8, Andre sudah sampai lagi dirumahku, sementara suamiku (atas usaha Andre) tetap di Sukabumi, dan baru pulang besok malam. Kami 4 kali ML malam itu. Top banget stamina Andre. Pada game ke 3, suamiku telfon. Aku berbicara dengan sumiku dalam posisi nungging, sementara Andre bergerak pelan sekali… Lucu juga melihat tampang teman suamiku ini.
O iya… aku lupa bilang. Anakku tersayang juga melihat memek ibunya ini dihajar oleh Andre. Anakku pulang sekitar jam 9 malam (beberapa saat setelah game 1). Dia diantar oleh ibuku. Ketika melihat Andre yang mengenakan kaos dan celana pendek (dia gak sempat pake cd, buru-buru banget!), ibuku bertanya kepadaku didapur…
“Mia… itu siapa? Kok malem-malem ada laki-laki kesini?”
“Dia itu namanya Andre, bu… tetanggaku kok. Dia kesini nyari mas Tino…” ucapku asal.
“Ya sudah… suruh dia pulang! Sudah malam!”
“Iya… iya…!”
Pada saat itu, aku hanya mengenakan tanktop dan celana pendek yang super pendek dan ketat (no bra, no cd!). Tak lama kemudian, ibuku pulang dengan berpesan kepadaku (dan ini membuatku kaget sekali… )
“Hati-hati… jangan sampai Tino dan tetangga yang lain tahu!”
“Ha…??? Tahu apa bu?”
“Jangan pura-pura bego kamu! Itu seprai buktinya. Di situ ada celana dalam laki-laki, baju laki-laki, bh dan celana dalammu. Terus di situ juga ada tissu yang lengket-lengket basah. Ibu tahu kamu habis ngapain…”
“Maafin Mia ya bu…”
“Ya sudah… asal hati-hati saja. Lain kali, kalau mau aman, ke rumah ibu saja!”
Tentu saja, aku kaget, terharu tapi senang. Langsung aku peluk ibuku dan dia tersenyum bijak. Setelah itu, ia memesankan hal yang sama kepada Andre, dan dia menghormati ibuku. Andre berjanji pada ibuku untuk merahasiakan hal ini…
“Bu…” kata Andre, “saya janji, gak akan nyakitin Mia…”
“Bagus… bagus….” Sahut ibuku.
“Kecuali….”
“Kecuali apa?” tanya ibuku bingung.
“Kecuali… mmhh… sakit-sakit enak!” sahut Andre.
Kami bertiga tertawa… “Bisa aja kamu!” kataku. Saking senangnya dengan suasana ini, aku memperlihatkan penisnya Andre ke ibuku, yang cuma bisa tersenyum dan kagum.
Setelah itu, ibu pulang…

Paginya, aku terbangun karena suara telefon yang berdering dari arah ruang tamu. Tanpa berepot-repot mengenakan pakaian, aku langsung mengangkat telfon… Rupanya suamiku. Dia ngecek keadaan rumah dan berpesan supaya hati-hati. Dia pulang malam ini. Setelah menutup telfon, akupun langsung menuju ke kamar mandi. Ketika sedang membasuh sisa sabun di sekitar kemaluanku, Andre masuk ke kamar mandi (aku tidak menutup pintu kamar mandi. Dan dia juga masih telanjang.)
“Siapa tadi yang telfon Mi?” tanyanya.
“Tino…” jawabku.
“Ngapain? Iseng amat pagi-pagi nelfon?”
“Yaa… ngecek istrinya lah…”
“Buat apa? Kan istrinya ditemenin sama laki-laki yang baik ini…”
“Justru itu… dia mungkin takut kalo istrinya yang sexy ini diperkosa sama laki-laki itu…” kataku sambil mulai menggenggam kontol teman suamiku ini dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya yang bidang itu.
“Tapi istrinya kan nggak diperkosa…” Kata Andre sambil meremas kedua buah dadaku yang ranum. “Dia di perlakukan dengan baik… karena…. (tangannya mulai turun ke bawah) memeknya… (tangannya mulai mengelus memekku) enak banget…!”
Andre langsung mencium bibirku dan melumatnya. Aku langsung membalas serangan Andre. Ku hisap dalam-dalam lidahnya… dan kugenggam dengan erat kontolnya dan mulai mengurut dan mengocok batangan yang makin lama makin keras dan memanjang itu.

“Mami…”
Aku dan Andre segera menghentikan kegiatan kami ini ketika Fanny memanggilku, tapi kami tetap berpelukan dengan erat sekali.
“Kenapa sayang?” kataku.
“Mami sama Om Andre lagi ngapain?” tanyanya.
“Mami sama Om Andre lagi mandi…” Jawabku.
“Kok madinya pelukan?” tanyanya lagi.
“Mmmhhh….” Belum selesai menjawab, Andre memotong…
“Mami kedinginan… makanya Om peluk supaya badannya anget!”
Aku tersenyum mendengar jawaban Andre. “Iya sayang… airnya dingin banget!”
Andre lalu melepas pelukannya dan langsung berlutut didepan Fanny, “Fanny mau mandi bareng sama Om, sama mami?”
“Mau…”
Lalu kami bertiga telanjang bulat dan masuk kedalam Bath tub, dan berendam bersama-sama. Walaupun itu tidak lama. Karena 10 menit kemudian, Fanny kembali menjadi saksi, bagaimana lubang tempat dia keluar dulu disumbat oleh batangan besar milik teman papinya itu.
Malam itu aku baru pulang. Aku dan Andre habis dari jalan-jalan. Sebenarnya, kami habis clubbing di Retro. Sekarang jam 2 pagi. Suamiku tentu saja sudah tidur, tapi nggak apa-apa… aku bawa kunci rumah. Sebelum berangkat tadi sore, aku bilang ke suamiku, kalau aku mau ke rumah Rieke… dan dia percaya!
Pas mau turun mobil (parkir di 2 rumah sebelum rumahku. Kebetulan tempat itu sepi dan gelap, karena samping kanannya adalah taman kompleks, dan sebelah kirinya lapangan bulu tangkis), Andre minta aku untuk blowjob. Aku nggak mau… aku maunya ML. Ya sudah, akhirnya kami bertempur di mobilnya Andre. Kami tidak mau repot-repot… karena memang aku tidak mengenakan bh dan celana dalam (aku sudah siap-siap). Aku hanya mengenakan celana jeans selutut yang pinggangnya pakai karet dan tanktop. Praktis kan? Tinggal nurunin celana, pindah ke jok belakang dan ML dengan posisi duduk. Aku diatas, dipangku Andre. Setelah selesai, aku masuk ke rumah dengan memek penuh spermanya Andre yang juga menetes di pahaku. Sebelum ke tempat tidur, aku ke kamar mandi, nyuci memek, bersihin make-up pakai lingerie (tapi nggak pakai dalaman), terus tidur deh…
Sekitar jam ½ 5an, suamiku bangun untuk minta jatah. Aku bilang aja begini, “Nggak sekarang ya mas… aku lagi nggak mood. Aku capek banget. Maaf ya mas…!”
Terus kata suamiku, “Ya sudah, nggak apa-apa.” Lalu dia turun dari tempat tidur dan langsung ke kamar mandi. Aku rasa dia masturbasi,… soalnya sudah 3 hari nggak dapet jatah. Aku senyam-senyum sendiri… “Kavlingnya sekarang punya orang banyak. Kalo’ mau pake, izin dulu… mentang-mentang resmi di depan penghulu, belum berarti tubuhku dan semua anggotanya jadi properti pribadi, hihihi…..” kataku dalam hati. Lalu aku tidur lagi, dan baru bangun jam 10 pagi, tentu saja Tino sudah berangkat.

Sekitar jam 11an, aku mandi. Rumahku sepi sekali. Pembantuku belum pulang, Fanny sedang dirumah ibuku. Andre kerja… Alex belum pulang dari Surabaya. Aah…. Dengan suasana seperti ini, aku jadi males pakai baju. Ya sudah seharian ini aku bugil. Daripada iseng, aku nonton dvd blue aja sambil mbayangin Alex dan Andre. Sekitar jam 1an, suamiku telfon. Katanya dia malam ini nggak pulang, karena proyeknya di Sukabumi harus sudah selesai besok pagi. Setengah nggak percaya, aku menelfon hp-nya Andre untuk memastikan, ternyata benar! Tapi, baru saja aku akan menyuruh Andre menginap di rumah, Andre bilang kalo’ dia juga harus kesana. “Aahh…. Sial banget! BT!”

Dari pada bengong di rumah, akhirnya aku memutuskan untuk ke country club. Aku mau berenang saja. Ya sudah… setelah membawa perlengkapan, aku memacu mobil ke kolam renang. Sesampainya disana, aku segera ke locker room untuk salin dengan swimsuitku yang sexy abis. Setelah kupakai, aku senyum-senyum sendiri, bagaimana tidak? Putting susuku menyembul seperti ingin keluar, tapi tertahan oleh swimsuitku (sementara, belahan dadaku terlihat jelas sekali), di bagian selangkangan, belahan vaginaku tercetak jelaas sekali!
“Wow... pasti banyak yang konak, nih!” gumamku dalam hati.

Benar saja, perjalananku di pinggir kolam, diisi dengan lirikan, senyuman dan celotehan laki-laki iseng. Mulai dari anak-anak SMU, sampai bapak-bapak. Semuanya kutanggapi dengan senyuman dan geolan pantat (“Biar pada mampus!”) Sementara para wanita yang ada disitu, merasa gerah dengan penampilanku. Bodo amat!
Sekitar 1 jam aku disitu, ada seorang pria menghampiriku. Pada saat itu, aku sedang berendam di pinggiran kolam. Kami berkenalan dan ngobrol-ngobrol. Nama orang itu, Vito. Dia sudah menikah dan sedang menantikan kelahiran anak pertamanya. Sekarang, istrinya sedang dirumah orang tuanya, dan dia sendiri baru pulang kantor. Singkat cerita, kami akan bertemu malam ini, dirumahku. Tapi dia akan ke mertuanya dulu untuk melihat istrinya. Karena sudah tukeran no Hp, kami janjian lewat telfon. Akhirnya, Vito bilang kalau dia akan datang kerumahku jam 9 malam. Setelah aku memberikan alamatku, kami menyudahi pembicaraan telfon.

Vito mau datang jam 9… sekarang baru jam ½ 8. “Aah… lama banget!” pikirku. Daripada iseng, aku membongkar-bongkar baju-baju lamaku (nyari baju yang agak-agak sexy). Dan ternyata, aku menemukan rok cheerleaderku waktu SMA dulu, ya udah… aku pakai aja. Rok cheer itu, sangat pendek sekali, sekitar 15 cm dibawah selangkanganku, sementara di dalam aku pakai g-string hitam tembus pandang. Buat atasannya, aku pakai tanktop model tali yang agak longgar dan pendek, sehingga toketku bisa bergerak bebas (aku nggak pakai bh), sementara perut ku terlihat jelas sekali sampai sebatas pinggul Pas jam 9 lewat 10, Vito datang… “Ganteng banget sih ni orang!” pikirku.

Kami duduk-duduk di ruang tv sambil ngobrol-ngobrol, ngopi dan merokok. Sambil ngobrolin tentang keluarga kami masing-masing, Vito menyelingi dengan pujian-pujian seputar keindahan dan kemontokkan tubuhku. Aku kan jadi GR!!! Vito bercerita dengan jujur, bahwa semasa istrinya hamil ini, dia juga ‘jajan’ ke wanita-wanita lain. Seperti ; sepupu istrinya, istri teman kantornya, beberapa anak SMU dan SMP dan juga beberapa teman istrinya.
“Aku kan juga pingin ‘ginian’ Mi…” kata Vito sambil menjepitkan ibu jari tangan kanannya di jari tengah dan telunjuknya.
“Iya lah… aku ngerti kok!” kataku bersimpati.
Sekitar jam ½ 11, Vito numpang ke kamar mandi. Dia mau mandi, gerah katanya. Ya sudah… dia kusuruh mandi dikamar mandi ruang tidurku. Karena kamar mandi tamu sedang rusak ledengnya.
“Numpang mandi ya Mi…” kata Vito.
“Iya… iaya…” sahutku.
Vito baru saja masuk kekamar mandi, dan aku mau keluar kamar, tiba-tiba aku terasa mau pipis. Daripada ngompol, aku ketok aja kamar mandi. “Vito, aku mau pipis nih… bukain pintu dong?!”
Pas pintu kamar mandi dibuka, aku disuguhkan pemandangan indah. Penis Vito setengah tegang, dan itu saja sudar besar. Aku sampai menelan ludah, “Glk…. Gede banget!” gumamku.
“Ya sudah….” Kata Vito, “katanya mau pipis?!”
Setelah selesai pipis (belum cebok), Vito tiba-tiba memegang tanganku dan menyuruhku berdiri. Dia melepas rokku (cd ku sudah ku lepas dari tadi) dan menanggalkan tanktopku. Kini aku bugil. Kemudian, Vito memelukku dari belakang, dia menciumi leherku dan membasuh vaginaku, dengan posisi; tangan kanannya menyirami memekku dan tangan kirinya mengelus-elus barang kesayanganku itu.

Ternyata tidak sampai disitu saja. Vito mulai memainkan jarinya, keluar masuk lubang itilku sambil sesekali menggosok kelentitku. Ketika aku mulai mendesah keenakkan, tangan kanan Vito bergerak kearah payudaraku. Toketku itu, diremas bergantian. Sementara mulutnya mulai mengulum bibir dan menghisap lidahku. Tak lama kemudian, aku mengajak Vito ke tempat tidur. Setelah duduk di pinggiran spring bed, aku segera membuka kakiku lebar-lebar, mengundang lidah Vito untuk bermain dan menari di lubang tempat Fanny keluar dulu.
Desahan kenikmatanku makin keras, dan pada saat yang bersamaan…. Cairan pelumasku keluar. Tanpa banyak argumen, Vito segara memasukkan barangnya yang besar, panjang dan keras itu ke tempat yang seharusnya. Dia mulai merangsak maju mundur, sementara kedua tangannya menopang tubuhnya di kedua sisi tubuhku. Tusukan dan hujaman Vito sangat berirama. Segera aku ikut memutar-mutarkan pinggulku untuk merespon Vito. Desahan kenikmatanku keras sekali terdengar, sehingga terkadang, Vito membungkamku dengan melumat bibirku dengan bibirnya. Tak lama kemudian (dengan kontolnya masih menancap di memekku) Vito menggendong dan membopongku. Lalu ia duduk di kursi di samping tempat tidur. Setelah itu, aku yang bekerja.
Zakar Vito dikocok dengan keras dan cepat oleh memekku. Sementara aku bergoyang naik turun memanjakan kontol gede ini, aku berpegangan di pundak pria atletis itu, sambil tangannya meremas kedua payudaraku. Kemudian aku mencondongkan tubuhku lebih dekat ke tubuh Vito. Sambil menciumi bibirnya, aku menggerakkan pinggulku semakin cepat… dan efeknya? Aku orgasme… lalu aku menurunkan tempo pergerakanku, untuk merasakan kenikmatan ini. Vito sadar kalau lawan mainnya ini sudah jebol, tiba-tiba dia meremas pantatku dan menusuk vaginaku dari bawah… pelan tapi beraturan. “Anjing!” pikirku, “enak banget!”
Ketika ada jeda dalam serangan-serangan Vito, tiba-tiba telfon di meja samping kami berbunyi.
“Sst…” bisikku, “kamu jangan ngomong dulu ya sayang!!”
Sambil berbicara di telfon (itu suamiku), aku bergerak turun naik secara perlahan-lahan. Sementara Vito menjilati putting susuku. Di tengah pembicaraan telefon, Vito berbisik, “Aku mau keluar!” Setelah aku berhenti bergerak, Vito memasukkan batangannya dalam-dalam sambil menekan pantatku. Segera aku tutup telfon dengan tanganku dan aku berteriak tertahan… memekku di semprot oleh sperma yang hangat, kental dan banyak sekali. Setelah semuanya keluar, Vito menciumi dan melumat bibirku. Kontolnya masih di dalam memekku, ketika aku melanjutkan pembicaran telfon dengan suamiku. Tak lama kemudian aku menutup telfon. Tanpa membersihkan kedua alat kelamin kami, kami berbaring kelelahan. Setelah berbaring 10 menitan… tiba-tiba aku merasa lapar sekali, dan setelah aku tanya, Vito juga.

Lalu aku keluar. Vito tetap di rumahku (takut dilihat orang). Setelah hanya mengenakan piama mandi (didalem gak pakai apa-apa), aku beli nasi goreng yang kebetulan lewat di depan rumah. Lalu, aku dan Vito makan sambil masih bertelanjang bulat. Selesai makan, kami nonton Tv di kamar tidurku (yang nonton sih Vito, aku sibuk dengan batangannya yang aku sepong dengan beringas). Sepanjang malam itu, kami 3 kali ML. Sekitar jam 1/6, kami tidur.

Aku kaget sekali, sekitar jam ½ 8 ada yang memencet bel rumahku. Aku lihat, Vito masih tertidur pulas. Bergegas aku cuci muka dan mengenakan piama tidurku (aku dan Vito masih bugil). Setelah kubuka pintu, ternyata yang datang supir ibuku. Dia mengantar Fanny pulang. Setelah itu dia pun pergi.

Setelah membangunkan Vito, aku membuatkan sarapan. Di meja makan, aku mengenalkan Fanny ke Vito. Vito tersenyum ketika mendengar pertanyaan polos Fanny;
“Kok mami sama Om Vito telanjang?”
“Iya. Kan habis main kuda-kudaan…”jawabku asal.
“Fanny jangan bilang ke papi ya…” kata Vito menimpali.
“Iya Om….”
“Sekarang, mami mau mandi sama Om Vito. Fanny mau ikut nggak?” kataku sambil berdiri dan menggandeng Vito.
“MAU…!!!”

Di kamar mandi, Fanny yang duduk di ujung bathtub terpaku bingung melihat aku yang sedang berlutut sambil menghisap penis Vito yang duduk di toilet.
“Mami makan apaan tuh?” tanyanya polos.
“Mami lagi maem permennya Om vito sayang…” jawabku tanpa menoleh ke Fanny, “kan Fanny sering ngeliat… masa belum tahu juga?”
“Iya, Fanny tahu… terus nanti dimasukkin ke memeknya mami kan?”
Vito terkejut mendengar omongan Fanny, “Kok Fanny tahu memek? Tahu darimana?”
“Aku yang ngasih tahu…” sahutku.
“Oo…!”
“Terus…” lanjut Fanny, “mami juga maem permennya papi?”
“Pernah sih… tapi sekarang mami males! Habisnya, permennya papi kecil. Kalo’ punya Om Vito… bbeesssaaarrr….. bangeettt! Fanny mau pegang gak?”
“Boleh Fanny pegang nggak Om?” tanya Fanny ke Vito.
“Boleh… sini!” jawab Vito.
Aku hanya tertawa saja melihat ulah Fanny dan Vito. Akhirnya, setelah selesai mandi, kami bertiga bugil seharian itu.

Setelah itu, kami bertiga duduk-duduk di ruang Tv. Aku dan Vito senderan dengan santai di sofa. Aku iseng-iseng ngocokin batangan Vito, sementara dia sedang berbicara dengan istrinya di hp, sambil sesekali mencium bibirku dan meremas toketku. Aku merasakan cairan pelumasku keluar, ketika Vito menutup hp-nya. Tanpa banyak bicara, aku langsung berputar dan duduk di paha Vito sambil mengangkang. Vito yang langsung memahami nitaku, segera menggenggam batangannya dan mengarahkannya langsung ke vaginaku yang kian melebar. Lama sekali kami mengolah kenikmatan kami dengan gaya itu. Tusukan-tusukan Vito semakin cepat ketika aku mengerang dan bergetar dengan hebat. Aku orgasme! Setelah itu, Vito membaringkan aku terlentang di lantai yang hanya beralaskan karpet. Sambil setengah membungkuk, Vito berusaha mengejar orgasmenya sendiri. Benar saja… tak lama kemudian, vaginaku kembali dibanjiri cairan kental dan hangat milik Bapak Vito. Tidak itu saja, sisa sperma yang masih ada di zakarnya di semprotkan di payudaraku, dan dibalurkan di bibirku.
Kami berbaring bersebelahan. Sama-sama merasakan kenikmatan yang kami dapat. Aku menggoda Fanny dengan menorehkan peju Vito yang ada di toketku dan menempelkannya di hidung Fanny.
“Iih… mami… apaan sih itu? Kok lengket?” kata Fanny sambil mengelap hidungnya sendiri.
“Itu namanya sperma… tapi mami, nyebutnya peju! Enak deh Fan, kamu lihat mami njilatin itu kan?”
“Rasanya apaan sih mi?” tanya Fanny. Lalu aku menorehkan sisa sperma itu ke bibir Fanny yang langsung meringis, “Iih… asin!” katanya.
Vito dan aku tertawa terbahak-bahak melihat ulah Fanny
Mungkin banyak orang yang bertanya-tanya, kenapa ketika aku sedang ML, selalu ada Fanny (anakku-pen)? Pertanyaan itu akan aku jawab dengan sebuah cerita pendek, semasa aku masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Dan aku akan bercerita sepolos mungkin (seperti anak kecil), supaya anda-anda yang membacanya, mengerti suasana dan cara berfikirku pada saat itu.

Walaupun masih kelas 2 SMP, tapi bentuk tubuhku sudah seperti postur tubuh gadis umur 17/18 tahun. Walaupun belum besar dan kencang seperti sekarang, tapi payudaraku sudah tumbuh melebihi anak perempuan seusiaku. Bahkan tak jarang, teman-teman lelakiku berusaha untuk meremas atau paling tidak berusaha untuk memegang payudaraku ini. Ini tak lepas dari partisipasi ibuku dalam membentuk aku. Ibu selalu mengajarkan aku untuk menjaga badan. Ibuku saja, pada saat itu, badannya masih kayak orang belum kimpoi. Buah dadanya besar dan kencang, pantatnya bulat dan montok, tapi pinggangnya langsing. Dan ibu selalu mengajakku ketika ia sedang dandan, dan akupun mulai belajar berdandan dan merapihkan diri. Ibu juga mengajari aku cara merapihkan bulu-bulu yang ada di sekitar kemaluanku. Ibu tidak malu untuk memperlihatkan kemaluannya sendiri, dalam rangka memberikan pelajaran untukku.

Terkadang, ketika sedang jalan atau belanja ke pasar, ibu sering di goda oleh laki-laki. Tapi ibu selalu senyum dan bilang begini; “Lihat Mi,… semua laki-laki pada ngeliatin ibu. Mereka cuma bisa lihat, tapi gak bisa nyentuh… kasihan ya…?!” Tapi memang, ibuku yang cantik dan sexy ini selalu menjadi pusat perhatian. Dan ibu pun seolah selalu ingin memamerkan keindahan tubuhnya. Ibu nggak pernah malu untuk berpakaian, mulai dari celana jeans ketat, rok mini (yang pendek banget), sampai baju-baju yang agak terbuka. Kalau di rumah,… jangan ditanya…. Dia selalu memakai celana pendeknya yang super pendek dan ketat. Bahkan, kalau di rumah nggak ada orang, dia pasti telanjang bulat (hihihi… nggak ibu, nggak anak…. Sama aja!).
Pernah ada satu kejadian. Waktu itu, aku dan ibu sedang jalan-jalan ke Aldiron di Blok M. Saat itu, kami sedang makan di sebuah rumah makan. Aku sedang duduk-duduk sambil menunggu pesanan, dan ibu sedang ke kamar kecil. Tiba-tiba, ada seorang laki-laki yang mendatangi aku dan bertanya; “Dek, tadi itu ibu kamu ya?” tanya laki-laki itu. “Iya!” jawabku. Lalu ia bertanya lagi, “Bilang sama ibunya ya… tanyain, Om boleh kenalan nggak?”, lalu dia balik ke kursinya sendiri. Ketika ibu balik dari kamar kecil, aku menyampaikan pesan orang tadi. Lalu ibu melihat ke arahnya dan tersenyum. Singkat cerita, 1 jam kemudian kami sudah belanja-belanja bertiga; aku, ibu dan laki-laki tadi (namanya Om Rahmat). Sepulangnya dari Blok M, kami diajak mampir kerumahnya Om Rahmat. Kami disana dari jam 3 sore, sampai jam 9 malam. Aku disuguhin apa aja yang aku mau. Di situ cuma ada Om Rahmat saja, nggak ada siapa-siapa lagi. Aku cuma nonton video atau main nintendo (katanya punya anaknya Om Rahmat). Ibu dan Om Rahmat ngobrol-ngobrol di kamarnya Om Rahmat di atas, sementara aku di bawah, dan mereka nggak pernah keluar kamar.
Aku cuma ngeliat ibu turun 3 kali, katanya mau ke kamar mandi, dan ibu hanya memakai handuk saja. Aku sempet tanya, tapi kata ibu, dia dan Om Rahmat sedang olahraga senam di kamar atas. Pas pulang, kami dianterin sampai depan gang dekat rumah. Sebelum turun mobil, ibu sempat dicium sama Om Rahmat di bibirnya, laaammmaaa banget…!
Terus, tangannya Om Rahmat ngeremes-remes dadanya ibu, dan ibu merogohkan tangannya ke dalam celana pendeknya Om Rahmat, seperti sedang menggenggam sesuatu. Setelah selesai, kamipun turun mobil dan pulang. Pas lagi jalan mau kerumah, ibu ngomong begini; “Mia, nanti nggak usah bilang ke ayah, kita darimana. Nanti ayahmu jantungan… bilang aja kita kemaleman di jalan, soalnya kena macet!” Aku hanya menganggukkan kepala, mengiyakan perintah ibu. Dan kejadian itu nggak Cuma sekali-dua kali… tapi sering sekali, dan nggak cuma sama Om Rahmat, tapi juga sama beberapa pria yang aku lupa namanya.Tapi yang jelas, pada saat itu aku merasa bangga sekali punya ibu yang cantik, sexy, selalu jadi pusat perhatian dan baik sama orang (soalnya waktu itu, ibu bilang kalo’ ibu selalu bantuin dan ngajarin olahraga ke semua pria yang aku lihat… tanpa dibayar! Baik kan?) O iya… nama ibuku Mirna.

Suatu hari, ayah sedang tugas luar kota selama 2 minggu. Ketika berangkat ke bandara, ibu ikut mengantarkan ayah. Sepulangnya dari bandara, ibu diantarkan pulang oleh salah seorang teman kantor ayah. Namanya Om Doni. Dia sempat ngobrol sebentar sama ibu, terus dia langsung pulang. Setelah ganti baju, ibu bilang kalo’ Om Doni mengajak ibu nonton bioskop dan makan malam. Aku disuruh jaga rumah sendiri… karena memang, aku ini adalah anak tunggal. Ketika aku dan ibu baru selesai shalat magrib, Om Doni datang menjemput ibu. Setelah ganti baju dan sedikit berdandan, mereka pun berangkat. Mereka pulang sekitar jam 11 malam. Ibu bilang, Om Doni mau nginep dirumah, soalnya ibu takut tidur sendiri. Jadinya, nanti Om doni tidur dikamar Ibu. Karena besok harus masuk pagi, aku pamit tidur sama ibu (yang sedang melepas bra di kamarnya) dan Om Doni (yang lagi duduk dipinggiran tempat tidur, dan sedang melepas celana dalamnya).

Aku terbangun. Aku lihat jam… jam 2 pagi. Aku mendengar ada suara orang ngobrol dan tertawa dari arah kamar mandi. Suaranya sih suara ibu dan Om Doni. Untuk memastikan, aku bangun dan berjalan pelan-pelan ke kamarnya ibu. Kamarnya ibu berantakan banget! Di lantai, ada baju dan celana dalam ibu, juga baju dan celana dalam laki-laki (mungkin punya Om Doni). Tempat tidur berantakan, dan di seprei ada cairan putih yang banyak sekali. Setelah kusentuh, cairan itu ternyata lengket banget. Pada saat itu, aku penasaran… ini apa ya? Lalu aku balik ke kamarku dan pura-pura tidur. Di luar, aku mendengar ibu dan Om Doni balik ke kamar sambil tertawa tertahan. Setelah aku pastikan mereka sudah ada di dalam kamar, aku bangun lagi dan berjalan pelan-pelan ke kamarnya ibu. Rupanya, pintunya nggak dikunci. Aku buka pelan-pelan dan aku mengintip ke dalam.

Didalam kamar, aku melihat seprei yang tadi sudah berada di lantai. Aku mendengarkan pembicaraan mereka;
“Makanya… kalo’ aku bilang keluarin di dalem… keluarin aja!” kata ibu.
“Aku nggak enak sama kamu…” sahut Om Doni, “ kalo’ jadi,… gimana?”
“Kan aku sudah bilang… aku selalu minum pil! Kamunya aja…. Dan kalaupun toh jadi, berarti Mia punya adik dan kita punya anak… iya kan? Pusing-pusing amat. Pokoknya, manfaatin memekku sebaik-baiknya… mumpung masih punya kamu. Nanti kalau suatu saat di pake orang, kamu nyesel lho!”
“Ya sudah… nanti babak ke 2, aku buangnya di dalem! Setuju?”
“OK!” kata ibu.
Mereka ngobrol dengan suasana dan kondisi yang aneh sekali. Mereka berdua telanjang bulat, terus ibu duduk mengangkang diatas Om Doni yang tidur terlentang. Setelah itu, aku melihat ibu berputar dan membungkuk di bawah Om Doni sambil mengemut sesuatu yang panjang dan besar. Yang kalau di buku biologi, namanya penis. Ibu ngapain ya?
Karena pintu kamar ibu langsung menghadap tempat tidur dari samping, maka akupun dapat dengan jelas melihat semua kegiatan mereka. Setelah mami selesai mengemut, sekarang posisinya gantian, Om Doni menjilati selangkangannya ibu sambil meremas-remas dadanya. Posisinya ibu, dia terlentang, dan pahanya dibuka lebar-lebar. Terkadang, Om Doni menyelipkan jarinya ke arah selangkangan ibu. Tapi kalo’ aku lihat, ibu sepertinya keenakkan, walaupun terkadang ia menjerit kecil. Tapi desahannya membuat jantungku deg-degan. Setelah mendengar ibu teriak tertahan, aku melihat Om Doni memasukkan penisnya ke dalam vaginanya ibu.
Sambil berlutut, Om Doni bergerak maju mundur. Ibu dan Om Doni sama-sama mendesah keenakkan. Om Doni bergerak makin cepat, sementara tangannya memegangi lutut ibu… lalu Om Doni berhenti. Pelan-pelan, ia mengeluarkan penisnya lalu mengocoknya dengan tangan. Aku melihat ibu bergerak perlahan. Sambil mengelus vaginanya, ia bangun dan membuat gerakan menungging, membelakangi Om Doni. Setelah itu, Om Doni memasukkan lagi penisnya ke dalan vaginanya ibu. Pinggangnya ibu di pegang oleh Om Doni, lalu ia kembali membuat gerakan maju mundur, kadang cepat, kadang pelan. Aku juga melihat dadanya ibu bergoyang kencang sekali.
Sekitar 10 menit kemudian, Om Doni berhenti, lalu tiduran terlentang. Penisnya yang besar dan panjang itu, di pegang sama ibu… terus ia memasukkannya sendiri kedalam vaginanya. Ibu sekarang duduk berlutut diatas Om Doni. Sementara penisnya, menancap di vaginanya ibu. Aku melihat tangannya ibu diatas dada teman ayah itu. Aku berfikir, mungkin untuk menyangga badannya yang agak condong ke depan supaya tidak jatuh, karena pada saat yang bersamaan, ibu menggoyangkan pinggulnya maju-mundur, turun naik, dan kadang di putar-putar. Nggak lama setelah itu, ibu menjatuhkan dirinya di di dada Om Doni, lalu diam tak bergerak. Desahan dan erangan ibu semakin keras, ketika Om Doni meremas kedua belahan pantat ibu sambil menusuk-nusukkan penisnya terus menerus ke dalam vagina ibu. Penis Om Doni yang besar itu terlihat basah sekali, ketika ia bergerak makin cepat dan ibu berteriak tertahan. Di tengah desahan, erangan dan teriakan tertahannya, tiba-tiba aku mendengar ibu ngomong; “Aku dapet… aku dapet!!! Kamu hebat..!!” Pada saat itu, aku bingung mendengarnya, dapet? Dapet apaan? Gak lama kemudian, aku juga mendengar Om Doni ngomong; “Mir… aku mau keluar! Memekmu siap nerima ya…..”
Setelah itu, sambil masih berpelukan, ibu dan Om Doni berputar. Sekarang ibu dibawah. Aku melihat kedua kakinya dilingkarkan di pantat Om Doni, seakan-akan sedang sedang menekan dan menariknya, sementara tangannya dilingkarkan di leher Om Doni. Tak lama, aku mendengar Om Doni dan ibu berteriak pelan “Aacchhhh….!!!” Dengan nada puas. Setelah menekan-nekankan pantatnya 3 kali, Om Doni bangun dan mencabut penisnya. Lalu ia menggenggam dan mengocokkannya di depan mulut ibu yang membuka. Ada cairan putih yang keluar dari penis Om Doni. Ibu menelan cairan itu, lalu kembali menghisap-hisap penis Om Doni yang berlutut sambil mengangkang diatas mulutnya. Om Doni tersenyum puas, sambil melihat ibu yang bernafsu sekali menjilati penisnya, aku mendengarnya berkata; “Dasar kamu, udah nerima di dalem… masih aja pingin dapetin peju sisa…” Lalu mereka berdua tertawa.

Mereka sepertinya mau bangun. Aku langsung buru-buru ke kamar. Aku mendengar mereka berjalan ke kamar mandi. 5 menit kemudian, mereka balik ke kamar dan mengobrol. Karena kamar ibu bersebelahan dengan kamarku, otomatis aku mendengar obrolan mereka.

“Sumpah!!” kata ibu, “yang kedua tadi enak banget!”
“Iya… kayaknya, pejuku keluar banyak banget deh!” timpal Om Doni, “soalnya, yang kamu telen aja udah sisa!”
“Emang… banyak banget! Sampe netes dari memekku!”
“Iyalah…!!! Pejuku banyak… memekmu sempit… mana muat nampung?!”
“Itulah gunanya jaga badan…” kata ibu, “biar anak sudah SMP, badan harus tetap sexy, dada harus tetap kencang. Dan yang penting,… memek harus tetep sempit, supaya yang nyobain, nggak kecewa. Kayak perawan kan?”
“Itu yang aku suka… padahal sempit ya… kok kontolku bisa masuk semua?”
“Mirnaaa…..!” sahut ibu bangga, “padahal…. dari beberapa peler yang pernah masuk ke memekku, punyamu yang paling besar dan panjang lho! Punya suamiku aja kalah!! Ditambah,… pejumu gurih banget! Sampe ketagihan, aku!”

Sebenarnya, aku bingung mendengar pembicaraan mereka. Peju, kontol, peler, memek… itu apaan sih? Dan aku bertekad untuk menyakan itu semua ke ibu besok pagi! Tapi dibalik itu, aku senang punya ibu seperti itu. Tubuh dan semua anggotanya selalu digunakan untuk menyenangkan hati banyak orang. Akhirnya… akupun mengantuk. Tapi sebelum benar-benar tertidur, aku mendengar ibu berkata; “Babak ketiga mulai… teng!” Lalu Om Doni, “Kontolnya Doni melawan memek istri temannya!!”
Dan mereka berdua tertawa tertahan.


Itulah sekelumit kisah masa kecilku. Sudah terbayang kan? Kenapa setiap ML aku mengajak Fanny? Ya… supaya dia mendapatkan informasi yang benar tentang apa saja yang dilakukan oleh maminya ini. Karena, aku dulu mencari tahu sendiri tentang ini semua. Dan aku nggak malu buat bilang.. mmhh… bahwa keperawananku hilang pas aku kelas 3 SMP. Dan itu adalah perbuatan kakak sepupuku sendiri. Tapi itu adalah cerita tersendiri…
Makanya,… selain membantu Fanny mengerti tentang tubuhnya sendiri, aku juga mau bilang, bahwa ML didepan anak kecil, apalagi anak sendiri, sensasinya beda banget! Kalo’ nggak percaya, coba sendiri yaaa….!!
Sekarang Fanny sudah masuk sekolah. Memang sih dia baru play group, tapi selama dianya senang… aku dan Mas Tino nggak masalah. Selain di rumah sudah nggak ada pembantu, tugasku semakin banyak dengan mengantar-jemput Fanny ke sekolahnya… belum lagi harus melayani Mas Tino (dan juga ‘suami-suami’ku yang lain). Pokoknya mulai saat ini, aku sibuk sekali.

Sudah dua hari ini, aku harus menjemput Fanny dengan menggunakan taksi. Mobilku lagi ada di bengkel, tapi nggak apa-apa. Sewaktu sedang menunggu Fanny keluar sekolah, aku melihat-lihat sekeliling… halaman sekolah dipenuhi ibu-ibu muda yang juga sedang menunggu anak-anaknya. Tapi aku males banget bila harus bersosialisasi dengan mereka. Aku terus melihat-lihat, sampai akhirnya pandanganku tertumbuk pada seorang pria, yang keberadaannya sangat aneh sekali. Maksudku, kebanyakan yang ada di sini adalah ibu-ibu. Kenapa ada bapak-bapak disini?
Yaaa…. Kalau diperhatiin, bapak yang satu ini sih cukup masuk dalam kriteriaku. Tinggi, putih dan mmhh… ganteng juga ? Sedang asik-asiknya ngeliatin si bapak itu, tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Waahhh…. Sebentar lagi, halaman ini akan dipenuhi anak-anak kecil yang berlarian mencari ibunya. Berarti aku harus siap-siap….

Benar saja, tak lama kemudian, halaman ini penuh dan berisik sekali. Aku mendongakkan kepalaku untuk mencari Fanny. Tapi nggak lama… Fanny datang menghampiriku. Dia berlari ke arahku… “Mami…” teriaknya lucu. Dia berdua dengan temannya, anak laki-laki kecil yang lucu banget tampangnya.
“Halo sayang…” kataku, “ini siapa?”
“Namanya Haikal, mami!” jawab Fanny, “Haikal ini teman aku”
“Halo Haikal… kamu nunggu mami kamu juga ya?” tanyaku pada Haikal.
“Nggak tante… aku nunggu Ayah. Soalnya mami lagi pergi… 1 minggu!” katanya tegas tapi lucu, sambil mengacungkan 1 jarinya.
“Ooo… Ayahnya sudah datang?” tanyaku lagi.
“Sudah… itu” jawab Haikal sambil menunjuk sosok pria yang sedang setengah berlari menghampiri kami. Ternyata, cowok ganteng yang dari tadi aku liatin adalah Ayahnya Haikal.

“Halo… ibunya Fanny ya?” katanya membuka pembicaraan.
“Oo.. tahu Fanny ya?” kataku.
“Iya… Haikal sering cerita tentang Fanny. Rupanya mereka teman akrab!” katanya lagi, “O iya… namanya siapa?” tanya ayah Haikal, “Saya Fachri!” sahutnya.
“Eh… mmhh… Mia!” jawabku.
“Mia sama Fanny mau langsung pulang?” tanya Fachri.
“Mmmh… iya sih. Kenapa memangnya?” jawabku.
“Nggak papa. Cuma mau ngajak makan siang bareng aja. Gimana? Mau ikut?”
“Terserah Fanny… kalau dia mau, aku sih ikut aja!” jawabku.
Lalu Fachri bertanya ke Fanny, “Fanny mau ikut Om makan dulu nggak. Sama Haikal?”
“Mau.. tapi mami ikut!” jawab Fanny lucu.
Tanpa banyak bicara lagi, akhirnya kami berempat (dengan menggunakan mobil Fachri) meluncur ke arah Kemang untuk makan siang.
Sambil makan, Fachri bercerita banyak tentang kehidupan rumah tangganya. Menurutku, keluarga Fachri termasuk keluarga harmonis, walaupun pekerjaan istrinya banyak menyita waktu, namun pada dasarnya, mereka cukup harmonis.
Yaa… aku mencoba membandingkannya dengan keluargaku sendiri, walaupun Tino sibuk dengan pekerjaannya (dan aku sibuk dengan orang-orang yang mengerjai), pada dasarnya, kami pun cukup harmonis (selama Tino tidak tahu dengan ulah istrinya ini ?). Cukup lama juga kami di Kemang, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk pulang. Fachri mengantarkan aku dan Fanny sampai di rumah. Setelah ngobrol sebentar dan tukeran no telf (rumah dan hp), Fachri dan Haikal pun pulang.

Sekitar jam 9 malam, suamiku sampai dirumah. Saat itu, aku sedang membaca novel yang baru aku beli kemarin. Setelah selesai mandi, suamiku langsung berbaring di tempat tidur.
“Kamu nggak makan, mas?” tanyaku.
“Mmh… tadi sudah. Aku sama Andre makan di kantor. Aduh… Mi… pekerjaanku makin lama makin menumpuk. Btw, besok aku lembur dan paginya aku harus langsung ke Menado.” Kata suamiku.
“Loh? Terus kalo besok lembur, malamnya kamu pulang?” tanyaku lagi.
“Enaknya sih aku nginap di kantor ya…. Ya udah deh, kamu tolong siapin baju-bajuku aja ya…”
“Berapa lama di Manado, mas?”
“Kurang lebih 1 minggu….!”
Wow… lama sekali, pikirku. Berarti kesempatanku untuk berpetualang, di mulai lagi. Tapi sama siapa ya? Alex… Sekarang dia tinggal di Semarang ; Andre… dia pergi ke Manado ; Vito… mmh.. suasana hubunganku dengan dia lagi nggak enak… yaahh… liat aja deh besok-besok.

Keesokan harinya, Tino berangkat sekitar jam 5 pagi… ke kantor, lembur & menginap di kantor dan esoknya langsung ke Menado. Setelah Tino berangkat, akupun langsung menyiapkan baju dan sarapan untuk Fanny yang mau berangkat sekolah. Sekitar jam 6an, hp ku berbunyi… ternyata Fachri.
“Pagi Mia…” kata suara ramah di seberang sana.
“Pagi Fachri… kok telfonnya pagi bener?”
“Mmh… nggak papa kan?”
“Ya.. nggak papa sih… Cuma heran aja, kok pagi-pagi telfon. Gimana Haikal, dah siap berangkat sekolah belum?”
“Sudah sih.. karena nggak ada ibunya, makanya aku bangun pagi-pagi untuk nyiapin semuanya… uuhh… capek juga ya?”
“Waahh… contoh ayah teladan! Sekarang lagi ngapain?”
“Siapa? Haikal apa aku?”
“Kamu!”
“Oo… lagi ganti baju.. mau nganterin Ikal. Kamu sendiri?”
“Aku juga lagi ganti baju… habis mandi! Sekarang lagi pake celana dalam! Kenapa emangnya? Mau bantuin?”
“Bantuin apa? Bantuin kamu pake cd? Mmmhh…. Mau banget!” Kata Fachri sembari tertawa kecil.
“Uuu… maunya!!”
“Eh… Mi… nanti mau bareng nganter Fanny ke sekolahan nggak? Kalo mau, nanti aku mampir dulu ke situ. Gimana?”
“Ya udah… lagian mobilku juga belum selesai servis. Masih di bengkel. Jam berapa mau dateng?”

“Mmhh… kalo kamu masih bertahan pake cd aja, aku pasti cepet datengnya!” goda Fachri.
“Dasar kamu tuh… pagi-pagi udah iseng…”
“Ya udah… gimana? Masih bertahan nggak?”
“Ntar dulu deh… perjalananmu ke sini kan kurang lebih ½ jam… kalo’ kamu bisa sampai disini dalam 20 menit, pas buka pintu, aku pasti masih pake kimono mandi. Gimana?”
“Tapi pake cd?”
“Ya… iyalah….”
“Mmmhh… gak usah deh…!”
“Terus aku bugil?”
“Iya!”
“Topless aja ya….”
“Mmmhhh…. Ok!”
“20 menit ya….!!!”
“OK!”
Sambil senyum-senyum, akupun memutuskan hubungan telfon dengan Fachri. Dalam hati aku berkata. ‘Thanks God… akhirnya bisa ngewe juga. Sama cowok Arab lagi… Wah, enak banget kali ya, pagi-pagi di genjot kontol Arab?! Beruntung banget sih kamu…!’ sambil mengelus memekku sendiri.

Setelah itu, aku membantu Fanny ganti baju hanya dengan memakai g-string tipis tembus pandangku yang berwarna senada dengan kulit tubuhku. Sementara diatas, aku membiarkan toket besarku yang indah ini menggantung bebas. Tentu saja Fanny bertanya dengan heran…
“Kok mami belum pakai baju…. Kan sebentar lagi aku berangkat sekolah…”
“Iya… iya… tapi nanti kita dijemput sama Om Fachri. Nanti Om Fachri ke sini dulu! Nyamper kita”
“Sama Haikal?”
“Ya… iya… sama Haikal. Kan mau sekolah juga”
“Tapi mami kok belum pakai baju? Nanti kalau Om Fachri dateng, gimana? Emang mami nggak malu, ininya keliatan?” Kata Fanny sambil memegang toketku.
Aku mau menjelaskan ke Fanny soal perjanjianku dengan Fachri, tapi daripada sudah berpanjang lebar Fannynya nggak ngerti juga, akhirnya aku jawab aja sekenanya..
“Mami belum pakai baju, soalnya mami nanti mungkin mau di pakai sama Om Fachri.”
“Di pakai gimana?”
“Ya… memeknya mami mau dipakai sama kontolnya Om Fachri…”
“Oo… mau gituan dulu ya…”
“Gituan apa?”
“Ya.. yang kayak waktu sama Om Vito, sama Om Alex itu maam….” Kata Fanny lucu.
“Ooo… iya… kayak gitu. Tapi jangan bilang-bilang ke Om Fachri soal Om Vito, Om Alex, Om Andre…. Ya? Soalnya Om Fachri kan ada keturunan Arabnya. Kata Tante Keke, orang Arab kontolnya gede-gede. Mami mau nyobain. Makanya jangan cerita2 soal papi-papi mu yang lain itu ya?”
“Iya!” sahut Fanny, “tapi nanti aku sama Haikal ngapain?”
“Ya… kamu sama Haikal ngeliat mami aja!”
“Nggak boleh ikut gituan juga?”

Aku tertawa mendengar perkataan Fanny, “Ya nggak boleh… besok kalo Fanny sudah besar, Fanny boleh deh begituan!”
“Kalo gituan, namanya apa sih mam?”
“Mmhh… namanya banyak. Ada yang bilang ngewe, ngentot, ML…. pokoknya banyak deh…!”
Kami terus ngobrol sampai akhirnya aku mendengar pintu pagar ada yang membuka. Aku tahu itu Fachri… spontan aku lihat jam… wow… Cuma 15 menit lebih sedikit. Sambil berjalan ke depan, aku berfikir akan memberikan Fachri bonus. Sebelum membuka pintu, aku melepas kain peradaban terakhir yang menutupi memek sempitku ini dan melemparnya asal ke arah sofa. Sambil masih mengenakan kimono mandi, aku membukakan pintu.
“Kok cepet datengnya?” tanyaku ke Fachri sambil menggandeng tangannya.
“Gimana nggak cepet? Orang ditawarin ngeliat toket… pagi2 lagi!”
“Diih… siapa yang bilang mau ngeliatin toket?” tanyaku genit.
“Ooo… nggak mau nepatin janji?”
“Kan aku bilang, kalo’ kamu datengnya cepet, aku masih pake kimono tapi nggak pake BH… gitu doang kok…”
“Yaahh… terus aku nggak boleh liat?” tanya Fachri sedikit kecewa.
“Emangnya kalo sudah liat, mau diapain?”
“Toketmu?”
“Iyalah…”
“Mau aku remes2!!!”
Nggak boleh…” kataku sambil berlari kecil setelah sebelumnya meremas batangan pria keturunan Arab ini.
Merasa barangnya diremas tanpa izin, Fachri langsung lari mengejarku.

“Aaachh… jangan! Tolong!” teriakku sambil tertawa, ketika Fachri berhasil menangkapku. Lalu aku dipeluknya dari belakang. Aku pura2 meronta-ronta. Tapi tanganku aku lingkarkan ke belakang lehernya. Dan dengan begitu, aku memasrahkan tangannya yang kekar berbulu itu, merangsak masuk ke balik kimonoku dan meremas dengan lembut kedua toketku ini.

Tidak lama setelah itu, Fachri berhasil melepas kimonoku. Dan dia terkejut sekali melihatku bugil.
“Wow… kok kamu nggak pakai celana dalam?” tanyanya.
“Bonus!” jawabku singkat.
“Bonus apa?” tanyanya lagi.
“Bonus karena kamu sampai disini kurang dari 20 menit!”
“Mmh… kalo’ tadi aku sampainya Cuma 10 menit, bonusnya apa?”
“Aku suruh Fanny yang buka pintu.”
“Lho? Terus kamunya?”
“Bugil sambil ngangkang di tempat tidur.”
“Waah… kamu nggak bilang sih tadi. Kalo’ tau gitu kan, aku ngebut aja kesininya!” kata Fachri dengan nada kecewa.
“Tapi nggak papa kok. Biarpun kamu nggak 10 menit sampai sini, aku tetep mau kok kamu suruh ngangkang.”
“Kenapa emangnya?”
“Aku pingin ngerasain kontol Arab!”
“Dasar kamu!!!!!”



Kemudian, Fachri mulai menciumi bibirku. Dan aku dibopong ke arah sofa. Setelah sampai di sofa, Fachri duduk dan mulai melucuti sendiri celananya. Ternyata tubuh Fachri tuh bagus banget. Tegap, dadanya berbulu daaannn… kontolnya gede banget! Padahal itu aja baru setengah bangun. Sebelum mulai mengisap kontolnya, aku menyuruh Fanny menutup pintu depan yang masih terbuka.
Setelah Fanny menutup pintu, dia dan Haikal duduk di dekat ku dan Fachri.
“Mi…” kata Fachri, “anak2 gimana nih?”
“Gimana apanya?”
“Mereka disini ngeliatin kita.”
“Nggak papa… biar ngerti” kataku asal.
Fachri hanya senyum-senyum saja mendengar jawabanku. Sementara aku melanjutkan ‘kerjaanku’. Menikmati kontol arab satu ini sambil menggosok kelentitku sendiri.

Setelah selesai dengan kontolnya, aku berdiri di sofa dan membungkam mulut Fachri dengan memekku. Lidahnya mulai menari-nari diantara belahan memekku, dia menghisap dan menjilati kelentitku, sambil memainkan jarinya didalam lubang itilku. Cairan pelumasku keluar banyak sekali, sehingga memekku banjir. Menyikapi hal ini, Fachri segera membibimbing tubuhku untuk duduk di pangkuannya. Perlahan-lahan, batangan kerasnya mulai memasuki liang sempit yang seharusnya milik suamiku. Aku mulai mengoyang pinggulku untuk perlahan membiasakan diri dengan barang baru ini. Tapi, nafsuku tak bisa ku bendung lagi. Aku makin mempercepat gerakanku. Pada saat yang bersamaan, Fachri meremas kedua belah pantatku sambil menusukkan batangan kerasnya itu bertubi-tubi. Eranganku makin keras ketika bapak ini menghujamkan kontolnya kedalam memekku dan mendiamkannya saja disana, bukan apa-apa… semua urat yang mengeras didalam penisnya berdenyut dengan kencang sekali. Memekku merasakan sensasi yang belum pernah dirasakannya sama sekali.
“Ssshhh… Yang… kok berhenti?” tanyaku.
“Mmmhh… enak kan tapinya?”
“Iya…. Oohh….! Yang… aku basah banget ya….???”
“Nggak papa…. Kamu dah mau dapet belum?”
“Kayaknya… sshhh… dikit lagi… kenapa?”

Tapi Fachri tidak menjawab. Dia malah dengan tiba2 kembali menghujamkan batangannya itu. Kontan saja aku berteriak keenakkan… Aku tak tahu berapa lama Fachri menggenjot memekku, tapi yang jelas entah kenapa orgasmeku cepat sekali datangnya.
“Yang… uuuhhh… aku mau keluar….!!!”
Benar saja, tak lama setelah itu aku merasakan suatu sensasi kenikmatan yang hebat sekali. Tapi Fachri tetap tidak berhenti. Dia terus menggenjot memekku dari bawah. Makin keras hujamannya, makin kencang aku memeluk tubuh bapak ini. Wajah ganteng Fachri makin lama makin terbenam ke dalam kedua belah buah dadaku.

Kemudian, Fachri menghentikan serangannya sebentar untuk berdiri dan menggendongku. Sambil berjalan, Fachri mengangkat tubuhku dengan topangan tangannya di kedua belah pantatku, sementara aku mencoba untuk tetap memanjakan kontolnya dengan membuat gerakan naik turun. Tapi dia tidak jauh membawaku. Dia membaringkan aku di sofa tempat Fanny dan Haikal duduk.


“Ical minggir dulu… Ayah lagi sibuk main kuda-kudaan sama tante Mia!” perintah Fachri kepada Haikal.
“Fanny juga minggir dulu ya…” kataku pada Fanny, “Kamu sama Haikal duduk di bawah aja dulu ya…”
Lalu mereka pindah tempat ke lantai sambil tetap menyaksikan pertarungan alat kelamin milik ayah dan maminya.
Dengan posisi terlentang seperti ini, tentu saja memekku makin terlihat merekah. Ditambah dengan kedua kakiku yang aku buka lebar-lebar untuk memudahkan Fachri memasukkan kontolnya. Sambil mengocok batangannya sendiri, Fachri tersenyum dan berkata…
“Sumpah, Mi… memekmu enak bener!”
“Aahh.. kamu tuh… bisa aja! Kontolmu juga enak kok! Ayo… masukkin lagi… !”
Lalu Fachri kembali memasukkan kontol arabnya ke dalam memek lokalku. Sumpah… pergesekkan perlahan yang dibuat kontol Fachri kepada liang memekku, membawa sensasi kenikmatan yang cukup membuat nafsuku kembali memuncak. Sambil memegang kedua kakiku, Fachri kembali membuat penetrasi yang sangat hebat sekali. Mulai dari gerakan maju mundur perlahan sampai gerakan yang cepat sekali. Tiba-tiba, Fachri kembali menusuk dengan kencang memekku dan kembali diam tak bergerak. Sialan… rupanya ini jurus andalannya. Orgasmeku kembali terasa lagi ingin datang untuk yang kedua kalinya.
“Ooohh… ssshhh…. Kamu hebat banget ssiihh…. Aku mau dapet lagi!” desahku.
Tapi Fachri tetap tidak menjawab, dia malah membuat gerakan menusuk yang simultan namun gerakannya pendek-pendek, sehingga serasa seperti memompa orgasmeku. Tak lama kemudian, erangan dan desahan kenikmatanku kembali terdengar. Aku dapet lagi… Ketika kenikmatan ini sampai pada puncaknya, tiba-tiba Fachri menusukkan dalam-dalam kontolnya. Lalu terasa ada cairan yang mengalir didalam liang memekku. Lengket, kental dan kayaknya banyak sekali.

Setelah semua pejunya ditumpahkan kedalam memekku, Fachri mengeluarkan kontolnya dan menyuruhku menghisapnya. Dia duduk bersandar kelelahan di sofa, sementara kakinya dia buka lebar-lebar. Wow… kontol yang masih menegang itu terlihat mengkilat karena basah oleh cairan kenikmatan kami berdua. Langsung aku duduk di bawahnya dan mengocok batang besar itu sambil menghisap dan menjilatinya… sampai bersih. Setelah itu kami ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih telanjang bulat, kami kembali ke ruang tamu untuk bergabung dengan kedua anak kami.
“Fan…” kataku pada Fanny, “hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu ya?”
“Kenapa?” tanya Fanny.
“Om Fachri sama mami mau ngewe seharian…!”
“Mi… emang Fanny tau ngewe? Kok kamu ngomongnya gitu…?” tanya Fachri bingung.
“Sayang… Fanny udah pernah aku kasih tahu soal apa itu ngewe, ngentot, ML…. tinggal pilih!
“Oo….! Berarti seharian kita ngentot nih?” tanya Fachri lagi.
“Terserah kamu…” jawabku, “Kalo aku sih maunya gitu!”
“OK!”
“Berarti… hari ini kita… telanjang bulat!” kataku pada Fanny.
“Haikal juga telanjang, mam?” tanya Fanny.
“Tanyanya sama Om Fachri dong, Fan!” lalu aku bertanya pada Fachri, “Gimana yang… anakmu kita telanjangi juga nggak?”
“Ya sudah….”



Akhirnya seharian itu kami berempat telanjang bulat di rumahku. Aku, Fachri, Fanny dan Haikal. Betapa lucunya Fanny ketika ia membandingkan kontol Fachri dengan batangan imut milik Haikal.
“Kok punya Om Fachri gede banget mam?” tanya Fanny.
“Soalnya supaya muat di memeknya mami!” Jawabku singkat.
“Tante…” kata Haikal, “memek apaan sih?”
Tapi yang menjawab ayahnya sendiri. Sambil mengelus memekku, Fachri berkata…
“Ini yang namanya memek, Cal! Memeknya Tante Mia enak banget deh… coba kamu cium memeknya Tante Mia, pasti wangi banget baunya!”
Mendengar hal ini, aku segera menyodorkan memekku pada Haikal, “Cium Cal!” Lalu anak kecil ini mencium memekku. Belum selesai Haikal menciumi memekku, Fachri menyuruh anak laki-lakinya itu menjilat memekku. Jilatan Haikal memang nggak berpengaruh banyak, tapi geli2nya cukup bikin kaget juga, maklum… lidahnya anak kecil! Lalu aku juga menyuruh Fanny mengocok kontol Fachri dan mengajarkan untuk mengulumnya. Fachri tertawa kecil ketika ia melirikku… “Eksperimen nih?” Aku menjawab dengan mengecup bibirnya. “Sekali2 gak papa kan? Mumpung ada moment…” kataku.

Sekitar jam ½ 12 siang, HP Fachri berbunyi. Rupanya istrinya menelfon menanyakan kabarnya dan Haikal. Setelah selesai, Fachri menutup telfonnya. Saat itu, ia sedang memangku Fanny di sofa sambil mengelus-elus memek mungilnya. Fanny hanya diam walaupun kadang2 seperti kegelian. Sementara aku memangku Haikal sambil memainkan kontol kecilnya. Setelah tegang, aku mengocok kontol kecil itu dengan dua jariku. Tapi itu nggak lama, soalnya sekarang jam makan siang. Fachri mengajak aku untuk makan. Sekitar jam ½ 2, Fanny dan Haikal tidur siang berdua di kamarnya Fanny, sambil masih tetap telanjang bulat. Aku dan Fachri berdiri didepan pintu kamar sambil memperhatikan mereka. Fachri memeluk tubuhku dari belakang sambil tangan kanannya meremas toketku dan tangan kirinya mengelus memekku. Sementara tangan kiriku aku lingkarkan ke belakang lehernya dan tangan kananku menyelinap untuk menggenggam dan meremas kontolnya.
“Mi… hari ini aku seneng banget!” kata Fachri.
“Kenapa?”
“Bisa nyobain memekmu! Kamu?”
“Aku apalagi! Bisa nyobain kontol arab. Yang gede dan yang kecil”
Aku dan Fachri tertawa kecil.
“Sekarang kita ngapain?” tanya Fachri.
“Terserah!” jawabku, “ngapain aja aku mau… yang penting enak!”
“Yang enak yaa….”
“NGEWE!” potongku sambil meremas batang besar Fachri.
“Astaghfirullah!!!” sahut Fahri terkejut…
“Kenapa?”
“Kaget aku!” Sahutnya lagi, “Mi… aku mau tanya boleh nggak?”
“Apa sayang?” kataku sambil memutarkan tubuhku untuk berhadapan dengan Fachri sambil melingkarkan tanganku ke belakang lehernya.
“Kamu seneng banget ngentot ya?” tanyanya lagi.
“Mmhh… kalo iya kenapa?”
“Gak papa… Cuma heran aja!”
“Heran kenapa?”
“Mmmhh… aku tahu, aku pasti bukan laki-laki satu-satunya yang kamu jadikan petualanganmu. Iya kan?”
“Iya… terus?”
“Mmhh… suamimu tahu gak sih?”
“Ya … nggak lah.. kenapa emangnya?”
“Gak papa… Cuma pengen tahu aja reaksi suamimu kalo misalnya tiba2 pas dia pulang kantor, ada aku atau siapa lah… yang jelas-jelas habis ngacak-ngacak memek istrinya.”
“Mmhh.. aku nggak tahu gimana reaksinya. Tapi…. Boleh dicoba juga tuh kapan2! Gimana? Kamu mau nyoba nggak?”
“Itu maksudku dari tadi…” sahut Fachri, “Lucu kali ya….??”

Kami berdua lalu pergi ke ruang tamu sambil masih ngobrolin tentang berbagai spekulasi soal eksperimen tadi. Kami terus ngobrol sambil terus bercumbu, tanpa terasa sudah magrib. Sambil masih telanjang bulat, kami lalu menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu, sementara dari arah kamar Fanny, aku mendengar dua anak itu sudah bangun dan mencari ayah dan maminya.

Fachri menginap malam itu. Kami mengisi malam ini dengan berfoto berempat (sambil telanjang bulat tentu saja). Kebetulan, aku punya cam digital dan handycam. Fachri memotret aku dengan berbagai macam cara dan gaya. Sampai akhirnya, dia menyuruh aku menghisap titit Haikal, sementara dia dengan senangnya merekam adegan itu dengan handycam. Sebagai gantinya, aku menyuruh dia menjilati memek mungil Fanny. Setelah selesai, kami menontonnya di TV. Fachri tertawa geli sekali ketika melihat adeganku dengan anaknya.
“Liat Fan… mamimu!” katanya kepada Fanny yang sedang dia pangku. Sementara tangannya tidak berhenti mengelus-elus memek anakku itu. “Mamimu itu seneng banget sih sama yang namanya kontol!”
“Aah.. kan kamu yang nyuruh?!” kataku membela diri. Sementara Haikal yang aku pangku berkata, “Tapi tadi aku kok enak yaa, Tan…”
Aku dan Fachri tertawa mendengar Haikal bicara begitu.
“Makanya Cal…” kata Fachri, “ayah nggak ada bosen-bosennya disepong sama Tante Mia… soalnya hisapannya enak banget!”
Aku tersenyum kepada Fachri lalu mengecup bibirnya, “Makasih atas pujiannya ya Yang…!” Lalu berkata kepada Haikal, “kontolnya ayahmu juga enak kok Cal… makanya tante mbolehin kontolnya ayahmu ngacak-ngacak memeknya tante….!”

Sekitar jam 11 malam, kedua anak itu tertidur. Sementara kedua orang tuanya ini, kembali saling meniduri.
Hari ini aku dan Fachri sudah genap 4 ½ bulan menjalani hubungan. Di sela-sela hubunganku dan pria Arab itu, aku juga masih menjalin hubungan dengan pria-pria yang dulu sering banget menggenjotku di tempat Fanny keluar (menurutku mereka sudah ketagihan) ?.

Sekarang sudah jam 5 sore, berarti suamiku sebentar lagi pulang dari kantornya. Aku dan Fachri baru saja selesai mandi, setelah sebelumnya dia membuatku orgasme yang tak terhitung banyaknya. Aku baru saja selesai berpakaian (daster pendek dan tipis, no bra dan hanya mengenakan g-string tipis tembus pandang), sementara Fachri baru saja memakai celana panjangnya, ketika aku mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Suamiku pulang! Segera saja aku mnyuruh Fachri untuk ‘berakting’ di ruang tamu (rumah sedang kosong, Fanny dirumah ibuku).

Tak lama kemudian, suamiku masuk kedalam rumah dan langsung bertatap muka dengan Fachri.
“Mi… eh… ada tamu… siapa ya?” tanya suamiku yang segera menjabat tangan Fachri yang berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Fachri!” katanya tegas.
“Mmh.. Tino.”
Aku segera menengahi suasana yang agak kikuk itu, “Fachri ini temanku SMA dulu mas… dia kesini mau mengkonfirm soal reunian bulan besok!”
“Oo… kok tapi tadi pintunya ditutup?” tanya suamiku curiga.
“Anu… tadi ada pengamen lewat. Males banget aku ngelayaninnya. Makanya pintunya aku tutup, eh… keenakkan ngobrol sampe lupa mbuka pintu!” jelasku asal.
“Oo… Fanny belum pulang?” tanya suamiku lagi.
“Belum!”
“Ya sudah… Mmh.. aku mandi dulu ya. Fachri, saya tinggal dulu ya…!”
“O.. Ok!”

Setelah suamiku masuk ke kamar mandi, Fachri segera memelukku. Sambil berbisik di telingaku, dia bilang kalo aku pinter banget bikin alasan..
“Ya… kalo nggak gitu, kita nggak bisa ngewe lagi dong…” jawabku.
Tapi Fachri tidak berkata apa-apa lagi, dia langsung mengulum bibirku yang aku balas dengan bernafsu sekali, sementara tangan si Arab itu masuk ke dalam dasterku dan melesat ke arah celana dalamku.. dan merogohnya sambil mengelus dan menggosok memekku. Sementara tanganku mengelus gundukan daging di balik celananya di arah selangkangan. Sekitar 10 – 15 menit kemudian terdengar pintu kamar mandi terbuka, aku dan Fachri segera berakting lagi pura-pura ngobrol di sofa.

Setelah berganti pakaian, Tino langsung bergabung dengan kami. Tapi aku malas banget bila harus berakting terus. Setelah minta ijin untuk ke belakang, aku segera pergi ke dapur. Di dapur aku menelfon ibuku untuk menelfon ke rumah. Aku bilang supaya ibu pura-pura menelfonku untuk menjemput Fanny. Tentu saja dia bertanya-tanya, tapi aku menjelaskan dengan singkat alasanku. Aku bilang ke Ibu, kalo dirumah ada selingkuahanku yang lagi ngobrol sama Tino.
Aku bilang aja kalo aku dan selingkuhanku itu lagi nanggung dan ingin melanjutkan ‘pertempuran’ dirumah ibu. Ibuku langsung mengerti dan dalam 5 menit akan menelfon ke rumah.

Benar saja, 5 menit kemudian telfon berbunyi. Tino yang angkat. Setelah menutup telfon, Tino bilang kalo ibu minta Fanny dijemput, soalnya ibu mau pergi. Aku segera berganti pakaian di kamar. Aku hanya memakai tank top dan rok jeans yang pendek banget. Setelah selesai berpakaian aku segera ke ruang tamu untuk izin sama Tino. Aku segera memberi kode pada Fachri. Lalu, dengan beralasan akan pulang, Fachri segera pamit kepada Tino, setelah sebelumnya pura-pura menawariku tumpangan untuk mengantarkanku ke rumah ibu. Setelah itu, aku dengan menggunakan mobil Fachri, pergi ke rumah ibu.

Sesampainya disana, ibu tidak banyak bertanya. Dia langsung aku kenalkan pada Fachri. Setelah itu, aku dan Fachri segera masuk kamar ibu dan nggak keluar-keluar sampai jam ½ 9 malam. Saat itu aku sedang membersihkan batang zakar milik bapak beranak satu itu, ketika ibu masuk ke kamar dan memberitahu kalau Tino telefon. Setelah minta izin ke Fachri (masih bugil) aku segera keluar kamar untuk menerima telefon Tino. Setelah selesai, aku kembali ke kamar. Di dalam kamar, aku melihat ibu sedang menggenggam batangan Fachri sambil mengocoknya dengan perlahan-lahan,
“Gimana bu? Besar kan kontolnya Fachri?” ujarku pada ibu yang sepertinya sedang menikmati banget kerjaannya itu.
“Iya…” sahutnya, “ibu boleh nyobain ya Mi…”
“Ya… tanya yang punya dong. Boleh ya yang, ibuku mau nyobain kontolmu”
“Terserah! Anaknya kan udah nyobain, sekarang ibunya!” ujar Fachri.
Pemandangan terakhir yang kulihat adalah ibu menanggalkan pakaiannya dan mulai beraksi. Sementara aku, sambil senyam-senyum, meninggalkan mereka berdua di dalam kamar.

*****

Keesokan harinya, Fachri menelfonku (dia nelfon dari rumah ibuku… dia menginap disana malam itu), katanya dia nggak bisa ke rumahku hari ini, karena tadi malam ia dikerjai habis-habisan oleh ibu ?. Terus aku juga bilang kalo nggak kerumah gak papa, soalnya ibu dan kakaknya Tino akan datang malam ini dan mungkin menginap selama 3 hari.

Aku nggak tahu apa urusan mertuaku itu datang kesini, apalagi Mbak Tammy juga ikut. Aku gak pernah suka sama kakak perempuan Tino itu. Sudah gendut, cerewet, selalu iri dengan penampilanku, bawel, suka ikut campur… uuugghh… pokoknya semua hal yang negatif ada di dia deh…. Tapi yang membuatku agak senang, Mas Pras (suaminya Tammy) ikut juga ke sini. Aku bingung, padahal Mas Pras itu ganteng, tinggi, baik, lucu ,ramah… kok mau ya sama si Tammy gembrot itu? Cocoknya, Mas Pras itu dapet perempuan sexy kayak adik iparnya ini… tapi, sudahlah….

Mereka datang sekitar jam 5 sore. Tino menjemput mereka di Gambir. Setelah berbasa-basi nggak jelas dengan ibu mertuaku itu, aku langsung ke dapur untuk membuatkan minum dan menyiapkan makan malam.


Jelas-jelas aku sibuk, si gembrot itu bukannya mbantuin, malah mencela aku. “Kamu kok kayak males-malesan gitu sih Mi kerjanya? Nggak ikhlas aku dateng?”
RESEEE….. !!!!

Biarpun begitu, Mas Pras malah ndatengin aku ke dapur setelah si babon itu pergi, “Udah Mi, jangan dipikirin. Kamu kan tahu… si Tammy memang begitu orangnya.”
“Iya Mas, nggak papa!”
“Ngomong-ngomong, kamu kok kayaknya makin cantik ya Mi…” kata Mas Pras memujiku.
“Ah… Mas Pras bisa aja. Tapi Mas Pras juga makin ganteng kok…” balasku sambil memukul pelan pundak pria gagah ini.
“Kamu bercanda apa serius nih?”
“Serius!!!”
“Ya udah… aku kan emang ganteng!” sahut Mas Pras sambil tertawa.
Aku juga ikut tertawa sambil mencubiti Mas Pras di bahunya yang keras dan kekar itu.
“Udah ah…” potongku, “nanti Mbak Tammy denger, terus curiga lagi!”
“Iya… ya udah… aku ke depan dulu ya?!”
“Lho, nggak mau nemenin aku di belakang nih?”
“Ntar aja… aku nanti balik lagi!”
“Kapan?”
“Mmmhh… maunya kapan?”
“Nanti malem aja!”
“Lho… kok nanti malem?” tanya Mas Pras bingung.
“Iya….” Sahutku, “nanti malem aja. Pas semua sudah pada tidur…”
“Maksudmu?” tanya Mas Pras sambil mendekati aku.
“Mmmhhh… nanti malem aku tunggu di kamarnya Fanny!” bisikku.
“Terus ngapain?” tanya Mas Pras sambil terus merapatkan tubuhnya ke tubuhku.
“Terus… kita… “ belum selesai aku bicara, Mas Pras, dengan lembutnya, memeluk dan mengecup bibirku.
“Mas… nanti ada yang….” Tapi sisa kata-kataku hanya menggantung di udara. Mas Pras malah langsung mengulum bibirku sambil tangannya dilingkarkan ke tubuh setengah horny ini dan meremas kedua belahan pantatku. Mendapat perlakuan demikian, aku langsung membalas kuluman itu dengan memainkan lidahku didalam mulut Mas Pras.

Sedang nikmat-nikmatnya aku mencium Mas Pras, tiba-tiba ada yang memanggilku.
“Mami…”
Kami berdua tersentak kaget, dan langsung mengambil posisi berjauhan yang tampak aneh sekali. Ternyata yang memanggil adalah Fanny.
“Aduh… kamu bikin mami kaget, Fan…. Kenapa?”
“Mami lagi ngapain?”
“Mami lagi ngelapas kangen sama Om Pras… Iya kan Om…” sahutku asal sambil melirik Mas Pras.
“Iya Fan… tapi jangan bilang ke papi ya…”
“Iya Om….”
“Kenapa kamu nyari mami?” tanyaku ketika sudah sedikit tenang.
“Aku laper… mau makan…”
“Ooo… ya udah.. kamu panggil papi sama nenek gih… bilang makan malam siap habis shalat maghrib. Ya…?”
Setengah berlari, Fanny langsung pergi ke ruang tengah. Ketika aku berjalan menyusul Fanny, Mas Pras dengan isengnya meremas pantatku.
“Aahh… Mas Pras iseng nih… dah nggak sabar ya?”
“Iya…!!”
“Tahan sedikit dong! Eh… mau lihat itunya dong Mas?” pintaku sedikit manja.
Mas Pras langsung menurunkan relsletingnya dan mengeluarkan batangannya sendiri. Lalu aku kembali mendekati Mas Pras lalu menngenggam kontolnya itu.
“Sabar ya dik… nanti malem kamu boleh masuk kesini deh.” Kataku sambil menempelkan kepala kontol besar yang setengah bangun itu ke arah memekku yang masih tersembunyi di balik g-string tipisku.
“Mi…” kata Mas Pras, “buka sedikit dong cd mu!”
Tanpa banyak komentar, aku langsung menurunkan cd ku dan kembali menempelkan palkon Mas Pras di belahanku ini.
“Sabar ya Mas… aku juga dah nggak tahan!” bisikku pada Mas Pras.
“OK!” jawabnya singkat.

Malamnya, sekitar jam ½ 1, aku bangun dari tempat tidurku dan mulai mempreteli semua kain yang menempel ditubuhku. Untuk menutupi tubuh telanjangku, aku hanya memakai baby doll tipis yang pendek banget. Setelah melihat suamiku yang tertidur pulas, aku berjalan mengendap keluar kamar menuju kamar Fanny. Sesampainya di sana, aku melihat Fanny tertidur pulas sekali, tapi Mas Pras belum datang. Sekitar 5 menit kemudian, Mas Pras, yang hanya memakai celana pendek, masuk ke kamar Fanny. Saat itu aku tengah berbaring terlentang di samping Fanny. Aku mengangkang lebar memamerkan liang yang sebentar lagi akan dimasuki oleh batang besar milik kakak iparku ini.
“Bagus banget bentuknya, Mi!” bisik Mas Pras.
“Buat Mas!” jawabku singkat.
Lalu Mas Pras mulai naik ke tempat tidur Fanny dan langsung memeluk dan mengulum bibirku. Tangan kanannya langsung melesat ke arah memekku dan mulai meraba, mengelus dan menggosok kelentitku. Pada saat yang bersamaan, aku mulai melepas celana pendeknya dan mencoba untuk menggenggam kontol yang setengah bangun itu. Setelah dapat, aku mulai mengocoknya perlahan-lahan. Semua gerakan yang kami buat, kami lakukan dengan pelan-pelan sekali. Kami berusaha untuk tidak grasak-grusuk, supaya tidak membuat suara-suara yang dapat membangunkan seluruh isi rumah. Akibatnya, nafsu kami sudah tidak dapat terbendung lagi. Cairan pelumasku cepat sekali keluarnya, begitu juga Mas Pras. Kontolnya menegang dengan cepat sekali.
“Gimana Mas?” tanyaku, “langsung aja ya?”
Tapi Mas tidak menjawab, dia hanya bangikt dan berlutut di hadapanku dan mulai mengarahkan senjatanya itu langsung ke sasarannya. Perlahan-lahan. Kontolnya mulai memasuki liang memekku. Lalu Mas Pras sambil setengah berlutut, berbaring tengkurap diatasku, rapat sekali. Aku faham, ini untuk meminimalisasi gerakan dan suara yang pasti keluar. Memahami hal ini, aku langsung melingkarkan kakiku ke bagian atas pinggulnya, sementara tanganku aku lingkarkan di lehernya. Tusukan-tusukan Mas Pras sangat lembut namun mantap sekali di dalam memekku.
“Enak banget Mas!” bisikku di telinga Mas Pras.
“Tahan Mi. Kita tukar posisi. Jangan sampai lepas ya?!” kata Mas Pras.
Lalu kami mulai berputar untuk bertukar posisi.



Setelah aku berada diatas, aku mulai menggenjot Mas Pras. Mulai dari putaran pinggulku sampai gerakan-gerakan erotis yang membuat Mas Pras merem melek. Tangannya meremas dengan kuat kedua toketku. Setelah itu, gantian aku yang merebahkan tubuhku diatas tubuh Mas Pras. Sambil meremas kedua pantatku, ia mulai menggasak memek adik iparnya ini dari bawah. Efeknya jelas sekali terasa. Aku mulai merasa orgasmeku akan datang. Lalu aku mulai mengolah sendiri orgasmeku itu. Masih ditengah-tengah tusukan-tusukan Mas Pras, aku memutar-mutarkan pinggulku. Benar saja… tak lama kemudian, aku dapet. Uuuhhh…. Enak banget!

Mengetahui hal ini, Mas Pras makin mempercepat gerakannya sendiri untuk mengejar orgasmenya. Dan itu tidak lama kemudian. Dia memuntahkan seluruh pejunya didalam memekku.

Setelah selesai membuang kotoran kami masing-masing, aku dan Mas Pras segera ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Sambil masih bertelanjang bulat, kami segera bergegas untuk kembali kekamar kami. Di depan kamarku, Mas Pras memeluk ku dan berkata, “Terima kasih ya Mi… malam ini aku puas banget!” lalu dia mengulum bibirku.
“Sama-sama Mas… aku juga puas banget. Kira-kira, besok bisa beginian lagi gak ya….??”
“Aku nggak tahu…. Tapi aku coba cari cara. OK?!”

Setelah itu, aku masuk ke kamarku dan segera berbaring di samping Tino. Belum lama aku merebahkan badanku, Tino minta jatah hariannya.
“Mi,… ML dong!” katanya.
“Anuku lagi perih mas… nggak tau kenapa!”
“Oo.. terus nggak bisa ML dong?”
“Aku kocokin aja ya….”
“Ya udah deh… nggak papa!”
Sambil tersenyum dalam hati, aku segera mengocok kontol suamiku ini. Aku bergumam dalam hati, “bukannya perih karena apa-apa sih Mas… tapi memekku habis dihajar sama kakak ipar lo! Mana kontolnya gede banget!” ?

*****

Paginya, suamiku berangkat ke kantor seperti biasa. Sementara mertuaku dan si gembrot pergi nggak tahu kemana. Mas Pras pergi mengantar mereka. Aku dirumah sendirian. Fanny tentu saja sedang berada di sekolahnya dan Fachri berjanji akan menjemput dan mengantarnya. Sekitar jam 1an, saat itu aku sedang asik-asiknya mencukur bulu yang ada di sekitar kemaluanku, ada suara mobil parkir di depan rumah. Setelah mengintip sebentar keluar jendela kamar, aku langsung pergi ke depan untuk membukakan pintu. Karena aku tahu yang datang Fachri, makanya aku nggak pakai baju.

“Halo yang…” sambutku pada pria Arab itu.
“Halo juga sexy….” Jawabnya sambil memeluk tubuh polos ini, lalu mengulum bibirku.
“Kok Tante nggak pake baju?” tanya Haikal, anak Fachri.
“Tante lagi nyukur bulu ini Ikal…” jawabku sambil menunjukkan memekku ke arahnya.
Sambil mengelus memekku, Fachri berkata, “Bulu di sini harus dicukur, supaya kontolnya Ayah lancar masuknya, Kal!”
“Oooo….” Sahut Haikal.

Sambil menggandeng tangan Fachri, aku mengajaknya ke kamar mandi untuk membantuku membersihkan sisa bulu yang ada di sekitar memekku. Momen ini kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Celana Fachri langsung aku preteli dan akibatnya…. Kami ngewe di kamar mandi!
Setelah selesai, aku langsung berlutut di hadapannya dan menghisap serta menjilati sisa peju yang ada di kontolnya.
Karena kami tidak menutup pintu kamar mandi, makanya anak-anak kami dengan mudah masuk dan ikut menonton aksi kami. Setelah selesai, Fachri segera mengenakan bajunya lagi. Sementara tubuh indahku ini hanya aku tutupi dengan baby doll yang tipis dan pendek sekali. Setelah kurang lebih 15 menit kemudian, Fachri dan Haikal pulang.

“Oke… sampai besok yaa….!” Ucapku menutup pembicaraan telfon. Uuuhhh… besok pasti seru banget deh, makan malam… terus… kemungkinan besar, aku pasti nginep dirumahnya. Ngapain yaaaa….???
Sambil masuk ke kamar, aku melihat suamiku sedang menonton TV.
“Siapa Mi’? tanya suamiku tiba-tiba.
“Siapa apa?” tanyaku lagi, pura-pura bego.
“Yang tadi telfon…”
“Ooo…. Rahma!” jawabku sekenanya, “temen SMA dulu, dia ngajakin ketemuan di rumahnya. Kebetulan, suaminya sedang pergi ke luar kota. Mungkin aku nginep disana. Boleh ya Mas…?” rengekku sedikit manja.
“Sendirian aja?”
“Ya enggak! Kan sama Rahma…”
“Maksudku, nggak ada yang lain?”
“Nggak tau! Yang sudah pasti sih… yaaa… baru aku. Yang lainnya baru besok bisa ngasih kepastian. Boleh yaa…?? O iya… aku ngajak Fanny. Jadi besok, pulang dia sekolah, aku jemput langsung ke rumah Rahma.”
“Pulang kapan?”
“Yaaa… besok kan Sabtu. Mungkin pulangnya Minggu malam. Kenapa? Mau jemput?
“Yaa… kamunya bawa mobil nggak?”
“Kayaknya enggak deh, Mas…!”
“Emangnya mau dijemput dimana? Di rumahnya Rahma?”
“Enggak. Di ini aja… di PIM, kapan dan dimananya, besok aku telfon. Gimana?”
“Ya udah. Besok hati-hati lho. Soalnya besok kan Sabtu, kamu inget kan, aku ada janji sama klien di Kemang. Setelah itu aku langsung ke Bogor bareng si Andre.”
“Iya… iya… kamu juga hati-hati lho Mas… jangan macem-macem!”
“Siip!!”
“Ya udah, aku mau tidur. Habis nonton, matiin TV nya, tadi malam kamu kelupaan…!”
“Oke…!!!”

Di dalam kamar, aku senyam-senyum sendiri. Sambil melepas celana pendek dan tank top yang aku pakai sekarang, aku membayangkan wajah David yang sedang melongo karena kagum, kalau melihat tubuh telanjangku nanti. Hihihi…. Lalu aku mengenakan lingerie ku yang tipis, tembus pandang dan pendek sekali. Aku berfikir, aku akan membawa lingerie ini sebagai surprise untuk si bapak itu.
Ketika aku berbaring, aku membayangkan momen dimana kami pertama kali bertemu, kemarin siang. Tentu saja sambil menggosok-gosok memek dan meremas kedua toketku.

Aku sedang makan siang dengan Fachry di Pizza Hut, PIM. Tentu saja bareng dengan Fanny dan Haikal. Ketika sedang asik-asiknya makan, Hpnya Fachry berbunyi. Setelah memberi kode ke aku kalo yang telfon itu istrinya, dia lalu keluar. Aku yang sedang bertiga saja dengan anak-anak kami, melihat Fachry berjalan keluar. Ketika aku mengalihkan pandangan dari Fachry, aku melihat ada seorang laki-laki yang ngeliatin aku sambil senyam senyum. Dia bertanya kepadaku dari jauh.

Tentu saja dengan tidak bersuara. Tapi karena jarak mejaku dan mejanya sangat dekat, aku dengan mudah, dapat membaca gerak bibirnya.
“Suaminya ya?” tanyanya.
Aku menjawab dengan menggelengkan kepalaku sambil tersenyum.
“Boleh kenalan?” tanyanya lagi.
Aku kembali tersenyum, tapi kali ini aku menganggukkan kepalaku.
“&imana kenalannya?
“Apa?” tanyaku nggak ngerti pertanyaannya. 'Dimana apa Gimana’
Lalu dia tersenyum (manis juga, pikirku) sambil membuat huruf ‘G’ dengan jarinya, “Gimana kenalannya?”
“Ooo….” Aku jadi malu. Sambil tersenyum aku berdiri. “Ikutin aku!” kataku ber-kode.
Sebelum berjalan keluar, aku bilang sama Fanny dan Haikal kalo aku mau ke department store. “Fan, mami nyari baju dulu yaa, sebentar. Ical jagain Fanny ya…”
“Iya mam/tan..” sahut mereka berbarengan.
Diluar aku berbisik ke Fachry, yang lalu menutup Hpnya dengan tangan. “Aku nyari baju dulu ya, yang….”
Fachry mengangguk. Sambil berjalan, aku sempat menengok ke belakang sebentar, dan melihat pria tadi mengikutiku dengan tampang acuh tak acuh ketika melewati Fachry.

Ketika aku merasa sudah agak jauh dari Pizza Hut, aku berhenti di depan sebuah toko. Sambil sedikit mengaca di kaca toko dan merapihkan baju (hari itu, aku pakai kemben -no bra- yang aku tutup dengan cardigan, dan celana pendek yang sexy banget – tentu saja gak pakai cd -) aku menunggu pria tadi, yang berjalan semakin dekat ke arahku.

Ketika jarakku dengannya hanya tinggal (kurang lebih) semeter lagi, dia tersenyum.
“Hai…” katanya.
“Hai juga…” jawabku sambil tersenyum.
“David!” katanya sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
“Mia!” jawabku sambil membalas salamnya.
“Tadi itu suamimu?” tanyanya lagi.
“Bukan! Aku kan udah bilang…” jawabku.
“Terus, siapamu?”
“Ada deh… udah lah… nggak usah dibahas!”
“Oke… tapi tadi itu anakmu?”
“Yang perempuan!”
“O… Oke….”
Lalu kami ngobrol-ngobrol sebentar yang dilanjutkan dengan tukeran no HP. Setelah itu, aku kembali ke Pizza Hut, dan dia pergi nggak tahu kemana, tapi sebelum pergi, dia bilang mau telfon aku nanti malam.

Di Pizza Hut, aku kembali duduk dengan ‘keluargaku’, melanjutkan makan. Ketika Fachry bertanya tentang ‘tujuan’ku pergi tadi, aku bilang kalo model baju yang aku cari, nggak ada! Setelah selesai makan, kamipun langsung meluncur ke rumah ibuku untuk ‘buang hajat’.


Setelah selesai, aku dan Fachry ngobrol di tempat tidur sambil masih telanjang bulat. Fachry berbaring terlentang dengan tangannya dia lipatkan ke belakang kepalanya.
Sementara aku berbaring miring disampingnya sambil mengurut dan mengocok perlahan kontol Arabnya itu.
“Istrimu nelfon mau ngapain, yang?” tanyaku.
“Dia harus ke Sukabumi nanti malam. Dapet telfon kalo bapaknya sakit.”
“Kamu ikut?” tanyaku lagi.
“Kayaknya iya! Nggak papa ya?”
“Ya udah… berapa lama?”
“Sekitar 2 atau 3 mingguan lah… kenapa?”
“Yaa nggak papa, nanya aja!”
Dalam hatiku, aku mikir, kamu pergi lama juga nggak papa… aku dan memekku mau nyobain kontol baru kok! ?. 2 jam kemudian, kami pulang. Fachry dan Haikal langsung ke rumahnya dengan mobilnya, sementara aku dan Fanny naik Taksi.

Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan berpakaian. Suamiku belum pulang, hari ini ada rapat katanya. Dia baru pulang jam 9 nanti, sementara sekarang baru jam ½ 7 malam. Sekitar jam 8an, HP ku berbunyi. Aku lihat nama di Hpku… ‘D@v1d’… Kami ngobrol lama banget. Nggak taunya, David ini sudah merit dan punya anak 1 laki-laki. Tapi istri dan anaknya tidak tinggal disini, tapi di Surabaya. David tinggal di Jakarta karena sedang mengurus bisnisnya (dia pengusaha… dan dia memang punya rumah di sini). Sebelum tutup telfon, dia bilang, kalo dia ingin ketemuan lagi sama aku. “Kapan?” tanyaku
“Besok bisa?”
“Yaahhh… nggak bisa, aku harus nemenin suamiku ke acara kantor…” padahal, besok aku ada janji sama Andre (teman suamiku) untuk SAL (Sex After Lunch) di rumah ibuku.
“Oo… ya sudah. Terus kira-kira, bisanya kapan?”
“Gini aja… besok malem kamu telfon aku. Ya?”
“Jam berapa?” tanyanya lagi.
“Jam-jam seginian deh…”
Setelah terjadi kesepakatan, kamipun menyudahi pembicaraan kami.

Nah… besok malamnya (tadi ini…. Barusan!) David nelfon untuk ngajakin ketemuan. Setelah ngobrol agak panjang (aku sengaja pindah ke teras depan rumah, supaya nggak kedengaran Tino) aku menyetujui ajakan David untuk makan malam. Tapi sebelum itu, dia memintaku datang ke rumahnya.
“Lho…? Kok gitu?” tanyaku
“Kamu mau suamimu ngeliat aku jemput kamu dirumah?”
“Iya siihh… ya udah jam berapa?”
“Ya.. jam 1 an deh! Gimana?”
“Kok siang banget. Kan Kita makan malamnya jam 8.”
“Aku mau ngobrol-ngobrol dulu sama kamu. Boleh kan?”
“Terus dari jam 1 sampai jam 8, kita ngapain? Masa ngobrol-ngobrol doang?” tanyaku sedikit memancing.
“Yaaa… ngapain kek… udah gede ini…!” jawabnya
“Dasar kamu tuh… ditanya bener-bener juga! Ngapain? Jawab yang jelas dan tegas!”





“Kamu maunya diapain emangnya?” tanyanya lagi setengah nyerempet.
“Diapain aja mau kok!
“Ya udah… besok kamu pasti aku apa-apain!”
“OKE!” jawabku tegas….
“Dadah Mia sayang…. Sampai besok !“
“Oke… Sampai besok yaa….!”


Aku senyam senyum sendiri kalo inget itu. Pas baru mau tidur, Hpku berbunyi lagi, tapi itu suara SMS. Dari David… nggak taunya dia ngirim sms berisi alamat rumahnya. Setelah itu akupun tidur.

Esoknya, sekitar jam 10an, aku mandi dan berpakaian (minimalis tentu saja. Cukup tanktop –no bra- dan celana senam yang agak ketat –no cd- jadi kalo ngeliat dengan jelas dan teliti bagian selangkanganku, tercetak bentuk mem… uuppss… ‘tempat keluarnya Fanny’ ?). Lingerie dan baju untuk makan malam aku masukan ke dalam tas, tentu saja dengan peralatan make-up, 1 kemben, 1 celana pendek yang pendek banget dan satu buah g-string (kayaknya bawa 1 celana dalam cukup kok… buat aku pakai makan malam aja). Baju-bajunya Fanny juga aku masukkan di situ. Setelah pamit dengan suamiku, aku pergi untuk menjemput Fanny, dengan menggunakan Taksi.
Sesampainya di alamat yang dituju, akupun turun dari Taksi, setelah sebelumnya membayar harga yang ada di argo. Lalu, aku dan Fanny berjalan, masuk kedalam halaman rumah yang lumayan luas itu. Setelah memencet bel, ada seorang wanita setengah baya yang membukakan pintu.
“Ya…? Cari siapa ya bu?” kata wanita itu.
“Mmhh,… benar ini rumahnya David?” tanyaku.
“Iya, betul!”
“Davidnya ada, bu?” tanyaku lagi sambil tersenyum seramah mungkin.
“Oo… ada. Pak Davidnya lagi berenang. Masuk dulu, bu! Biar saya panggilkan Pak David nya” setelah itu dia pergi memanggilkan David, dan aku serta Fanny masuk ke ruangan yang cukup mewah, walaupun tidak terlalu besar. Baru berjalan beberapa langkah, perempuan tadi balik lagi, “Kalo saya ditanya, yang cari Pak David namanya siapa ya?”
? Aku tersenyum, “Bilang aja, MIA!” jawabku.
Setelah beberapa saat, Davidpun keluar menemui aku dan Fanny. Dia hanya memakai Piama mandi. Rambut dan bagian tubuhnya yang kelihatan, basah sekali.
“Aduh… ada wanita cantik lagi nungguin aku rupanya?” katanya memuji, sambil menyapaku.
? Aku tersipu mendengar pujiannya, “Aah… kamu bisa aja! Lagi ngapain, kok basah semua gitu sih?”
“Lagi berenang! Kenapa? Mau ikut?”
“Aku nggak bawa swimsuit!” jawabku.
“Oohh… nggak papa! Kebetulan, aku sudah merencanakan hari ini. Jadi, kemarin aku sengaja pergi untuk beli swimsuit buat kamu. Tapi aku lupa, kalo anakmu ikut, jadinya aku nggak beli buat anakmu.” Katanya sedikit kecewa.
“Aduh… kamu sampai segitunya! Jadi nggak enak aku…..”

“Gak papa! Buat kamu, apa sih yang nggak aku beliin?” katanya lagi sambil tersenyum.
Aku juga ikut tersenyum, “Ngomong-ngomong, kamu beli swimsuit buatku, modelnya kayak apa?”
Tapi David tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menarik tanganku. Setelah aku berdiri dan mengikutinya naik ke lantai atas, aku bilang ke Fanny untuk menungguku sebentar.


Ternyata aku diajak kekamar tidurnya yang cukup besar dan sangat elegan. Lalu David menunjuk ke arah tempat tidur. Aku tersenyum kepadanya, “Terima kasih ya!?” Lalu aku berjalan ke tempat tidur, untuk mengambil dua potong kain yang ternyata adalah bikini. “Dimana pakainya?” tanyaku pada David.
Lalu David menunjuk sebuah ruangan, yang ternyata adalah kamar mandi. Setelah masuk, aku segera melepas bajuku, dan segera mengenakan bikini itu. Aku merasa kalau bikini ini kekecilan 1 nomer, soalnya bagian bawahnya terasa sedikit sempit, walaupun bahannya nyaman sekali. Setelah aku pakai, ternyata bagian thong nya itu, Cuma sampai sebatas pinggul, sehingga lekukan pinggang dan perutku (yang mengarah ke arah vaginaku) kelihatan sekali… dan setelah aku perhatikan, ternyata belahan ku itu tercetak jelas sekali (udah gitu, warnanya senada pula dengan kulit tubuhku. Sehingga aku berkesan tidak memakai apa-apa ? ). Lalu, bagian bra nya juga tipis dan kecil sekali, sehingga puting susuku terlihat menyembul. Dan bagian atas bra nya, pas sekali diatasnya. Aku lalu memperhatikan diriku di cermin… Sexy banget siihhh aku!!!

“Mi… sudah belum?” terdengar suara David di luar kamar mandi.
“Iya…” jawabku… “sudah selesai kok! Kalo mau masuk, masuk aja… pintunya gak aku kunci!”
Tak lama kemudian, David membuka pintu kamar mandi dan berdiri saja disana. Terpaku dengan kemolekan tubuhku…. Tapi, ternyata tidak hanya dia saja yang terpana. David sudah melepas kimononya, sehingga tubuhnya yang hanya terbalut celana renang yang ketat itu, seolah ingin memamerkan benda besar yang menggunung di baliknya.

“Wow…” kataku setengah berbisik, dan aku yakin ada nada kagum pada suaraku tadi.
“Kenapa?” tanya David.
“Besar banget… itumu!” kataku sambil menunjuk ke arah gudukan di bagian selangkangannya itu.
“Ooo… ini?!” katanya… “mau lihat?”
Tanpa berbasa-basi, langsung aku jawab… “Mau!”
Lalu David membuka celana renangnya, gak sampai lepas sih… tapi benda besar yang menggantung itu serasa sudah menggodaku. Tapi baru saja aku hendak memegangnya, ada suara wanita di luar kamar tidur memanggil si pemilik kontol besar ini.
“Pak David…!” kata suara itu.
David, sambil tersenyum, mengenakan lagi celana renangnya… “Yaa.. mbok?”
Lalu aku dan David berjalan ke arah pintu kamar. Sebelum David membuka pintu kamarnya, aku segera berlari kecil, balik ke kamar mandi.
“Mau kemana?” bisik David.
“Mau pakai handuk!”
Lalu David membuka pintu kamarnya dan berbicara dengan wanita itu. Aku, yang sudah memakai handuk berjalan ke arah pintu dan mendengarkan perbincangan mereka. Rupanya perempuan itu adalah pembantu David di rumah ini. Namanya Mbok Surti, dan ia sekarang mau pulang. Ternyata Mbok Surti tidak menginap di rumah ini.
Setelah selesai, aku mendengar langkah kaki menjauh dari kamar. Dan tak lama kemudian, David sudah nongol dari balik pintu mengajakku turun ke bawah, ke pool nya.

Setelah sampai kembali ke ruang tamu, aku segera melepas kembali handukku, dan mengajak Fanny ke kolam renang. 2 jam kami disitu, main air dan sebagainya. Karena Fanny gak bawa baju renang, aku dan David sepakat menelanjangi Fanny. Fanny yang berenang telanjang, merasa diperlakukan tidak adil, rupanya.
“Mami, aku kok berenangnya gak pakai baju. Mami juga dong…” protes Fanny.
Aku dan David tertawa mendengar celoteh anakku itu.
“Fan… kalo mami telanjang juga… nanti adiknya Om David bangun!” kataku sambil melirik David.
“Gak papa…” kata Fanny “kan nanti bisa main sama aku!”
Aku langsung tertawa lagi mendengar perkataan Fanny.
“Maksud mami,… bukan adik kecil… tapi adik yang itu…”
“Yang mana sih mam…??” tanya Fanny sambil celingukan.
“Fanny… maksud mami… kontolnya Om David…!! Kalo kontolnya bangun, nanti dia minta masuk ke sininya mami….!” Kataku sambil menunjuk selangkanganku.
“Ooo…” kata Fanny, “tapi mami bukannya suka, kalo memeknya dimasukin kontol?”
Aku dan David kembali tertawa. Lalu David bangun dari kursi kolamnya dan langsung menghampiri kami.
“Fanny… Fanny… kamu lucu banget siihh…. Kecil-kecil tau memek… kontol… siapa yang ngajarin sih?” tanya David.
“Mamiiii…!!“ katnya sambil menunjuk ku.
“Dasar kamu tuh!” kata David sambil mengecup bibirku. “Emangnya, Fanny kamu ajarin apa aja sih?”
Lalu aku cerita dengan singkat ke David, kalo setiap ML aku selalu di depan Fanny, dan menyuruhnya diam dan jangan ngomong ke Papinya.
“Kamu pinter deh….!!” Kata David sambil mengelus kepala Fanny.
“Terus Mami mau buka baju juga gak?” tanya Fanny lagi.
“Iya…” potong David sambil melepas celana renangnya, “mami mau bugil gak?”
Melihat David sangat semangat, aku juga langsung berdiri dan melepas bikiniku.
“Iya… iya…!!” kataku.
Lalu kami main air lagi, tapi sekarang kami telanjang. Ketika hari menjelang magrib, kami pun selesai dan masuk ke dalam rumah… tetap telanjang tentu saja.

Setelah terjadi perbincangan singkat, akhirnya kami memutuskan untuk tidak jadi makan malam diluar. Kami hanya memesan pizza. Sambil menunggu deliverynya dateng, aku dan David serta Fanny ngobrol-ngobrol di ruang tamu. Aku hanya memakai kemeja David (tetep no bra… no cd).
“Fan…” kata David kepada anakku, “mamimu tuh sexy banget yaa…”
“Emangnya kenapa, Om?” balas Fanny.
“Iya… emangnya kenapa kalo aku sexy?” timpalku.
“Ya… gak papa… Cuma….”
“Cuma apa?” potongku.


“Mmmmhhh… aku mau tanya boleh gak?” ujar David lagi.
“Tanya apa?” kataku sambil menggeser posisi dudukku semakin mendekati David.
“Langsung aja ya Mi… aku mau ML sama kamu… boleh nggak?”


? (Akhirnya !) “Dave… untuk apa aku kesini… nginep sama kamu… kalo bukan kepingin ML sama kamu?! Lagian… tadi kamu juga udah ngeliat semua barangku kan? Kenapa gak tadi aja di pool?”
“Tadi… biarpun aku konak banget, tapi aku masih nggak enak sama kamu… soalnya ada Fanny!”
Aku tidak menjawab… yang aku lakukan Cuma berdiri dan melepas kemeja yang aku kenakan. Setelah telanjang, perlahan-lahan aku mendekati David dan duduk di pangkuannya. Setelah melingkarkan tanganku dibelakang lehernya, aku berbisik di telinganya. “Tonight… I’m Yours!”

Lalu aku merasa kedua tangan David mulai meraba bagian pinggulku, dan mulai menjelajah ke seluruh bagian belakang tubuhku. Sementara bibir kami saling berpagut dan lidah kami saling membelit. “Mi…” bisik David, “ada Fan…”
Belum selesai dia bicara, aku memotongnya dengan kembali mengulum bibirnya. Aku merasa birahiku semakin naik, sedikit demi sedikit. Lalu aku mulai menggoyangkan pinggulku… pelan… pelan… dengan gerakan yang erotis, sementara posisi memekku semakin menggosok gundukan daging di bagian selangkangan David, yang makin lama makin mengeras. Setelah itu, aku mulai melepas T-shirt yang dia kenakan. Melihat dadanya yang bidang, aku mulai memeluknya dan menempelkan kedua toket indahku ini, sementara bibirnya tidak mau lepas dari bibirku.
Aku gak tahu berapa lama Fanny melihat aksi maminya ini. Tapi ketika aku mulai merasakan birahi yang tinggi sekali,…. Bel pintu depan berbunyi… “tukang Pizza” pikirku. Biarpun malas-malasan, David bangun untuk mengambil dan membayar Pizza itu. Ketika David berjalan ke depan, aku duduk di sofa sambil mengangkang dan memainkan klitoris memekku (supaya gak kehilangan momen) sementara tanganku yang satu lagi meremas bergantian kedua toketku. Setelah selesai, David balik lagi ke ruang TV.
Dia berdiri di depanku sambil memperhatikan ‘istrinya’ yang sedang onani ini. Lalu dia melepas celananya. Sambil masih berdiri dan menonton aksiku, David mulai menggenggam batangannya dan berusaha untuk membangunkannya.
“Fan….” Kataku pada Fanny, “mami minta tolong gosokin ininya mami dong…” sambil memperlihatkan klitorisku.
“Mami mau ngapain?” tanya Fanny
“Mami mau ngisep kontolnya Om David!”.
Lalu aku mulai berlutut di hadapan David dan segera memasukkan kontolnya ke dalam mulutku, sementara Fanny menuruti kemauanku untuk menggosok kelentitku itu. David yang merasa keenakkan, mendesah pelan sambil tangannya mengelus-elus rambutku. Ketika mulutku mulai merasakan keras dan kencangnya benda yang sedang aku hisap dan kulum ini, aku menghentikan seranganku. Lalu aku berdiri dan memeluk tubuh David dengan erat sekali sambil mengulum bibirnya. Lalu David mulai mengangkat kaki kananku dan sesekali menggesekkan kontolnya di memekku sambil sesekali mencoba untuk memasukannya. Mengerti hal ini, aku langsung merenggangkan kakiku yang satunya dan menggenggam batangannya sambil mengarahkannya ke dalam memekku. Ketika aku mulai merasakan kepala kontolnya masuk, David menghentikan serangannya…
“Kenapa sayang?” tanyaku sambil setengah erengah-engah.
“Kamu siap?” tanyanya sambil tersenyum…
“Whenever you are… baby!”
Tanpa lebih banyak argumen, David segera menghentakkan pinggulnya, dan pada saat yang bersamaan, kontolnya menancap mantap di dalam memekku…
“Aaahhh….” Desahku.
Tidak berhenti di situ saja, David langsung menggendongku dan duduk di sofa. Aku yang dipangkuannya, tanpa berlama-lama, segera menggoyangkan pinggulku sambil sesekali membuat gerakan maju mundur. Gesekan memekku pada kontol David sepertinya agak sedikit terasa longgar (mungkin memekku sudah lebar kali yaaa… ?) Lalu, untuk menanggapi hal ini, aku segera merapatkan kedua pahaku, sambil terus menggenjot si bapak ini. David tampak merasa keenakkan sekali aku perlakukan demikian, untuk lebih menikmati bapak ini, aku sengaja melambatkan gerakanku… hal ini ditanggapi David dengan beringas rupanya, ia langsung memelukku, mengulum bibirku sambil kedua tangannya meremas kedua belah pantatku…. Sambil terus begitu, ia menggenjotku dengan mendadak.
Pada tahap ini, aku ternyata tidak bisa menahankan orgasmeku… tanpa mau menahannya lebih lama lagi, aku membiarkan diriku terbuai oleh kenikmatannya. Aku makin kencang memeluk si bapak ini, sementara dia tetap terus menggenjotku… Rupanya dia sadar kalo aku sudah mendapatkan yang aku cari, Sambil tetap memanjakan kontolnya di memekku, David bertanya, “Enak sayang?”
Aku cuma tersenyum keenakkan sambil mengengguk… “Enak banget!” Rupanya David juga tidak mau menahan lama-lama orgasmenya. Baru saja aku selesai ngomong, dia langsung menggenjot kembali memekku… “Aaakkhhh….!!!!” Terdengar dia berteriak keenakkan, sementara kontolnya menyemprotkan peju yang hangat dan banyak ke dalam memekku…

Setelah selesai, aku nggak mau ngeluarin kontolnya. Jadi kami terengah-engah dan beristirahat sambil masih berposisi seperti ketika kami ngewe tadi.
“Uuuhhh… memekmu enak banget Mi!” kata David.
“Terima kasih. Tapi aku yakin kamu belum puas banget deh….” Sahutku
“Iya… so?”
“Ya… nggak papa. We have whole nite…!”
Setelah mencium bibirku, David menggendongku ke kamar mandi untuk membersihkan badan kami. Setelah selesai, sambil masih bertenjang bulat, kami ke ruang tamu untuk bergabung kembali dengan Fanny.

Di ruang tamu, aku, Fanny dan David ngobrol-ngobrol… tentu saja tetap diselingi dengan cumbuan dan ciuman dan terkadang petting-petting kecil. Ketika jam menunjukkan pukul 3 pagi, kami ML lagi di ruang tamu David.



Sekitar jam 9 pagi, aku terbangun. HP ku berbunyi… ternyata suamiku,
“Pagi mas… kok udah bangun?” tanyaku dengan suara masih terkantuk-kantuk.
“Gak papa… lagi ngapain Mi?”
“Baru bangun! Nih, Fanny tidur di sampingku. Masih tidur.” Jawabku, sementara kulihat David terbangun. “Siapa?” bisiknya. Setelah tau yang nelfon suamiku, David kembali tidur, kali ini sambil memelukku. Kontolnya yang pelan-pelan mulai bangun, serasa meraba-raba pahaku.

“Nanti mau pulang jam berapa?” tanya Tino lagi.
“Gak tahu… nanti kalo dah mau pulang, aku telfon deh…!”
“Ya udah… hati-hati ya…”
“Iya… iya….”
Pembicaraan selesai.


Sekitar jam 10an, aku dan David benar-benar sudah bangun, kami sedang sarapan di meja makan. Aku makan roti sambil dipangku David, tentu saja kami masih telanjang bulat. Setelah sarapan, kami bertiga mandi, lalu aku dan Fanny bersiap untuk pulang. Tak ada pemerkosaan pagi ini.

Setelah menelfon suamiku, bahwa aku akan pulang sendiri, aku dan Fanny cabut dengan diantar David. Sesampainya dirumah (David sedang memarkir mobil) aku langsung memanggil Tino. Gak taunya dia sedang rapih-rapih dikamar.
“Lho… mau kemana mas?” tanyaku.
“Mau pergi sebentar ke bengkel… mobilnya ada masalah sama terotnya… Fanny mana?” tanya suamiku.
“Tuh didepan, kenapa?”
“Gak papa… kamu jaga rumah ya… Fanny mau aku ajak ke bengkel, sekalian mbeliin baju baru!” kata suamiku.
Betapa girangnya aku mendengar hal ini, sebelum berangkat, aku membisikkan Fanny,…
“Fan… jangan bilang-bilang papi soal Om David ya… nanti kasian mami nggak bisa ngewe lagi sama Om David!”
“Iya mam…” sahut Fanny mengerti.

Tak lama setelah itu, suamiku dan Fanny berangkat ke bengkel. Aku segera memanggil David yang sedang menunggu diluar. Setelah masuk ke dalam rumah, tanpa banyak bicara lagi, David segera memeluk dan menciumku serta mempreteli pakaianku. Kami bugil lagi. Sambil berdiri, David menyandarkanku ke dinding kamarku dan langsung mengangkat kaki kananku. Aku yang langsung mengerti, segera membimbing kontolnya untuk masuk ke dalam memekku.
Setelah merasa ujung kontolnya menyentuh barang berlendir yang hangat, David segera menyesakkannya ke dalam barang itu (memekku tentu saja). David terus menggasak memekku dengan beringas, dan gesekan-gesekannya semakin memacu gairahku. Langsung saja aku menaiki tubuh nya, David yang menggendongku segera menopang pantatku. Sambil meremas kedua belahan pantatku itu, David menggerakkanku naik turun. Untuk membantunya orgasme, setiap dia menurunkan aku, kugoyang saja pinggulku.
Benar saja, tak lama kemudian dia pun mengerang dan badannya menegang… segera ia membaringkan aku di lantai, dan semakin mempercepat gerakannya. Setelah lepas hitungan 5 menit, kontolnya menyemprotkan peju yang banyak sekali… semuanya…. Dan ketika ia melepas kontolnya, aku merasa ada cairan yang mengalir keluar dari memekku. Segera setelah ia duduk di sofa, aku langsung memasukkan kontolnya yang masih basah itu kedalam mulutku dan mengulumnya sampai bersih.
“Kamu belum dapet ya Mi?” tanyanya disela-sela sesi blowjob ini.
“Mmmh… belum sih, tapi nggak papa. Yang penting kamu sudah.” Kataku sambil tersenyum. Setelah itu, kamipun masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kami. Setelah kembali berpakaian, David pun pulang, setelah sebelumnya berpesan kepadaku untuk datang lagi kerumahnya besok, yang langsung aku iyakan saja.

Sambil menunggu Tino dan Fanny pulang, aku mencoba menelfon Vito. Berhubung aku tadi belum ‘dapet’, aku mau nyoba nyari di Vito. Ternyata ia sedang berada di rumah mertuanya. Setelah terjadi tawar menawar, akhirnya terjadi kesepakatan untuk ngewe dirumahnya. Jadi, dia pulang ke rumah sendiri, setelah sebelumnya menjemput aku dulu di Dixie Kemang, nanti sekitar jam 9an.

Car Trouble
copyright 2003 by Stormbringer


"Please, no," cried Vivian, shaking her cell phone. "Come on, come on."
She kept trying as the battery low message flashed and then her phone
went dead. This day had started out bad and was getting worse.

Vivian's boyfriend, John had tried to get her to go down on him last
night, but she didn't care too much for oral sex or any sex out of the
ordinary. She came from a very conservative Japanese-American family.
The kind where the woman was supposed to lie still while the husband
mounted her for a few minutes before rolling over and going to sleep.
This led to countless arguments for Vivian to "loosen up and try new
things" from her current boyfriend and several past ones. They'd had one
such argument last night that had carried over into the morning.

Vivian left her house, tired from a lack of sleep and got in her Lexus
to go to work. Her car started making a grinding noise just as she
pulled into the office. She worked as a financial advisor and with the
economy in the dumps, layoffs were expected. She took lunch around noon,
finding it was pouring rain and she hadn't brought an umbrella. She also
discovered, she'd been so tired and angry that morning, she'd forgotten
her wallet and couldn't buy lunch. Vivian returned to work wet and
hungry.

At quitting time, it was raining so hard, she was drenched by the time
she got in her car. The grinding noise started almost immediately as she
put the car in gear. Vivian decided to make a mad dash for home. There
was a shortcut she usually avoided through a bad section of town. She
took it. She should of known better.

Vivian looked at her dead cell phone and started crying. The grinding
noise had gotten so loud, pedestrians were staring at her and finally
she pulled the car over. "Get yourself together, girl." Vivian sobbed,
but quit crying. "Lord, please help me," she prayed.

Vivian thought her prayers were answered. As she opened her eyes, a
black beamer slowly drove past her car. The driver was a young black
man, barely out of his teens. Despite the rain, he was wearing shiny
sunglasses and a black do-rag. The bass from his stereo shook her car as
he passed. He pulled up to a garage door just a few buidlings down from
her and honked his horn twice. The door opened and he drove inside.
Vivian caught a glimpse of several cars and men working on them before
the door closed.

A garage! She was saved. Vivian winced as she put the car in gear and
the noise sounded. She pulled up to the door and honked her horn twice.
The door opened and a black teen in a grease covered tee shirt stared at
her. "What you be wanting?" he yelled.

"I'm having car trouble," she yelled through the rain, her face getting
wet in the process.

"We're closed. Go away."

"Please, my car's not going to make it."

"You heard me beeyutch. Get the fuc..."

"BRADLEY! That's enough," barked another black man in greasy overalls.

"Man, it's Bman. Don't you be calling me no Bradley," griped the youth
going back to work on his car.

Vivian sighed with relief. This man was older. "Thank god, a mature
adult," she whispered.
"I was hoping you could look at my car."

"I don't need to. It's not working," grinned the black man. "Drive it on
in."

The man stepped asside and Vivian pulled her car into the warehouse. The
older black man gazed out into the street, then lowered the garage door.

"Damn!" The black youth in the bmw had gotten out of his car and was
staring at Vivian as she stepped out of her Lexus. She was wearing a
white blouse that was so soaked, it hugged every curve on her petite
body. Vivian had one of those thin bodies you usually see on those of
Asian descent.

I'm Lou," said the older man. "That's Fish and you met Bradley."

"Bman!"

"Vivian Suzuki."

"A tight fit and a hard ride."

"Excuse me, Lou?"

Suzukis. If you gotta have a rice burner, I prefer Honda motorcycles."

"Oh, I'm not related. Now, how about my car?"

"Fish, why don't you take care of this pretty lady's car for her?"

"Sure thing, boss."

"Why don't you follow me into my office," said Lou.

Vivian followed the black man to the back of the warehouse. It wasn't
much of an office. It was just a corner of the warehouse partitioned
off. An old stained couch was on one wall while some boards on two
barrells served as a desk. "May I use your phone?" she asked.

"Sorry, it's not hooked up. This is only a temporary location as I'm
sure you can see."

"Just my luck. Is there a pay phone nearby?"

"Couple blocks, but a bunch of gangbangers hang out around it. You're
much safer here with us."

"Oh, by the way, there is a problem. I left my purse at home this
morning."

"Are you saying you don't have any money?"

"Sorry, but I can pay you tomorrow or charge it over the phone."

"Excuse me a moment." Lou got up and walked out to talk to his
assistants.

Vivian wrinkled her nose as she leaned back on the dirty couch. She
could hear the black men arguing out in the garage. Suddenly, one raised
his voice. "Who dat fucking bitch think she is?"

Lou came close to the room before turning around and yelling back at his
workers. "You boys lock the doors, some of the gangbangers are outside."
Dirty couch or not, Vivian was suddenly thankful to be inside off the
street. Lou however did not look hapy when he came back. "There is a
problem Miss Suzuki," he said. "Bradley has already started fixing your
car. He's not happy you can't pay him."

"I can pay him later."

"No, that's not acceptable. If you can't pay us, we're going to push
your car out on the street. You can find your own way home."

"But it's dangerous out there?"

"You should of thought of that before giving us the go ahead to fix your
car. We're tired and want to go home anyway. Just thought we'd help out
a damsel in distress. You know what I'm saying? And here you go
disrepecting us. I'd appreciate it if you'd leave now."

"Wait, you can't send me out there. Just get me to a phone and I'll get
my boyfriend to bring me the money. How much is it going to be?"

"Three hundred so far."

"Oh, I didn't think it would be so much."

"It might be more. Bradley, thinks it''s your transmission which could
run into thousands."

The events of the day finally caught up to Vivian and she broke down
crying. "Please, there has to be something I can do? I can't afford this
right now."

"Aw, you poor thing," said Lou. He came over and sat beside her, putting
his arm around her shoulders. Lou's arm was thick and muscular and he
pulled her into his equally thick and muscular chest. "There, there. Now
the three of us are partners, though I run things. I'd be willing to let
my third slide, but you'd still owe the boys a hundred each."

"You'd do that for me?" Vivian looked hopefully up at the older black
man.

"Well, I'm a working slob myself. I got mouths to feed and all that.
You'd have to make it worth my while. You know what I'm saying?"

"I don't know what your saying?"

"You see, I got this thing for Asian chicks. I figure a blow job would
convince me."

Vivian sat up, pulling herself out of his arms. "You can't be serious?"
Vivian could tell by the look on Lou's face he was dead serious. "I'm
not a whore. What kind of a man are you?"

"A businessman. Look, it's merely a proposition. If you don't like it,
feel free to leave."

"Could you walk me to a phone?"

"I'm not going out there this time of day." Lou gently grabbed Vivian's
arm. "Look," he said, "just be clinical about it. Pretend I'm your
boyfriend." He brought her arm over and placed her hand right on his
bulge.

Vivian reflectively squeezed it in shock. Lou felt a lot bigger then her
boyfriend or anything else she was used to. The thin material of his
overalls was stretched so much, she thought his penis might rip through
it at any minute. Vivian felt her nipples growing hard with excitement
and she knew they would be quite visible through her bra with her wet
blouse clinging to her body. She sucked her lower lip into her mouth
with embarrassment hoping he wouldn't notice. She didn't do blow jobs.
This was one of the reasons she'd argued with John last night about her
loosening up. However, she was filled with a curiosity to see what this
man's penis looked like. "Can I see it?"

Lou stood and removed his overalls. "Be my guest." He was wearing slacks
and a tee shirt.

Vivian slid her hand up his crotch to the buttons on Lou's slacks. She
unbuttoned them. "Oh my!" The pressure from his growing penis was so
great, his zipper started opening all by itself, like a ghost was
pulling it down. Vivian spread his slacks open. His underwear was old
and stained. The head of his penis was near the top and it alone looked
as big as her boyfriend's nutsack. Vivian reached out and grabbed the
end of his underwear, pulling it out and down. "That can't be real," she
whispered.

Lou sighed with relief as his penis was freed. "It's real, baby. Feel it
for yourself."

Vivian grasped his penis and felt it grow in her hand until it was a
steel hard shaft as big as her wrist. Lou's skin was a dark brown, but
his dick was blacker. The head was covered by a dark wrinkly foreskin
which she pulled down. The head that emerged was reddish brown, lighter
then the shaft and as big as a golf ball.

"Never seen one that big I take it?"

"No sir, it's twice the size of my boyfriend's." John's was around six
inches she guessed and kind of skinny. Lou's was fat, hard, and around a
foot long.

"That's a black cock your holding."

A black cock! Vivian's father came to mind. He accepted, but disapproved
of her dating white men. He'd die of a stroke if he knew what she was
holding now and contemplating doing with it. Vivian stroked it a couple
times, watching her petite hand slide up and down the hard shaft. She
bent over and licked the head.

"That's a good girl," said Lou, "Make it worth the hundred dollars."

"Fine, just don't cum in my mouth." Vivian took the head in her mouth
and sucked on it. Lou was big, very big. She almost wished she'd
practiced more on John's smaller penis. Lou's cockhead alone seemed to
fill her mouth. The tip pushed against her throat and she gagged,
spitting it out. Lou cupped the back of her head and brought her mouth
back over to his angry looking cock. The head had fully emerged from the
foreskin now and was shiny and wet. He pushed it back into her mouth.

Vivian relaxed her throat and managed to swallow the head before she
felt herself gagging again. Lou held her head in place. He pushed more
of his cock down her throat. Vivian felt her throat stretching open
around the huge cock. It was choking her as it pushed deeper. Finally,
when she felt her air running out, Vivian remembered her nose. She
exhaled, then breathed fresh air into her lungs. Her throat grew used to
the big black cock and Lou pulled back thrusting forwards again. Vivian
held still watching his pubic hairs coming closer and closer to her nose
as he bucked his hips on the couch.

"So far this aint been worth no hundred dollars. I'm doin all da work,"
said Lou removing his hand from her head.

Leaning over on the couch was hurting her back, so Vivian released his
cock. She got off the couch and kneeled between his spread legs. Lou
took the opportunity to remove his shirt. Vivian couldn't help being
impressed with his chest. His pecs and abs were hard and clearly
defined. His knobby cockhead rested on the top of his sixpack abs,
sticking straight up. Vivian grabbed the base and pulled it down into
her mouth. She held the head in her mouth as he lifted his hips and she
pulled his pants off. His balls were sized to match his cock and they
splayed out on the couch between his legs.

Vivian found this position easier and was soon bobbing her head slowly
over his cock. She looked up to see if he was enjoying it. Their eyes
met and Vivian felt a shiver expand through her body. His stare was
intense, seeming to say this is where you belong, on your knees sucking
my big black cock. Vivian broke eye contact, her gaze traveled down his
bull neck taking in his muscular arms spread along the back of the
couch, his broad chest, his rock hard stomach, gray-black pubic hair,
and the root of his thick cock, the shaft traveling towards her face,
disappearing in her mouth. Vivian shivered again and started trying to
please him. She swallowed more and more cock into her whore mouth until
her nose pushed into his pubes.

Vivian couldn't handle the entire cock for long. She settled for jerking
the base with one hand while sucking rapidly on about half his cock. Her
other hand was gently kneading his balls. She heard a moan of
contentment, but it wasn't Lou's, it was her own. She still felt like a
whore, but it didn't feel wrong, it felt satisfying. She liked sucking
his big black cock. A cock that seemed to be growing longer, thicker,
hardening, jerking, pumping, spitting jet after jet of semen down her
throat. Vivian pulled back, but Lou's hand appeared on her head again,
holding her in place, while sperm filled her mouth. His cum's heat
surprised her, but the taste wasn't as bad as she'd of guessed. She
swallowed the hot fluid as fast as he pumped it out.

"Damn girl, that was worth the hundred bucks," said Lou. Vivian
immediately felt very proud and pleased with herself. "Don't forget, you
still owe Bradley and Fish money."

Vivian was still kneeling between Lou's legs, stroking his deflating,
yet still impressive cock.
"Do you think I could blow them too?" she asked.

"Hmm. Maybe, but you'll have to ask them. They're nice guys. I'm sure
they'd be willing to help a hot girl like you out." Lou looked towards
the door and yelled, "Yo Fish, get your ass in here." Fish came in still
wearing his do-rag and reflective shades. He was smoking a sweet
smelling ciarette that looked hand rolled. He didn't look all that
surprised to see Lou naked with Vivian kneeling between his legs. "Fish,
Miss Suzuki here has something she'd like to ask you."

Vivian thought Fish barely looked legal, eighteen maybe nineteen. Not a
bad looking kid, muscular and wirey, but he did look like a thug with
low riding, baggy pants and gold chains around his neck. "Fish...hi...I
was wondering... Well, I'm tight on money right now. Lou just let me
suck him off as payment for working on my car. I was wondering if I
could do the same for you?"

"I don't know, you any good?"

"Miss Suzuki is a first class, grade A, cocksucker, bro," said Lou,
pulling his pants back up.

"Shit, I aint had me no blow job for awhile. I guess you could sucks me.
You like sucking black cock?"

Vivian hesitated, then looked him in the eye. "Yes," she said.

"Good, cause I like having my black cock sucked and it aint never been
done by no hot white bitch."

Crude, Vivian thought and she wasn't white, but she just nodded. "Bring
it on over."

"No, you want it so bad, you come get it."

Vivian walked on her knees over towards the black teen. She undid his
pants, finding herself looking forward to seeing what his cock looked
like. She wasn't disappointed. She bent down and took the head of Fish's
rapidly hardening cock in her mouth. Fish was smaller then Lou, maybe
nine inches, but thicker and circumcized. She bobbed her head over the
shaft, using her hands to yank his pants down to his ankles.

Vivian deep throated Fish's cock to the root, the extra thickness making
her want to gag again. She pulled back until the head was in her mouth
so that she could swirl her tongue around the crown. She looked up to
see if he was enjoying it. Fish inhaled the cigarette and held the smoke
inside his lungs. She suspected it might be marijuana. He coughed it out
and stared into space while she did all the work. He did have a dumb
grin on his face while she rapidly bobbed her head. "Fuck yeah," growled
Fish still in his fantasy world. Vivian's mouth filled with more hot
cum. His initial wad caught her off guard and she pulled her head back.
The cock flew out of her mouth, jerking up and spurting a long strand of
semen from her nose to her forehead. Vvian caught it back in her mouth
and swallowed every remaining drop it pumped out.

Bradley was on his back adjusting something under the beamer. Vivian
kneeled between his legs and placed her hand on his bulge. He jumped and
banged his head. "What the fuck?" He slid out and stared a her
surprised, then at the grinning faces of Lou and Fish standing behind
her.

"I just gave your friends blow jobs in exchange for fixing my car. I'd
love to do the same for you, Bradley."

"Fuck yeah," he said, not bothering to tell her to call him Bman.

Bradley was an older teen too. He seemed nervous and stared at her in
awe as she undid his jeans. His cock was limp as she pulled it out. It
plumped up a little as she touched it. Vivian swallowed the whole thing
and held it in her mouth. That did the trick, Bradley overcame his
shyness and his cock started growing. Vivian sucked it until it was
completely hard, then pulled back to look at it. Brad was somewhere
between Lou and Fish in length and size, maybe ten or eleven inches. He
continued to lay on his back on the cement as she sucked him off.
Bradley kept his neck arched so that he could stare at her in awe while
she sucked his big black cock. Vivian winked at him as she bobbed her
head. He didn't last long, but she swore his cock pumped out as much hot
tasty sperm as both the other black men combined. She swallowed at least
four mouthfuls. Vivian had swallowed so much sperm, she was no longer
hungry from missing lunch.

Vivian winked at Brad who stared at her like a lovesick puppy. She stood
and walked over to her car where Fish and Lou were working on it.
Fish was removing at plate on her dashboard with a long number on it.
"What's that?" she asked working her sore jaw around.

"Uh...it's your VIN number. I gotta runs it to makes sure this car ain't
stolen."

"I understand," she said. There'd been a rash of stolen cars over the
last month.

"Bad news," said Lou interupting. "It's your transmission."

Vivian felt her heart sink. "How much?"

"Three thousand."

"I can't afford that," she wailed. Vivian started crying again. "It's
too much."

"I know, sweetheart," said Lou putting his arm around her shoulder.
"Maybe we can work something out?" He steered her back towards his
office.

"Like what, Lou?"

"I told you I liked Asian bitc...women. I'd be willing to drop my third
if I can fuck you."

Vivian gasped. "Lou! I couldn't do that. I have a boyfriend. We're
serious. I can't cheat on him."

"Just trying to do you a favor, sweetheart. I need the money more then I
need to get laid, but you'd be worth every cent."

"Really? That's sweet. Even if I said yes, you're way too big for me.
It'd never fit. Maybe, I could owe you ten more blow jobs?"

"No deal. We're moving out soon." Lou pulled his shirt up over his head.
"It's now or never."

"I have a problem with cheating. I've had boyfriends cheat on me, so I
know how it feels."
Vivian watched him step out of his pants, then pull is underwear down.
His cock sprang up nearly fully hard. "And like I said, you're way too
big." Vivian was very impressed with Lou's physique. He had the best
body she'd ever seen on a man, especially considering the fact he looked
to be pushing fifty.

"Tell you what, lets see how much of it you can take. If you can't
handle it, you'll just have to come up with the money. If I can fuck
you, I won't cum in your pussy. That's not really cheating."

"It isn't?"

"Look, it's either black meat or hit the street."

"Alright, we can try, but don't you dare cum in my pus...er vagina. How
do we do this?"

"You can start by taking off your clothes and do it slowly." Lou sat on
the couch and started slowly stroking his cock.

Vivian was dressed business professional in a white blouse and black
pants. Her blouse had dried and wasn't clinging to her body so much
anymore. She tossed her shoulder length black hair back and started
unbuttoning her blouse from the top down. "Sway your hips like your
dancing," ordered Lou. Vivian didn't see anything wrong with this idea,
so she started dancing in place as she pulled her blouse open and off
her shoulders. "Pants first," said Lou as she went up to take her bra
off. Vivian unbuttoned her pants and pulled the flap open revealing her
panties. "Turn around and take them off." She turned and pulled her
pants down bending so that her ass was pointed at the black man. "Turn
around for me. I want to look at you." Vivian danced while slowly
turning. Her underwear was plain, but small and tight so it looked sexy
on her. Vivian's hips and bosom were both a size 32. Her cup size was
only a B, but on her petite frame, her breasts were pronounced and
impressive. "Now the rest of it." Vivian looked down her body as she
unhooked her bra. She was surprised to see her nipples were rock hard
and her panties were damp as she pulled them down. Lou's eyes were wide
with lust as he stared at her nude body. "Girl, you are fine!"

"Thanks. How do you want to do this?"

"I want you to watch my cock pushing into you so come sit on the couch."
Lou stood up and stepped asside. His cockhead touched her as she passed
and Vivian felt a shiver run down her spine. No human woman could take
such a beast, but if she did, it would save her a thousand dollars.
Vivian was a bit prissy and she grimaced as she sat nude on the dirty
couch. Lou kneeled before her and placed his big hands on her knees,
pulling her legs apart. "Slide your ass off the couch." Vivian slid her
body down the couch. She watched with trepidation as the big bulbous
cockhead approached her crotch. The foreskin was stretched tight around
the head which was slowly emerging as it got closer. Precum was pouring
out of the pee slit.

Vivian jumped when Lou's cockhead touched her slit. He ran it up and
down her labia and was shocked at the amount of lubrication coating
where he touched her. Vivian may have been scared, but her pussy seemed
ready and eager to go. Lou slid it up and down her slit a couple more
times then started applying pressure. Vivian felt the huge head push
hard against her pussy. He might as well have been trying to push his
cock into her belly button for all the good it did. He pushed harder and
harder. Vivian felt her pussy squirt a little, coating the head even
more. Finally, just when she thought he should give up, her hole
stretched around the head opening wider then it ever had before.

"Ugh," said Vivian and Lou together.

Lou rotated his hips to keep his cockhead juiced up. He worked it around
a little then pushed another inch in. "God, it's big!" said Vivian
staring at the thick shaft penetrating her.
Lou pushed a little more in, every centimeter a struggle stretching her
pussy wide. Vivian felt stuffed, but it didn't hurt. Instead, Lou's big
black cock filled her so good, it was stimulating every nerve ending in
her pussy. She actually started pushing down into it to get more in. She
hadn't expected to enjoy it.

Lou met resistence with around half his cock in her. He started slowly
fucking her. Lou would slowly pull back, then ram it forwards. His meaty
battering ram forced it's way deeper then any man had been with it's
relentless pounding. Vivian's eyes opened wide at a sudden surge of
pleasure. She started bucking her own hips, fucking him back a little.
"You like that dontcha?" asked Lou grinning and grunting as he pounded
his cock forwads.

"Uh, uh, oh, yes, I like it. Real...good. Yes, real good. Oh, god, fuck
me Lou. This is the best ever."

"Little whore likes her big black cock. Well, my big black cock likes
your tight Asian pussy." Lou started pounding faster and harder. He hit
a point where he didn't think he could get anymore in and he still had
three inches to go.

"No more, too...big. Oh god, gonna cum. Your big black cock's making me
cum. Ah, ah, aaahhh..."

Lou felt the additional lubrication coat his cock and he took the
opportunity to sink the rest of his cock in her pussy. Vivian was still
writhing with pleasure as her orgasm took possession of her body. Her
body suddenly jumped with shock as pain mixed in with the pleasure.
"Noooo, too big, yes, fuck yes, oh, it hurts, more, please fuck me
more."

"It's those last few inches that's gonna hook you on black dick."

Vivian had to agree. She felt like a crazed sex addict. She was grabbing
Lou's hips now trying to get him to fuck her harder after wrapping her
long legs around his waist. She was slamming her pussy down hard into
each thrust. Another orgasm started building promising to be even bigger
then the last. Lou reached back and grabbed her ankles, spreading her
legs wide. His cock started pistoning into her like a jackhammer. When
she came, it seemed to last forever. Her pussy would squeeze his cock,
then expand around it, finally rippling like waves. The big orgasm
stopped, but turned into a series of smaller orgasms exploding like fire
crackers. Lou slammed his cock in hard and held it still. His big dick
jerked inside her and sperm coated her womb. Vivian's orgasms turned
into a big one again, lasting as long as his cock continued to pump
sperm into her pussy.

**************

"Come on, do it?"

"I will not," said Vivian feeling like a whore. She was squatting over a
small trash can wondering if she'd ever get all of Lou's sperm out of
her pussy.

"Do it, it's funny." Lou stood up off the couch and started dressing.

"It's offensive."

"If you want the boys to fix your car for free, you'l do what I tell
ya." Lou smacked her ass hard enough it stung. Vivian sighed.

It looked like Bradley had half her engine removed when she walked out
to the garage. He looked up and dropped a tool when he saw her. Bradley
stared appreciatively and hungrily at her nude body. Vivian took a deep
breath and swallowed her pride. She grabbed a breast
with one hand and her crotch with the other. "Ooo, me so horny. Me love
you long time. Me love you all night long," said Vivian faking an
accent.

Bradley gulped as Vivian grabbed him and led him back to the couch. Lou
laughed as did Fish.
"Yeah bitch, I'm gonna give you whats you needs," said Bman. Despite the
trash talk, Bradley looked nervous and his face was as white as a black
man could get. Vivian suspected he might be a virgin.

Vivian helped undress him, impressed as his big cock sprang up
completely hard. These men seemed to have remarkable recovery rates. She
pushed him down on the couch and straddled his lap. Despite her workout
with Lou, Vivian felt a surge of lust as she guided her second black
cock into her pussy. Both Vivian and Bradley moaned as she lowered
herself over his cock. Bradley stared in awe at his dick disappearing
into her pussy. "It's so hot," he murmured confirming her suspicions
that he was a virgin. Vivian started bouncing rapidly in his lap.

"Yo, I aint gonna fuck ya after he does. You're gonna hafta pay me my
grand."

Vivian looked over her shoulder to see Fish standing there still wearing
his sunglasses and do-rag. "oh oh, fuck me, Bradley" she said feeling
another orgasm approach. "I, oh, I d-oh-n't have that kind of money,
Fish. Oh yes, yes, yes. I love your cock, Bradley."

"Work that pussy, ho," said Bradley losing his shyness. He took his
hands off her hips and grabbed her breasts. His hands were black with
grease and left prints everywhere he touched her which was everywhere.
He rolled her nipples between his fingers and tugged on them, fascinated
with her milky breasts and pink nipples.

His hands were still squeezing her breasts when another pair of hands
grabbed her butt cheeks. Vivian looked behind her to see Fish had
removed all his clothes. He was bringing his cock up to her ass. "What
are you doing?"

"Taking my payment in the only hole you got left," said Fish.

It reminded Vivian of taking Lou for the first time in her pussy. Fish's
cockhead pressed hard against her anus, pushing it in until it
reluctantly opened and the head forced it's way in. Brad's cock spurted
just as Vivian's ass began to hurt. Brad hadn't lasted long, but he was
good and having her pussy filled with black sperm again triggered
another orgasm that sent her over the top.

Vivian slowly came to her senses aware of a great pain in her ass. Fish
had taken advantage of the situation to push most of his cock in.
Bradley's cock was still inside her pussy, but limp and spent. The pain
was fading rapidly as her ass stretched to accomodate him. Fish started
to move and she was thankful, he'd used something to lubricate his
shaft. Each time Fish buried his cock in her ass, it forced her clit to
rub against Brad's crotch stimulating her. Vivian started to like it.

Vivian pressed her clit hard into Brad as she pushed back into Fish.
"You liking it now, bitch?" asked Fish. "You like having your ass
stuffed full of black cock?"

"I love it. Fuck my ass. I love having your black cocks in me." Vivian
felt Brad's cock coming back to life. It grew in her pussy, swelling and
hardening until he was completely erect again. Amazing! Vivian was now
getting fucked by two cocks at once. The sensations were incredible. She
had orgasm after orgasm only vaguely aware when Fish's cock exploded
filling her ass with sperm just as Bradley's cock emptied another load
into her womb. Vivian blacked out.

Vivian awoke to pain again. This time it was in her stomach. She was
bent over the back of the couch getting fucked again and the couch was
pushing into her stomach. "What's wrong with the Lexus?" asked the voice
fucking her.

Lou was standing dressed in front of her. "Nothing but a loose bolt," he
said.

Vivian stared at Lou who just grinned, shrugged, and nodded. They had
conned her into sex. Then she noticed something else strange. She could
see Fish driving a car up into the back of a truck and Bradley was
directing him. "Who are you?' she asked looking over her shoulder.

"I'm the truck driver." This man was very black and had a slight African
accent. His cock too felt huge and it was quickly stimulating her to
another orgasm.

These men had lied and tricked her. They'd used her for sex and
gangbanged her. Instead of being upset, Vivian yelled, "I don't care,
just fuck me, never stop fucking me. I love your cocks. Thank you."

"No, thank you for filling our quota," said the truck driver. Vivian
didn't get it, but didn't care. These men had taught her to really enjoy
sex and the orgasms were flowing again. She relaxed and drifted off into
a world of sexual bliss.

Vivian awoke exhausted on the couch. Sperm was crusted on her lips,
belly, and breasts which made her think they'd fucked her a few more
times after she passed out. Plus, her ass was squishy with a fresh load
of semen trickling out. Her body was covered with dried sperm and
grease. She crinkled her nose distastefully at the mess as she began
dressing.

The warehouse/garage was empty when she walked out of Lou's office. Not
just empty of people, empty of everything. No black men, no tools, and
no cars, including her own. The only thing left was a newspaper opened
to the crime report. The headline read; car thefts continue.
Vivian felt a sinking feeling as she realized who Lou and the gang
really were. Her car being stolen was the perfect end to a horrible day.
The sex however, had been incredible and she wasn't surprised to realize
she'd do it all over again if given the chance. She was surprised when
she walked outside.

It was dark outside now, probably pretty late and no longer raining. The
streets were empty. There was no traffic, no gangs of drug dealers
walking around ready to rape and mug her. What was waiting for her
outside was her car. The Lexus sat waiting for her with the keys in the
ignition.

Vivian started the engine and put the car into gear. It purred like a
kitten. She drove off heading for home, to clean up before calling John
to explain she'd had car trouble. She never knew why they didn't steal
her car, but liked to think it was because she'd made four men very
happy. What she did know was that John would be happy with all the new
things she'd willingly do with him now.

But would she be happy with just him?

The End

Kenangan pertama dengan satpam

Namaku aliah. Umurku baru 20 tahun. Aku dikarunia wajah yang cantik
dan body yang sexy. banyak yang mengagumi keindahan dadaku yang
berukuran 34 C,apalagi kalo aku pake baju yang kekecilan, pasti
mengundang orang untuk melihatnya. Selain itu aku punya pantat yang
sekal,ditambah lagi dengan kulitku yang putih halus membuat banyak
cowo-cowo ingin memacari aku. Selama ini aku sudah beberapa kali
gonta-ganti pacar.

Aku kuliah di bandung, Hari itu aku lagi pulang kerumahku di di
Jakarta. Sesampainya aku disana ternyata keluargaku lagi pergi semua
liburan kepuncak ,jadi hanya ada pembantu dan satpam rumah.aku ingin
menyusul ke puncak ,namun kuurungkan. Aku memutuskan untuk istirahat
total dirumah namun setelah satu harin dirumah ,akhirnya ku bosan.
Rumahku yang luas,yang memiliki kebun bunga da pekarangan yang luas,
membuatku bosan.

Sore itu aku berkeliling-keliling sekitar rumahku (rumahku cukup
luas), aku melihat-lihat kebun bunga dan bertegur sapa dengan para
tetanggga. Setelah bosan aku mampir ke ruang satpam rumahku. Disana
,Paimim sedang asik menonton TV. Paimin umurnya sekitar 40 tahun,dia
orangnya sangat setia pada keluargaku. Badannya tegap dan besar dengan
otot-otot yang kekar. Sebelum menjadi satpam paimin dulu bekerja
sebagai kuli kasar di pelabuhan. Paimin cukup disegani di kompleks
perumahan kami, terbukti setelah 4 tahun bekerja tidak pernah ada
maling yang berani masuk ke rumah kami.

Dia tampak sopan menyambutku. Dia menawariku air putih sambil
ngobrol-ngobrol diruangan yang berukuran 2X3 m itu . banyak hal yang
kami obrolin. Dia menceritakan tentang istrinya yang telah lama pergi
dan tidak ada yang menemani kesendiriannya. Belum lagi kalo dia sakit.
Aku cukup iba kepadanya. Maka timbul niat gilaku,aku ingin memberikan
tubuhku untuk dinikmati olehnya,itung-itung balas budi karena dia
sangat berbakti pada keluargaku. Lagian aku cewe yang
liberal,keperawananku sudah kuberika pada mantan pacarku waktu sma
dulu. Sejak saat itu aku selalu berpetualang ke satu pelukan lelaki ke
pelukan lelaki yang lain. Selain itu aku sudah lama tidak merasakan
kenikmatan penis lelaki,sejak aku putus ama mantanku bebrapa minggu
yang lalu. Namun ada kekuatiran dalam diriku,sebab aku belum penah
bercinta dengan lelaki pekerja kasar seperti pak paimin. Namun melihat
keperkasaan pak paimin ada desakan birahi untuk melakukannya.

Sambil ngobrol-ngobrol, paimin seekali melihat kearah dada dan pahaku.
Sore itu aku memaki celana pendek ketat, yang memarkan pahaku yang
putih mulus. Selain itu aku mengguankan tanktop yang agak
kekecilan,sehingga payudara 34bku seakan mau meloncat keluar menahan
sempitnya bajuku. Aku dapat merasakan putingku tercetak di tanktop
putihku. Hal itu ternyata membuat Pak paimin tak bisa untuk tidak
mencuri pandang. Aku cukup senang melihat tatapan nakalnya kedadaku.

"pak paimin, udah lama ya ditinggal istrinya?" ujurku memecah kesunyaian
"iya,non" katanya tertunduk sedih. Aku jadi iba melihatnya.
"kalo malam-malam kedinginan dong, pak. Ga ada yang nemanin". Ujarku
lagi yang disambutnya dengan anggukan kepala.

Kemudian aku mendekat kepadanya,kuarih tanganya dan kuleatakkan di
pahaku. Secara releks ditariknya.
`jangan non.ga baik dilihat orangnya"katanya.
"ga pa-pa kok,pak.nikmatin aja,kan da lama bapak tidak merasak
nikmatnya wanita.hari ini aku mau menolong bapak."kataku sambil
menarik tangannya lagi kearah pahaku.

Merasakan ada angin dariku,perlahan-lahan dirabanya pahaku. Siapa sih
yang menolak bercinta dengan gadis cantik dan sexy.apalagi gadis yang
masih muda. Rabaan pada pahaku makin lama makin naik dan menyentuh
pangkal pahaku.

"pak…………..uoh……"desahku sambil mengigit bibir. Kemudian didekatkannya
wajahnya ke wajahku,langsung dilumatnya bibirku yang mungil. Segera
kubalas lumatannya. Bau rokok dimulutnya menimbulkan sensasi sendiri
bagiku. Kami berciman dengan ganasnya. Tangannya sekarang
meremas-remas dadaku dari luar. Dadaku yang cukup kenyal diremasnya
silih berganti,dari kiri kekanan. Aku hanya bias terpejam sambil
membalas ciumannya.

Mataku yang terpejam terbuka ketika kurasakan tangan kasarnya
mengelusi paha mulusku, dan terus mengelus menuju pangkal paha.
Jarinya menekan-nekan liang vaginaku dan mengusap-ngusap belahan
bibirnya dari luar. Birahiku naik dengan cepatnya, terpancar dari
nafasku yang makin tak teratur dan vaginaku yang mulai becek.
Tangannya sudah menyusup ke balik celana dalamku, jari-jarinya
mengusap-usap permukaannya dan menemukan klitorisku, benda seperti
kacang itu dipencet-pencet dan digesekkan dengan jarinya membuatku
menggelinjang dan merem-melek menahan geli bercampur nikmat, terlebih
lagi jari-jari lainnya menyusup dan menyetuh dinding-dinding dalam
liang itu.

"oh…ouh……' hanya itu yang keluar dari mulutku.

Puas mengorek-ngorek rongga kewanitaanku. Dia melepaskna tubuhnya.
Segera diangkatnya tangtopku yang sudah berantakan. Dadaku yang masih
tertutup bra hitam langsung terpampang dihadapannya. Dia menatap
takjub kepayudaraku. Kemudian langsung kulepas braku yang
kekecilan.segera payudaraku seperti mau meloncat keluar, karena
tertahan BH yang kekecilan.
Matanya melotot mengamat-ngamati payudaraku. Kemudian dielusnya dada
montokku yang berukuran 34, dengan puting kemerahan serta kulitnya
yang putih mulus. Tangannya yang kasar sangat kontras dengan
payudaraku yang halus,namun terasa nikmat. Berbeda dengan beberapa
cowo yang pernah tidur denganku yang rata-rata memiliki tangan yang
halus. Sambil dielue elus seekali dia meremasnya.

"Nnngghhh... Pak" desahku dengan mendongak ke belakang merasakan
mulutnya memagut payudaraku yang menggemaskan itu. Mulutnya menjilat,
mengisap, dan menggigit pelan putingku. Sesekali aku bergidik keenakan
kalau kumis pendeknya menggesek putingku yang sensitif. Tangan lainnya
turut bekerja pada payudaraku yang sebelah dengan melakukan pijatan
atau memainkan putingnya sehingga kurasakan kedua benda sensitif itu
semakin mengeras. Yang bisa kulakukan hanya mendesah dan meremasi
rambutnya yang sedang menyusu.

Puas menyusu dariku, mulutnya perlahan-lahan turun mencium dan
menjilati perutku yang rata dan terus berlanjut makin ke bawah sambil
tangannya menurunkan celana pendekku bersamaan dengan celana dalamku.
Kini aku telanjang bulat dihadapannya.matanya nanar memandangi
vaginaku yang ditumbuhi bulu-bulu kecil.

Kemudian aku dibaringkan di dipan post satpam itu. Aku pasrah saja
mengikuti posisi yang dia inginkan, pokoknya aku ingin menuntaskan
birahiku ini. Tanpa membuang waktu lagi dia melumat kemaluanku dengan
rakusnya, lidahnya menyapu seluruh pelosok vaginaku. Dia menjilati
bibir vaginaku yang membuatku bergelinjang tak karuan. Jilatannya
menerobos semakin dalam ke dinding dalam vaginaku.anusku pun tidak
luput dari jilatannya.
Lidahnya diarahkannya ke klitorisku, sehingga membuatku tak kuasa
untuk tidak menjerit. Untung rumahku sepi dan pembantuku ntah
kemana,kalo tidak bias berabe jadinya. Jilatannya pada dinding dalam
vaginaku dan pada klitoris serta anusku memberikan sensasi yang luar
biasa pada daerah itu. Aku benar-benar tak terkontrol dibuatnya,
mataku merem-melek dan berkunang-kunang. Aku merasakan akan orgasme.

"Ah... pak... Nngghh... Terus!" erangku lebih panjang di puncak
kenikmatan, aku meremasi payudaraku sendiri sebagai ekspresi rasa
nikmat. Pak paimin terus menyedot cairan yang keluar dari liangku
dengan lahapnya. Tubuhku jadi bergetar seperti mau meledak. Kedua
belah pahaku semakin erat mengapit kepalanya. Sampai kurasakn cairan
cintaku habis disedotnya baru dia melepaskan. Aku terenggah2
dibuatnya. Sungguh kenikmatan yang luar biasa.

Dia membiarkanku istirahat. Matanya tak pernah lepas dari dadaku yang
naik-turun karena nafasku yang memburu. Aku merenggangka vaginaku
lebar-lebar,kurasakan angin menerpa dindingnya. Aku masih memejamkan
mataku, sampai akhirnya kurasakn dia mendekat. Kubuka mataku, dia
mulai melepas seragam putihnya dan melepaskan celana panjangnya.
Tubuhnya yang kekar dan hitam menonjolkan otot-otot yang bertojolan.
Kemudian dia melepaskan celana dalam putihnya. Di baliknya menyembul
batang penis laki-laki itu yang telah menegang. Batangnya sangt besar
sekali. Tegak mengacung keatas. Tak terasa aku menjerit ngeri, aku
belum pernah melihat alat vital lelaki sebesar itu. Bahkan penis
lelaki yang pernah menggauliku tidak ada sebesar punya pak paimin. Aku
sedikit ngeri. Bisa jebol milikku dimasuki benda itu. Namun aku tak
dapat menyembunyikan kekagumanku. Seolah ada pesona tersendiri hingga
pandangan mataku terus tertuju ke benda itu.

Pak paimin berjalan mendekatiku, tangannya meraih pahaku dan
mengelusnya. Tiba-tiba ia berdiri di depanku yang masih terduduk di
tepi ranjang dengan bagian bawah perutnya persis berada di depan
wajahku. aku sudah tahu apa yang dia mau, namun tanpa sempat
melakukannya sendiri, tangannya telah meraih kepalaku untuk dibawa
mendekati kejantanannya yang aduh mak.., Sungguh besar itu.

Tanpa melawan sama sekali aku membuka mulut selebar-lebarnya, Lalu
kukulum sekalian alat vital Pak paimin ke dalam mulutku hingga membuat
lelaki itu melek merem keenakan. Benda itu hanya masuk setengahnya
saja ke dalam mulutku. Itupun sudah terasa penuh. Aku hampir sesak
nafas dibuatnya. Aku pun bekerja keras, menghisap, mengulum serta
mempermainkan batang itu keluar masuk ke dalam mulutku. Terasa benar
kepala itu bergetar hebat setiap kali lidahku menyapu kepalanya.
Kukeluarkan semua teknik mengoralku. Hal itu membuatnya keenakan dan
meremas-remas rambutku. Tidak tahan dilakukan seperti itu dia langsung
merebahkanku hinga kembali telentang dia dipan itu.

Tanpa melepaskan kedua belah kakiku, bahkan dengan gemas ia
mementangkan kedua belah pahaku lebar-lebar. Matanya benar-benar nanar
memandang daerah di sekitar selangkanganku. Nafas laki-laki itu
demikian memburu. Kemudian diarahkannya penisnya yang sudah tegang
betul itu kevaginaku. Aku memejamkan mata menikmati detik-detik ketika
penisnya menerobos vaginaku. Penisnya kesulitan menjebol vaginaku yang
masih sempit itu kepala penisnya yang besar itu menggesek clitoris di
liang senggamaku hingga aku merintih kenikmatan. Ia terus berusaha
menekankan miliknya ke dalam milikku yang memang sudah sangat basah.
Pelahan-lahan benda itu meluncur masuk ke dalam milikku. Dan ketika
dengan kasar dia tiba-tiba menekankan miliknya seluruhnya amblas ke
dalam diriku aku tak kuasa menahan diri untuk tidak memekik. Perasaan
luar biasa bercampur sedikit pedih menguasai diriku, hingga badanku
mengejang beberapa detik.

"ahh………." Aku melolong dengan panjang. Pak paimin cukup mengerti
keadaan diriku, ketika dia selesai masuk seluruhnya dia memberi
kesempatan padaku untuk menguasai diri beberapa saat. Sebelum kemudian
dia mulai menggoyangkan pinggulnya pelan-pelan kemudian makin lama
makin cepat.Aku sungguh tak kuasa untuk tidak merintih setiap dia
menggerakkan tubuhnya, gesekan demi gesekan di dinding dalam liang
senggamaku sungguh membuatku lupa ingatan. Pak paimin menyetubuhi aku
dengan cara itu. Payudaraku tergonjang-goncang ketas dan
kebawah,mengikuti gerakan tubuhku. Aku bisa melihat bagaimana batang
penis lelaki itu keluar masuk ke dalam liang kemaluanku. Aku selalu
menahan nafas ketika benda itu menusuk ke dalam. Milikku hampir tidak
dapat menampung ukuran Pak paimin yang super itu, dan ini makin
membuatnya tergila-gila.

"Aaakkhh.. Aaakkhh. Aaakkhh. Aaakkhh..!" erangku lirih sambil
mengepalkan tangan erat-erat saat penisnya melesak keluar-masuk ke dalamku

Aku mengerang setiap kali dia menyodokkan penisnya. Gesekan demi
gesekan, sodokan demi sodokan sungguh membuatku terbuai dan semakin
menikmati persetubuhan terlarang ini, aku tidak perduli lagi orang ini
sesungguhnya adalah pembantuku.Sambil memompaku tangannya mulai
meremas-remas payudaraku. Diremasnya dadaku yang kanan dengan tangan
kirinya. Aku dapat merasakan puting susuku mulai mengeras, runcing dan
kaku.

Dia menurunkan tubuhnya hingga menindihku, kusambut dengan pelukan
erat, kedua tungkaiku kulingkarkan di pinggangnya. Dia mendekatkan
mulutnya ke bibirku, segera kami berciman dengan liar. Walau hanya
seorang satpam,harus kuakui ciumannya cukup menggairahkan. Dari
bibirku lumatannya turun ke leher jenjangku dan memagutnya. Hal itu
menimbulkan kenikmatan yang lebih. Sementara di bawah sana penisnya
makin gencar mengaduk-aduk vaginaku, diselingi gerakan berputar yang
membuatku serasa diaduk-aduk. Tubuh kami sudah berlumuran keringat
yang saling bercampur, akupun semakin erat memeluknya. Aku merintih
makin tak karuan.

Tak lama kemudian aku merasa dunia makin berputar dan tubuhku
menggelinjang dengan dahsyat, aku mendesah panjang dan melingkarkan
kakiku lebih erat pada pinggangnya. Cairan bening mengucur deras dari
vaginaku sehingga menimbulkan bunyi kecipak setiap kali dia
menghujamkan penisnya. Lolongan panjang menandai orgasmeku yang
keduakalinya.

Pak paimin sangat menerti kondisiku yang sudah lemah. Perlahan-lahan
ditariknya penisnya dari liangku. Aku melihat batang pak paimin makin
mengkilat dilumasi oleh cairan cintaku. Aku cukup terkejut melihat
penisnya masih kokoh berdiri. Dia beum orgasme. Ada perasaan iba
dihatiku melihat dia menahan nafsunya untuk membiarkanku istirahat.
Hal itu mengingatkanku akan Stanco . teman kencanku yang sangat
pengertian denganku. (baca: PETUALANGANKU : BERBAGI KEBAHAGIAN DENGAN
KENALAN BARU)


Perlahan-lahan aku mendekatinya,kegemgam penis yang masih berdiri
tegang itu. Kudekatkankan mulutku keselangkangannya dan langsung
kelumat batang kesukaanku itu. Kepala penisnya kujilati secara
melingkar dari atas kebawah sambil tanganku mengocok-ngocok
pangkalnya. Hal itu membuatnya keenakan. Terbukti dari erangannya yang
makin lama makin kuat. Dia juga mulai meremas-remas rambutku dan
sesekali memelintir payudaraku. Nafsuku juga mulai bangkit secara
perlahan-lahan. Aku maki bersemangat menocok dan mejilat batangnya
yang super itu.

"oh…neng aliah..oh…" desahnya. Dia juga tak mau kalah,segera jari
tangannya menyelinap kevaginaku. Dicarinya liang senggamaku lalu mulai
dikorek-koreknya. Kontan aku tambah semangat memagut dan mencaplok
barangnya. Sambil menyepong pak paimin aku suka mengerang-erang tapi
eranganku terhalang olah penisnya. Akhirnya aku sudah tidak tahan
lagi, libidoku yang sudah dipuncak sudah sulit untuk dibendung. Maka
langsung kudorong tubuh pak paimin sehingga telentang dihadapanku.

Kenaiki tubuh kekarnya. Dia langsung memegangi kedua bongkahan
pantatku yang padat berisi itu, lalu perlahan-lahan kuraih penisnya
dan kuarahkan ke vaginaku. akupun menurunkan tubuhku hingga benda itu
amblas ke dalamku .secara bersamaan kami mulai menggoyangkan tubuh
kami. Desahan kami bercampur baur dengan bunyi derit dipan di post
satpam itu. tubuhku tersentak-sentak tak terkendali, kepalaku
kugelengkan kesana-kemari, kedua payudaraku yang terguncang-guncang
tidak luput dari tangannya. Pak Paimin memperhatikan penisnya sedang
keluar masuk di vagina seorang gadis 20 tahun, anak majikannya
sendiri, sepertinya dia tak habis pikir betapa untungnya berkesempatan
mencicipi tubuh seorang gadis muda yang pasti sudah lama tidak
dirasakannya. Cukup lama lama bersenggama dalam posisi itu. Tapi belum
ada tanda-tanda dia akan orgasme, padalah kini kurasakan vaginaku
makin lama makin berdenyut kencang. Kurasakan bahwa sebentar lagi aku
akan orgasme.

"Ssshh aahhh... pakkk..."
Tiba tiba kurasakan perasaan nikmat yang tak dapat kutahan, lorong
vaginaku mulai berkedut keras tanda aku mulai orgasme.
"AAH..." jeritku, bersamaan dengan derasnya cairan cintaku mengalir.
Tapi pak paimun belum juga selesai. Dia masih menggoyanggoyangkan
tubuhnya. Aku yang sudah lemas hanya bias mengikuti irama goyangnnya.

Kemudian denga kasar di dorongnya tubuhku keatas tempat tidur.
Kurasakan sakit dipunggungku tapi dapat diimbangi oleh perasaan nikmat
dikepalaku. Aku hanya bisa mengambil nafas sebentar karena dia yang
masih bertenaga melanjutkan sesi berikutnya. Tubuhku dibalikkan
telungkup dan kedua tangan dan kakiku menopang berat tubuhku,
otomatis kini pantatku pun menungging ke arahnya. Sambil meremas
pantatku dia mendorongkan penisnya itu ke vaginaku. Aku merasakan
rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh penisnya. Urat-urat batangnya
sangat terasa pada dinding kemaluanku.

"Oouuhh.. pak….!" itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit
bergetar saat penisnya amblas ke dalamku.

Dia mulai mengayunkan pinggulnya dengana kasar. Hilang sudah
kelembutan yang kudapatkan darinya ketika waktu pertama kali tadi.
Kini dia dengan ganasnya menaduk-aduk vaginaku. Kurasakn perih disana.
Aku menjerit meminta tolong agar dia menghentikan gerakannya. Tapi dia
tetap saja mengocok dan menghujam liang vaginaku dengan sangat kasar.
Namun lama-kelamaan kurasaan kenikmatan tersendiri. Aku mulai
menikmati kebrutalan dia. Sepertinya ada sensasi sendiri merasakan aku
yang tidak berdaya. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali
beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia
mencengkramkan kedua tangannya pada payudaraku, diremasnya dengan
kasar. Kurasakan sakit disana tapi itu hanya perasaan kecil saja
dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang
diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku. Kemudian
tubuhku ambruk.tanganku tidak kuat untuk menopang tubuhku. Kucoba
untuk bangkit namun gagal. Perasaan lemas dan capai merambah keseluruh
sel-sel tubuhku.

Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku. Kini dia
laksana seorang cowboy yang menungangi kuda. Dan aku kudannya.
Pantatku yang sekal ssekali ditamparnya sehingga membuat bercak merah
disana. Sungguh kenikmatan yang belum pernah kurasakan.dan akhirnya…..
Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera
keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga penis itu menusuk
semakin dalam.
Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas
penisnya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat
diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku
mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.

pak paimin sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut
namaku, penisnya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin
membengkak, dan akhirnya.. dengan geraman panjang dia cabut penisnya
dari vaginaku. Dan langsung aku ambruk , dibalikkannya tubuhku
sehingga kini tubuhku siap menampung cairan kentalnya. spermanya dia
tumpahkan di atas dada dan perutku. Sangat banyak cairannya yang
meleleh di tubuhku. Kemudian dia menyuruhku membersihkan sisa
spermanya. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas
di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat. Aku yang juga
sudah KO hanya bisa berbaring di atas dipan sudah basah oleh keringat
kami, mataku terpejam, buah dadaku naik turun seiring nafasku yang
ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah vaginaku serasa terbuka
lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka
ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.

Setelah tenagaku kembali normal kemudian kuambil baju dan celanaku.
Sambil mengucapkan terimakasih aku pamit kepadanya dan masuk kerumah.
Itulah sekilas pengalamanku dengan pak paimin, satpam rumahku.
Malamnya kami mengulanginya lagi dan lagi. Mumpung rumahku sepi aku
menikmati besama mereguk kenikmatan darinya. Malah selama keluargaku
di Puncak, dia kusuruh tidur dikamarku. Setelah dikamar kami tidak
pernah lagi berpakaian, jadi kalo mau langsung tusuk aja. Semenjak
saat itu setiap kali aku pulang kejakarta dia selalu melayaniku. Malah
dia pernah mengajak temannya satu lagi,satpam tetangga kami, untuk
bergabung dan tentu kenikmatan yang kuterima semakin banyak.
Nantikan ceritaku melakukan pesta sex dengan teman pak paimin.


ketika di Bandung
Hallo para pembaca setia 17Tahun.Blogspot.Com, perkenalkan nama saya Dedi (25 tahun), saya berdomisili di Bandung. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada 17Tahun.com, karena saya diberi kesempatan untuk menulis pengalam saya. Adapun cerita ini bukan bohong ataupun dibuat-buat, atau juga hanya karangang semata, melainkan apa yang saya ceritakan di bawah ini adalah benar-benar terjadi pada kehidupan saya hingga kini.

Setelah SMA, dengan sedikit memaksa aku ingin kuliah di Bandung. Sedikit banyak jiwa pemberontakanku mulai nampak. Aku bersikeras dengan keinginanku, meskipun pada awalnya kedua orangtua berusaha keras menolak.

Di Bandung, awal-awal aku duduk di bangku kuliah, aku merasakan sebagai sosok lelaki yang kerdil. Dalam hati, aku seakan tidak dapat menerima pergaulan dengan mereka yang tidak bergaya hidup pas-pasan. Aku merasakan dapat menempatkan diri di tengah mereka. Entah mengapa, aku cenderung memilih-milih pergaulan.

Tipikal yang menjadi temanku adalah mereka yang bergaya hidup wah. Aku cenderung menjauh dari pergaulan yang gaya hidup pas-pasan. Hal ini dikarenakan perasaan superiority complex yang ada di benakku. Dari pakaian yang dikenakan atau gaya bicara, aku dapat menilai, apakah mereka anak orang kaya sepertiku atau tidak.

Ketika itu usiaku sudah 20 tahun. Belakangan, aku merasakan cocok dengan salah seorang teman yang bernama Tony. Kunilai dia anak orang kaya di kota lain terlihat dengan gemerlap kehidupannya yang suka sekali berfoya-foya. Kulihat lama-kelamaan dia pun seakan menunjukkan sikap yang cocok berteman denganku. Kami pun berteman baik. Namun di balik kebanggaanku bergaul dengannya, disitulah aku langkahkan kaki ke jalan yang salah untuk melangkah. Aku terlibat dalam pergaulan yang salah dan tidak wajar. Lambat laun, aku terbawa arus nakal Tony dan beberapa temannya.

Kehidupanku yang gelamor dan banyak uang, seakan memuluskan jalan untuk berbuat seenaknya. Dari mulai minum-minum di beberapa cafe ataupun bar, menghisap 'gele' ataupun 'ganja' sampai 'putaw'. Tidak hanya itu, pergaulanku yang akrab itu belakangan membawaku pada keinginan 'main' dengan ABG yang kami booking dari pinggir jalan utama kota kembang ini.

Dari semua pengalaman yang tadinya didasari rasa coba-coba dan ingin tahu itu, lama-kelamaan membuatku keranjingan. Kenakalanku tidak itu saja, melalui Tony pula aku diperkenalkan dengan seorang tante-tante yang umurnya kutaksir 35 tahun. Sebut saja namanya Tante Mia. Wanita itu, namanya membekas sampai sekarang, karena dialah wanita yang kuanggap mampu mengubah jalan hidupku. Dia wanita yang pertama kali kupeluk, kucium, dan juga wanita yang pertama kalinya yang tidur bersamaku.

Sebenarnya, Tante Mia adalah isteri seorang pengusaha kaya. Karena sering kali kesepian akibat urusan bisnis suaminya, mengharuskan Tante Mia banyak ditinggal sendirian di rumah. Suaminya kerap kali melancong ke luar kota bahkan ke luar negeri dalam waktu lama.

Awal perkenalan kami terjadi di sebuah cafe di sebuah hotel ternama di kawasan pusat kota di Bandung. Petang itu, aku datang bersama Tony yang lebih dulu akrab dengan Tante Mia. Sebenarnya aku tidak mengira kalau temanku itu sengaja menyodorkanku untuk memuaskan nafsu birahi Tante Mia. Semua itu baru terungkap saat temanku mohon diri dengan alasan ada kepentingan mendadak. Jadilah kami hanya menikmati lembutnya alunan musik live berduaan saja. Awalnya, hanya sekedar ngobrol sana-sini, namun satu ketika Tante Mia mengisyaratkan satu tingkah nakal. Tak pelak sebagai lelaki normal, semua itu mengundang birahiku. Rasanya klop sudah, saat dia menawarkanku untuk menginap di hotel dimana dia telah booking kamar.

Aku yang awalnya merasa ragu, akhirnya tidak berkutik, aku pun bagaikan kerbau dicocok hidungnya. Kuiyakan saja semua permintaan Tante Mia, termasuk keinginannya mengajaku menginap di hotel. Dalam hati aku berpikir, rasanya sangat disayangkan jika semuanya ini disia-siakan. Meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk seukuran wanita indonesia, wajahnya yang bersih dan terawat, menyiratkan bias kecantikannya. Gaya bicaranya yang mirip dengan yang dikatakan ABG kekinian, menambah kecentilan Tante Mia.

Kuungkapkan keraguan jika nantinya Tony datang dan mencari kami dimana dia meninggalkan kami berdua di cafe tersebut, namun semua kekhawatiran itu hanya ditanggapi dengan senyum tenang dan menawan yang merekah di kedua bibir Tante Mia. Dia pun meyakinkanku bahwa Tony tidak akan kembali ke cafe lagi. Dapat ditebak apa yang akan terjadi, jika lelaki normal yang telah dewasa berduaan di dalam kamar bersama wanita cantik dan matang, yang ada tentu kobaran nafsu yang menggelora. Dan benar saja, hubungan badan pun terjadi di antara kami.

Dibelainya rambutku, didekapnya tubuhku yang tak berbalut selembar kain pun. Dadaku dielus dan diciumi dengan penuh nafsu. Saling pagut dan raba pun tidak terelakkan lagi. Kemudian apa yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh suami-istri itu bersama Tante Mia dengan nafsu yang bergelora itu pun terjadi. Tidak hanya sekali, aku melakukannya saat malam itu. Tenaga Tante Mia yang sangat liar memacu gelora birahi. Aku merasa begitu tersanjung, sekaligus banyak belajar dari Tante Mia. Sungguh aku merasakan ada pengalaman baru dan sangat mengesankan yang selama ini belum pernah kualami.

Kurasakan juga bagaimana gelora birahinya yang menggebu. Aku merasa tertantang untuk mengimbanginya. Dan ternyata aku berhasil memuasinya. Ini dikatakannya sendiri oleh Tante Mia. Setelah puas dengan permainan binal Tante Mia di atas ranjang, kembali kegundahan menyeriangi di benakku. Kepada Tante Mia kuwanti-wanti untuk tidak menceritakannya kepada Tony ataupun siapa saja. Namun dia hanya tersenyum tipis menghadapi kegundahanku.

"Kenapa mesti risau..? Tony adalah kekasih gelapku juga. Dalam waktu-waktu tertentu, dengan senang hati dia melayaniku.." kata Tante Mia.
Setelah itu, jadilah aku mulai ikut berpetualang sebagai pemuas nafsu seks, kukejar perasaan nikmat dan gairahku dengan Tante Erlyn, Tante Sofia, Tante Sally, dan beberapa tante lainnya.

Aku pun seakan dimanjakan oleh mereka dengan limpahan uang yang datangnya bagaikan air yang mengalir. Namun aku memiliki langganan yang mengaku sangat terkesan dengan pelayananku. Dia seorang dokter di Jakarta. Perkenalanku terjadi saat di suatu sore tiba-tiba HP-ku berdering. Dengan dalih untuk dipijat tubuhnya, suara wanita itu menginginkan agar aku datang ke sebuah hotel di kawasan jantung kota Bandung. Aku pun meluncur ke hotel yang dimaksud.

Sore itu menjadi awal bagi permainan yang panas dengan sang dokter yang sedang mengikuti seminar di Bandung ini. Dokter yang berwajah cantik itu sangat ganas memperlakukanku, nafsu birahinya yang besar membuatku kewalahan. Tidak hanya di tempat tidur saja dia menginginkan permainan panas denganku. Itu semua dilakukan di sofa ruang tamu kamar hotel, di kamar mandi, ataupun di kaca rias kamar suite yang disewanya itu. Setelah puas, baru ia memberiku banyak uang, Dan rasanya itulah rekor bayaranku yang kuterima sebagai gigolo pemuas nafsu. Dia pun barjanji akan kembali lagi untuk memintaku untuk melayaninya.

Benar saja, beberapa bulan kemudian sang dokter itu kembali lagi ke Bandung, kali ini dia tidak sendiri, melainkan membawa 2 orang temannya yang mengaku Tante Lusi, dan Tante Nina. Setelah aku diminta melayani mereka bertiga, aku pun melakukannya dengan baik hingga mereka puas. Tidak hanya sekaligus kami bertiga bermain, melainkan aku melayaninya satu persatu. Keesokan paginya mereka pun kembali ke Jakarta.

Tetapi alangkah terkejutnya aku, minggu kemudian sang dokter kembali lagi bersama temannya kembali, kali ini hanya seorang, dia bernama Tante Siska. Seperti sebelumnya, dia meminta kupuasi nafsu seksnya, sebelum akhirnya memintaku untuk melakukan hal yang sama terhadap temannya itu.

Kali ini dalam benakku ada berbagai pertanyaan, "Ada apa di balik keanehan ini..?"
Dalam suatu kesempatan, terbukalah tabir rahasia itu. Menurut Tante Siska teman sang dokter itu, dia adalah salah satu anggota arisan yang bandarnya adalah Ibu dokter itu. Mereka beranggapan bahwa aku lah pria yang dipilih, dan yang paling hebat, dan kuat dalam memuasi mereka. Jadi aku dijadikan komoditi arisan seks oleh mereka yang terdiri dari istri pengusaha dan pejabat. Gila, betapa terkejutnya aku mendapat jawaban itu. Namun aku berusaha mengendalikan kegundahanku, aku tidak perduli dengan perasaanku, toh aku mendapat imbalan jasa yang sangat besar dari mereka. Dan aku pun dapat memanfaat uang tersebut untuk kuliahku.
Ani
Ani baru 17 hari tinggal bersama ibunya di Amerika. Untuk gadis yang baru beranjak dewasa ini sangat berat ditinggal pergi oleh papa tercinta. Ibunya bekerja di dubes RI sebagai sekretaris atase. Ani termasuk gadis yang kuper alias kurang pergaulan, ia sebenarnya memiliki wajah yang lumayan dan tubuh yang montok. Ibunya meminta bantuan tante Yores seorang Italia untuk membawa Ani ke pesta dansa yang khusus diselenggarakan bagi muda-mudi.

Singkat kata Ani dan tante Yores malam itu pergi ke pesta dansa di wai hamberg street. Saat itu sedang musim dingin. Setiap tamu sebelum masuk ke pesta dansa diberi kesempatan untuk berias diruang ganti. Tapi aneh, ketika sampai diruang ganti tante yores menyuruh Ani untuk membuka seluruh bajunya dan mengganti dengan pakaian dalam yang menurutnya ganjil. Katanya sih itu merupakan pakaian pesta mirip halloween.

Pakaian yang ditawarkan berupa BH yang hanya berbentuk dua kulit kerang yang diikat dengan sebuah tali dan talinya tidak boleh disimpul! mati, begitu kata tante yores sehingga kalau dipasang kedua kulit kerang tersebut tepat mengenai puncak buah dada indah milik ani. Lebih-lebih lagi celana dalamnya hanya berupa kain yang dijahit pada tali yang kemudian diikatkan pada pinggang dengan simpul yang mudah dibuka. Tante Yores juga berpakaian sama.
Ani keberatan tetapi kata tante Yores,"kalau kamu mau jadi dewasa ikuti saja apa yang tante Yores lakukan, trust me". Seluruh perhiasan ditanggalkan. Akhirnya kedua wanita ini hanya memakai seragam aneh tersebut. Mereka masuk melalui suatu lorong.

Di lorong tersebut berdiri dua lelaki tegap di kiri-kanan pintu. Mereka hanya memakai kain penutup tipis berwarna putih di bawah perut. Kemudian tante yores berkata kepada salah satu dari mereka sambil merangkulnya. Tante yores mencium bibir lelaki itu sambil tangan kanannya meraba-raba sesuatu dibalik kain putih tersebut. Lalu lelaki tersebut melepaskan satu demi satu simpul yang menempel pada tante yores. Pelukan mereka makin bertambah mesra sampai akhirnyajari lentik tangan kiri tante yores meraba belahan pantat lelaki tersebut. Rupanya ini merupakan ticket atau password untuk masuk keruangan tersebut.

Kemudian Tante Yores menyuruh hal yang sama ke Ani, Ani terkejut perlahan-lahan ia dekati lelaki kedua. Lelaki tersebut merangkulnya dan menciumnya tepat pada bibirnya. Tapi ia lebih agresif ia langsung membuka semua simpul dan meremas-remas tetek ANi. Ani gelagapan. Ia bertambah terkejut ketika lelaki tersebut menyingkapkan kain putihnya dan menempelkan sesuatu yang hangat tepat pada memek ani. Ani mencoba meronta tetapi lelaki yang semula bersama tante yores ikut memegangnya. Tante Yores berkata pelan kalau tangan kanan kamu tidak meremas dan tangan kiri tidak mengelus seperti yang tante lakukan maka dia akan terus sampai kamu orgasme.

Tapi bagaimana bisa dekapan lelaki tersebut sangat erat. Memang disela dekapan ia juga merasakan kenikmatan dari remasan tersebut. Ia merasa perasaannya melayang setiap kontol lelaki itu menyentuk memeknya dan perasaan itu terus memburu sampai tak disadari ada cairan yang membasahi bulu-bulu halus di sekitar lubang kebahagian itu. Pelan-pelan tangannya mulai menyentuh kontol lelaki tersebut. Dan lelaki tersebut mulai meregangkan pelukannya dan mencium lembut pangkal dada ani. Setelah jari ANi mengelus belahan pantatnya. Ia baru melepaskan dan tersenyum.

Dengan perasaan berdegub Ani akhirnya masuk juga ke ruangan bersama tante ANi, Rupanya ruangan tersebut merupakan pesta kaum nudity. Mari tante kenalkan sama richard. Ani bertemu dengan seorang pemuda gagah dan tampan entah kenapa hatinya mengijinkan dirinya berdansa dengan lelaki tersebut meskipun mereka tidak mengenakan kain selembar pun.
Richard membelakangi Ani sambil tangannya membelai salah gunung kembar yang indah kepunyaan ani sedangkan tangan yang lain memegang pusar ani. Tak henti-hentinya Richard menciumi leher ani sambil sekali-kali menghembuskan napas ke telinga Ani.

Sekarang Ani merasa terbiasa dan timbul perasaan aneh pada diri gadis yang baru mekar tersebut. Ia merasa jantungnya berdebar dan keringatnya mulai bersatu dengan irama lembut yang didendangkan. Kedua orang tersebut berbaur dengan sekerumun orang yang melakukan hal yang sama sehingga tidak terasa seringnya bersinggungan di ruangan yang ramai itu.
Setelah selesai mereka pun mencari minuman, tradisi mereka minum aneh. Seorang pria harus meminum terlebih dahulu dan yang wanita harus meminum dari mulut pria tersebut. Dan disaat si wanita itu minum sang pria harus memeluk pinggang sang wanita sambil mengelus memek sang wanita dengan kontolnya. Dan jika si wanita berdiam saja dan tidak memasukkan kontol si pria ke lubang kebahagiaan milik si wanita maka walaupun minuman di mulut pria sudah habis ia akan terus membelai sampai si wanita terangsang sampai puncaknya.

Ani tidak tahu ia mengikuti saja ajakan minum dari pasangan dansanya yang tampan itu. Ketika hal tersebut berlangsung ia kembali gelagapan dan coba meronta Tetapi lelaki lain disekitar mereka malah membantu richard dengan memegangi tangan Ani, agar ANi tidak dapat memegang kontol Richard. Mereka pun turutmenciumi ani sambil kontolnya ditempelkan di belahan pantat ani. Akhirnya permainan semakin panas. Tante Yores sendiri sedang melakukan hal yang sama.

Perasaan Ani semakin kacau kemudian richard diberi minum oleh tante YOres. Dan dengan bantuan tante yores richard kembali dapat meminumkan ani melalui mulutnya. Dalam setengah sadar ani merasa sangat senang dan mengalami kenikmatan yang kedua setelah yang pertama di pintu masuk dan sekarang sudah bisa tersenyum. Ketika richard mengajaknya duduk di kamar tidur. Ani hanya tersenyum dan mencium kontol richard dengan bernapsu. Di kamar ini richard melakukan hal yang sama tetapi lebih lembut. Tangannya meraba wajah ani dan menelentangkan ani di tempat tidur. kemudian ia meminumkan kembali ani tetapi sekarang tidak ada minumannya.

Bibir mereka bertemu. Tangan richard membelai lembut leher ani terus turus ke dada dan hinggap di salah satu puncak gunung keindahan. Kembali richard membelai tetek ani ini sambil sekali-kali mencium pentolan dari pucak indah ini, Ani mulai berkeringat tapi ia merasa nyaman ketika tangan richard yang satunya lagi membelai sekujur tubuhnya mulai dari pantat, pusar lalu ke pahanya.

Sampai akhirnya perasaan ani tak tertahankan degub jantungnya seirama dengan suaranya yang tertahan, ah....ah... dan tanpa sadar ia berkata ke richard "oh your are wonderful please ones again richard". Tanpa disadari dari belahan lubang keindahannya terpancar kembali cairan yang membasahi bulu-bulu memeknya.

Melihat itu darah richard langsung berdesir ia memasukkan kontolnya ke memek ani dan mulai melakukan pemompaan. Ani sekarang tidak meronta malah tersenyum dan merasa sangat nikmat walaupun ada sedikit rasa sakit. Sampai suatu saat richard merasa sangat bahagia dan kontolnya mulai berkontraksi mengeluarkan sesuatu ke lubang memek ani. Your are great begitulan kata richard. Kemudian merekapun tidur dengan selimut musim dingin yang tebal.
Ani tertidur lelap membelakangi Richard dan richard terus memeluknya mesra sampai keduanya tertidur. Keesokannya ani terbangun disekilingnya sudah tidak ada siapa-siapa kecuali tante Yores.

Ia terkejut ketika menemui tubuhnya tidak mengenakan selembar benangpun,hampir ia berteriak dengan sadar cepat dikenakan nya handuk. Tante Yores berkata pelan "terima kasih kamu mau datang ini video antara kamu dan dia anggaplah kenang-kenangan dari kami, mari kita pulang".

Aku seorang pelajar SMP kelas II, namaku Rima. Kata orang aku cantik, kulitku kuning, hidungku bangir, sepintas aku mirip Indo. Tinggiku 160cm, ukuran Bhku 34, cukup besar untuk seorang gadis seusiaku. Aku punya pacar, Dino namanya. Dia kakak kelasku, kami sering ketemu di sekolah. Dino seorang siswa yang biasa-biasa saja, dia tidak menonjol di sekolahku. Prestasibelajarnyapun biasa saja. Aku tertarik karena dia baik padaku. Entah kebaikan yang tulus atau memang ada maunya. Dia juga mencoba mendekatiku. Di sekolah, aku tergolong populer. Banyak siswa cowok mencari perhatian padaku. Tapi entah mengapa aku memilih Dino. Singkatnya, aku pacaran dengan Dino. Banyak teman-teman cewekku menyayangkannya, padahal masih ada si Anto yang bapaknya pejabat, Si Danu yang juara kelas, Si Andi yang jago basket, dan lainnya. Entah mengapa aku tidak menaruh perhatian pada mereka-mereka itu.Aku dan Dino telah berjalan kurang lebih 6 bulan. Pacaran kami sembunyi-sembunyi, ya karena kami masih SMP jadi kami masih takut untuk pacaran secara terang-terangan. Orang tuaku sebenarnya melarangku untuk berpacaran, masih kecil katanya. Tetapi apabila cinta telah melekat, apapun jadi nikmat.

Hari Sabtu sepulang sekolah aku janjian sama Dino. Aku mau nemanin dia ke rumah temannya. Aku bilang ke orang tua bahwa hari Sabtu aku pulang telat karena ada les tambahan. Aku berbohong. Di tasku. telah kusiapkan kaos dan celana panjang dari rumah. Sepulang sekolah, aku ke wc dan mengganti seragamku dengan baju yang kubawa dari rumah. Dinopun begitu. Dari sekolah kami yang berada di perbatasan Jakarta Timur dan Selatan, kami naik bis kearah Cipinang, Jakarta Timur, rumah teman Dino. Sesampai disana, aku diperkenalkan dengan teman Dino, Agus namanya. Rumahnya sepi, karena orang tua Agus sedang ke luar kota. Agus juga bersama pacarnya, Anggi. Pembantunyapun pulang kampung, sesekali kakak Agus yang telah menikah, datang ke rumah sekalian menengok Agus dan membawakannya makanan. Kakaknya hari ini sudah datang tadi pagi dan akan datang lagi besok, demikian kataAgus. Jadi hanya kami berempat di rumah itu. Kami ngobrol bersama ngalor ngidul.

Tak lama kemudian, Agus dan Dino pergi ke dapur dan menyiapkan minuman untuk kami. Aku ngobrol dengan Anggi. Dari Anggi, aku tahu bahwa Agus telah berhubungan selama kurang lebih 1 tahun. Keduanya satu sekolah, juga di SMP hanya berlainan dengan sekolahku. 10 menit kemudian, Agus dan Dino kembali dengan membawa 4 gelas sirup dan dua toples makanan kecil. Setelah memberikan minuman dan makanan itu, Agus berdiri dan memutar VCD.Film baru katanya. Aku enggak ngerti, aku pikir film bioskop biasa. Agus menyilakan kami minum. Aku minum sirup yang diberikannya. 10 menit berlalu, kepalaku pusing sekali, bersamaan dengan itu ada rasa aneh menyelimuti tubuhku. Rasa..hangat merinding di tv tampak adegan seorang wanita bule yang sedang dientot oleh 2 laki-laki, satu negro dan satu lagi bule juga. Aku berniat untuk pulang, tetapi entah mengapa dorongan hatiku untuk tetap menyaksikan film itu. Mungkin karena aku baru pertama kali ini nonton blue film. Badanku makin enggak karuan rasanya kepalaku serasa berat dan ah rangsangan di badanku semakin menggila .Aku lihat Agus dan Anggi sudah saling melepaskan baju mereka telanjang bulat di hadapan aku dan Dino.Mereka saling berpelukan, berpagutan tampak Agus menciumi tetek Anggi yang mungil Agus lalu mengisep-isep pentilnya tampaknya keduanya sudah sering melakukannya . Mereka tampak tidak canggung lagi Anggi mengisep-isep peler Agus persis seperti kejadian di film blue itu . Anggi juga sepertinya telah terbiasa Kontol Agus bak permen, diisep, dikulum oleh Anggi Dino merapatkan tubuhnya kepadaku.

"Rim .kamu sayang aku enggak?"tanyanya padaku. "Eh..emang kenapa, Din ?"kataku kaget karena aku masih asyik menyaksikan Agus dan Anggi "Aku pengen kayak gitu ."kata Agus sambil menunjuk pada Agus dan Anggi yang semakin hot. Tampak Agus mulai menindih Anggi, dan memasukkan batang kontolnya ke nonok Anggi. Dengan diikuti teriakan kecil Anggi, batang kontol itu masuk seluruhnya ke nonok Anggi. Gairahku melonjak-lonjak entah kenapa?Seluruh badanku merinding ."Rima?"kata Dino lagi. "Eh enggak ah enggak mau malu ."kataku. "Malu sama siapa?"kata Dino. Tangannya mulai merayapi dadaku. Kutepis pelan tangannya. "Malu sama Agus dan Anggi tuh "kataku. "Ah mereka aja cuek ayo dong Rima aku sudah enggak tahan nih "kata Dino. "Ah..jangan ah "kataku. Gairahku makin tidak keruan mendengar erangan dan rintihan Agus dan Anggi. Tak terasa tangan Dino mulai membuka kancing bajuku. Entah kenapa aku membiarkannya sehingga bajuku terbuka. Aku hanya mengenakan BH dan celana panjang jeans. Adegan di TV makin hot tampak sekarang seorang wanita asia di entot tiga orang bule dua orang memasukkan kontolnya ke memek dan pantatnya sedangkan yang satunya kontolnya lagi diisep oleh si wanita. Keempatnya terlihat sedang merasakan kenikmatan Tangan Dino mulai merayapi dan meremas-remas buah dadaku yang masih kencang dan belum pernah disentuh oleh siapapun. Aku menggelinjang, geli nikmat ah..baru pertama kali aku merasakan ini ."Buka Bhnya, ya sayang "pinta Dino. Aku mengangguk, aku jadi inginmerasakan lebih nikmat lagi Dengan cekatan Dino membuka Bhku.. aku sekarang benar-benar telanjang dada. Dino mengisepi pentilku memencet-memencet buah dadaku yang masih kenyal dan bagus "Tetekmu enak bener, sayang belum pernah ada yang pegang yaa"kata Dino sambil terus meremas tetekku dan mengisepi pentilku "Belum Din ahhh enak Din terus terus..jangan berhenti ."kataku. Kenikmatan itu baru kali ini aku rasakan. Kulirik Agus dan Anggi, mereka sekarang bermain doggy style. Anggi berposisi nungging dan Agus menusuknya dari belakang terdengar erangan dan eluhan mereka Gairahku makin menggila "Buka celanamu ya sayang aku udah pengen nih "pinta Dino. "Jangan Din takut ."kataku. "Takut apa sayang?"kata Dino. "Takut hamil "kataku. "Enggak Din, aku nanti keluarnya di luar memekmu sayang kalo hamilpun aku akan tanggung jawab, percayalah "katanya.

Aku diam saja Dino mulai membuka ristleting celanaku, aku diamkan saja .tak lama kemudian, dia memerosotkan celanaku tampak memekku yang menggumpal dengan jembut yang lumayan tebal. Dino pun memerosotkan celana dalamku Aku benar-benar polos bugil. Dinopun membuka seluruh bajunya, kami berdua telanjang bulat .Tangan Dino tetap meremas-remas tetekku Kulirik Agus dan Anggi, eh mereka bersodomi Anggi sudah biasa bersodomi rupanya kulihat kontol Agus maju mundur di pantat Anggi sedangkan tangan kiri Anggi mengucek-ucek memeknya sendiri yang sudah basah Erangan mereka terdengar makin sering .Dino terus mengerjaiku, tangannya mulai merayapi jembutku. Salah satu jarinya dimasukkan ke nonokku"Ah..sakit, pelan-pelan, Din.."teriakku ketika jari itu memasuki nonokku. Dino agak sedikit mengeluarkan jari itu dan bermain di bibir kemaluanku tak lama kemudian nonokku basah . "Din, isep dong punyaku "pinta Dino sambil menyodorkan kontolnya ke mukaku. "Ah..enggak ah "kataku menolak. "Jijik ya? Punyaku bersih kok ayo dong Anggi saja berani tuh "pinta Dino memelas.

Dengan ragu aku pegang kontol Dino. Baru sekali ini aku memegang punya laki-laki. Ternyata liat dan keras. Kontol Dino sudah berdiri tegang rupanya. "Ayo dong Rima sayang "pinta Dino lagi. Dengan ragu kumasukkan kontol itu ke mulutku, aku diamkan kontol itu sambil kurasa-rasa. Ih, kenyal "Hisap dong sayang seperti kamu makan permen "Dino mengajariku. Pelan-pelankuisap-isap, kujilati bolong kontol itu dengan lidahku lama kelamaan aku merasa senang mengisapnya kuisep keras-keras..kusedot-sedot, kujilati .kumaju mundurkan kontol itu di dalam mulutku terdengar berulang kali erangan Dino. "Ah ah .uuuhhh enak sayang teruskan .." erang Dino. Tangan Dino terus mengucek-ucek nonokku. Sudah tidak sakit lagi sekarang, mungkinsudah basah Aku jadi senang mengisap kontol Dino terus kulomoh kuisap..kujilati kusedot-sedot ih..enak juga, pikirku Tiba-tiba Dino menarik kontolnya dan mengarahkannya ke nonokku Aku pasrah, dimasukkannya kontolnya ternyata meleset, Dino melumuri tangannya dengan ludahnya kemudian tangannya itu diusapkan ke kontolnya dan mencoba lagi memasukkan kontolnya ke liang nonokku, ketika kepalanya masuk ke nonokku, aku berteriak"Aduuh sakit Din pelan-pelan dong " Gairah semakin meninggi .aku ingin merasakan kenikmatan lebih .Dino melesakkan kontolnya ke nonokku pelan kurasakan sesak nonokku ketika kepala kontol itu masuk ke dalamnya Dino lagi menghentakkan kontolnya sehingga amblas semuanya ke dalam nonokku ."Ahhh perih Din "kataku. Dino diam sebentar memberikan waktu kepadaku untuk menenangkan diri. "Tenang Din, sebentar lagi kamu akan terbiasa kok "katanya. Pelan-pelan Dino mengocokkontolnya di nonokku. Masih terasa perih sedikit kocokkan Dino semakin kencang Aneh, perih itu sudah tidak terasa lagi, yang ada hanya rasa nikmat nikmat sekali "Terus Din Terus ahhhh ah .enak ."kataku. Sempat kulirik Agus dan Anggi masih terus bersodomi. Gimana rasanya disodomi ya, pikirku Agus semakin menggencarkan kocokkanyya Aku semakin menggelinjang .ah ternyata ngentot itu nikmat .surga dunia coba dari dulu.. kataku dalam hati ."Din ah.ah .aku aku ."entah apa yang aku ingin ucapkan. Ada sesuatu yang ingin kukeluarkan dari nonokku entah apa "Keluarkan saja sayang kamu mau keluar ."kata Dino. "Ahh iya Din aku mau keluar .."tak lama kemudian terasa cairan hangat dari nonokku .

Dino terus mengocok kontolnya kuat juga pacarku ini, pikirku. "Satu nol, sayang"kata Dino tersenyum. Dino mencopot kontolnya, aku sedikit kecewa "Kenapa dicopot Din.."tanyaku. "Kita coba doggy style, sayang "jawabnya sambil membimbingku berposisi seperti anjing. Dino menusukan kontolnya lagi sekarang badanku terguncang-guncang keras terdengar erangan keras dari Anggi dan Agus, mereka ternyata telah mencapai puncaknya kulihat peluh bercucuran dari kedua tubuh mereka, dan akhirnya mereka terkapar kenikmatan tampak wajah puas dari mereka berdua Aku sudah hampir tiga kali keluar Dino tampak belum apa-apa dia terus mengocok kontolnya di memekku. Sudah hampir ¾ jam aku dientot Dino, tapi tampaknya Dino belum menunjukkan akan selesai. Kuat juga aku lemes sekali lalu Dino mencopot lagi kontolnya dan mengambil baby oil yang tersedia dekat kakinya. Aku ingat baby oil itu dipakai untuk melumuri pantat Anggi ketika mau disodomi .eh apakah aku mau disodomi Dino? "Mau ngapain Din "tanyaku penasaran ."Seperti Anggi dan Agus lakukan, Rima aku ingin menyodomimu sayang "jawabnya. Sebenarnya aku takut, tapi terdorong rasa gairahku yang melonjak-lonjak dan keingin tahuanku rasanya disodomi, maka aku mendiamkannya ketika Dino mulai mengolesi lubang pantatku dengan baby oil. Tak lama kemudian, kontol Dino yang masih keras itu diarahkan ke pantatku meleset dicoba lagi kepala kontol Dino tampak mulai merayapi lubang pantatku "Aduuuh sakit Din "kataku ketika kontol itu mulai masuk pantatku. "Tenang saja.
Pembantuku
Pengalamanku saat aku baru nikah 1 th, saat itu aku sdh berumah tangga sendiri, karena istriku juga bekerja maka kita mengambil seorang pembantu melalui biro jasa. Pembantuku masih muda sekali usianya kira 16 th hanya kulitnya agak putih dan bersih. Dia sampai saat terjadinya kejadian ini sudah bekerja kira2 6 bulan. Saat itu aku ada keperluan mengambil surat2 yang tertinggal dirumah, pembantuku Sutini namanya tapi panggilannya Tin yg membukakan pintu. Karena aku mencari surat yg tertinggal agak lama maka pintu ditutup lagi oleh Tini dan Tini kelihatannya langsung mandi. Akhirnya aku ketemukan suratku itu, tapi karena Tin masih mandi maka aku tunggu sebentar untuk menutup pintu depan. Aku duduk dipinggir tempat tidur, memang jendela kamarku menghadap kebelakang sehingga bisa lihat kebun juga kamar serta kamar mandi pembantu yg letaknya dibelakang kebun menghadap jendela kamarku. Pintu kamar mandinya kemudian terbuka dan Tini keluar dr kamar mandi hanya dgn handuk dililitkan ketubuhnya. Mungkin dianggap rumah sepi tak ada yg tahu jadi dia berani begitu pikirku. Diam2 aku perhatikan terus, Tini memasukkan pakaian kotornya keember cucian dan kemudian balik masuk kekamarnya. Tanpa ditutup juga kamarnya Tini kelihatan mengambil pakaian dr lemarinya. Lalu Tini melepas handuknya dan mengeringkan lagi tubuhnya, waaah terlihat sekali badannya yg langsing dan putih bersih dgn buah dadanya yg hanya kecil dgn puting warna merah jambu serta kemaluannya yg masih belum ditumbuhi rambut sedikitpun. Kemudian Tini memakai BH nya yg tanpa spons dan CD yg mini juga lalu memakai rok bawahan dan kaos. Melihat tubuh yg kecil, bersih dan indah itu nafsuku bergairah. Setelah Tini selesai menyisir rambutnya yg pendek ala Yuni Sara dan membedaki mukanya, aku langsung panggil dia.
"Tin"
"Iya pak". "Aku tolong pijit sebentar leher dan kepalaku sebab pusing" sambil aku duduk dikursi makan. Kemudian Tini memijit leherku , walaupun kecil tubuhnya tapi pijitannya cuku mantap. Habis mijit leher aku minta mijit bagian dahi dan pelipis kiri dan kanan. Tini mulai memijitnya, tapi karena kepalaku goyang2 lalu kepalaku tiba2 ditarinya kebelakang dan disandarkan kedadanya Tini. Aku jadi makin greng walaupun buah dadanya kecil sehingga aku hanya merasakan sandarannya agak empuk. Ulahnya Tini membuat kontolku mulai bangun sedikit2, aku jadi penasaran lalu aku coba tanganku kuturunkan dan me-nyentuh kakinya. Ternyata Tini diam saja tak bereaksi negatif. Lalu kuberanikan utk meraba pahanya, ternyata Tini tetap diam saja dgn memijit dahiku terus.Rabaanku kuteruskan dgn 2 tangan dipaha kiri dan kanan sambil ku-pijit pahanya dan tangan kananku terus merambat keatas sampai kekemaluannya Tini yg tertutup celana dlm. Saat itu Tini masih diam terus, lalu jariku coba kususupkan kedlm CD nya utk meng-utik2 lubang kemaluannya, saat itu Tini mulai mendesis dan menggoyangkan pantatnya :"Sssseeeettt.....aduh pak geli kena itilku". Tetapi karena Tini tidak lari dan tetap memijtku terus maka pekerjaan tangan itu tak berhenti dan terus berjalan sampai akhirnya tangannya Tini lepas tak memijit lagi dan memegang lenganku erat2 dan berbisik:"Pak..pak...Tini nggak tahan minta yaak pak?". "Minta apa Tin?"tanyaku. Tini tak menjawab hanya memberi kode dgn tangannya yg digenggam dgn jempolnya dijepit antara jari tengah dan telunjuk, yg berarti minta disetubuhi. "Katanya kamu masih gadis"kataku. Tini lalu cerita, dia sudah dijodohkan didesa kira2 tahun yl, lalu saat pulang Lebaran kemarin, dia sudah digauli oleh pacarnya itu sampai beberapa kali. "Karena sudah merasakan digauli itu, Tini jadi sering kepingin begitu lagi sekarang " katanya. Dia cerita lagi:" Apalagi Tini sering lihat bapak dan ibu kalau main, jadi nafsu Tini sering bergelora". "Darimana kamu lihat" tanyaku. "Ngintip dari celah kordin kamar bapak" katanya polos. "Apa tiap malam kami ngintip" tanyaku. "Tidak pak, cuma Tini tahu kebiasaan ibu sebab tiap kali ibu memakai pakaian tidur yg tipis yg kelihatan BH dan CD nya itu baru Tini ngintip sebab selalu main". Lanjutnya:"Tini nafsu sekali kalau lihat ibu dgn telanjang lalu mengisap kontolnya bapak dan saat bapak meniduri ibu sampai ibu keluar lendirnyaa. Tini juga lihat ibu yg dengan lahapnya meminum air maninya bapak yg disemprotkan dlm mulutnya ibu".
"Kalau gitu kamu lihat semua cara2 bapak dan ibu kalau main? tanyaku. "Iya pak, kalau didesa pacar Tini kalau main ya cuma biasa spt orang desa itu. Tidak spt ibu kadang duduk diatas, kadang bolak balik ibu mengisap kontolnya bapak dan bapak mengisap kemaluannya ibu".
"Tini kamu datang bulannya kapan? " tanyaku." "Sudah lama pak, ini mungkin seminggu lagi dpt haid: sahutnya.Karena Tini kepingin dan sudah bukan perawan lagi, lagi pula tak masa subur langsung aku berdiri dan kulepasi pakaianku dan Tini kusuruh mengambil kasur lipat digudang dan dipasang disebelah meja makan. Aku langsung tiduran dan Tini aku minta mengisap kontolku. Walaupun Tini sdh lihat tehnik2 bermain cinta, tetapi karena belum dipraktekan jadi rasanya belum enak spt istriku. Tini aku suruh melepas semua pakaiannya sampai bugil. Lalu buah dadanya kucoba kuremas tapi karena masih kecil jadi sulit, aku hanya bisa me-mencet2 putingnya lalu ku-isap2 juga sampai meng-usap2 kemaluannya yg gundul. Tini memegang kontolku dan menciuminya sambil bekata:"Kalau kontol orang desa itu kecil2 pak tidak ada yg gede spt punya bapak ini. Kalau gede kan bisa marem rasanya". Saat kupegang dan kumasukkan jariku kelubang kemaluannya selain memang masih sempit lubangnya juga lendirnya sdh banyak sekali tetapi encer tak sekental punya istriku. Ada lendir cewek yg banyak ini, aku makin bernafsu, Aku minta Tini main 69 atau bolak balik menurut istilahnya dia. Tini yg diatas sambil ngisap kontolku dan aku dibawah mempermaikan kemaluannya dgn mulut dan lidahku. Itilnya kujilati sambil lubangnya kemaluan kumasi 2 jari dan kugelitik bagian dlmnya. " Aduuuuuuh ........pak.Kemaluanku geli sekali rasanya...aduuuuh Tini mau keluar lendirnya pak". Mendengar itu langsung lubang kemaluannya kucucup dan terus ku-sedot2 dgn kuat sampai terasa suuuuuur....suuuuuur....suuuuuur dgn disertai rintihan Tini:"Pak...pak...air santannya Tini sudah keluar semua". Kemudian kulihat lubangnya ternyata masi cukup banyak air santannya dilubangnya dan setelah kusedot lagi kubersihkan santan2 yg lepas menempel dibibir kemaluannya dan terasa penuh mulutku dgn maninya. Saat kutelan rasanya sama seperti punya istriku yaitu asem2 asin, hanya punya Tini lebih banyak tapi encer. Mungkin makin berumur lendirnya makin kental. Karena aku belum keluar maka segera kutancapkan kontolku ke lubangnya. Begitu kumasukkan total seluruh batang kontolku, Tini merintih:"Seeeeessst....aduh enaknya, pak kontolnya bapak rasanya enak sekali beda jauh dgn punya pacar saya". Rintihan itu makin membuat aku garang dan hunjamkan terus dgn agak keras dan cepat kontolku kelubang kemaluannya sampai Tini betul2 tak tahan nikmatnya dgn menggelinjang2 terus". Pikirku pembantu yg kurang ajar berani ngintip ini mesti diajar betul. Kira2 10 menit berlalu baru aku mencapai klimaks dan kemaluannya kusemprot dgn maniku dan Tini berbisik:"Aduuuh hangatnya kontolnya bapak dan air maninya". Selesai main Tini kuminta mencuci kontolku dikamar mandinya. Sambil mencuci Tini bilang:"Waaaah, bapak mainnya hebat sih, pantasan ibu sering minta terus. Tini juga nanti minta lagi ya" Aku menyanggupi permintaanya asal jangan saat masa subur dan kira jam 10 pagi. Aku menyanggupi karena aku pikir tubuhnya bersih dan tak ada penyakitnya serta baru karena baru seorang yg pakai yaitu pacarnya walaupun buah dadanya kecil, tapi puting kalau diisap Tini taoch terangsang banget. Jadi kalau nanti kepingin ditiduri, Tini pura2 batuk2 kecil saat mengepel lantai ruang tamu dimana saya selalu duduk membaca koran. Lalu dia memberi koda manggut2. Kejadian ini berulang terus kira2 tiap 2 minggu sekali selama kl 4 bulan sampai akhirnya dia pamit keluar karena disuruh nikah.
Pembantuku Bekas Pelacur
Gue tinggal sama nyokap, bokap, adek, dan juga kakak gue. Dirumah gue juga ada seorang pembantu yang baru diambil nyokap untuk bantu-bantu dirumah, pembantu ini nginep dan tidur dikamar belakang. Mukanya lumayan cakep, dan juga bentuk body-nya wooiii sexsi sekali, rasanya tidak layak menjadi seorang pembantu, setidaknya sekertaris di kantorlah.

Biasanya sebelum tidur gue baca buku porno sambil nyoli dan ngebayangin yang nggak-nggak, kadang-kadang gue banyangin main sama Desy Ratnasari, Krisdayanti, dll. Kalau mut gue kambuh gue langsung setel tuh VCD di komputer gue yang gue pinjem dari tempat sewa, disitu gue mulai nyoli dan nyoli sampe kadang-kadang gue kagak bisa tidur lagi, jadi bawaannya mau nyoli melulu, gue bisa sampe 10 kali dalam sehari, kalau memang nafsu gue memuncak.

Waktu itu nafsu itu memuncak, gue pelan-pelan bangun jam 12 malem, dan buka komputer langsung stel VCD porno, tapi bertepatan dengan itu si pembantu gue (namanya: Dewi), itu keluar mau minum, lalu si Dewi melihat ada lampu bohlam menyala di atas, dan si Dewi beranjak ke atas, selangkah demi selangkah tanpa gue sadari. Dan melihat gue lagi megang kontol gue dan lagi serunya lihat VCD, lalu Dewi mendekati gue dan ngomong:

"blom tidur, mas Philip?", sambil medekat ke arah gue
"nggak bisa tidur" jawab gue sambil gue melihat toket besar itu.
"itu film porno ya, jorok ihk", ujarnya sambil duduk disamping gue.
"bener, tapi suka khan?", sambut gue sambil melihat ke arah mukanya.
"ih nggak lha yau?", jawabnya dengan tanpa basa basi.

Lalu gue sama dia terus bercanda-canda sambil nonton film porno, gue mulai pegang tangannya, dan juga langsung gue rembet ke piggul langsung ke toket, tapi herannya ini orang malah senang, cuma berkata "ihk genit amat sih", sambil tersenyum. Kontol gue udah tegang dan toket yang besar itu juga udah makin memberas serta memek yang basah kayak air terjun. Lalu gue mendekati dia memegang mukanya dan perlahan-lahan gue cium pipinya lalu merembet ke bibirnya yang seksi itu, setelah gue memasukin mulut gue ke bibir dia, dengan kerasnya dia menarik pala gue, masih ke dalam supaya ciumnya lebih enak dan lebih dalam. Dalam hati gue ini orang bener-bener udah professional padahal seorang pembantu?, lalu sambil ciuman gue pegang buah dada yang segede pala gue sendiri, setelah itu mulai gue mau buka baju, tapi langsung tangan nya menahan gue, dan bilang "jangan disini nanti ketahuan sama ibu".

Lalu sambil ciuman gue beranjax ke kamar gue, dan perlahan-lahan sambil gue cipokan sama dia gue juga buat cupangan dilehernya dan perlahan-lahan langsung dibuka bajunya dan roknya, sekarang tinggal BH dan celana dalamnya, diam-diam langsung gue cium dan kecup BHnya dan gue lihat wah betapa indah nya pentilnya yang hitam itu langsung gue isap dan dia menrintih "ahh... seiisss... enak .... akh ..., sambil memegang kontol, yang masih pake celana yang udah tegang. Langsung gue buka celana, baju dan semunaya begitu juga dengan dia, dan gue lihat oh betapa indahnya tubuh dari orang ini, bener-bener ini hari yang menyenangkan bagi gue. Langsung gue ajak dia tiduran sambil mencium toketnya yang sekal itu dan gue perlahan-lahan memasukan jari ke memeknya dan dia menjerit kesakitan tapi enak, dan dia berkata "jangan pake tangan pake kontol lebih enak", lalu tanpa basa basi gue mulai masukin tuh kontol ke memeknya yang udah basah itu, tapi sayangnya gue suka banget sama nyoli jadi terpaksa permainan itu sebentar dan tidak lama, tapi dia juga menikmatinya.

Selesai dari itu dia tiduran di bahu gue dan berkata, "suka main dimana?", lalu gue menjawab "baru pertama sama situ", dia kagak percaya, dan gue bilang "iya bener selama ini mau main tapi takut HIV, tapi sekarang mah nggak takut lagi". Lalu dia berkata "saya sebenarnya kesini ingin bekerja, karena kerja saya yang dulu kotor", dengan polosnya dia berbicara. Gue tanya " kotor bagaimana?", "iya saya pernah menjadi seorang pelacur di diskotik TOPONE", lalu gue belai rambutnya sambil mengatakan dalam hati, pantes kayaknya kok professional sekali ini orang.

Lalu gue setiap hari trus main dan main terus, sampe gue konsultasi sama temen-temen gue yang doyan sex bagaimana supaya gue tahan lama, dan mereka memberikan solusinya, sampai sekarang dia sangat menikmati kepedihan kontol gue yang begitu dashyat. Sampai saat ini gue melakukannya setiap malam, cuma pada waktu dia haid gue kagak melakukannya. Pokoknya gue makin betah dirumah dan ngewe trus sama ini orang, udah GRATIS enak lagi :)

Cerita ini merupakan fakta dan bukan rekayasa dari saya sebagai penulis, terus terang saya tidak hebat dalam menulis cerita ini tapi saya ingin mempersembahkan hal ini kepada cerita seru meskipun saya tidak hebat dalam membuat artikel ini, maaf. Oh ya, bagi cewek yang udah kegatelan mau main sex, bisa ajak-ajak gue soalnya gue juga lagi gatel, coba kirim mail ke: admin@hiperseks.com gue tunggu kalau bisa secepatnya udah bosen sama ini pembantu, mau cari yang baru.Tamat
Bi Asih Pembantuku Yang Seksi
Gue Mau cerita pengalaman pertama kali gua melakukan hubungan sex. waktu itu itu umur gua masih relatif muda kira-kira 14 tahun masih duduk di SMP kelas 3 Sejak SD gue sudah sering baca buku buku porno yang stensilan pinjem dari temen-temen gue. Gue juga sering ngeliat foto-foto porno orang lagi begituan... kalo udah baca buku porno wah burung gue keras banget dan tegang sekali rasanya ada seer serrr gitu dikepala burung gua yang kayak helm bentuknya.
Gue adalah anak ketiga kakak gue dua-dua adalah cewek, waktu itu kakak gue dua duanya udah pada menikah karena umur mereka ama gue cukup jauh sekitar beda 10 tahun dari kakak gua yang paling bungsu. Dan mereka sekarang tinggal ama suaminya masing-masing. Jadi gua di rumah tinggal ama ibu dan bokap gua bertiga....
Gua termasuk anak yang bongsor.. karena untuk ukuran kelas 3 SMP badan gua udah lebih tinggi dari babeh gue, trus juga tulang-tulang gua termasuk kekar dan besar......
Tapi yang paling gua ngak tahan adalah itu tuch penis gua kalo lagi tegang .. Gedeee banget.... pernah gua ukur ama temen gue waktu itu kita sama sama telanjang di kamar mandi kolam renang.. dan waktu di banding ama temen-temen gue, gue punya paling panjang dan gede... dan pernah gua ukur waktu itu kira-kira panjangnya 17 Cm...
Yang paling gua ngak tahan adalah kalo lagi di kelas gua suka perhatiin ibu Ina guru Bahasa Inggris... kadang-kadang tanpa sadar kalo gua liat itu ibu guru lagi duduk dan pahanya yang putih agak sedikit tersingkap ... burungku langsung mengeras... dan menonjol kedepan... kalo lagi gitu gue berdoa moga-moga jangan di suruh kedepan kelas...
Gue punya temen deket sekelas namanya Joko, kita punya hobi dan hayalan yang sama... sering cerita tentang buku porno yang kita baca, dan kita juga sama-sama tergila-gila ama ibu guru Ina yang berasal dari tanah minang. Kalo ibu guru ina lagi nulis di papan kita berdua suka cekikikan memperhatikan betis ibu ina yang indah, putih dan berisi dan pinggulnya juga cukup besar dan padat.
Gilanya kita berdua suka menghayal menjadi kekasih ibu ina dan melakukan hubungan sex seperti yang di buku-buku porno dengan ibu ina... wah kalo lagi menghayal berdua... burung kita ampe keras banget..
Temen gue si joko pernah nyaranin gue ... eh Bram lu kalo mau tau rasanya hubungan sex ama ibu ina gampang.. caranya lu di kamar mandi bayangin Ibu ina.. terus lu kocok burung lu pake sabun.
karena pengen tau waktu itu gue coba...wah memang enak mula-mula... burung gue makin lama makin gede dan keras seperti batu... tapi udah gue kocok-kocok ampe sejam lebih kok ngak keluar-keluar .. akhirnya gua bosan sendiri dan cape sendiri.... trus besoknya gue cerita ama joko .. dia bilang wah ngak normal loe.... sejak itu beberapa kali gue coba pake sabun tapi ngak pernah berhasil.... akhir gua jadi males sendiri... ngocok pake sabun.
Nah ini awal mula cerita gue... waktu itu pembantu rumah tangga gua keluar, trus ibu dapet lagi pembantu baru berasal dari Tasikmalaya, orang sunda, umur nya kira-kira 27 tahun. Orangnya memiliki kulit kuning langsat wajahnya cukup cantik apalagi kalau lagi tersenyum giginya putih terawat baik.
Waktu baru mulai kerja aku nguping wawancaranya ama ibu gue, bahwa dia adalah janda tapi belom punya anak dia cerai ama suaminya 3 tahun yang lalu, suaminya adalah orang kaya di kampung itu tapi umurnya waktu kawin ama Bi Asih udah berusia 60 tahun dan dia menikah kira-kira 4 tahun, sekarang cerai karena suaminya balik lagi ama bininya yang tua.
Aku memanggil dia biBi Asih... dia pinter masak masakan kesukaanku seperti sop buntut wah enak banget masakannya. Orangnya sopan dan ramah sekali.. hampir ngak pernah marah kalo di goda ... ngak seperti mbok laskmi pembokat gua yang sebelumnya... udah tua tapi cerewetnya minta ampun.
BiBi Asih sudah 3 bulan kerja di rumahku.. nampaknya dia cukup betah karena kerjaannya juga ngak terlalu banyak cuma ngelayani gue, nyokap dan bokap gue.
Nah waktu itu adalah hari Jum'at... inget banget gua....... Nyokap gue dapet telepon dari jakarta bahwa kakak gue yang nomor dua sudah masuk rumah sakit bersalin mau beranak anak yang pertama.
Mereka pergi dengan Sopir kantor babe gue ke jakarta jum'at sore...
Aku ngak ikut soalnya sabtu besok aku ada pertandingan bola basket di sekolahan.
Jum'at malem aku sendirian di kamar ku baca buku porno sendirian di kamar... wah cerita bagus sekali sambil membaca aku memegang burungku wah keras sekali.........
Kira-kira waktu itu sudah jam 9.00 malam... badanku terasa gerah.. habis baca buku begituan... aku keluar kamar untuk mendinginkan otakku ... kebetulan kamarku dan kamar Bi Asih tidak terlalu jauh ... dan aku melihat pintunya agak sedikit terbuka.....
Tiba-tiba timbul pikiran kotorku... ah pingin tau gimana Bi Asih tidurnya... trus aku berjingkat-jingkat mendatangi kamar tidur Bi Asih.. pelan pelan aku dorong pintunya.... dan mengintip kedalam ternyata Bi Asih sedang tertidur dengan pulasnya... lalu aku masuk kedalam kamarnya...
Kulihat Bi Asih tidur terlentang... kakinya yang sebelah kiri agak di tekuk lututnya keatas... dia tidur menggunakan jarik kebaya tapi tidak terlalu ketat sehingga betisnya agak tersingkap sedikit... aku perhatikan betisnya... kuning bersih dan lembut sekali.... kemudian aku coba mengintip kedalam kebayanya...wah agak gelap hanya terlihat samar-samar celana dalam berwarna putih.
Aku menarik napas dan menelan ludah... aku perhatikan wajah Bi Asih kalo-kalo dia bangun tapi dia masih tidur dengan lelap... lalu aku memberanikan diri memegang ujung kain kebayanya yang dekat betisnya tersebut... sambil menahan napas aku angkat pelan-pelan kain kebaya tersebut keatas... terus kusibak kesamping.... dan akhirnya terbukalah kain kebaya yang sebelah kiri dan tersingkap paha Bi Asih yang padat dan putih kekuning-kuningan... Aku kagum sekali melihat pahanya Bi Asih padat, putih dan berisi ngak ada bekas cacatnya sedikitpun juga... lalu aku pandang lagi wajah Bi Asih ..ah dia masih lelap... aku memberanikan diri lagi membuka kain kebaya yang sebelah kanannya... pelan pelan aku tarik kesamping kanan... dan wah akhirnya terbuka lagi... kini di hadapan ku tampak kedua paha Bi Asih yang padat dan kuning langsat itu...... aku semakin berani dan pelan-pelan kain kebaya yang di ikat di perutnya Bi Asih aku buka perlahan-lahan... keringat dingin aku rasa menahan ketegangan ini... dan burung ku semakin keras sekali .... akhirnya aku berhasil membuka ikatan itu.. lalu kebuka ke kiri dan kekanan... kini terlihat Bi Asih tidur terlentang dengan hanya di tutupi celana dalam saja.....
Aku benar-benar bernafsu sekali saat itu....
Kulihat perut Bi Asih turun naik napasnya teratur.. kulihat pusarnya bagus sekali... perutnya kecil kencang ngak ada lemaknya sedikitpin juga.. agak sedikit berotot kali.... pinggulnya agak melebar terutama yang di bagian pantatnya agak sedikit besar.
Bi Asih memakai celana nylon warna putih dan celana itu kayaknya agak sempit.. mungkin ketarik kebelakang oleh pantatnya yang agak gede.. jadi pas di bagian kemaluannya itu ngepas banget sehingga terbayang warna bulu bulu jembutnya yang halus... ngak terlalu banyak... dan bentuk kemaluan Bi Asih lucu juga agak sedikit menggunung kayak bukit kecil.......
Pelan pelan aku sentuh vagina bagian atasnya... tersasa empuk dan hangat... terus pelan-pelan kucium tapi tidak sampai menempel kira-kira 1 milimeter di depan vagina tersebut.. wah ngak bau apa-apa.. cuma agak terasa hangat aja hawanya.... Kupandangi lagi vagina yang menggunung indah itu... wah pingin rasanya aku remas tapi aku takut dia bangun.... Kulihat dia masih tidur nyenyak sekali.. dan kulihat dadanya membusung naik turun... ahhh aku pingin tau gimana sich bentuk tetek dari Bi Asih......Pelan pelan kubuka baju Bi Asih.. ngak terlalu sulit karena dia hanya pakai peniti saja tiga biji... dan satu satu kubuka peniti tersebut... lalu angkat geser kesamping bajunya... wah terlihat dada sebelah kiri dan kubuka baju yang sebelah lagi... Kini Bi Asih betul betul hampir telanjang tidur telentang di hadapanku...
Ahh baru pertama kali dalam hidupku menyaksikan hal seperti ini... BH Bi Asih nampak sempit sekali menutupi buah dadanya yang padat dan berisi.... Aku perhatikan buah dadanya... naik turun.. dan kulihat ternyata BH tersebut punya kancing cantel dua buah di depannya pas di tengah-tengah di depan belahan dada tersebut... dengan agak gemetar aku pelan buka buka cantelan itu..... satu lepas... dan waktu mau buka yang satu lagi Bi Asih bergerak.. wah aku kaget sekali.. tapi dia ngak bangun kali lagi mimpi... lalu aku memberanikan lagi membuka cantelan yang satu lagi.... dan akhirnya terbuka.....
Aduh susunya indah sekali bentuknya besar hampir satu setengah kali bola tenis kali... terus warna pentilnya agak merah muda... bentuk susunya betul-betul bulat.. menonjol kedepan..
Aku pandangi terus kedua buah dada tersebut ...indah sekali... apalagi Bi Asih pakai kalung tipis warna kunig emas dan liontinnya warna ungu itu pas deket buah dadanya... serasi sekali....
Aku semakin bernafsu... jantungku bedegup kencang sekali.. pingin rasanya meremas buah dada tersebut tapi takut Bi Asih bangun dan apa yang harus kulakukna bila dia bangun... aku mulai takut saat itu.... akan tetapi hawa nafsuku sudah memmuncak saat itu. hingga lupa ama rasa malu tersebut... kini Bi Asih udah setengah telanjang.. tinggal celana dalamnya saja... aku pingin tau juga kayak apa sih yang namanya memek itu... terus terang aku seumur itu belum pernah melihat memek asli kecuali di foto...
Aku cari akal gimana ya... tiba-tiba aku lihat di meja Bi Asih ada gunting kecil... wah aku ada akal.. nih
ku ambil gunting tesebut... lalu pelan-pelan aku masukan jari telunjukku ke samping celana Bi Asih di dekat selangkangannya... aku tarik pelan-pelan agar dia ngak bangun... terlihat selangkangannya berwarna putih bersih.. setelah agak tinggi aku tarik celana nylon tersebut aku masukan gunting dan pelan pelan aku gunting celana dalam tersebut.. ada kali 10 menit aku lakukan itu akhirnya... segitiga yang pas didepan memek Bi Asih putus juga ku gunitng... dan aku singkap calana dalam tersebut ke atas.....
Kini aku betul-betul melihat kemaluannya Bi Asih tanpa sehelai benang pun... memeknya bentuknya rapat sekali kayaknya ngak ada lobangnya... bulunya halus tipis... samping-samping bibir kemaluan tersebut putih bersih agak sedikit gelembung tapi belahannya betul-betul rapat...
Wah aku betul-betul udah nafsu buta saaat itu... Aku bingung gimana nich... pingin pegang memek tersebut tapi takut dia bangun... Ah aku nekat karena udah ngak tahan... lalu aku buka celana pendek ku dan celana dalamku..... wah penisku udah gede banget kayak batu panjang dan keras.. lalu aku gosok-gosok burungku pakai tanganku sendiri sambil ngeliatin tetek Bi Asih dan dan memeknya....wah tersasa nikmat sekali.. rasanya burungku sampai bunyi greng.. greng gitu.. dan nikmat sekali... rasanya seperti mau pipis.. tapi ngak keluar-keluar. aku gosok lagi yang keras sambil ngebayangin kalo penisku itu sudah berada di dalam memeknya Bi Asih... tapi ngak bisa juga keluar... ada kali 15 menit aku gosok-gosok burungku....
akhirnya aku udah ngak tahan dan nekat.. pelan-pelan aku naik tempat tidur Bi Asih......
Aku ingat seminggu yang lalu Bi Asih pernah dibangunnin oleh ibu gua jam sepuluh malam waktu itu ibu gua mau minta tolong di kerokin.. nah Bi Asih ini waktu di ketok-ketok pintuhnya ampe setengah jam baru bangun.. dan dia minta maaf katanya bahwa emang dia kalo udah tidur susah di bangunin nya...
Inget itu aku jadi agak berani mudah-mudah malam ini juga dia susah bangun... lalu dengan sedikit agak nekat aku angkat dan geser paha Bi Asih yang sebelah kanan terus melebar.. wah untung dia ngak bangun juga.. bener-bener nich Bi Asih dalam hatiku punya penyakit tidur yang gawat.. aku geser terus sampai maksimal sehingga kini dia benar benar mengkangkang posisinya... aku berlutut tepat di tengah-tengah selangkangannya.......pelan-pelan aku tempelkan burungku di memeknya Bi Asih... tapi lubangnya kok ngak ada... aku agak bingung .... pelan-pelan belahan daging itu ku buka pakai jari ku.. terlihat daging warna merah jambu lembut dan agak sedikit basah.. tapi ngak keliatan lubang.. hanya daging berwarna merah muda dan ada yang agak sedikit menonjol kayak kacang merah bentuknya.. aku berfikir mungkin ini yang dinamakan itil oleh kawan-kawanku.... aku buka terus sampai agak kebawah dan mentok ngak ada belahan lagi... ternyata emang ngak ada lubangnya... aku bingung..... wah gimana nich........ tapi aku udah nafsu banget.. lalu pelan-pelan kutempelkan helm burungku ke vagina Bi Asih ternyata...ukuran helmku itu kayaknya kegedean sekali sehingga boro-boro bisa masuk....baru di bagian luarnya saja rasanya belahan memek Bi Asih udah ngak muat....
tapi ku pikir udah kepalang basah aku tempel aja helm burung ku ke memek Bi Asih.. wah ngak bisa masuk hanya nempel doang... tapi aku bisa merasakan kelembutan daging bagian dalam memeknya Bi Asih... enak sekali hangat..... aku gosok pelan-pelan....... dan memek Bi Asih agak buka dikit tapi tetap aja kepala burungku ngak bisa masuk... makin lama makin enak... aku benar-benar udah lupa daratan ... dan gosokanku semakin kencang dan agak sedikit menekan kedalam... aku ngak sadar kalo Bi Asih bisa bangun... akhir bener juga ketika aku agak tekan sedikit Bi Asih bangun dan dia sepertinya masih belum sadar betul.. tapi beberapa detik kemudian dia baru aja sadar akan keadaan ini.... dia menjerit den. Bram ngapain... aduh den ngak boleh den.. pamali dia bilang.. terus dia dorong tubuh ke samping dan cepat-cepat dia menutup buah dadanya dan kemaluannya.... den jangan.... den.. keluar.... den...
Aku seperti di sambar petir saat itu.. muka merah dan maluuuu banget ngak ketulungan... aku ambil celanaku dan lari terbirit-birit keluar..... langsung masuk kamar......rasanya mau kiamat saat itu... .. bingung banget... gimana ntar kalo Bi Asih ngadu ke orang tua gua.... wah mati gue..... .....
Besok paginya aku bangun pagi-pagi... terus mandi... ngak pake sarapan aku pergi kesekolah......
di sekolah aku lebih banyak diam dan melamun... bahkan ada temen gua yang godaain gue dengan mengolok gue... gue tarik kerah bajunya dan hampir gue tabok untung keburu di pisahin ama temen gue...dan waktu pertandingan basket... gue.. di keluarin soalnya gue tonjok salah satu pemain yang dorong gue.... wah bener bener kacau.. pikiran gue saat..itu.
Biasanya gue pulang sekolah jam 12.30... tapi aku ngak langsung pulang tapi main dulu kerumah temen gue ampe jam 5 sore baru gua pulang......
Ampe di rumah... Bi Asih udah menunggu di depan rumah... dia menyambutku... kok lama sekali pulangnya den .. Bi Asih sampe khawatir..... tadi ibu telepon dari Jakarta bilang bahwa mungkin pulang ke Bandungnya hari senin sore... soalnya mba Rini (kakakku) masih belum melahirkan, diperkirakan mungkin hari minggu besok baru lahir.
Aku hanya tersenyum kecut.. dalam hatiku wah Bi Asih ngak marah sama aku... baik sekali dia... ...
aku langsung masuk kamar... dan mandi sore...... terus tiduran di kamar.....
Jam 7.00 malam Bi Asih ketuk kamarku den.. den... makan malamnya udah siap....
Aku keluar dan santap malam... lalu setelah selesai aku nonton TV.. Bi Asih beres-beres.. meja makan...
selama dia memberekan meja.. aku mencuri-curi pandang ke Bi Asih... ah dia ternyata cukup cantik juga...badannya sedang tidak tinggi dan bisa di bilang langsing.. hanya ukuran dada dan pinggul bisa dibilang cukup gede....... bener bener seperti gitar......setelah selesai aku panggil dia... bi. bi.... tolong dong aku di bikinin roti bakar.. aku masih laper nich...baik den.... terus dia bikiin aku roti bakar dua tangkap....dan menghidangkannya di depan aku....dan langsung mau pergi..... tapi aku segera panggil lagi Bi Asih jangan pergi dulu dong.......dia Jawab ada apa den.... ehmmmm itu bi emmm Bi Asih tadi cerita ngak ama ibu soal semalam..... dia senyum wah mana berani bibi cerita.... kan kasian den Bram.... lagian kali Bi Asih juga bisa kena marah....wah lega hatiku... Bi Asih makasih ya.. dan maaf ya yang tadi malem itu...maaf celana biBi Asih rusak.. soalnya... emmm soalnya.... aku ngak tau harus ngomong apa.....Tapi kelihatannya Bi Asih ini cukup bijaksana... dia langsung menjawab iya dech den Bi Asih ngerti kok itu namanya aden lagi puber... ya khan...aku tertawa.. ah Bi Asih ini sok tau ah.... dia juga tersenyum terus bilang den hati-hati kalo lagi puber...jangan sampai terjerumus...... Kembali aku tertawa... terjerumus ke mana... kalo ke tempat yang asyik sich aku ngak nolak... Bi Asih melotot eh jangan den... ngak baik.... Terus Bi Asih langsung menasihati aku... dia bilang maaf ya den Bram menurut bibi .. den Bram ini orangnya cukup ganteng... pasti banyak temen-temen cewek den Bram yang naksir... Bi Asih juga kalo masih sebaya den mungkin naksir juga ama den Bram hi hi hi nah den Bram harus hati-hati.. jangan sampai terjebak... trus di suruh kawin... hayo mau ngasih makan apa...
Tiba-tiba ada semacam perasaan aneh dalam diriku aku ngak tau apa itu.... trus aku jadi agak sedikit berani dan kurang ajar ama Bi Asih..... Aku pandang dia.... terus aku bertanya... bi ... Bi Asih khan udah pernah kawin khan... gimana sich bi rasanya orang begituan.......Bi Asih nampak terbelalak matanya dan mukanya agak besemu merah... trus aku sambung lagi .. jangan marah ya bi.. soalnya aku bener-bener pingin tau katanya temen-temenku rasanya kayak di sorga betul ngak... Bi Asih diam sebentar... ah ngak den selama Bi Asih kawin 4 tahun.. bibi ngak ngerasa apa-apa... maksudnya gimana bi....masa bibi ngak begituan ama suami Bi Asih... eh maksud bibi.. iya begituan tapi.. ngak sampai 1 menit udah selesai.....
Aku semangkin penasaran.. ah masa bi... terus itunya suami bibi ampe masuk kedalam ngak.....
EEhhh ngaco kamu... dia tertawa tersipu-sipu... ehmm ngak kali ya... soalnya baru didepan pintu udah loyo.... hi hi.....eh udah ah jangan ngomong begituan lagi.. pamali dia bilang... lagian Bi Asih khan udah cerai 3 tahun jadi udah lupa rasanya.... sambil tersenyum dia mau beranjak bangun dan pergi....
ehh bi bi..bi tunggu dong... temenin aku dulu dong.... trus dia bilang eh udah besar kok masih di temenin bibi udah cape nich... tapi setelah ku bujuk-bujuk akhirnya dia mau menami ku nonton TV dan ngobrol ngalor ngidul ngak terasa udah jam 9.00 malam.. diluar mulai hujan deras sekali... dingin juga rasanya... Bi Asih pandai juga bercerita... cerita masa remaja dia... rupanya dia sempat juga mengeyam pendidikan sampai kelas 2 SMP.......
Aku duduk di sofa panjang.. Bi Asih duduk di karpet bawah... terus aku panggil dia bi sini dech...
tolong liatin dong ini ku di bagian pinggang belakang kok agak nyeri... Bi Asih datang dan pindah ke sofaku.. mana den ini nich aku tarik tangannya kepingang belakang ku... .. trus dia dia bilang ngak ada apa-apa kok... ....Saat itu tiba-tiba timbul lagi pikiran mesumku mengingat kejadian malam kemarin dan Bi Asih ngak marah... kalo sekarang aku agak nakal dikit pasti Bi Asih ngak bakalan marah....
Lalu aku bilang ini Bi Asih tapi Bi Asih matanya meram ya... soal aku malu keliatan bodongku... dia tersenyum dan menganguk... lalu memeramkan matanya.... nah ini aku pikir kesempatanku.....
aku pegang kecang-kencang pergelangan tangan Bi Asih... lalu aku buka resleting celanaku dan aku tarik kebawah celana dalamku.... burungku masih setengah besar belum gede banget........
Lalu aku tarik tangan Bi Asih dan letakkan di ata burungku.... dia bilang ehhh apa ini... trus aku bilang eh awas jangan buka matanya ya... dia nganguk dan tanya lagi apa sich ini kok anget...
Begitu tersentuh tangan Bi Asih menaraku mulai berdiri dengan gagah sekali dan mulai membesar cepat sekali... rupanya Bi Asih curiga .. dan membuka mata... eh pamali dia bilang.... tapi aku tahan terus tangannya dan aku pandangi mata Bi Asih.. dia tersnyum malu dan tersipu.. dengan lirih dia bilang jangan den ngak sopan....tapi aku bilang tolong dong bi... pingin banget dech.....
Kayaknya Bi Asih kasian sama aku... dia mengangguk... dan bilang.. cepetan ya den sebentar aja jangan lama-lama dan ngak boleh macam-macam...ntar kalo orang tua aden tau Bi Asih kena marah.. dan dia bilang eeeh ih kok gede banget sich den...iya jawabku singkat...lalu tangan Bi Asih menggenggam burungku dengan lembut dia gosok-gosok dari ujung kepala sampai kepangkal burungku... kira-kira 10 menit... dengan agak serak dia bilang udah belom den.....
Saat itu aku merasa melayang... dan ntah gimana tiba-tiba keberanianku timbul... aku pegang lengan Bi Asih terus naik ke bahu... leher.. pelan-pelan turun ke dadanya... dia bilang eh den mau apa... tapi aku pura-pura ngak denger tanganku terus turun dan sampai kedadanya yang agak membusung kedepan.. Bi Asih agak sedikit bergetar badannya.. dia bilang dengan halus jangan den....jangan. tapi dia tidah menepis tanganku... aku semakin berani... pelan-pelan aku remas dadanya kiri kanan bergantian... nampak napas Bi Asih agak memburu.. aku semkin berani lagi... teringat akan bentuk buah dadanya yang indah tadi malam.. maka dengan sedikit nekat tangan ku mulai masuk ke BH nya ...... ah susunya terrasa lembut sekali...Bi Asih bilang lagi dengan lirih... den jangan .... aku ngak perduli.... lalu aku buka baju atas Bi Asih dan ku buka juga BH nya... mula-mula Bi Asih menolak untuk di buka tapi dengan agak sedikit maksa akhirnya dia pasrah... dan terbuka bagian atas badan Bi Asih... susunya munjung membusung kedepan besar, putih dan bundar.... lalu mulai kuremas-remas Bi Asih agak sedikit menggeliat.....napasnya memburu ........aku ingat akan buku porno yang kubaca... lalu aku coba praktekkan.... ya itu aku mencoba mencium pentil dari teteknya Bi Asih dan lalu aku emut-emut seperti mengemut permen...... wah kayaknya Bi Asih kenikmatan banget... napasnya memburu dan agak sedikit terengah-engah... waktu aku kenyot lagi pentilnya dia pegang kepalaku dan bilang den.. udah den... udah.... ah Bi Asih ngak tahan... katanya..... aku malah semakin semangat seluruh teteknya Bi Asih aku jilatin aku kulum-kulum aku emut-emut.....
Bi Asih semakin gelisah dan tangannya yang tadi mengocok-ngocok burungku kiri terhenti bergerak dan hanya meremas burungku dengan kencang sekali... agak sakit juga rasanya tapi aku biarin aja....
Supaya lebih enak akhirnya aku buka baju atas Bi Asih aku ciummi lehernya, bahunya yang putih.... dan aku buka seluruh celanaku...sehingga Bi Asih bebas memegang burungku dan telurku bergantian....
Adegan ini cukup lama juga berlangsung hampir sejam... kali aku liat jam diding udah jam 10.30....
Lalu aku rebahkan Bi Asih di sofa panjangku.. mula-mula dia agak sedikit nolak tapi aku dorong dengan tegas dan lembut dia akhirnya nurut aja... kini aku lebih leluasa lagi menciumi buah dadanya Bi Asih.... pelan-pelan agak turun ... aku ciummi perut Bi Asih.... dia tampak agak kegelian.... aku semangkin terangsang... aku ingat-ingat apa lagi yach yang harus dilakukan seperti di buku-buku porno...
Akhirnya pelan-pelan aku buka kain kebaya Bi Asih... dia bilang eh den jangan mau apa... ngak bi tenang aja dech. aku bilang.. akhirnya kain Bi Asih copot sudah dan aku buang jauh-jauh...dia tinggal memakai celana dalam saja.... eh.. biarpun dia ini orang desa... tapi ternyata badannya bagus banget seprti gitar dan mulus banget. betisnya indah, pahanya kencang sekali... mungkin sering minum jamu kampung sehingga badannya terawat baik.....
Aku ciummi perut Bi Asih terus turun kebawah... dan terus kebagian kemaluannya.... dia tampak mendorong kepalaku... jangan den... tapi lagi-lagi aku paksa akhirnya dia diam.. setelah dia agak tenang aku mulai beraksi lagi.. celana dalamnya kutarik turun... wah ini dia betul-betul melawan dan ngak kasih aku kesempatan dia pegangin celananya itu... tapi aku terus berusaha... adu tarik dan akhirnya.. setelah cukup lama dia menyerah tapi tetapnya tangannya menutupi kemaluannya... pelan-pelan aku ciummi tangannya akhir mau minggir juga dan kuciumi kemaluannya... Bi Asih tampak mengelinjang.. dan dia bilang jangan den... jangan den.... tapi aku ciumi terus....akhirnya suaranya itu hilang yang terdengar hanya napasnya aja yang terengah engah.... dibagian tengah memek agak keatas memek Bi Asih ada daging agak keras seperti kacang... mungkin itil... nah itilnya ini aku jilat-jilat dan kadang-kdang aku emut-emut dengan bibirku...
Aku ciumi terus memek Bi Asih.. dan tau tau aku merasakan sesuatu yang agak basah dan bau yang khas.
Bi Asih tampak menggoyang-goyangkan kepalanya dan pantatnya mulai goyang-goyang juga...
cairan yang keluar dari memek Bi Asih makin banyak aja.. dan makin licin....
Ah aku udah ngak tahan lagi rasanya...lalu kubuka kaos bajuku... dan aku juga sekarang sama bugilnya dengan Bi Asih...aku periksa lagi memek Bi Asih.. yach masih seperti tadi malam ngak keliatan lobang apa-apa cuma daging-daging merah jambu mengkilat karena basah... aku coba tusuk pakai jari tanganku dan eh ada juga lubangnya tapi kecil banget pas sejari tanganku ini, rupanya lubang itu tertutup oleh lapisan daging... aku pikir-pikir apa cukup ya lubang ini kalo di masukin penisku...
Aku penasaran lalu aku bangun dan belutut di pinggir sofa dan burungku aku arah kan ke memek Bi Asih
Bi Asih nampak terkejut melihat aku telanjang bulat dan dia hendak mau bangun... dan bilang den jangan sampai ketelanjuran... ya ngak boleh... aku bilang iya bi tenang aja... aku cuma mau ngukur aja kok... dan dia percaya lagu rebahan lagi... sambil bilang janji ya den jangan di masukkin punya aden ke liang nya Bi Asih... iya jawabku singkat... lalu aku ukur-ukur lagi lubang memek Bi Asih dengan penisku ternyata memang penisku ini ngak normal kali.. karena jangankan lubang yang didalan tadi itu yang seukuran jari telunjukku besarnya... bibir bagian luarnya aja ngak muat... aku mulai berfikir ... wah bener kata joko aku ini ngak normal..... trus aku bilang ke Bi Asih.... bi kok kayaknya lubangnya Bi Asih mampetnya... ngak ada lubangnya... Bi Asih mengangkat kepala... tau ya... dulu juga burungnya suami bibi rasanya ngak pernah masuk sampai ke dalam... wah aku pikir yang normal aku atau Bi Asih nich... tapi dasar udah nafsu banget... ngak ada lubang .... lubang apapun jadi dech aku pikir... memek Bi Asih semakin basah aku pegang-pegang terus... lalu aku tarik Bi Asih bangun dan ku ajak ke kamar orang tuaku... dia menolak ech jangan den... ngak apa-apa aku bilang.... aku paksa dia kekamar orang tuaku dan aku rebahkan dia di tempat tidur spring bed... kebetulan tempat tidur itu menghadap ke kaca jadi aku bisa liat di kaca... lalu aku naik di atas tubuhnya Bi Asih... dan Bi Asih agak sedikit meronta.. den kan janji ya ngak sampai di gituin.... iya dech aku bilang....
Aku lalu turun dari tubuh Bi Asih dan berlutut disamping tempat tidur lalu kutarik ke dua kaki Bi Asih sampai pantat Bi Asih tepat dipinggiran tempat tidur lalu aku ciumi lagi memek Bi Asih ... dia kelihatannya senang diciumi lalu aku praktekkan apa yang aku baca di buku porno ... aku masukan lidahku di sela-sela memek Bi Asih .. terasa hangat dan basah .. lalu aku mainkan lidahku.. aku jilat-jilat seluruh daging berwarna merah muda yang ada di dalam memek Bi Asih... aku jilat terus dan kadang kadan aku sedikit hisap-hisap bagian itilnya itu... Bi Asih tampak kegelian dan menggoyang-goyangkan pantatnya ke atas seolah-olah hendak mengejar lidahku.... terasa semakin basah memek Bi Asih dan mungkin sudah banjir kali dan semakin banyak cairannya... semakin licin..........aku lalu bangun......dan aku dorong lagi Bi Asih ketengah tempat tidur dan aku timpah lagi tubuhnya.......
Aku ciumi lagi tete Bi Asih yang keras dan kenyal itu... dia nampak mulai menikmati lagi dan agak sedikit mengerang-erang dan mengelus elus rambut kepalaku.... pelan-pelan aku kangkangin paha Bi Asih mula-mula dia agak melawan tapi akhirnya pasrah... dan kutaruh penisku tepat di tengah-tengah vagina Bi Asih...pelan-pelan aku dorong.. dorong penisku ke vagina Bi Asih... yang sudah mulai banjir dan mulai licin... aku merasa bahwa sekarang helm penisku sudah mulai terjepit oleh bibir memeknya Bi Asih tapi tetap belum bisa masuk... pelan pelan aku tekan agak keras Bi Asih tampak agak menggelinjang dan bilang aduh den jangan di toblos den... aku ngak perduli aku tekan lagi tapi susah juga rasanya sampai dekok kedalam vagina Bi Asih tapi belum mau tembus juga... aku tarik lagi sedikit kebelakang dan dorong lagi tetap seperti tadi ... tapi aku ngak menyerah aku tarik dorong tarik dorong ada kali 10 menitan.. dan waktu aku tarik-dorong itu terdengar bunyi ceprak..ceprok..ceprak... rupanya vagina Bi Asih bener-bener banjir... dan tiba-tiba aku mulai merasakan ada celah yang terbuka.... aku makin semangat tarik dorong tarik dorong... Bi Asih nampak mulai merem melek matanya... dan matanya membalik balik kebelakang....mulutnya mendesis desis... aku jadi semakin nafsu lalu aku kulum bibir Bi Asih.. dia menyambut ciumku dengan hot sekali.. baru pertama kali ini aku berciuman ... jadi ngak tau caranya tapi.. aku pake naluri aja aku isap-isap lidah Bi Asih .. wah dia makin membinal... dan celah di memek Bi Asih makin terasa agak melebar... dan aku merasa kalau aku tekan agak keras pasti helm burungku ini bisa masuk.. ke dalam memek Bi Asih... lalu aku ambil ancang-ancang... kebetulan kedua jari jempol kaki ku bisa masuk di sela-selah tempat tidur sehingga aku punya pijakkan untuk mendorong kedepan...
pelan-pelan aku hitung dalam hati sambil tarik dorong tarik dorong satu... dua tiga.... empat ...liiima aku tekan yang keras penisku ke memek Bi Asih, sementara bibir Bi Asih yang masih ada di dalam mulutku tiba... bersuara huhh...ehmmh huhuu dan Bi Asih memundurkan pantatnya kebelakang... dia memandang ke padaku dan menggelengkan kepala ...jangan... sakit... dia bilang... aku mengangguk.. lalu aku mulai kerja lagi.. tarik dorong... belum mauk-masuk juga.. helm penisku... tapi akibat dorongang tadi kayaknya agak sedikit terbuka....aku cari akal... wah gimana nich.. ya.... lalu kedua tanganku turun kebawah dan kumasukan kebelakang pinggang Bi Asih lalu turun sedikit kuremas-remas pantat Bi Asih yang besar ... kayaknya dia tambah semakin terangsang... dan aku pikir ini lah saatnya... aku pegang pantat Bi Asih keras-keras dan kutahan sekuat tenaga..dan kuhitung lagi satu. dua tiga... tekaaaaannnnnn......... Bi Asih tampak meronta-ronta... tapi aku ngak perduli terus kutekaaaaaaan dan blesssssss penisku masuk kira-kira sepertiga... Bi Asih meronta lagi...mungkin merasa sakit pada vaginanya karena penisku ukurannya kebesaran sekali sehingga aku juga merasa bahwa kayaknya lubangnya Bi Asih kecil sekali sampai-sampai penisku ngak bisa bergerak terjepit seperti mau dipress rasanya kurang enak juga sehingga Bi Asih berusaha mendorong pinggulku keatas tapi aku lebih cepat lagi... kutarik tanganku dari pantat Bi Asih dan ku pegang ke dua tangan Bi Asih dan kutarik ke atas kepalanya dan kutahan... dia berusaha meronta... dengan mengeser pantat ke kiri dan ke kanan tapi aku ngak mau lepas... aku ikuti arah pergerakan pantat Bi Asih.. dia ke kanan aku ke kanan Bi Asih ke kiri aku ke kiri dia mundur aku maju.... Bi Asih agak merintih-rintih dan seperti orang makan cabai pedas.... dia memang kuat pinggangnya... terus goyang kiri dan kanan .... tapi aku terus tancap burungku yang udah masuk sepertiga ke memek Bi Asih.... akibat gerakan biBi Asih ini mula-mula penisku yang ngak bisa bergerak akibat terjepit memek Bi Asih mulai bisa bergerak dan aku malah semangkin terangsang karena dengan gerakan kiri-kanan gitu penisku terasa tergesek-gesek oleh vaginanya Bi Asih. terus aku panteng... penisku di dalam memek Bi Asih dan memang saat itu rasanya lobang Bi Asih sempit sekali.. dan penisku terasa di emot-emot oleh memeknya Bi Asih... Lama-lama gerakan Bi Asih agak melemah dan nafas agak terengah engah... dan agaknya dia mulai bisa menerima kehadiran penisku di dalam memeknya dan sakitnya mulai hilang..... Pelan-pelan aku mulai beraksi lagi kutarik sedikit penisku keluar tapi buru-buru kutekan lagi ke dalam. agar ngak lepas.. terasa agak sempit tapi enak karena memek Bi Asih udah basah banget jadi agak licin dan lancar pergerakkan penisku lalu aku terik sedikit..dan tekan kedalam.. kira-kira 5 menitan... aku melalukan hal itu aku benar-benar merasa nikmat sekali yang tak terhingga... lalu dengan amat sangat bernafsu aku mulai menekan lagi penisku agak masuk lebih dalam lagi... aku tarik dulu keluar sedikit lalu aku tekan keras-keras kedalam Bi Asih menggelinjang.. dan bersuara ... aduh.. huhh hmmm tapi suara desahan itu malah makin merangsangku dan kutekan dengan keras lagi dan .. blesssss masuk lagi penisku lebih dalam Bi Asih agak sedikit meronta.. mungkin agak sedikit nyeri... tapi aku ngak perduli aku tekan lagi lebih keras lagi... cabut sedikit tekan lagi... Bi Asih agak meronta-ronta... aku semakin nikmat sekali rasanya agak seperti mau kencing... aku semakin bersemangat... dan dengan sekuat tanaga.. aku tekan tiba-tiba pantat ku ke depan .... dan bleessssss penisku amblas ke dalam memek Bi Asih.... Bi Asih agak sedikit menjerit..dan berusaha mencabutnya dengan menggeser pantatnya ke kiri dan ke kanan lagi.. tapi aku sudah samkin pintar aku tekan terus dan kuikuti pergerakannya.... setelah Bi Asih ngak melawan lagi mulai aku cabut setengah dan kumasukin lagi .. begitu berulang-ulang.. nampaknya Bi Asih mulai menikmati dan dia kelihatan menngejang dan lalu memeluk aku keras-keras..... dan mulutnya mendesis desis... aku semakin bersemangat... dan genjotanku semakin keras dan kencang.... dengan kedua kakiku kukangkangkan paha Bi Asih lalu aku genjot lagi penisku keluar masuk..... kira-kira 10 menit.. Bi Asih mengejang lagi dan memelukku lebih kencang lagi.. kayaknya dia orgasme lagi.... dan... setelah itu dia kelihatan agak loyo... tapi aku merasa ada sesuatu yang akan keluar dari penisku ... aku semakin keras mengocok penisku di dalam memek Bi Asih...dan kulihat dari kaca.. bagaimana penisku keluar masuk memek Bi Asih... bila aku tekan... tampak memek Bi Asih dekok ke dalam dan bila aku tarik keluar kelihatan bibir memeknya ikut munjung ke depan......... kira-kira.... 15 menit ... aku merasa helm kepalaku agak panas dan sret-sret.... ada sesuatu keluar dari penisku... aku merasa nikmat banget... aku tekan keras-keras penisku di dalam memek Bi Asih... dan Bi Asih yang tadi udah lemes tampak bersemangat lagi dan dia goyangkan pantatnya ke kiri kekanan.... aku semakin kenikmatan... dan tiba-tiba terasa lagi seeer serr ada cairan keluar dari penisku... dan Bi Asih juga kelihatannya merasa nikmat juga... dia seperti mencari-cari sesuatu... pantatnya naik-naik keatas dan tiba-tiba dia mengejang dan memelukku keras sekali dan kedua pahanya melilit keras di pingganku... seperti orang main gulat.... aku ngak berkutik ngak bisa bergerak... dan terasa cairan dari dalam penisku semakin banyak keluar....... Bi Asih semakin menggila dia mengigit.. gigit... bahuku.... dan menjerit lirih.. den.. enak sekali den......... aku peluk Bi Asih keras-keras..... dan kita berpelukan kurang lebih lima menit....... penisku yang tadi keras kayak batu sudah mulai melembek... dan Bi Asih nampak tergelak.. lunglai di sebelahku...... Aku lalu bangun dan kucabut penisku dari memek Bi Asih.. dan kulihat memek Bi Asih.... ... Aku pegang dan aku buka belahannya kini nampak ada lubangnya.... dan aku melihat di seprai dekat memek Bi Asih banyak sekali cairan.. dan agak berwarna sedikit merah jambu.... aku agak kaget... dan bilang ama Bi Asih... bi ..... bibi masih perawan ya........... Bi Asih tersenyum manis... dan menjawab... iya den soalnya selama bibi nikah... bibi belum pernah kemasukan.... karena mantan suami bibi dulu orangnya loyo.... baru nempel udah banjir dan lemes.... Aku menggumam.... pantas susah banget masuknya.......terus si Bi Asih nimpali bukan susah....tapi emang burungnya den bram yang kegedean.... bibi ampe hampir semaput rasanya...... Malam itu aku tidur berdua dengan Bi Asih di kamar ortu gua.... kita tidur telanjang bulat.... cuma di tutup pakai selimut...... pagi-pagi jam 5 pagi udah terbangun.... dan penisku tiba-tiba mengeras lagi.... ... tanpa permisi... aku langsung naik lagi kebadan Bi Asih.....yang masih setengah tidur dan dia terbangun..... Aku kangkangin lagi pahanya ke kiri dan kekanan... Bi Asih diam aja pasrah hanya memandangi perbuatan ku dengan sedikit senyum..... lalu penisku yang sudah mulai mengeras.. aku tempelkan lagi di depan memek Bi Asih dan aku tekan-tekan... tapi ngak bisa masuk-masuk... Bi Asih tersenyum.... dan dia bilang sini Bi Asih bantu... lalu tangannya ke bawah memegang penisku dan membimbing penisku tepat di muka lubang memeknya Bi Asih.. terasa hangat... lubang itu dan mulai basah... ternyata kali ini ngak sesulit tadi malam... helm penisku dengan beberapa kali tusukan maju mundur... mulai bisa masuk ke dalam tapi tetapnya aja terasa sempit walaupun memek Bi Asih mulai basah dan licin... dan kelihatanya Bi Asih juga merasa bahwa penisku luar biasa ukuranya... beberapa kali dia sedikit mengaduh... tapi... setelah memeknya betul-betul banjir... dan penisku bias masuk seluruhnya.. dia mulai bisa menikmati... dan... pagi itu aku bersenggama dengan Bi Asih sampai jam 7.00 pagi... Bi Asih orgasme sampai 3 kali... dan aku muncrat juga tapi ngak sebanyak tadi malam...... Seharian kita males-malesan di tempat tidur... dan sore hari... kita ngentot lagi......ampe jam 10 malem.... Senin pagi aku bangun dan bolos sekolah.... karena pagi itu sehabis mandi pagi dan sarapan.... aku rencananya mau berangkat sekolah .... tapi tiba-tiba aku menjadi nafsu lagi melihat Bi Asih baru keluar dari kamar mandi pakai handuk saja.... lalu aku tarik Bi Asih ke kamarnya .... ku buka handuknya ku ciumi tetek .. ku isap-isap pentil... dan kurebahkan dia di tempat tidurnya.... dan ku entot lagi.... wah enak rasanya ngentot Bi Asih yang baru mandi karena bau badannya segar banget bau sabun..... dan aku bersetubuh dengan Bi Asih di kamarnya senin pagi itu sampai jam 9.00 pagi... dan aku terpaksa membolos sekolah...... Sorenya orang tuaku pulang dari Jakarta...... dan sejak saat itu aku kalau malam sering ke kamar Bi Asih dan melakukan hal itu lagi.. dan kelihatannya Bi Asih juga mulai ketagihan seperti aku.... Ibu aktif organisasi Dharma Wanita... sehingga kami sering punya kesempatan berdua sama Bi Asih dan selalu ngak pernah menyia-nyia kesempatan itu.....
Hubungan ini berlangsung kurang lebih 3 bulan... lama-lama kayaknya ibuku mencium gelagat.... dan hari itu kira-kira sebulan lagi sebelum aku ujian akhir kelas 3 SMP aku lihat pagi-pagi ibuku ada di kamar Bi Asih.....dan Bi Asih nampak tertunduk.. dan kayaknya agak sedikit menangis... aku ngak berani campur tangan..... dan waktu aku pulang sekolah.... Bi Asih sudah ngak di rumahku lagi... dia sudah pulang kampung di antar oleh sopir ayahku. Aku sedih banget saat itu.. tapi ngak bisa buat apa-apa dan 2 hari kemudian ibuku dapat pembantu baru lagi... dari jawa orang masih muda juga hitam manis kira-kira umurnya 30 tahunan.....badannya sekel banget.. mungkin biasa kerja di sawah... . Nah sama yang ini aku juga punya pengalaman... tapi ... (bersambung)
Lastri Yang Menggairahkan
Beberapa waktu yang lalu, karena telah berulang kali dipanggil oleh anaknya di kampung, maka pembantu kami yang sudah tua, M'bok Iyem akhirnya pulang juga ke kampungnya di Jawa Tengah, tetapi sebelum pulang ia berjanji akan membantu kami untuk mencarikan seorang pembantu lain yang berasal dari kampungnya juga, jadi pada saat M'bok Iyem pulang kampung , tidak terjadi kekosongan pembantu di rumah kami. Hal ini penting bagi kami karena, kami berdua, suami isteri bekerja , sehingga kami memerlukan seorang pembantu untuk beres-beres di rumah .
Pada hari yang telah ditentukan, maka datanglah seorang pembantu baru yang dijanjikan oleh M'bok Iyem, yaitu seorang gadis kampung yang telah saja putus sekolah , berumur 18 tahun bernama Lastri. Sulastri bertubuh sedang dengan kulit bersih dan berambut panjang , yang dengan malu-malu memperkenalkan dirinya kepada kami, setelah menerima instruksi ini itu dari isteri saya, Lastri pun mulai bersiap untuk kerja.
Memasuki hari Senin, secara kebetulan saya mendapat cuti kantor selama tiga hari, yang mana bisa saya pergunakan untuk beristirahat di rumah. Setelah isteri saya berangkat kerja, saya pun santai di rumah sambil baca koran dan dengar radio sedang Lastri sibuk membersihkan rumah sehabis mencuci pakaian .
Sedang saya asyik membaca, tiba-tiba dikejutkan oleh sapaannya:"maaf pak, saya mau mengepel lantainya".
"oh iya , pel aja... "kata saya, sambil terus membaca, tetapi sambil memperhatikan pembantu ini dengan lebih seksama. Lastri mengepel lantai sambil berjongkok dan sesekali merangkak sambil terus mengayunkan tangannya. Saat ia merangkak, terlihat pinggulnya yang besar dengan pantat yang membentuk bulat bergoyang ke kiri dan ke kanan dengan irama yang teratur, celana dalam yang dipakainya terbayang sangat jelas dari balik daster yang dipakainya.
Saat ia berbalik untuk mengepel di bawah kaki saya, terlihat dari belahan dasternya dua buah bukit yang ranum, terbungkus oleh kutang ketat, yang kelihatannya sudah agak kekecilan. Tanpa terasa saya menggosok batang kemaluan saya, yang tiba-tiba menjadi tegang . Konsentrasi saya untuk membaca menjadi hilang.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Lastri bersiap-siap untuk membersihkan dirinya dan mengambil handuk serta masuk ke kamar mandi, begitu terdengar suara air yang terguyur di kamar mandi, saya cepat-cepat meloncat bangun dan berjalan cepat-cepat ke arah kamar mandi. Dari sela-sela pintu kamar mandi terdapat celah yang bisa dipakai untuk mengintip ke dalam . Ternyata pemandangan di dalam kamar mandi begitu asyiknya, Sulastri ternyata mempunyai badan yang bersih mulus dengan kedua teteknya yang ranum keras dengan puting yang mengarah ke atas berwarna coklat muda, pinggulnya yang besar sangat seksi dengan bulu-bulu di atas kemaluannya.
Lastri sibuk menggosok-gosok badannya tanpa sadar ada mata yang sedang menikmati tubuhnya yang ranum. Dengan berdebar saya terus mengintip Lastri yang sesekali menunduk untuk menggosok kakinya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Nafsu saya naik ke kepala, saya mulai mengelus batang kemaluan saya sampai tegang. " Aah , enaknya kalau bisa memeluk dan menancapkan batang kontol saya di memek nya".
Sedang asyik mengintip, saya teringat kalau di lemari saya masih ada menyimpan sebotol obat perangsang bermerek 'Spanish fly' oleh-oleh teman dari luar negeri. Cepat-cepat saya ke kamar mengambil obat tersebut dan membawanya ke dapur, dan benar saja dugaan saya bahwa Lastri memang sudah menyiapkan teh hangat bagi dirinya sendiri di situ. Segera saya tuangkan spanish fly itu ke dalam minuman Sulastri dan saya tambahkan gula sedikit agar dia tidak curiga.
Saya kembali duduk di kursi depan dan pura-pura membaca sambil membayangkan tubuh mulus Lastri sambil mengelus batang kontol saya yang sudah tegang , saya benar-benar sudah bernafsu sekali untuk menyetubuhi Lastri.
Sekitar setengah jam kemudian, saya mendengar erangan halus yang berasal dari kamar Sulastri, " heeehhh....... heeeeeehhh" .
Segera saya menghampiri kamarnya dan pura-pura bertanya: " Lastri...ada apa dengan kamu....?"
Lastri sambil mengeluh menjawab:" Aaduuh pak.....perut saya .....hheeehh"
"Kenapa ..??" sambil bertanya saya segera saja masuk kedalam kamarnya, Lastri kelihatan pucat dan jidatnya berkeringat, sedang dalam posisi merangkak sambil memegang perut,
" aduuh..... aduuuh.. perut saya ...pak"
"Mari saya tolong..." kata saya, sambil berdiri di belakangnya dan tunduk serta memegang perutnya dengan kedua tangan untuk mengangkatnya berdiri. Saat berdiri sambil memeluknya dari belakang, kontol saya yang sudah tegang dari tadi menempel pada celah pantatnya, Lastri agak kaget juga, tapi ternyata dia diam saja sambil terus mendesah.
"Ayo saya gosok perut kamu .... biar hangat" kata saya sambil tangan kanan saya terus bergerak menggosok perutnya sedangkan tangan kiri saya mengangkat dasternya dari bawah. Saya memasukkan tangan kiri saya ke dalam daster itu dan berpura-pura akan menggosok perutnya juga tapi saya segera menurunkan tangan saya untuk menyibakkan celana dalamnya dan mulai meraba bulu-bulu halus yang bertebaran di sekitar memeknya. Saat tangan saya menyentuk memeknya, Lastri tergelinjang keras dan mendesah panjang, "Aaaah......Paak...." seraya menekankan pantatnya yang montok itu ke kontol saya yang sudah menanti dengan tidak sabar. Tangan kanan saya pun mulai masuk ke dalam sela-sela kancing daster, naik terus ke atas..... dan menemukan teteknya yang ranum, yang ternyata tidak terbungkus oleh kutangnya, segera saya meremas teteknya.
"Las,.... ayo saya gosok sambil tiduran", kata saya "
"Hee...eeh", katanya.
Saya tuntun Lastri ke tempat tidur dan membaringkan dia dengan kedua kakinya tetap terjuntai di lantai. Secara cepat saya menyibak dasternya dan segera menarik turun hingga celana dalamnya terlepas . ".... Aduuuh ....Paak", katanya sambil menggerakkan pinggulnya.
"ssst.....", kata saya, sambil menundukkan kepala dan mencium memeknya yang persis di depan mata saya.
" Aaaaaarkkh....", seru Lastri sambil membuka kakinya lebih lebar lagi dan kemudian secara cepat menutupnya lagi sehingga kepala saya terjepit di antara kedua belah pahanya yang mulus. Saya mulai menjilat memeknya..... wah... wanginya enak , lidah saya mulai menjalar ke kanan dan ke kiri menyibakkan kedua belah bibir memek Lastri sampai akhirnya saya menemukan klentit-nya. Kedua tangan saya pun secara gencar mulai bergerilya meremas kedua teteknya , sambil sesekali mempermainkan putingnya , yang langsung mengeras.
"Ppaaaak.........." , Lastri keenakan sambil mulai menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bagaikan sangat kegelian, dan tiba-tiba dari memeknya memancar cairan , yang segera saya jilat habis.....
"Las..... buka dulu yaa bajunya", kata saya sambil berdiri dan dengan cepat mulai membuka celana dan kaos saya. Sementara saya berdiri telanjang, kontol saya benar-benar tegang dan keras. Mata Lastri terbelalak memandang kontol saya yang besar dan berdiri, "Paaak....Lastri takut.." katanya.
"Ssssttt.... nggak apa-apa Las,....." kata saya sambil membantu Lastri membuka bajunya.
Karena kakinya masih menjuntai di pinggir tempat tidur, segera saya mengambil bantal dan mengganjal pantatnya sehingga memek Lastri sekarang menyembul dengan klentitnya yang mengkilap karena jilatan lidah saya. Segera saya arahkan kontol saya kearah lubang memeknya dan berusaha untuk menekannya masuk, sementara tangan saya meremas teteknya sedangkan saya mulut saya mulai memagut bibirnya. Ternyata lubang memek Lastri sangat sempit sekali, sehingga baru kepala kontol saya yang masuk, ia sudah menjerit kesakitan dan berusaha menggeliatkan badannya yang mungil. Saya menahan geliatan badannya dan terus berusaha memasukkan seluruh kontol saya ke memeknya yang sempit dengan menarik keluar masuk kepala kontol saya. Biarpun memek Lastri telah basah oleh cairan yang keluar dari tubuhnya, saya tetap juga mengalami kesulitan untuk menembus barikade memek Lastri ini. Sambil memeluk tubuhnya, mulut saya bergesar kearah telinga Lastri, dan secara tiba-tiba saya menggigit cuping telinganya dengan agak keras. Secara refleks, Lastri kaget sekali, "aduh...", tetapi bersamaan dengan itu saya menekan kontol saya sekuat tenaga..... masuk kedalam memeknya. Lastri kaget dan terdiam, tetapi saya kembali memagut bibirnya dan menyedot lidahnya sambil mulai menaikkan pantat saya sedikit sedikit kemudian turun menekan sampai keujung. Aduh nikmatnya bukan alang kepalang, memek Lastri benar-benar sempit sekali bagaikan jepitan halus yang menjepit dengan ketat serta berdenyut-denyut terus menerus. Setelah beberapa kali naik turun, cabut sedikit , tekan lagi........ Lastri pun mulai menikmati permainan sex ini, sambil mengerang-erang , dia juga mulai menggoyangkan pinggulnya. Kedua belah kakinya pun turut menari-nari, kadang menjepit kaki saya, kadang dia menjepit pinggang saya.
"aarkhhh..... ppaak...enaaaaak", kata Lastri, sambil terus menggoyangkan pinggulnya , sehingga kontol saya yang berada di dalam memeknya terasa bagaikan diremas-remas dengan keras. Akhirnya saya pun tidak tahan lagi...... saat badannya menjadi kejang karena dia sampai pada puncak kenikmatan, saya pun mempercepat gerakan naik turun sampai cairan mani saya terasa menyembur-nyembur kedalam memek Lastri. Akh, kita berdua sungguh lunglai setelah tiba pada puncak kenikmatan. Ternyata setelah selesai baru saya tahu kalau ternyata Lastri masih perawan dan belum pernah dijamah oleh lelaki lain.
Selama masa cuti tiga hari, saya tetap betah di rumah . Dan kalau isteri sudah berangkat kerja, maka Lastri dan saya mulai mempraktekkan berbagai macam gaya bersetubuh. Lastri ternyata murid yang sangat pandai untuk diajar dan selalu bernafsu untuk mengulang dan mengulang lagi. Hal ini berlangsung selama enam bulan, kadang larut malam, kadang pagi hari kalau saya lagi kepingin menikmati tubuhnya, saya ijin dari kantor, sampai akhirnya Lastri dipanggil pulang oleh keluarganya untuk dikawinkan di kampung.
Atun Sang Pembantu HiperSeks
Sepeninggal Lastri, kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Atun.
Atun berambut lurus sebahu, berperawakan sedang , berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm , badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan tetek yang besarnya sedang saja. Yang agak istimewa dari penampilan Atun adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal.
Hari pertama kedatangannya , saat memperkenalkan diri , ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, " akh, nakal juga nih... ". Ternyata Atun ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah.
Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Atun cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan ; dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.
Suatu malam sepulang kerja, Atun seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuk saya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus dibalik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada dibawah pintu tersebut.
" hah...." , saya kaget juga, karena disitu terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang men-jinjit menempel dipintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip , oleh siapa lagi kalau bukan Atun. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi ; saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian kontol saya, meremas-remas sehingga kontol saya pun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus meng-kocok-kocok kontol saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara dibelakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas.
"Naah...lo....rasain " , kata saya dalam hati. Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, kontol saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan kearah belakang untuk menaruh pakaian kotor.
"pep.....pak..... bapak mau emm.. makan", sapa Atun ,
"oh... enggak Tun, sudah makan... tolong bikinkan kopi saja", jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Atun terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.
"eeh...kamu kenapa Tun,.....sakit yaa ?", tanya saya
"ah , tidak pak..... saya cuma sedikit pusing aja", jawab Atun
"Iyaa...Tun....saya juga sedikit pusing... apa kamu bisa mijitin kepala saya"
"beb...bis...bisa pak", jawab Atun tergagap, sembari matanya terus menerus melirik kearah kontol saya yang menyembul. Sayapun masuk kekamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya; setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk disofa didepan televisi sambil menunggu Atun membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja didepan saya.
"Tun....tolong nyalakan tv-nya"
Atun berjalan kearah televisi untuk menyalakan , saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Atun dari balik dasternya. "wah....boleh juga", terasa denyutan di kontol saya, nafsu saya mulai memuncak.
"Tun.... tolong kecilkan sedikit suaranya", kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Atun sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol tv tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali , Atun ternyata tidak memakai BH dan puting teteknya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar.
"lagi sedikit Tun...." kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh , denyutan di kontol saya pun makin keras saja.
"Ayo ..Tun..pijitin kepala saya" kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Atun mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.
"nah..gitu....baru enak, kata saya lagi, "tapi film-nya kok jelek banget yaa..."
"iya..pak...film-nya film tua.." katanya.
"kamu mau lihat film baru", kata saya sambil langsung berdiri dan menuju kearah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Atun kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut. Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba kontol lawan mainnya , tangan Atun mengejang dikepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat keatas kearah Atun; terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker. Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan dikepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru memburu. Atun terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya. Saya langsung saja berdiri dan menuju kebelakangnya; sarung saya jatuhkan kelantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan kontol saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Atun, menjilat-jilat sambil menggigit pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak kearah teteknya yang menantang dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Atun tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan kekiri. Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas; Atun diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan kontol saya ke lubang memeknya. Saat kepala kontol saya mulai memasuki memeknya yang sudah basah, Atun sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga kontol saya terbenam seluruhnya.
"aaaaaaaakh.....pak" , desah Atun lirih, "ennnaaaak....paaaaak"
Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik kontol saya. Waah.... memek Atun bagaikan menjepit kontol saya dan seperti tidak mau melepaskan kontol saya. Memek Atun ternyata sempit sekali dan kontol saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Atun yang mulus, plak....plak....plak..... saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Atun. Mulut Atun menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya , matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh , dari pinggang keatas condong kedepan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan. Bila saya menekan kontol saya untuk membenamkannya lebih dalam kelubang memeknya, Atun segera mendorong pantatnya kebelakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian. Aah ..... Atun, ternyata luar biasa enaknya memek kamu. Saya benar-benar menikmati tubuh dan memek Atun. Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Atun mengejang , kedua kaki nya juga mengejang serta terangkat kebelakang . Memeknya meremas dan menghisap-hisap kontol saya dengan keras dan berusaha untuk menelan kontol saya seluruhnya.
"aaaaaaaaaaaaahhhhh ....." desah Atun panjang Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan kontol saya kuat-kuat kedalam memek Atun. Saya pun melepaskan cairan mani saya kedalam lubang memek Atun yang begitu hangat dan menghisap.
"hhhhheeeeeeeeeh" creeet.......creettt.....creettttt Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk kearah sandaran sofa dengan posisi kontol saya masih ada di dalam jepitan memek Atun. Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan kearah belakang ; Atun langsung berbelok kekamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, " terima kasih yaa... pak" dan sambil tersenyum nakal ia meremas kontol saya. Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kekamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas. Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus kontol saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
" looo .." , pikir saya " kok isteri saya tidak bekerja hari ini"
Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho.... ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus kontol saya tetapi Atun yang sedang menunduk untuk mencium kontol saya, yang sudah keras dan tegang.
"Tun..... ayo naik kesini", kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Atun sudah tidak memakai apa-apa dibalik dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium memeknya yang wangi, sedangkan Atun langsung juga mengulum kontol saya dimulutnya yang kecil; waah Atun langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya. Saya mulai menjilat-jilat memeknya dan sesekali mengulum serta mempermainkan klentitnya dengan lidah saya, Atun tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya, "hheeeh....heeeehhh" Dari lubang memeknya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat ..... mmmh...enaknya... Setelah itu saya tarik Atun untuk jongkok di atas badan saya, sedangkan saya tetap terlentang dan Atun mulai menurunkan badannya dengan lubang memeknya yang sempit itu tepat kearah batang kontol saya yang sudah sangat tegang sekali.
"hhhheeehhhh"....cleeeep, batang kontol saya masuk langsung kedalam lubang memeknya dan terbenam sampai keujung biji saya, "oooohh enak bener Tun....memek kamu" kata saya, Atun sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan..... Batang kontol saya terasa mau putus karena enaknya memek Atun, benar-benar nikmat sekali permainan dipagi hari ini; Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas teteknya yang keras. "ooooh .... Atun....ennaaaak" Atun kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, memeknya tetap menjepit batang kontol saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut.....Akh , akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang kontol saya sedalam-dalamnya dilubang memek Atun , badan Atun pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme. Pagi hari itu saya dan Atun bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya. Sejak pagi itu, saya selalu dibangunkan oleh isapan lembut dari mulut mungil Atun, kecuali bila hari libur dimana isteri saya berada di rumah.
Part 1
Sebenarnya aku sudah + 10 tahun berumah tangga dan kehidupan kami baik2 saja. Aku sendiri berusia 10 tahun lebih tua dari pada istriku yang saat ini berusia 30 tahun dan sudah beranak seorang berusia 7 tahun. Walaupun sudah beranak,tetapi istriku tetap mempunyai wajah yang cantik dan bentuk tubuh yang indah sebab sering senam dan merawat wajah, rambut ke salon dan juga karena anaknya dulu minum susu kaleng sehingga bentuk buah dadanya yang besar itu tetap indah dan masih kencang serta kenyal. Juga lubang memeknya saat habis melahirkan langsung dijahit sehingga lubangnya kembali seperti saat masih perawan. Jadi hubungan sex kami tetap indah. Suatu hari ditahun 1995, kami diajak sebelah tetangga untuk nonton blue film karena baru beli laser disc. Kami dan suami istri tetangga nonton film itu yang cukup seram karena ada seorang wanita bule disetubuhi oleh dua orang Negro, mereka bergantian memasukan kontolnya yang seorang kememeknya dan yang seorang kemulutnya untuk diisap. Melihat adegan itu rupanya istriku jadi naik birahinya sehingga memegang tanganku erat2 dan berbisik :"Waah rupanya enak sekaligus lubang atas dan bawah kemasukkan penis" Kutanya pelan2:"Apakah kamu kepingin adegan begitu?". Istriku dengan malu2 menganggukkan kepalanya. Setelah selesai memutar laser disc. kami segera pulang dan karena nafsu berahi kami sudah memuncak segera kami puaskan dengan bersetubuh malam itu. Sambil bersetubuh,aku ulangi tanya lagi pdnya: Mi, apakah kamu kepingin disetubuhi sekaligus dengan dua laki2?". Istriku memandangiku sambil malu2 manggut2 kepalanya. Kutanya lagi:"Kalau lakinya dua, satunya kamu ingin dengan siapa?". Istriku menjawab:"Terserah sama papi aja". Aku teringat punya dua teman baik sejak sekolah di SMA, yaitu Lud seorang anak turunan Ambon dengan Belanda dan Tono seorang Cina seperti kami. Lalu kutanya lagi:"Kalau Lud atau Tono mau ?". Dia menggangguk juga. Lalu kujelaskan lagi:"Mami senang yang kontolnya besar, lebih besar dari aku punya atau yang kira2 sama?"
Istriku menjawab:"Enak yang besar saja, seperti di film tadi". "Oh kalau gitu ya si Lud saja sebab dia punya panjang dan besar". Memang kita dulu pernah mandi sama2 bertiga saat masih sekolah ternyata Lud punya kontol dalam keadaan mati saja besar dan panjang hanya warnanya agak hitam lalu bulu jembutnya juga banyak sampai nyambung kebawah pusar juga dadanya penuh dengan bulu maklum orang Ambon. Besok paginya segera kuinterlokal Lud yang ada di Jakarta dan kuceritakan maksudku, ternyata Lud menyambut dengan antusias dan sanggup datang besok sore sebab hari Sabtu kantor di Jakarta tutup.Aku kemudian booking motel yang terdiri dari 2 kamar dan sebuah ruang tamu / TV. Hari Sabtu sore aku menjemput Lud diairport bersama istriku,setelah meitipkan anaknya pada pembantunya.Istriku sudah siap membawa tas dengan membawa perlengkapan baju tidur segala saat itu istriku memakai rok panjang warna coklat tapi bagian atas terbuka sampai dada hanya memekai ban tipis ( modelnya Juni Sara ) dengan bagian bawah ada belahananya agak tinggi didepannya sehingga kalau jalan atau duduk pahanya terlihat putih menggairahkan.Juga bagian atasnya terlihat sedikit belahan buah dadanya, karena istriku hanya memakai bra strepples tanpa tali, sehingga diairpot banyak mata laki2 curi pandang lihat belahan buah dadanya istriku, apalagi kalau tangannya didekapkan dibawah buah dadanya maka buah dadanya makin menyembul keatas. Makin syuur..!!!. Tepat pk. 17.15 pesawat Merpati dari Jakarta mendarat, dari penumpang yang turun kulihat Lud menuruni tangga pesawat dengan menenteng tas kecil. Dia memakai T shirt dan celana jeans. Setelah keluar pintu airport segera kusalami dia, dia me-nepuk2 bahuku dan berkata:"Waah, nanti malam kita betul2 ke nirwana" dengan logat Ambonnya. Kemudian dia memeluk istriku sambil mencium pipi kiri & kanan yang mulus dan putih dari istriku. "Apa kabar Hwa?" tanyanya pada istriku. Dia kalau panggil istriku dengan Hwa. Kita berjalan menuju parkir dan naik mobil, untuk sementara dia duduk belakang sendirian dulu sambil kita cari makan. Istriku usul makan sate kambing saja biar hot katanya. Dan usul itu kita setuju semua. Saat makan sate kambing, istriku dan akau duduk bersebelahan dan Lud duduk depan istriku. Tak beda dengan laki2 lain, Lud juga memandangi terus bagian dada istriku, apalagi istriku tangannya didekapkan terus ke dadanya hingga menopang buah dadanya yang montok itu menjadi mencuat keatas sehingga membuat panas dingin laki2 yang matanya melihat.Selesai makan kita naik mobil langsung menuju motel diatas Candi, kali ini aku dijadikan sopir sebab Lud minta agar Hwa menemaninya duduk dibelakang.
Baru semenit mobil berjalan dan karena suasana dibelakang sepi, maka coba lihat dari kaca spion, ee.eeeh ternyata tangan kanannya Lud sudah melingkar di leher istriku dan ujung jari2-nya meng-usap2 dada serta bagian atas buah dada sebelah kanan istriku yang terbuka itu sambil mulutnya terus menciumi pipi, telinga dan leher istriku. Tangan kirinya meng-raba2 paha kiri istriku yang terbuka karena rok belahannya sedang tangan kiri istriku menumpang di paha serta me-mijit2 paha kanan Lud dengan wajah malu2 serta mesem2 terus. Aku jadi tersirap naik nafsuku lihat pandangan itu. Terdengar Lud berkata:" Hwa, kamu jauh berbeda dengan istriku yang kerempeng itu sedang kamu betul2 padat berisi, sebenarnya sudah lama aku ingin menikmati tubuhmu tapi takut ngomong sama suamimu, ternyata ada tawaran yang mengagetkan aku untuk ikut menikmati tubuhmu. Yaaah seperti ada petir disiang hari bolong rasanya!" Mendengar ucapan itu aku lihat lagi ke kaca spion, aku lihat Lud dengan gemas dan mesra memeluk erat2 dan mengecup bibir istriku serta kadang2 tangan kirinya me-raba2 buah dada dan turun kepinggang sampai kepaha istriku yang terbuka itu. Karena situasi lalu lintas ramai aku terpaksa konsentrasi ke jalan lagi, hanya sebentar2 curi pandang lewat spion. Suatu saat aku melihat buah dada istriku sebelah kanan bisa ber-gerak2 naik turun setelah aku menoleh ke belakang ternyata tangan kanan temanku melingkar di punggung istriku dan me-mijit2 buah dada kanan istriku naik turun. Setelah sampai motel kita segera check in, temanku sebagai tamu kuberi kamar yang besar dengan twin bed sekaligus untuk tempat bermain sex ria nanti. Baru saja aku selesai dari kamar kecil menuju ruang TV yang bersebelahan dengan kamar Lud yang masih terbuka pintunya, aku lihat Lud memeluk istriku dari belakang menghadap kaca rias sambil tangannya me-remas2 buah dada istriku sehingga kedua pentil buah dadanya yang coklat ke-merah2-an itu menyembul keluar sambil menciumi pipi istriku yang wajahnya menengadah kewajah Lud. Tangan Lud yang kanan kadang2 terus meraba turun ke perut dan terus turun untuk disusupkan ke belahan atas dari rok istriku untuk meraba pangkal paha serta memek istriku. Tampak istriku mulai mendesis kenikmatan serta menggeliat dengan tangan kanannya coba memijit kontolnya yang masih pakai jeans itu. Adegan ini masih berlangsung beberapa saat walaupun mereka tahu aku di dekatnya. Ketika aku tanya pada istriku:" Mi, enak ya permainnya Lud?" Istriku menjawab:" Waaah, aku nggak tahan lagi Pi, habis sejak dalam mobil tadi Lud terus mempermainkan dan meremas buah dadaku terus" Memang istriku kalau buah dadanya sudah dipermainkan lalu nafsunya meroket naik, mungkin ciri khas wanita2 yang punya buah dada besar. Karena Lud mau mandi dulu, maka aku dan istriku yang sudah mandi dari rumah duduk di sofa menonton TV dulu.
Istriku berkata padaku:"Waaah Pi, pertama aku dirangkul dan diciumi oleh Lud badanku rasanya mrinding dan panas dingin. Habis bulunya tangan dan kumisnya begitu geli rasanya waktu menggesek tubuh dan pipiku" "Tapi Mami bisa nafsu ya dengan Lud?" tanyaku. Istriku dengan malu manggut2. Lalu dia bilang lagi:"Kalau nanti malam Papi tidur sendirian bagaimana? Sebab katanya aku akan diajak tidur dengannya semalam". "Nggak apa2, yang penting Mami bisa keturutan mendapat kepuasan" jawabku. memang entah kenapa perasaanku saat melihat Lud memeluk dan me-remas buah dada istriku aku tidak cemburu bahkan nafsuku menjadi berkobar, apa mungkin aku punya kelainan sex pikir dalam hatiku.
"Tadi Lud bilang kalau nanti malam air maninya akan di-semprotkan terus ke seluruh tubuhku dan memekku sampai habis. Dan lendir santanku akan dikuras sampai kering dengan kontolnya " kata istriku. Aku pesan pada istriku agar satu hal yang jangan dilakukan adalah minum air mani Lud walaupun nanti kalau nyemprot saat diisap. Jadi harus diludahkan. Beberapa saat Lud selesai mandi dan dia keluar hanya pakai celana santai yang pendek sehingga dadanya yang penuh bulu telihat. "Cek..cek...cek"suara istriku sambil geleng2 kepala. Setelah menggantung handuknya dia ikut duduk di kursi sebelah sofa. Lud panggil pelayan untuk pesan minuman dan makanan kecil, dia sendiri pesan wisky karena aku tak suka. Dia bilang :"Waaah ini untuk menikmati tubuh yang indah dari istrin teman baikku, aku harus bersiap supaya benar2 bisa memberikan kenikmatan yang diharapkan." Dia tanya padaku:"Kapan An kamu penghabisan main?". "Oh, sudah seminggu lebih sejak istriku mens sebab kalau mens dia sampai 4 - 5 hari" sahutku. Dia lalu berkata:" Waaah betulan sekali nih, sebab sekarang pasti air santannya Hwa lagi kental2nya dan banyak nanti aku yang akan menghabiskannya. Dan kebetulan juga tanggalnya tidak pas saat subur, nanti aku bisa semprotkan maniku sampai ke dalam mulut rahimnya Hwa". Istriku bilang:"Ach, kamu porno ngomongnya Lud". Pelayan datang dengan membawa pesanannya Lud, lalu kita semua bersama makan mente goreng sambil minum air jeruk kecuali Lud minum wisky. Beberapa saat kemudian Lud tanya pada istriku:"Hwa, apakah kamu tak bawa pakaian tidur?, tapi kalau tak bawa ya tak apa2 sebab nanti malam kan tak ada pakaian yang boleh menempel di tubuhmu sebab akan kuselimuti dengan tubuhku". "Macam2 kamu"sahut istriku. Lalu istriku masuk ke kamar untuk ganti pakaian dan sikat gigi, juga aku masuk kamar untuk lepas pakaian dan hanya pakai CD saja. Sebentar istriku sudah selesai dan keluar dengan mengenakan pakaian tidur dari bahan tipis warna pink hingga terlihat CD mininya warna merah juga bra nya yang mini juga dari renda warna merah juga. Lihat istriku keluar dengan pakaian yang senssual sekali, Lud geleng2 dan bilang:"Waaah aku bisa langsung ngaceng lho" sambil pegang2 kontolnya. Lalu istriku duduk di sofa sebelahku dan tangannya Lud ditarik juga untuk diajak duduk disofa juga. Sekarang istriku diapit sebelah kiri aku dan kanan oleh Lud. Tangan istriku dipegang Lud dan digosokkan kebulunya di bawah pusar sampai nyambung kejembutnya."Wuuuiiihhh...cek...cek...cek" gumam istriku sambil menarik tangannya. Sambil nonton TV tanganku dan tangannya Lud mulai bekerja. Lud menciumi pipi, telinga dan lehernya istriku sehingga kepalanya disandarkan kebahunya Lud dan menegadah untuk terus menerima ciuman2 disertai permainan lidahnya Lud dan tangan kanannya terus mulai meraba dan meremas buah dada sebelah kanan dan naik turun kepahanya istriku. Aku sendiri segera melepas kancing atas baju tidurnya dan kurogoh buah dadanya sebelah kiri untuk segera kuisap pentilnya serta tangan kiriku meraba paha kirinya dan memeknya bergantian dengan tangannya Lud. Istriku tak tahan terus menggeliat2 sambil tangan kirinya me-mijit kontolku dan tangan kanannya merogoh ke dalam celana santai nya Lud untuk memegang kontolnya. Adegan ini tak berlangsung lama hanya sekitar 5 menit, karena istriku tak tahan dan minta langsung ditancap dengan kontol memeknya. Lalu kita sama2 masuk kamar, aku lepas CD ku dan ternyata Lud hanya pakai celana santai saja tanpa CD sebab begitu dilorot celanya langsung nampak kontolnya . Walaupun belum hidup kontolnya cukup panjang kira2 ada 15 cm dan besar sekali dan kepalanya sudah nongol keluar karena dia disunat, tetapi kantong pelirnya agak kecil. Aku punya panjang dan besarnya hanya kira2 65 % nya saja. Istriku juga sudah bugil benar2 lalu dia ditarik Lud kehadapannya dan tubuhnya agak dirapatkan ke tubuh istriku jadi buah dadanya istriku yang menempel agak ketat dengan dadanya yang penuh bulu. Lalu Lud berpegang pada kedua lengan Hwa dan badannya di-geser2kan naik turun, ke kiri dan kanan sehinnga bulunya menggesek ke seluruh tubuh depan Hwa juga jembutnya kulihat sempat menggesek memek istriku, hingga istriku kenikmatan sambil memejamkan mata. Aku jadi syuur melihatnya."Addduuuh Lud, gila bener gesekan bulu atas bawahmu itu, tak tahan memek dan buah dadaku kena gesekannya" kata istriku. Selesai itu lalu Lud tidur dan istriku diminta menungging agak di bawahnya sehingga mulutnya pas depan kontolnya dan aku diminta mengerjakan memeknya dengan kontolku . Saat menungging kelihatan buah dadanya istriku menggantung bebas dan langsung saja ditangkap dengan kedua tangannya Lud dan terus di-remas2. Istriku tanpa komando langsung mencaplok kontolnya Lud yang mulai agak ngaceng dan mempermainkannya dengan mulut dan lidahnya. Lubang kontolnya di-buka2 dengan ujung lidahnya dan kadang2 dikocok naik turun dengan mulutnya sehingga Lud mengerang nikmat. Aku sendiri langsung ngaceng keras dan terus kuhujamkan maju mundur kememeknya. Mendapat dua kontol yang sekaligus mengisi lubang atas dan bawah apalagi yang satu gede buanget istriku tampak bernafsu sekali, nafasnya kelihat terus memburu sedang memeknya mulai keluar santannya dan kental sekali. Kulihat istriku kadang2 tak mengisap kontolnya Lud tapi memepetkan buah dadanya ke kontol Lud dan ditaruhnya dibelahan buah dadanya dan digosok2 dengan buah dadanya. Melihat itu lalu kupegang pantatnya istriku dan langsung kugoyangkan maju mundur sehingga sekaligus buah dadanya bisa menggosok2 kontolnya Lud dan memeknya mengocok kontolku. Praktis kami laki berdua diam hanya dengan goyangan pada pantatnya sudah sudah membuat nikamt kontol dua laki2 dan kulihat memeknya makin banyak dengan santan kental yang berwarna putih seperti susu. Aku bilang:"Waduuuh Lud, santannya Hwa mulai keluar dan kental sekali Lud". Langsung dia bilang :"Aku juga ngaceng banget kontolku di-sedot2 dan dipermainkan lubangnya oleh Hwa, ayo kita ganti posisi". Temanku usul supaya istriku jangan capai sebab masih terus akan dikerjakan semalam suntuk, maka istriku disuruh yang tidur tapi pantatnya di ujung bawah kasur hingga kakikanya bisa menapak ke lantai. Temanku nanti akan menancapkan memeknya dari bawah sambil memegang dan mementangkan kakinya istriku. Dan aku yang bertugas mengisi mulut atas dengan kontolku dengan jongkok tepat di atas buah dadanya sehingga kontolku tepat di hadapan mulutnya.
Kontolku juga langsung dicaplok oleh Hwa yang sudah memuncak nafsunya,baru beberapa saat Hwa melepas kontolku dan mengaduh :"Aaaachhh....Lud!" Aku melongok ke belakang ternyata Lud masih sibuk mau memasukkan kontolnya sebab belum bisa masuk, yaaah karena kelewat besar bendolan kepala kontolnya saat ngaceng banget itu kira2 ada 5 cm diameternya."Sulit banget An masuknya coba kuberi minyak sedikit dulu" katanya."Masak toch padahal sudah kemasukan kontolku dan sudah ada santannya lho" sahutku. Lalu temanku ambil batol kecil isi minyak dan diolesnya kepala kontolnya dengan minyak lalu dia mengambil semacam longsong dari karet dengan bagian dinding luarnya penuh bulu dari karet kira2 panjangnya 1 cm. Longsong itu lebarnya kira2 10 cm. Kemudian dipakaikan kekontolnya hingga batang kontolnya sebagian tertutup dengan longsong berbulu itu."Ini supaya Hwa mendapat kenikmatan yang lebih hebat. Mau coba ya Hwa?" katanya sambil ditunjukkan ke istriku kontolnya yang sudah gede dan panjang lagi item itu dilonsongi dengan gelang karet putih berbulu itu sehingga benar2 menakjubkan kelihatannya.Istriku bilang:"Waaaah kaya apa rasanya nanti Lud, aku belum bisa membayangkan. Tapi pokoknya habisi ya Lud air mani dan santanku!". "Oke" sahutnya. Lalu Lud mengangkat dan mementang lagi kaki istriku dan ujung kontolnya ditempelkan tepat dilubang memek istriku yang mulai mengganga itu dan disentakkan ke dalam."Aaaaaaacch ....Lud, masuk Lud kontolmu"kata istriku. memang kepala kontolnya Lud sudah masuk lalu di-goyang2-kan keluar masuk pelan2 kepala kontolnya supaya agak terbiasa. "Waduh Lud, Pi, rasanya seret sekali bibir memekku bisa meraskan bentuk kontolmu Lud" kata istriku sambil matanya terpejam dan menggigit bibir. Setelah itu baru dimasukkan seluruh batang kontolnya yang tertutup gelang bulu itu pelan2. Setealah terbenam semuanya, istriku mendesis lagi:"Aduh Pi, kontolnya Lud mentok sampai dalam kepalanya rasanya menyodok mulut rahimku. Enaknya luar biasa dan gelinya juga hebat kena gelang bulu itu. dengan kontol tetap terbenam penuh Lud mulai menggoyangkan pantatnya naik-turun bergantian dengan kiri-kanan, sehingga kontolnya menyapu seluruh dinding memek istriku. Tangan istriku mulai meremas kain sprei dan minta kontolku untuk diisapnya. Kontolku juga dipermainkan dengan lidah, lubangnya di-buka2 dengan lidah enaknya luar biasa. Aku sambil melihat ke belakang, kulihat kontolnya Lud mulai digoyangkan keluar masuk sehingga bulu karetnya menyentuh clitnya juga dan terlihat bulunya banyak santan istriku yang nempel.Setelah gampang masuk keluar kontolnya, maka kaki istriku disuruh membuka dengan telapak kakinya manjat dipinggir kasur sehingga tangannya Lud langsung meremas buah dada yang ada dibawah pantatku. Baru 3 menit jalan adegan ini, istriku sudah mengaduh:" Aaah..aaah, aku mau klimaks, Lud, Pi!". Benar2 juga sekejap lagi istriku tampak lemas sehingga mengisapnya kendor dan Lud berkata:"Gila An, pijitan memek istrimu kuat sekali di kontolku". Memang kalau klimaks istriku memeknya memijit kontol kuat dan enak rasanya. Setelah agak kuat, istriku bilang:"Pi, Lud tolong semprotkan semua manimu ya, aku sudah pengin hangatnya manimu sekalian" Aku tanya pada istriku:"Mi, gimana Mami nikmat dan puas keinginan Mami untuk merasakan 2 kontol sekaligus terlaksana?". "Ya Pi, Mami puas banget dan memang enaknya dan grengnya luar biasa sekaligus melihat, memegang dan menikmati 2 kontol, apalagi ada yang gede2. Mami jadi kepingin terus" sahutnya. Lalu Lud sudah mulai menggenjot lagi memek Hwa dengan kontolnya dan kontolku diisap lagi sambil dibantu dikocok dengan tangan. Setelah 5 menit lagi, istriku mencapai klimaks lagi. Lalu temanku bilang:"Ayo An, sekarang kita puaskan Hwa dengan semprotan mani secara berbarengan"
Lud mulai menggerakan lagi keluar masuk dan kadang memutar sehingga istriku sering menggelinjang tubuhnya dan kontolku mulai diisap lagi sambil kadang2 dikocok dengan tangan, sedang buah dada istriku tetap menjadi bagian dari tangannya Lud yang tak bosan2 meremas-remasnya. Makin lama Lud makin cepat dan makin keras menghunjamkan kontolnya ke memeknya Hwa dan mulai men-dengus2 seperti sapi. Melihat itu akan jadi memuncak nafsuku dengan kontol terus dikocok oleh istriku maka air maniku tak tertahan lagi....creet....creet....cret maniku nyemprot masuk kemulut istriku. Karena seminggu tak bersetubuh maka maniku banyak serta kental juga sehingga mulut istriku penuh dengan mani yang putih seperti cendol itu. Lalu kontolku kukeluarkan dari mulutnya dan mani yang masih menetes dari lubang kontolku ku geser2 kan kebibirnya istriku dan langsung ditelan semua maniku baru saja habis menelan maniku terdengar suara mengaduh dari temanku:"UUUUuuuuh.......uuuuuhhh......uuuuuhhhh" sambil menekankan kuat2 kontolnya yang terbenam itu kememek istriku. Dan tiap kali Lud mengaduh istrikupun ikut mengaduh:"Aaah Lud...aaaahh Lud...aaah Lud". Jadi rupanya tiap kali semprotan maninya Lud terasa sekali nikmatnya oleh istriku. Aku lalu rebah tidur sebelah istriku dan temanku juga langsang rebah menindihi tubuh istriku. Walaupun dengan napas yang masih memburu tanganya temanku tetap masih meremas buah dada nya Hwa. Kemudian tubuhnya Lud dipeluk erat oleh istruku dan kakinya pun dilipatkan erat2 kepantatnya Lud dengan maksud agar kontolnya jangan buru2 dicabut dari memeknya.Kira2 sampai 5 menit kita bertiga terdiam tanpa kata2 hanya dengan napas ter-sengal2, baru kemudian aku turun menuju kamar mandi untuk cuci dan ternyata Lud dengan merangkul istriku juga ikut kekamar mandi untuk cuci bersama. untuk mencuci kontol2 istriku yang bertugas karena kepunyaan Lud yang banyak berlepotan santan dan mani nya istriku naka kontolnya dia yang dicuci dulu. Kulihat dari memeknya Hwa meleleh sedikit mani yang keluar kepahanya dan kulihat bibir memeknya memerah. Istriku bilang:" Ya Pi bibir memeku merah ?. Itu gara2 kontolnya temanmu itu toch yang seretnya bukan main mulai dari bibir memek sampai dinding dalam memek seret terus, sehingga memekku bisa meraskan lekuk2 kontolnya Lud". "Tapi enak dan nikmat toch sayan ?" balas Lud. Istriku tertawa tanda setuju, sambil terus mencuci kontolnya Lud dan kemudian kontolku. Setelah itu giliran istriku memeknya mau dicuci oleh tamanku, istriku duduk dicloset dengan kaki terbuka lebar kemudian memeknya dicuci dan jari tengahnya dimasukkan pelan2 untuk mengambil mani yang menempel di dalam dan ternyata ada sedikit dan ditunjukkan keistriku. Istriku bilang:" Wah Pi,maninya Lud ngendon dalam memekku nih sebab tadi semprotannya banyak dan sampai tiga kali tapi yang keluar sedikit sekali. Mungkin masuk ke rahim sebab dalam perutku masih terasa hangat dan saat nyemprot ujung lobangnya benar2 disodokkan sampai rasanya masuk lubang rahimku. Gimana ya Pi?". "Biarin saja lama2 kan keluar sendiri, sekarang dikeluarkan percuma nanti malam kamu kan masih akan disemprot lagi". "Bukan malam ini saja mungkin sampai besok pagi akan kusemprotkan sampai habis maniku ke memekmu" sahut Lud. Istriku menjawab:"Betul Lud, kamu biar kembali ke rumah dengan tempat yang kosong jadi manimu 2 hari ini harus dihabiskan sampai tuntas". Setelah selesai cuci, kita bertiga dengan berbugil ria duduk disofa sambil makan mente nonton TV. Temanku berkata:"An kamu beruntung sekali punya istri dia, walaupun sudah setengah baya dan punya anak tapi buah dadanya masih berdiri menantang tidak jatuh, juga perut dan pahanya mulus sekali tidak keriput, siapa yang tak ngaceng terus lihat tubuh seindah ini. Apalagi isapannya juga yahut, kalau jadi istriku tiap hari bisa kusetubuhi minimum 2 kali! Istriku berbisik pdku:"Sudah kesampaian keinginanku untuk melayani nafsu birahi 2 laki2 sekaligus dan ternyata memang tambah besar nafsunya serta nikmatnyapun tambah. Oya Pi, malam ini aku tak tidur dengan Lud ya, aku akan melayani Lud untuk menyalurkan nafsu sexnya sepuas puasnya supaya tak kecewa kalau balik ke Jakarta" Aku jawab:" Boleh saja, Lud malam ini Hwa biar melayani kamu supaya kamu bisa melampiaskan semua nafsu binatangmu padanya". "Memang sejak aku makan di sate kambing, aku sudah minta supaya dia malam ini dan besok pagi melayani nafsu binatangku" kata Lud.
Kemudian istriku minta tiduran, kepalanya di pangkuan Lud sedang pahanya di pangkuanku sambil tangannya me-megang2 kontol Lud digosokan ke pipinya dan diciuminya. Tangan Lud diletakan di buah dada istriku sambil mengusap, meremas dan kadang menunduk untuk mengecup bibir istriku. Dia kalau mengecup sampai lama hingga istriku sampai sulit bernapas dan minta dilepas kecupannya. Sedang bagianku adalah mempermainkan clitnya dan memasukkan jari tengahku ke dalam lubangnya dan kontolku sambil di-gesek2 dengan betisnya. Lud kadang2 memeluk tubuh istriku dan kemudian menciumi pipi dan mengecup kening dan bibirnya istriku dan tangannya istrikupun meng-usap2 dadanya yang berbulu itu. Kemudian Lud berkata padaku:"An, sebenarnya aku sudah lama tiap kali bertemu dengan Hwa, aku kepingin menikmati tubuhnya dan malam jadi kenyataan. Untuk itu malam ini istrimu kupinjam untuk menemani tidur sebab aku akan melampiaskan seluruh nafsu binatangku oada Hwa dan kontolku akan kusimpan dalam memeknya sepanjang malam. Aku akan memberikan kenikmatan dan kepuasan yang tak terkira pada Hwa ". " Boleh Lud, malam ini istriku biar melayanimu agar kamu benar2 puas" sahutku. "Tapi kalau nanti malam Papi butuh ya Papi ikut masuk saja sebab Mami tetap akan melayani Papi juga malam ini, untuk itu nanti pintu kamarnya biar terbuka saja jadi Papi dapat lihat dan dapat masuk ikut juga" kata istriku. Setelah itu Lud tanya pada istriku:"Apakah kamu sudah fit lagi untuk main?". Istriku menjawab:"Aku selalu siap setiap saat untuk melayani mu dan Papi. Malam ini aku benar2 sehat makin mendapat semprotan mani makin sehat rasanya, sebab manimu tadi yang keluar hanya sedikit lainnya masih berada di dalam rasanya masih hangat di dalam perutku, Lud". Setelah itu Lud berdiri sambil membopong istriku dibawa masuk kekamar dan ditidurkannya. Lud memanggilku untuk menemani istriku dulu karena dia akan ketoilet dulu, kesempatan itu aku pakai untuk mencium dan mengecup bibirnya dan mengulangi pesanku:"Mi jangan lupa kalau maninya lUd disemprotkan ke dalam mulut hati2 jangan sampai tertelan dan jangan mau kalau kontolnya di masukkan ke dalam lubang anusmu !". "Iya Pi, akan aku ingat terus pesan Papi" sahut istriku. "Selamat menikmati kontol Lud yang gede ya Mi, nanti Papi dikasih ceritanya ya" kataku saat itu Lud sudah balik masuk kamar dsn aku duduk lagi ruang tv sambil nonton juga mau nonton adegan permainan Lud dengan istriku karena pintu kamarnya terbuka.
Lud naik ke tempat tidur dengan posisi di atas istriku, kemudian dadanya yang penuh bulu di-gesek2-an ke buah dadanya istriku sehingga istriku menggelinjang kegelian dan terus digesekkan ke bawah yaitu perut, dan memeknya. Setelah itu Lud naik lagi lalu mulai menciumni kening hidung dan pipi dari istriku lalu mencium telinga istriku dengan mengeluarkan lidahnya untuk mengorek lubang telinga istriku sampai istriku meronta karena geli dan tangannya istriku segera meraih kontolnya yang selama ini mengelantung dan ujungnya gesek2 paha istriku. segera di-pijit2 nya kontol Lud dan kadang2 dikocok juga serta kantung buah pelirnya di-remas2 juga. Hal itu membuat Lud lebih ganas dia segera mencucupi puting buah dada istriku sambil tanganya me-remas2 buah dadanya dengan harapan ada air susunya yang keluar. Tapi walaupun buah dada istriku montok tak keluar air susunya kalau diperas. Kontolnya dipermainkan oleh istriku tampak ngaceng dan panjang banget, lalu Lud mengambil posisi gaya 69, hingga mulutnya pas di memek dan kontolnya tepat diwajah istriku. Keduanya yang langsung beraksi, kontolnya yang gede segera dijilati dan dilumat dengan lidah seluruh bagian kepalanya yang nampal gempelo besar itu sambil batang kontolnya di-pijit terus oleh istriku dan dia terus mencucup clit dan lubang memek istriku. + 10 menit adegan ini lalu ganti Lud yang tidut dan istriku yang duduk di atas kontolnya tepat dengan memeknya. Kepala kontolnya dimasukkan ke dalam memek istriku lalu mulai diputar pantatnya sehingga kontolnya berputar dengan dipegang bibir memek istriku sedang tangannya Lud tetap meremas buah dadanya irtriku. Kira2 sdh 10 menit lewat maninya Lud tetap blm nyemprot dan istriku juga belum klimaks lalu oleh istriku mulai digoyang naik turun pantatnya kadang 2 pelan2 kadang2 cepat sehingga kontolnya kelusr masuk memek seperti dikocok dengan memek. dengan posisi ini baru 5 menit istriku klimaks dan dia diam terduduk diatas kontolnya Lud dengan memeknya memijit kontol. Setelah fit lagi gigoyang lagi sampai klimaks lagi istriku. Akhirnya istriku menarik Lud untuk duduk dan istriku tetap dudul dikontolnya dan kakinya diselonjorkan diantara tubuhnya Lud. Lalu Lud yang ganti menggoyankan pantatnya istriku maju mundur sambil kadang2 istriku ditidurkan kebelakang dan Lud tetap mendekapnya. dalam waktu 15 menit dengan posisi ini istriku sudah mengerang karena klimaks sampai 2 kali. Puas dengan posisi ini ganti istriku ditelentangkan lalu Lud menindihi istriku setelah kontolnya dimasukan semuanya kememek istriku, lalu pantatnya digoyang memutar sehingga jembutnya menggesek clit dan seluruh memek istriku dan kontolnya memutar didalam lubang memek sehingga istriku menggelinjang lagi dengan tangannya menarik lepas sprei sedangkan mau mengerang sulit karena bibirnya dikecup kuat2 oleh Lud. Yaah menonton itu kontolku jadi ngaceng terus sampai kemeng rasanya, dan adegan ini berjalan cukup lama sampai kira 10 menit lebih. Dan dalam waktu 10 menit itu paling tidak istriku sdh mencapai klimaks sampai 2 kali. Setelah itu kakinya kekar itu keduanya ditumpangkan kekedua kaki istriku yang ramping dan indah itu lalu pantatnya yang digoyangkan naik turun hingga kontolnya ikut juga. dengan posisi ini kontolnya betul2 kecepit dengan bibir memek istriku sedhingga gesekannya betul2 terasa dimemek istriku sampai istriku berulang kali menelan air liurnya dan geleng2 kepala saat klimaks. Lud minta ganti posisi lagi, sekarang dia agak mengangkat pantatnya dan ganti istriku yang harus menggoyankan pantatnya memutar hingga kontolnya Lud diputar dengan memeknya istriku. Kira2 5 menit lewat masih belum lepas juga maninya, padahal kalau aku yang diputar kontolnya oleh istriku 5 menit langsung muncrat maniku, akhirnya malah istriku sendiri yang klimaks lagi. "Aduuh Lud...aduh Lud....nikmatnya luar biasa aku sudah tak kuat menahannya lagi semprotkan manimu Lud" pinta istriku. Baru kemudian posisi istriku ditarik kebawah sehingga pantatnya dipinggir kasur, kemudian Lud turun dan kaki istriku diminta mentang lebar2 dan diangkat tinggi lalu Lud mrnancapkan kontolnya dari bawah dengan sedikit membungkuk agar tanganya bisa meremas buah dadanya. Lalu mulailah ditembaknya memek istriku dengan kontolnya, pertama muali pelan2 lalu tambah lama tambah keras dan cepat nembaknya sampai tiap kali ditekan pantat istriku terpental naik. Untuk itu terpaksa tangannya melepas buah dada istriku dan memegang pinggangnya supaya kalau ditembak keras memeknya pantatnya tak naik tapi kontolnya yang deras menghunjam masuk menerobos sampai mulut rahim istriku."Aduuh Lud...aduh Lud...enak banget kontolmu Lud, tapi aku tak kuat nahan nikmatnya Lud...aku butuh manimu Lud dan kontolmu sudah makin hangat Lud" teriak istriku. Akhirnya "Huuuuh" desis Lud dan cruttt maninya muncrat, "Huuuh" desis Lud lagi dan cruttt maninya muncrat lagi dan tiap kali maninya muncrat istriku mengerang:"Aaach...sseeett!". Setelah itu Lud tengkurap ditubuh istriku, "Lud tubuhku hangat rasanya kena semprotan manimu"kata istriku. Kemudian tubuh istriku diangkat naik dan Lud segera tidur disebelahnya dengan memeluk istriku dan kontolnya yang masih ngaceng itu dimasukan lagi ke dalam memek istriku dan kemudian kedua tubuh yang bugil itu diselimuti. Melihat itu walaupun kantolku ngaceng aku tak ikut masuk sebab kupikir istriku capai apalagi memeknya masih disumpal dengan kontolnya Lud, jadi terpaksa aku masuk kamar dan tidur. Suatu saat aku terbangun karena terasa kontolku di-pijit2 dan ketika membuka mata ternyata istriku dengan masih dibopong dimuka berpelukan oleh Lud tangannya istriku me-mijit2 kontolku. Ketika aku bangun, istriku bilang:"Ayo Oi jangan tidur saja Mami mau disemprot mani lagi berdua berbarengan" . Eeeh ternyata pikiranku tadi meleset, kukira istriku yang lemah lembut itu sdh capai tadi ternyata masih ingin dikerjain berdua lagi. Aku lihat ternyata memek istriku tetap didongkrak dengan kontolnya Lud, jam saat itu sdh jam 1 tengah malam jadi aku sdh tidur dua jam. Kemudian istriku ditidurkan dibawahku dan langsung Lud mulai menembak memeknya istriku dengan kontolnya yang gede itu dan aku terpaksa bangun mendekatkan kontolku kemulutnya istriku untuk diisap. Kontolku terus dijilati disedot lubangnya sambil kantong pelirku di-remas2 dan rambut bawah kantong pelirku di-tarik2 juga pinggiran lubang anusku di-elus2 dengan jarinya hingga aku terus bernafsu dan ngaceng lagi. Memang kalau kita main bertiga ini tambah terangsang demikian juga Lud yang menembakkan kontolnya makin seru dan nafasnya mulai ngos2-an dan crot...crot...crot maninya muncrat ke dalam memenkya istriku, aku lihat itu tak tahan juga langsung maniku kulepaskan juga dan memenuhi mulut istriku dan setelah ditelan mulutnya dibuka ditunjukan pdku kalau maniku sdh habis masuk.Dan Lud pun lalu menelunkup diatas istriku untuk istirahat, tapi mulutnya masih sempat isap2 pentil istriku. Lalu dia bilang:"Waaah pi,maninya Lud rupanya masuk terus ke dalam rahimku sebab tiap nyemprot tak pernah keluar lagi, apa karena memekku disumpal terus dengan kontolnya Lud ya pi?, sebab biasanya kalau punya Papi paling 1 jam sdh mengalir keluar lagi walupun nyemprotnya keras banget.". Blm sempat aku jawab, Lud bilang:"Gila, istrimu itu minta disumpal terus memeknya, pokoknya kontolku malam ini tak boleh lepas dari memeknya"."Nggak pi, Lud yang minta dulu supaya kontolnya dipendam semalam suntuk dalam memeku, dan aku setuju" jawab istriku."Kontolnya terasa hangat terus dimemekku, dan kalau mulai tegang terasa mulai goyang2 dan makin keras yang nyodok2-nya pi, kalau tidur walaupun sudah tidur pula kontolnya tetapi kepala kontolnya tetap nyantol di bibir memekku jadi tak mau lepas seperti papi punya biasanya lepas sendiri kalau tidur."kata istriku. Setelah fit kembali istriku dibopong lagi dengan masih disodok memeknya dengan kontolnya dan dibawa balik kekamar depan dan aku pun tertidur lagi karena ngantuk. Seperti biasa aku selalu bangun jam 4.30 pagi selain kebiasaan kadang2 kontolku ngaceng sendiri jam2 itu. Pagi itu kontolku juga ngaceng lalu aku bangun dengan maksud mauk naik istriku, aku masuk keamarnya ternyata istriku masih tidur berpelukan dengan Lud sgn tubuh diselimuti. Aku coba mendekat kepala istriku dan ku-belai2 pipinya dan istriku terbangun. Aku bilang:"Kontolku ngaceng ini yo tak semprotkan ke memekmu". Istriku berbisik:"Aduuuh pi, kontolnya Lud masih menancap terus dalam memekku kalau tak ditarik tak bisa lepas sebab nyantol kepalanya, Papi tak isap saja ya kontolnya?" "Oke" sahutku. Lalu istriku mnengadah dan kudekatkan kontolku supaya bisa masuk ke mulutnya, lalu kukocok sendiri kontolku dan ku-gosok2-an kepalanya kebibirnya dan kadang2 kumasukkan dlm2 ke mulutnya. Karena sudah cukup lama ngacengnya tak lama hanya 5 menit maniku sudah muncrat lagi ke dalam mulutnya istriku dan kemudian seluruh bagian kepala kontolku dijilati untuk membersihkan maniku dan setelah itu baru ditelan semua maniku. Aku bertanya:" Mami tidak nelan maninya Lud toch dan tak dimasuki lubang anusnya juga ya?". "Tidak pie, semua maninya Lud masuk ke dalam memekku dan sampai sekarang belum keluar sehingga rasanya ada sesuatu barang dalam peerut yang hangat!. Lalu Lud hanya mencabut kontolnya kalau minta diisap setelah itu dimasukkan kembali kememekku" jawab istriku. Aku kecup bibirnya dan aku bisiki:"Baik2 ya mi, semoga dpt kenikmatan lagi!",lalu aku keluar kamar dantiduran lagi. Aku terbangun lagi pk 6 pagi langsung aku pergi mandi dan kemudian duduk di sofa nonton tv, ternyata rupanya istriku baru saja diajak bersetubuh lagi oleh Lud, karena baru saja berada diatas istriku kemudian tidur lagi dengan berangkulan lagi. Karena bosan lihat tv lalu aku pergi keluar untuk lihat pemadangan alam dan jalan2 ditaman. Kira1 sejam kemudian aku balik kemotel dan aku lihat kamarnya sdh kosong rupanya mereka mandi berdua. Aku masuk kamar dan melihat ditempat tidur ada gelang karet berbulu yang dipakai dan ada cincin dari bulu buntut kuda. Aku nonton tv lagi, rupanya lama sekali mereka mandi aku coba mendekat kepintu kamar mandi dan menempelkan kupingku dipintu,oh ternyata mereka main lagi dalam km. mandi sebab terdengar rintihan istriku:"Aduuuh Lud...aduuh Lud...enaknya kontolmu Lud ...nikmat banget Lud rasanya". Kemudian suaranya Lud:"Aaaach...Hwa, memekmu juga nikmat...aku kangen terus dengan memek dan payu dara..mu yang kenyal ini Hwa!". Aku balik nonton tv lagi jadinya, kira 30 menit lagi mereka keluar dari kamar mandi dengan masing2 berbalut handuk tubuhnya dan sekarang sdh pisah tidak nyantol lagi kontolnya dimemek istriku. Merka masuk kamar dan ganti pakaian, aku lihat istriku pakai celana dalam mini merahnya dan pakai bra mini merahnya juga, lalu pakai rok bawah mini hitam dan kaos strip hitam putih tapi pendek jadi hanya sampai bawah bra saja, jadi perutnya yang langsing putih agak kelihatan dari luar. Melihat istriku pakai kaos agak ketat, Lud bilang:"Hwa, kamu jangan pakai bra saj lebih bagus karena kaosmu ketat" Istriku pertama menolak :"Aaah katanya mau keluar makan dan nanti mau pulang segala nggak enak kalau tak pakai BH" Lud bilang:"Kita kan hanya makan direstoran sini saja blm pulang, sebab nanti aku masih mau main lagi Hwa". Jadi terpaksa istriku menurut dengan melepas lagi BH mininya. Eeeehhhh ternyata betul juga pendapat Lud, sebab tanpa BH pun ternyata buah dada istriku tetap tegak menantang hanya bedanya putingnya agak nampak jelas dari kaosnya dan kalau jalan keihatan sedikit ber-goyang2 buah dadanya. Setelah semua siap kami pergi makan kerestoran hotel pk. 8.15, disana kita lihat ada 2 pasangan lagi rupanya juga bermalam dihotel itu sebab yang cewek ada yang masih pakai pakaian tidur segala. Selesai makan kita jalan2 ditaman sebentar sambil ngobrol2 lalu balik kemotel dan duduk untuk non tv. Baru beberapa menit perutku terasa sakit terpaksa aku ke kamar mandi untuk beol. Selesai beol aku mau nonton tv lagi, ternyata mereka berdua sdh tak ada dan masuk kamar lagi. Aku melihat istriku sdh tak mengenakan kaos lagi tapi sedang memakai bh mininya, sedang Lud sedang melepas celana dan kemudian bajunya lalu dia menarik istriku dan ditidurkannya keranjang lalu ditindihinya lagi istriku, yaaah rupanya mau main lagi mereka. Ternyata benar, rok mini istriku dilepasnya lalu CD mininya disingkap kepinggir pangkal paha lalu kontolnya dikeluarkan dari CD nya dan dimasukkan kememeknya istriku. Jadi Lud main dengan masih pakai CD dan istriku pakai BH dan CD mini. Karena bra nya mini otomatis payu daranya istriku mencuat keluar ketika kena remasan tangannya Lud sambil pantatnya terus menggenjot naik turun terus dengan cepatnya. Kira hampir 10 menit terdengar istriku berteriak:"Aduuuh Lud, hangatnya manimu....lepaskan semua manimu Lud!", karena seblmnya istriku cuma mendesis terus kenikmatan. Nampak sesaat lagi Lud jatuh menelukup diatas istriku. Karena sudah hampir jam 10 aku bangunin mereka sebab Lud hrs berangkat pulang dengan pesawat jam 11. Aku selesaikan semua rekening hotel sementar mereka berpakaian lagi. Kita langsung menuju airport tepat sampai airport pk 10.30. lalu kita ngomong sebentar dan Lud usul ps istriku kalau lain kali kita main berempat bagaimana, pertama istriku keberatan sebab aku tak boleh main dengan wanita lain. Tapi Lud menjelaskan kalau wanita itu adalah keponaannya sendiri yang kerja jadi sekretarinya dan kadang2 melayani tamu2-nya yang membutuhkan hiburan. Jadi pasti bersih dan usianya masih muda baru 19 th, cukup sexy hanya buah dadanya agak sedikit lebih kecil dari istriku. Kalau istrinya dia pasti kurang rame karena agak kerempeng dan tidak ceria, jadi aku dikhawatirkan tak bisa ngaceng. "Jadi bisa rame Hwa, kita main 2 pasang dalam satu kamar pasti hot" katanya Lud. Akhirnya istriku setuju kapan2 main berempat, tiba2 istriku pergi lari2 kekamar mandi. Setelah pulang dari kamar mandi, aku tanya :"Ada apa". Dia jawab sambil menunjukkan CD mini nya yang digenggam:"Waaah, mainya Lud mulai keluar CD sampai basah dan lengket jadi tak enak dipakai. Mungkin rok ku juga basah belakangnya". Ternyata betul bagian bawah memeknya basah, karena Lud sdh hampir check in lalu kami berdua langsung pamit pulang dulu setelah dikecup bibirnya oleh Lud. Kami segera menuju mobil dan jok tempat istriku duduk dilembari dengan kertas koran, hampir sampai dirumah istriku mengeluh lagi :"Aduh pie, maninya keluar lagi rasanya basah dan lengket semua pahaku. Cepat dikit pi". Aku kebut terus dan sampai dirumah mobil kuparkir tepi jalan dan istriku turun pencet bel, setelah dibuka oleh pembantuku dan segera istriku masuk kekamar utama kita dan masuk kekamar mandi dalam tanpa ditutup pintunya. Karena anakku sedang tidur dikamarnya, aku lansung masuk kamar utamaku, aku lihat istriku lagi melepas rok mininya lalu duduk dicloset. Lihat aku datang, istriku bilang:"Papi sini lho, lihat pie pahaku kena cendol maninya Lud dan itu keluar terus banyak". Aku lihat pahanya istriku dan jembutnya basah kena mani dan dari lubang vaginanya kelusr jatuh maninya Lud yang seperti cendol itu, melihat itu aku malah jadi nafsu kontolku jadi ngaceng terpaksa aku melepas semua pakaianku. "Papi pasti ngaceng toch kalau lihat vaginaku berlepotan mani begini"kaata istriku sambil mulai memegang kontolku. Lalu aku tarik lepas kaosnya istriku."BH nya jangan dulu ya supaya Papi lebih terangsang kalau Papi mainan payu dara Mamie' kata istriku. Istriku bilang kalau tadi malam sampai pagi tadi dia disemprot maninya Lud sampai 7 kali, yaitu jam 8 malam saat bareng dengan saya, jam 11 malam saat main saya nonton, jam 1 tengah malam waktu main dikamar saya, jam 3 fajar waktu kontolnya Lud ngaceng sendiri, jam 6 pagi sehabis saya nyemprot kemulutnya, jam 8 pagi saat dalam kamar mandi dan jam 10 pagi waktu mau pulang."Hebatnya Lud itu sejak dari awal sampai yang terakhir semprotannya keras terus dan kental serta hangatnya dan banyaknya sama, maka dari itu rasanya penuh dalam perutku tadi sampai suatu saat aku tekan perutku dan mulai keluar terus maninya"kata istriku."Mie kalau sdh habis cuci dulu vaginanya, aku sdh nggak tahan nih". Istriku buru2 mencucinya dan mengeringkan dengan handuk, lalu aku angkat dia an kuletakkan diatas tempat tidur, Tanpa tunggu macam2 aku segera naiki istriku dan kutancapkan kontolku kevaginanya. "Waaah mie, memekmu masih seret juga buat kontolku, aku kira jadi longgar kemasukkan kontol gedenya Lud" kataku. Istriku lalu cerita:"Waktu kontolnyaLud ditanam semalam suntuk dalam memekku, begitu mulai kurang ngacengnya memekku kumulai renggangkan sehingga sampai kepalanya saja yang nyantol dibibir vaginaku dengan maksud supaya jangan sampai longgar liangnya. Apalagi Lud selalu pakai cincin bulu kuda itu kalau di dalam banget gelirasanya kalau goyang sedikit, kalau diluar kurang gelnya sebab yang kena cuma bibir vagina saja. Kalau mainnya Papi dan Lud sama saja, hanya Lud kalau sdh nafsu banget agak kasar mainnya lain dengan appie tetap semangat tapi mesra. Hanya Papi punya kalah besar dan panjangnya saja, tapi Mami mau belikan alat yang bisa buat memperbesar dan memperpanjang kontol, tiap pagi nanti Mami yang melakukannya supaya punya Papi bisa jadi panjang dan besar. Memang saat Lud mau nyemprot Mami selalu tekan pantatnya memie keatas supaya kontolnya bisa ambles masuk semua sebab kalau nyemprotnya di dalam rasanya hangat enak dan nikmat.Papi punya kalu nyemprotnya keras dan kebetulan maninya agak encer juga bisa langsung kena mulut rahimku jadi hangatnya enak pie". "Pie ini lho selain leher buah dadaku juga dicupang oleh Lud, tapi nanti Mami gosok dengan minyak kayu putih supaya cepat hilang" kata istiku sambil melihatkan buah dadanya yang dicupang. Mendengar cerita istriku itu aku makin menggebu angkat turunnya pantat dan segera hak BH istriku yang terletak dibagian depan itu kubuka hingga buah dadanya yang makin kencang itu tak tertutup lagi yang sebelah kuremas dan yang sebelah kukecupi dan ku-gigit2 putingnya."Aduuuuh pie, nikmat banget pie, aku sdh kangen dengan kontolnya Papi sejak Papi minta tadi malam, masih seret ya pie, aku masih merasakan seret gesekan kontolnya Papi. Pie mau keluar ya...?kok sudah anget banget kontolnya" kata istriku. Benar juga tak lama lagi creeett....creeettt, maniku nyemprot."Waaah...maninya Papi nyemprot kedlm, sebab semprotannya keras tapi agak encer.Bisa jadi satu dengan Lud punya nih!" kata istriku. Karena capai kami berdua tiduran tapi akhirnya tertidur juga. Sekian dulu, nanti akan kusambung lagi.
Wiwin
Wiwin, kukenal nama itu lewat chatting di internet. Ku ketahui dia berasal dari kota P di Jawa Tengah sana.
Kami sering ber-chatting ria. Wiwin, memang selalu enak untuk diajak diskusi. Hampir dalam segala hal, dia tahu. Setahun yang lalu, dia pindah ke kota B di daerah Jawa Barat. Karena jarak yang cukup dekat denganku, akhirnya kami berjanji untuk saling bertemu di daerah K di Jakarta. Dari pertemuan itu aku mengenal Wiwin lebih jauh.
Wiwin kuliah di salah satu universitas terkemuka di kotanya.
Wiwin secara fisik biasa saja. Ukuran badannya kira-kira setinggi 160 cm. Tubuh agak bungkuk udang, memiliki rambut panjang terurai. Namun ada yang menarik dari penampilannya, payudaranya! Payudaranya terlihat unik dan menantang. Aku hanya menelan ludahku bila tanpa sengaja mengintip bagian yang menggunung itu.
Wiwin memintaku untuk mengangkatnya sebagai "adik", sedangkan aku diangkatnya sebagai "abang"! Karena dia bilang, Wiwin tidak memiliki kakak. Aku setuju-setuju saja.
Pertemuan kedua dan selanjutnya kami semakin 'terbuka'. Aku-pun sudah 'diizinkan' untuk memegang payudaranya yang unik itu. Hanya saja dia bilang "dasar, abang nakal!!" aku hanya tersenyum...
Kalau sudah dibilangin begitu, maka akupun kadang lebih berani lagi. Tanganku menjelajah ke daerah terlarangnya....

Seminggu yang lalu aku menjenguknya di daerah P. Walau dengan mengendarai motor bututku, aku sampai juga ke rumahnya setelah berjalan selama beberapa jam dari rumahku.
Kulihat kegembiraan yang amat sangat, saat dia tahu bahwa aku yang datang. Memang sudah dua bulan aku tidak main ke rumahnya. Dia sudah kangen, tampaknya... Pada saat membukakan pintu Wiwin memakai daster putih, Terlihat cukup jelas, pepayanya yang unik menerawang dari balik sangkarnya. Wiwin menyilahkanku duduk dan berbalik sebentar ke dapur untuk kemudian kembali lagi dengan membawakanku segelas minuman dingin.

Setelah ngobrol ngalor ngidul. Wiwin menyandarkan wajahnya ke dadaku...
Aku menyambut dengan tenang. Karena memang tujuanku ingin mencoba menuntaskan hasratku yang ada selama ini, dengannya. Kutundukkan mukaku untuk menjangkaunya. Aku menciumnya. Kususuri dengan bibirku.
Dari kening, ciumanku turun ke alis matanya yang hitam lebat teratur, ke hidung dan sampai ke bibirnya. Ciuman kami semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tanganku yang tadinya memeluk punggungnya, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudaranya yang cukup besar dan unik. Unik karena bentuk payudaranya yang memanjang dan besar, mirip dengan buah pepaya. 'Adikku' ini pintar juga memilih daster yang berkancing di depan dan hanya 4 buah, mudah bagi tanganku untuk membukanya tanpa harus melihat. Tidak lama kemudian kaitan BH-nya berhasil dilepaskan oleh tanganku yang sudah cukup terlatih ini. Kedua bukit kembar dengan puncaknya yang coklat kemerahan tersembul dengan sangat indah. Daster dan BH itupun segera terlempar ke lantai.

Sementara itu, Wiwin juga telah berhasil membuka kancing celana jeanku, lalu berusaha melepas t-shirt yang aku pakai. Aku tetap menjaga agar Wiwin tidak memelorotkan celana jeanku. Bukan apa-apa, ini kan di rental komputernya? hehehe...

Kulepaskan ciumanku dari bibirnya, menjalar ke arah telinga, lalu desahkan erangan-erangan lembut. Dia tersenyum dan menatapku sambil terus melanjutkan pengembaraannya menelusuri 'senjataku'. Kulanjutkan ciumanku ke lehernya, turun ke dadanya, lalu dengan amat perlahan, dengan lidah kudaki bukit indah itu sampai ke puncaknya. Kujilati dan kukulum puting susunya yang sudah mengacung keras. Wiwin mulai mendesah dan meracau tidak jelas. Sempat kulihat matanya terpejam dan bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh merangsang. Tanganku mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit satunya lagi. Aku tidak ingin buru-buru, aku ingin menikmati detik demi detik yang indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya, diselingi dengan ciuman ke bibirnya lagi, membuatnya mulai berkeringat. Tangannya semakin liar mengacak-acak rambutku, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambaknya, yang membuat nafsuku semakin bergelora. Apalagi suaranya yang meracau itu....

Dengan berbaring menyamping berhadapan, kulepaskan celana dalamnya. Satu-satunya kain yang masih tersisa. Perlakuan yang sama kuterima darinya, Wiwin melepaskan celana jeanku. Aku tidak menolak, sebab akupun ingin menuntaskan semuanya. Wiwin dengan bersemangat mengocok 'sang pusakaku' itu, membuat semakin mengeras dan mengacung gagah. Kubelai kakinya sejauh tanganku bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu yang tidak terlalu lebat tapi terawat teratur. Sementara Wiwin rupanya sudah tidak sabar, dibelai dan digenggamnya kemaluanku, digerakkan tangannya maju mundur. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering kurasakan dalam kencan-kencan liar kami selama beberapa saat sejak aku berkenalan dengan Wiwin, tetapi kali ini rasanya lain. Pikiran dan konsentrasiku tidak lagi terpecah.

Melalui paha sebelah dalam, perlahan tanganku naik ke atas, menuju ke kemaluannya. Begitu tersentuh, desahan nafasnya semakin keras, dan semakin memburu. Perlahan kubelai rambut kemaluannya, lalu jari tengahku mulai menguak ke tengah. Kubelai dan kuputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang sudah sangat licin dan basah. Tubuh Wiwin mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringatnya semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi. Ciumannya semakin ganas, dan mulai menggigit lidahku yang masih berada dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin ganas bermain di kemaluanku, maju-mundur dengan cepat. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang. Orgasme yang pertama telah berhasil kupersembahkan untuknya. Dipeluknya aku dengan keras sambil berbisik, "Ohhh, nikmat sekali. terima kasih sayang."

Aku tidak ingin istirahat berlama-lama. Segera kutindih tubuhnya, lalu dengan perlahan kuciumi dia dari kening, ke bawah, ke bawah, dan terus ke bawah. Deru nafasnya kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidahku mulai menguak kewanitaannya. Cairan vagina ditambah dengan air liurku membuat lubang hangat itu semakin basah. Kumainkan klitorisnya dengan lidah, sambil kedua tanganku meremas-remas pantatnya yang padat berisi. Tangannya kembali mengacak-acak rambutku, dan sesekali kukunya yang tidak terlalu panjang menancap di kepalaku. Ngilu tapi nikmat rasanya. Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang amat sangat. Perutnya terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya memelukku dengan kuat.

Beberapa saat kemudian, ditariknya kepalaku, kemudian diciumnya aku dengan gemas. Kutatap matanya dalam-dalam sambil meminta ijin dalam hati untuk memasukkan pusakaku ke liang kenikmatannya. Tanpa kata, tetapi sampai juga rupanya. Sambil tersenyum sangat manis, dianggukkannya kepalanya.

Perlahan, dengan tangan kuarahkan kemaluanku menuju ke kewanitaannya. Kugosok-gosok sedikit, kemudian dengan amat perlahan, kutekan dan kudorong masuk. Terasa sekali kalau daerah terlarang itu sudah basah dan mengeluarkan banyak cairan. Kudorong perlahan... dan terasa ada yang menahan tongkat pusakaku. Wow...! Wiwin ini masih perawan rupanya. Kulihat dia meringis, mungkin kesakitan, tangannya tanpa kusangka mendorong bahuku sehingga tubuhku terdorong ke bawah. Kulihat ada air mata meleleh di sudut matanya. Aku tidak tega, aku kasihan! Kupeluk dan kuciumi dia. Hilang sudah nafsuku saat itu juga.

Wiwin tahum aku kecewa. Karena itu dia cepat mendekapku. Dan tiba-tiba dengan ganasnya, dia melumat dan mengulum senjataku yang mulai mengendur.
"Argh... " aku mendesis...! Ternyata sedotan demi sedotan dari Wiwin mendatangkan kenikmatan yang luar biasa...
Aku membiarkan saja, apa yang dilakukan Wiwin. Kulihat Wiwin dengan rakusnya telah melahap dan mengulum kemaluanku yang sudah kembali membesar dan sangat keras. Nikmat tiada tara. Tapi, aku kesulitan untuk melakukan oral terhadapnya dalam posisi seperti ini. Jadi kuminta dia telentang di tempat tidur, aku naik ke atas tubuhnya, tetap dalam posisi terbalik. Aku pernah beberapa kali melakukan hal yang sama dulu, tetapi rasa yang ditimbulkan jauh berbeda. Hampir bobol pertahananku menerima jilatan dan elusan lidahnya yang hangat dan kasar itu. Apalagi bila dia memasukkan kemaluanku ke mulutnya seperti akan menelannya, kemudian bergumam. Getaran pita suaranya seakan menggelitik ujung kemaluanku. Bukan main nikmatnya.
Larva panas hampir tidak tertahankan lagi, aku memberi isyarat padanya untuk menghentikan emutannya...

* Wiwin, bila kau baca. Ini adalah cerita tentang kita. Walau kau anggap aku abang dan aku menganggapmu gadis mungil yang nakal, tetapi dalam banyak hal kita bisa saling berbagi...*

Nikmatnya Asmara
Bunyi nada HPku berbunyi saat aku sedang tidur-tiduran di kamar kost-ku. Kulihat sebuah nama, Mira!
Hmm... aku jadi teringat dengan pemilik nama itu. Seorang gadis mungil yang aku kenal dua tahun yang lalu. Aku mengenalnya karena kesalahan nomor telepon yang aku putar.
"Halo..." Aku menjawab.
"Halo, Gala ya?" Mira seperti ragu dengan suaraku.
"iya, kenapa Mir?"
"La, ke rumah ya?! Aku ada perlu nih..."
Wah, kebetulan nih, fikirku. Aku lagi bete, seharian tidur-tiduran doang di kamarku yang sempit.
"Ok...! Aku kesana. Sekarang?" jawabku.
"lah, iya lah, masak bulan depan, sih...?" kata-kata Mira terdengar merajuk.
"Ok deh... aku meluncur ya.?"
"Ok, bai..."
"bai..."

Satu jam kemudian ( di rumah Mira, di Perumahan xxx Indah di Kota T )
"Ada apa, Mir? Kayaknya ada perlu banget..." Tanyaku setelah aku duduk dan minum juz jeruk yang dia sediakan. Oh iya, sebagai tambahan, Mira ini profesinya adalah pembantu di rumah itu. Terlahir dari dari keluarga sederhana di daerah Kabupaten SK di selatan sana. Dia sudah tiga tahun ikut menjadi pembantu di rumah itu. Pemilik rumah, adalah orang Manado dan Bandung. Tapi, masing-masing jarang pulang, karena pekerjaan mereka.
"Aku bete La... Kamu mau kan nemanin aku?" Jawabnya Mira.
Ow ow....!
Aku tersenyum. Berarti, aku bisa nyetor nih... bathinku. :)
"Mau dong! Kalo nggak, tentu aku nggak ke sini, iya kan?"
Mira tidak menjawab, hanya menyunggingkan senyumannya padaku.
Sejenak aku memperhatikan Mira.
Mira bodi-nya biasa saja. Tinggi kira-kira 150 cm, perawakan sedang. Payudaranya cukup membusung, kekar! dengan ukuran 34B. Wajahnya bersih, putih, dengan satu dua jerawat yang menempel di pipinya. Cukup menarik lah. Dia memakai kacamata, karena matanya sudah minus.
Dulu, 3 tahun yang lalu, Mira pernah menikah. Tapi, perkawinannya cuma berlangsung 1 bulan. Mereka bercerai.

Mira yang tadi duduk di sofa yang berseberangan denganku, perlahan beranjak mendekat. Lalu dengan santainya duduk di sampingku.
"Mulai nih..." fikirku.

Sebelum Mira berkata apa-apa, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Aku melihat ke sekeliling, untuk memastikan tidak ada orang yang berada di depan rumah itu.
Aman pikirku, tak ada seorang pun. Jadi aku bisa leluasa melaksanakan hasratku dan hasratnya. Saat aku berbalik menuju tempat dudukku, dari jauh aku sudah melihat senyumannya yg merangsang birahiku. Sepertinya dia memang sengaja menarik perhatianku.

Setelah duduk, tangan Mira langsung mengulurkan tangannya, akan memelukku. Aku tidak menolak, toh aku juga mau. Dengan pelan kutundukkan kepalaku mencium bibir Mira. Mirahpun menjemput dengan penuh gairah. Kami saling bermain lidah cukup lama, sampai kami kesulitan bernafas. Kedua bibir kami berpagut sangat erat. Desahan Mira membuatku semakin hot menciumnya. Aku mulai menggerakkan tanganku menuju ke pantatnya, kuraba dengan lembut, dan dengan gemas kuremas pantatnya. Kemudian aku mencoba untuk menggapai bagian rahasianya melalui celana panjangnya, yang reseletingnya sudah aku turunkan. Kugosok-gosok dengan jariku sampai dia mengerang kenikmatan. Aku

panik kalau erangannya terdengar ke luar. Setelah kuberi tahu dia mengerti dan mengecup bibirku sekali lagi. Usapanku membuat cairan dibagian sensitifnya itu membasahi celananya. Karena dia memakai celana bahan, maka cairannya juga membasahi tanganku.
"sssshhhhtthttt... gilaaaaaa, enak banget. Ehmmmm...." Desah Mira.

Aku melepaskan ciumanku dan berpindah menciumi lehernya yg putih mulus. Lehernya yg harum membuatku makin gencar menciumi lehernya. Mata Mira terlihat mendelik dan menengadahkan mukanya ke atas merasakan kenikmatan. Tangannnya mulai berani unttk meremas dan menggosok pelan senjataku yg mulai mengeras. Enak sekali pijitannya, membuatnya semakin berdenyut-denyut....

Dua Jam kemudian.
Tubuhku terlempar di ranjang Mira. Pergulatan tadi cukup memakan energiku. Apalagi Mira benar-benar seperti kuda liar saat bergumul denganku.
Kulihat Mira di sampingku tertidur pulas. Tersungging senyum di sudut bibirnya. Dia puas, setelah tiga kali orgasme.
Aku beranjak, mengambil pakaianku yang berserakan dan merapikan penampilanku.
Setelah menghabiskan minumanku yang masih tersisa di meja tamu, dengan motor bututku aku pulang tanpa pamit dengan Mira yang masih tertidur...

Kisah ini terjadi delapan bulan yang lalu. Ingin berbagi pengalaman? kirim ke imel saya... Saya tunggu..
Aku menghampiri Lala dan menarik tubuhnya, kucium bibirnya, kulumat. Dia terperanjat dan hampir saja menampar mukaku, tapi niatannya itu urung dan dia hanya tersenyum simpul. Dengan raut muka yang penuh tanya dia menatapku, "Kenapa?"
"Aku menciummu karena aku mau menciummu, kau keberatan?"
"Tidak!" raut muka yang merahnya memudar mengatakan itu. "Aku hanya kaget dan senang", meluncur itu dari bibirnya yang tebal sensual.
"Adi, kupikir kau mau menciumku bukan hanya karena kamu mau menciumku, tapi adakah hal lain dibalik semua itu?"
"Ada, aku ingin kau jadi pacarku." Memerah lagi wajahnya dan ia kelihatan senang sekali.
Sejak saat itu hampir setiap malam minggu aku mendatanginya untuk bercumbu dan bercerita tentang apa saja, pekerjaan, percintaan, atau seks dan setiap kalinya kami bercumbu kami selalu melakukan hal-hal yang aku senangi, merayunya, merabanya, memangkunya, bahkan memasukkan tangannya ke dalam celanaku.
Aku senang ketika aku mencium telinganya yang bersih, meremas payudaranya yang besar dan kencang, merasakan kehangatan tubuhnya yang tak begitu tinggi namun mempunyai anggota badan yang mampu membuat semua pria melirikkan mata dan berdecak kagum. Aku suka mendengar lirihannya saat kutelusuri kemaluannya yang lembab dan bulu-bulu pemanisnya yang lembut dan memberikan imajinasi yang membuat aku payah. Dia suka sekali ketika aku memangkunya dan dia menaikkan bajunya yang kemudian tersembul payudara yang putih jernih dengan puting yang masih merah senja, dan aku mengulumnya, menyedotnya dalam-dalam, dan dia mulai menggoyangkan pinggulnya naik turun sehingga antara penis dan kemaluannya yang masih tertutup celana terjadi gesekan yang cukup membuat aku bertambah semangat menyedot puting susunya.
Akhir Agustus 1994
Ayah mengajakku pergi camping ke Cikole - Lembang sore itu. Aku mau saja, walaupun sore itu aku baru saja kembali dari pekerjaanku. Jelek-jelek begini aku bekerja pada sebuah perusahaan yang cukup besar dan gajiku mencukupi kebutuhanku selama satu bulan.
Aku pergi ke tempat camping bersama ayah dan seorang sahabat sejatiku. Di tempat camping aku berjumpa dengan dua orang gadis yang masih belia, dan kedengarannya dia masih duduk dibangku SMEA kelas dua. Aku dan sahabatku berkenalan dengan mereka, singkat kata kami mulai bercengkrama satu sama lain. Pertemuan yang singkat. Memang aku baru mengenalnya beberapa jam yang lalu, tapi dari semua yang diceritakannya tingkah lakunya, dan tutur sapanya padaku seolah dia memberikan apa yang sangat aku butuhkan, yaitu cinta dan nafsu.
Malam itu udara Cikole cukup dingin, membuat aku dan dia berpelukan untuk menghangatkan diri masing-masing, tapi rupanya "setan" berkata lain. Lama-lama aku menjadi tergoda untuk menciumnya, meraba bagian yang sensitive, dan mulai dengan sentuhan-sentuhan kecil di daerah yang katanya belum pernah dijamah sebelumnya oleh orang lain. Aku dan dia terlena dalam pelukan, sampai-sampai kami berpelukan dalam keadaan terlentang, aku diatas, dan dia dibawah, Oh hangatnya.
"Irda" begitulah namanya, "keberatan kalau aku mencintaimu?" Kata-kata itu meluncur saja dari mulutku tanpa kusadari sebelumnya. Dia tidak menjawab, sepertinya ia perlu cukup waktu untuk memikirkan hal tersebut. Tak apalah, toh umpan sudah kulempar, tinggal aku menunggu apakah dia mau makan umpanku.
Awal September 1994
Kejadian di Cikole itu berbuntut panjang yang akhirnya membawa aku selalu ingin bertemu dengan Amry. Lalu bagaimana dengan Lala? Ah aku hampir lupa dengan pacarku yang satu itu. Aku tidak akan melupakan semua yang telah terjadi dengannya, tapi kejadian di tempat kerjanya cukup membuat aku kecewa. Sore itu aku mampir ke tempat kerja Lala, niatanku menjemputnya sambil jalan-jalan sore, tapi ketika aku masuk ke tempat kerjanya aku melihat dia sedang mengelus-elus pipi seorang pria teman kerjanya. Aku sendiri heran Kenapa aku tidak marah! Aku malah mencuekkannya. Kusapa dia dan dia terbelalak. Ingin sekali dia menjelaskan perbuatannya tapi sayangnya perbuatannya itu cukup membuat alasan bagiku untuk menyudahi hubungan kami.
Kali ini setiap malam minggu aku tidak lagi bertemu dengan Lala tapi aku punya gebetan baru, Irda yang bekulit kuning langsat, berambut panjang dan bertubuh ideal pokoknya Ok deh.
Tidak seperti hubunganku dengan Lala, dia gadis yang agak pendiam dan libidonya jauh di bawah Lala yang selalu bergairah. Hubungan intim kami hanya sebatas ciuman saja, tidak lebih, dan itu kurang aku sukai. Tapi aku menghormatinya karena dia mungkin masih belia dan dia masih belajar dalam hal ini dia masih anak sekolah.
Irda tak dapat menahan isakannya ketika aku memberitahu tentang mutasi pekerjaanku dari Ciganjur Ke Kotabumi yang jaraknya lumayan agak jauh. Tapi "live must go on". Bagaimanapun aku harus tetap menjalankan semuanya dan itu tidak merubah yang sudah terjadi. Kucium bibirnya untuk meredakan isakannya. Aku berupaya membuat hatinya senang, tapi dia berkata lain. Dibalasnya ciumanku, dilumat, dikulum, dan memeluk tubuhku erat-erat seolah tak ingin berpisah jauh.
Kami saling berpelukan lama sekali, sampai-sampai kami bergulingan di lantai. Hasrat kamipun mulai menggebu. Irda yang menurutku pendiam ternyata pada waktu itu libidonya meningkat. Dia membuka pakaianku dan aku hanya memakai celana dalamku saja. Aku tak mengerti apa kemauannya, tapi kuikuti saja sampai dimana dia akan melakukannya. Ternyata dia membuka pakaiannya juga dan hampir telanjang bulat. Dia mengulum meremas putting susuku, dan menjilatinya. Tak kuasa lagi akupun langsung merangkulnya menciumnya dan membuka pakaian dalamnya sehingga ia dalam keadaan tubuh tanpa selembar benangpun. Dia sepertinya sudah rela memberikan tubuh dan jiwanya kepadaku. Kuremas susunya, kupuntir putingnya dan kusedot-sedot dengan mulutku.
"Ahh Adi teruskan sayang jangan berhenti, aku sayang padamu. oh." Irda merintih kenikmatan dan itu membuat aku semakin bergairah. Tangannya mulai menggerayangi alat vitalku, dan tangankupun mulai meraba bagian yang berjumput kecil di bagian Tengah di antara kedua pahanya. Terasa agak lembab, namun memberikan kesan yang membuat otakku semakin panas. Kemudian. Semuanya terhenti tatkala berkumandang adzan maghrib, dan kamipun segera mengucap nama Tuhan kami, dan besyukur semuanya tidak terjadi.
Di tempat kerjaku yang baru.
Semula aku ragu apakah aku bisa berkembang di tempat kerjaku yang baru, sebab rasa pesimis dalam hati membuat sejuta pertanyaan. Tapi semua itu bisa kulalui, aku membuat suasana yang nyaman untuk diriku sendiri di sana. Tak banyak yang bisa kuceritakan, hanya pekerjaan yang terkadang agak membosankan. kadang membuat senang dan terkadang menantang.
Kantor baruku itu terletak pada ujung suatu perumahan yang agak besar dengan dibatasi dan dikelilingi oleh perkampungan, kebun dan sawah. Agak ramai memang dan aku mulai menikmati keramaian di sekelilingku. Aku tidak mempunyai teman sebaya, yang aku dapatkan hanya orang-orang yang usianya rata-rata jauh di atasku. Hal itulah yang membuat aku terkadang bosan akan suasana ini, pikirku harus mendapatkan teman yang sebaya yang bisa diajak berbicara, diskusi dll.
Sampai pada suatu hari, aku mengisi kebosananku dengan "berbicara melalui pesawat radio 2 meteran" atau lebih populernya ngebrik. Singkat kata aku kenalan dengan seorang gadis di udara dan aku mengajaknya "kopi darat".
"Lusi nama aslimu?" aku bertanya.
"Ya, Lusia Anggiwening lengkapnya," dia menjawab, "nama aslimu siapa?" dia balik bertanya.
"Adi, Adi Layung Gilar, kau boleh memanggilku Adi atau Gilar apa sajalah, tapi jangan Layung, aku tidak suka dipanggil dengan nama itu."
"Kenapa?"
"Kedengarannya seperti jaman Majapahit, kataku."
Dia tersenyum dan menyibakkan rambut ikal sebahunya kebelakang, dan terlihat barisan gigi yang putih, bibir yang sensual. Pendeknya raut wajah yang agak melankolis. Aku menatapnya dalam-dalam dan dia agak tersipu.
"Mau tambahkan kopinya lagi, atau kamu mau yang lain?" pertanyaannya padaku membuat tatapanku memudar.
"Kalau boleh aku minta yang lain deh."
"Apa itu?" tanyanya.
"Besok ajak aku berkeliling kota ini. Aku ingin lebih jauh mengenal kota baruku ini. Itu juga kalau kamu tidak keberatan," pintaku.
"Kamu mau pergi ke tempat seperti apa?" Dia bertanya lagi sebelum sempat memjawab pertanyaanku tadi.
"Misalnya tempat yang ramai seperti mall, atau ke tempat yang sepi seperti pegunungan atau terserah kamu saja deh yang jadi tuan rumah," jawabku.
"Baiklah, aku akan membawamu pergi berkeliling kota ini, asal syaratnya terserah aku, dan kamu jemput aku besok pagi, setuju?"
"Setuju."
Aku melewati hari itu dengannya, berdua, berkeliling kota, makan, jajan, jalan kaki, tertawa, bercanda, sampai tak terasa hari sudah menjelang sore.
"Pulang yuk." pintanya, "sudah sore nih. Aku tidak mau terlambat pulang."
"Oke non kita pulang, tapi suatu hari nanti aku ingin kita pergi jalan-jalan lagi. Kamu mau kan?"
"Mau saja, tapi kalau nanti kamu yang ajak aku, yah."
Aku agak kecewa tentang teman baruku itu, halnya aku ingin berteman dengan seseorang yang mempunyai gender yang sama seperti aku, tapi malahan dapat seorang gadis. Aku takut aku lupa dengan pacarku, "Irda".
Sejak itu hampir setiap malam aku bercengkrama dengan Lusi melalui pesawat radio HT, dan kami membicarakan hal-hal yang kami senangi.
Tiga bulan berlalu …
Aku pulang ke Ciganjur 2 kali setiap bulannya dan tak kulewatkan aku menemui pacarku Irda, dan sepertinya dia mulai terbiasa dengan keadaan ini. Rindu terlepaskan setiap dua minggu sekali kami pergunakan dengan sebaik-baiknya, bercumbu, bercinta. Tapi sejak kejadian 3 bulan lalu kami tidak terlalu jauh melangkah dalam hubungan intim, hanya sampai pada saling memegang alat vital, mengocok penisku, menguntil klitorisnya, sampai kami orgasme dengan tidak berhubungan suami istri, dan sampai detik itu aku juga tidak berani memasukkan benda apapun ke dalam vaginanya.
"Adi, aku kangen berat," suaranya lirih berbisik di telingaku.
"Aku juga, bagaimana kabarmu minggu ini, baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja, tapi kangen ini selalu saja menggangu konsentrasiku mengikuti pelajaran sekolah. Aku terlanjur sayang sama kamu."
Aku hanya tertawa mendengar penjelasannya. Kupeluk dia dan kucium keningnya. Dia masih terlalu polos. Malam itu kami lewati dengan kerinduan masing-masing yang ada dalam hati dengan ngobrol, ciuman, pelukan, tapi tidak untuk yang satu itu.
"Ir, besok kita pergi yuk!" aku mulai mengalihkan pembicaraan.
"Kemana?" tanyanya.
"Beberapa temanku mengajakku pergi ke Danau, katanya sih kita harus membawa pasangan kita masing-masing, semacam kencan ganda, atau seperti itulah."
"Berapa orang yang ikut?" tanyanya lagi.
"Kira-kira tiga sampai empat orang, aku kurang pasti tuh."
Irda terdiam sejenak seperti menimbang-nimbang ajakanku.
"Pulangnya malam enggak?" bertanya lagi dia.
"Sampai jam tiga sore deh. Aku janji, nanti aku yang bilang sama ortumu.
"Gimana, mau kan?"
"Baiklah, kau jemput aku besok pagi, tapi sekarang kau bilang dulu sama mama dan papaku."
Danau itu...
Kami pergi ke danau enam orang atau tiga pasang, yang dua pasang adalah sobatku yang membawa pacarnya masing-masing. Acara di sana tidak lain halnya seperti di tempat lain, kami berperahu, makan, bercengkrama, ngobrol, berlari-lari. Pendeknya kami semua menikmati acara hari itu.
Sampai pada tengah hari, hanya aku dan Irda yang tersisa duduk pada tikar tempat kami ngobrol dan makan tadi.
"Ir, pada ke mana mereka?" Tanyaku.
"Engga tau tuh, tadi mereka ada di sekitar sini tapi sekarang tidak kelihatan sama sekali."
"Sepertinya mereka mencari tempat Khusus buat berdua-duaan," kataku.
"Iya kali," Irda mendukung.
"Yah, jadi tinggal kita berdua yang jagain tikar," aku bersungut. Tapi kala itu cuma kami berdua, duduk di tepi danau saling tidak bicara, saling berpelukan, mencium keningnya, bibirnya. Rasa sayang yang ada dalam hatiku bertambah ketika kemanjaannya kepadaku bertambah pula.
"Adi, kamu sayang padaku kan?" pertanyaan Irda seolah memecah keheningan sekitar danau.
"Yah, aku sayang padamu." Tepi danau yang Indah itu menjadi saksi bisu, menyaksikan rasa sayang yang kami tumpahkan masing-masing. Dalam benakku kuyakinkan bahwa aku akan menunggunya dan akan kujadikan dia "Istriku", karena begitu sayang aku kepadanya.
Pukul dua siang, kami pulang. Setelah aku mengantar Irda sampai depan rumahnya, Irda sempatnya membisikkan pertanyaan lagi.
"Adi kamu betul-betul menyayangi aku?" Aku mengangguk memastikannya.
Hari-hari selanjutnya kami yakin akan cinta kami. Sampai pada suatu pagi di awal bulan April 1995. Awal April 1995.
Aku agak kecewa dengan Lusi yang pindah dari rumah bibiknya ke rumah orang tuanya. Yah, selama ini dia tinggal bersama bibinya yang rumahnya tidak terlalu jauh dari kantorku. Seharian aku mencarinya lewat radio, tapi hasilnya nihil.
Sampai pada suatu pagi, ketika aku sedang mencuci motor di pelataran parkir depan kantorku. Aku memang tinggal dekat sekali dengan kantor. Perusahaanku menyediakan sebuah mess bagi karyawan yang tinggalnya jauh dari tempat di mana dia tinggal sesungguhnya. Pandanganku tertumpu pada seorang gadis yang sedang berjalan melewati depan kantor, dan dia melirikkan matanya seolah dia ingin tahu apa yang sedang aku kerjakan. Wuih... matanya, wajahnya cantik nian gadis ini. Baru kali ini aku melihat gadis yang cantik, dengan kepolosan wajahnya yang lebih polos dari Irda pacarku, tapi lebih cantik. Wajahnya bulat telur, matanya besar dan Indah dengan bulu mata yang lentik, hidungnya kecil dan mancung, bibirnya tipis kecil dan seksi, rambut sebahu hitam mengkilat, kulit putih dengan potongan tubuh ideal, 165 tinggi dan 45 kg perkiraanku. Seperti bidadari. Aku melayangkan senyuman padanya, tapi senyumanku tidak dibalasnya. Dia malah melengos dan tidak mengacuhkanku. Aku tertantang dengan kesombongannya. Serentak aku kasak kusuk mencari tahu siapa gadis itu. Pertama aku bertanya pada satpam kantorku, dia tidak tahu. Pada tetanggaku!
"Yah, anak itu keponakannya ibu Komala tuh. Rumahnya tepat di belakang messmu," kata tetangga yang kukenal sejak tiga bulan lalu.
"Masa sih mas? Kok aku yang hampir enam bulan tinggal di sini baru melihatnya ?"
"Dia kan tidak tinggal di sini, hanya aku tahu kalau dia suka mampir ke rumah bu Komala itu. Kenapa? Kamu tertarik sama dia? Dia memang cantik kok," menggodaku dia.
"Ah, tidak mas. Hanya saja sepertinya dia itu sombong sekali. Masa aku tersenyum dia cuma membalas dengan lirikannya dan `ngelengos' gitu aja, tanpa mau memandangku sebentar saja." Sebetulnya yang ada dalam pikiranku dan hatiku hanyalah Irda semata. Dia pujaanku, dia kekasihku yang baik, yang selama ini tidak pernah menuntut banyak dari diriku. Bahkan kalau sudah waktunya `apel' dan aku tidak bisa hadir karena kepentingan keluargaku dia tidak marah. Dia mengerti keadaanku. Sesungguhnya gadis seperti ini yang ku inginkan menjadi istriku. Perempuan yang mengerti, tidak pencemburu, baik hati, berani dan jujur. Irda, cuma kamu yang memenuhi semuanya itu.Tapi lirikan gadis di pagi dua hari yang lalu itu selalu menggangu perasaanku. Kenapa yah? Dia selalu hadir dalam benakku, apa karena dia lebih cantik? Ah, segera saja kusingkirkan pikiran-pikiran yang dapat membuat aku lupa pada Irda.
Bukan waktu yang sebentar untuk mengetahui namanya, sekolahnya, rumahnya.
Ah, anak sekolah rupanya. Dia masih duduk di bangku SLTP kelas 3. He..he.., tapi dari penampilannya itu dia seperti gadis yang sudah beranjak dewasa. Apakah memang umurnya sudah dewasa tapi dia tidak naik kelas karena otaknya bodoh? Ihh amit-amit dah, tapi enggaklah. Dari tingkah lakunya dia tidak menampakkan orang yang bodoh. Benar sekali memang dia masih duduk di bangku SLTP kelas 3 dan umurnya kira-kira baru 15 tahun. Amel namanya. Aku cukup senang dengan hanya mengetahui namanya saja, dan sempat terlintasi dalam benakku bagaimana caranya agar aku bisa berkenalan. Tapi memang dia itu gadis yang angkuh. Sore itu aku melihatnya sedang bermain volley di lapangan belakang kantorku. Aku sengaja mengawasinya agak jauh dan berdiri di depan gang rumahnya. Pikiranku aku bisa mencegatnya kalu dia pulang. Benar, dia harus melewati aku kalau dia mau pulang, seraya mengawasi Amel yang berjalan ke arahku. Aku tersenyum ketika dia lewat di depan batang hidungku, tapi di luar dugaan dia sama sekali tidak menoleh malah sepertinya dia menganggapku tidak ada di situ. Dengan tatapan yang lurus ke depan dia berjalan di depanku dengan seenaknya. Awas kamu Amel.
Di rumah Irda...
Tangannya menjambak rambutku, ketika kukulum puting payudaranya, kuisap-isap, kupuntir dengan jariku dan sesekali kujilat.
"Adi, teruskan sayang. Aku menikmatinya." Irda mendesah dan sesekali melenguh kenikmatan.
Tanpa satu patah katapun aku melanjutkan aksiku menggerayangi tubuh Irda yang sudah setengah telanjang. Dengan cepat aku membuka baju sebelah atas dan mencopot bra yang sudah sejak tadi terkulai ke atas. Dan tanpa diminta diapun membuka semua pakaianku hingga kami berdua dalam keadaan telanjang penuh.
Kami berdua berpelukan, bergulingan, berciuman, yang tanpa disadari hampir setengah jam kami melakukan itu. Entah yang keberapa kalinya aku mencium dan menjilati daging kecil dengan jumputan bulu di antara kedua paha dibawah pusarnya. Harum yang khas membuat hasratku semakin menggebu. Apalagi saat itu dia mengelinjang kegelian bercampur dengan kenikmatan yang dirasakannya. Nafsu semakin memuncak dan pada akhirnya aku yang masih dalam keadaan terkendali memutuskan untuk melakukan penetrasi vaginanya dengan penisku.
Terbersit wajah takut penuh pertanyaan pada Irda, tapi aku meyakinkannya dengan anggukanku. Dia membalas dan menganggukan kepalanya.Tak kubiarkan terlalu lama, langsung saja si kepala baja yang kerasnya sudah seperti kayu kumasukkan dalam mulut vaginanya. Irda merintih dan aku membiarkannya dan terus mendesak penisku untuk masuk dengan pasti. Irda menjerit lirih dan mendorong tubuhku. Tampak dia seperti kesakitan. Dari vaginanya nampak cairan berwarna merah muda yang encer. Kuusapkan telunjukku pada cairan itu.
"Kamu masih perawan Irda, apakah kamu tidak akan menyesalinya?" Irda terdiam. Sejenak kami terdiam dalam suasana yang tidak mengenakkan.
"Adi, tolong ulangi sekali lagi, aku ingin mencobanya."
"Kamu..."
"Sudahlah, ayo kita lakukan sekali lagi."
"Baiklah."
Suasana tadi membuat gairahku menurun dan si Kepala baja kelihatan sudah tidak semangat lagi untuk melakukan peperangan, dan Irda mengerti akan keadaan itu. Lalu dia mulai membelai si Kepala baja, menciuminya, mengulumnya. Keluar, masuk, keluar, masuk melalui mulutnya, dan secara otomatis kepala baja yang cukup besarnya mengeras kembali.
"Ayo Adi `dia' sudah siap" Tak kutunggu lagi kumasukkan si kepala baja ke dalam mulut vagina yang sudah semenjak tadi lembab. Rupaya ketika sedang mengulum penis, Irda merasakan rangsangannya melonjak. Tak susah seperti tadi, dan karena lembab si kepala baja tidak menemui kesulitan untuk penetrasi. Dan Irdapun sepertinya tidak merasa kesakitan, malahan kulihat wajahnya yang tampak memohon untuk mempercepat masuknya si Kepala baja. Sleep...., Irda tampak melenguh. Mungkin liang vaginanya yang tadinya sepet kini kemasukan sebuah benda yang cukup besar dan memberi kenikmatan yang luar biasa. Kutekan pinggulku, kuangkat, tekan, angkat sampai beberapa kali lamanya, sampai menimbulkan suara yang indah didengar. Dan untuk sekali lagi kami melakukan senggama dengan semangat '45 dan akhirnya kami berdua puas sekali.
Setelah kejadian itu hampir 2 kali dalam satu bulan, kami melakukan senggama, se-sempat-sempatnya; di rumah Irda, di mobil atau di mana saja asal terlampiaskan hasrat kami berdua.
Tiga Bulan Berlalu.
Pagi cerah diiringi lagu Chrisye yang mengalun dari speaker active pada komputerku membuat suasana hati bersemangat untuk melakukan aktivitas keseharianku, sampai pada akhirnya aku merasa ada yang tak beres dengan perutku. Laparrr oy. Aku beranjak menuju warung (baca=warung, tapi agak besar dan lengkap) dengan niat membeli sebungkus "Indomie".
"Mbak beli Indomienya dan telur satu butir!" Aku tidak mengira bahwa yang biasanya meladeni warung itu adalah wanita setengah baya, tapi kini warung tersebut diladeni oleh seorang gadis yang belum mandi dan cengar-cengir melihat ke arahku.
"Beli apa?" sapanya.
"E..e beli Indomie mbak," kataku hampir tergagap. Meskipun belum mandi tapi garis wajahnya dan garis tubuhnya membersitkan kecantikan dan keindahan yang jarang sekali dimiliki oleh gadis lain. Aku memujanya. Entah karena sifat playboyku atau rasa penasaran yang selalu dan selalu menggoda setiap kali melihat gadis yang cantik. Tapi ini lain, dia lebih cantik dari gadis-gadis yang telah aku kenal sebelumnya. Bukan Adi kalau tidak penasaran mendapatkan apa saja dari Gadis itu.
"Eh rasanya saya baru melihat kamu di sini," Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku tanpa aku sadari sebelumnya.
"Iya, aku sedang liburan. Aku berasal dari Bundang, kamu orang sini asli yah?" tanyanya.
"Bukan, aku asli orang Bundang juga. Di mana rumahmu di Bundang?"
"Di Perumahan Bundang Riung Permai. Kamu di mana."
"Aku di Jalan Rawajali," kataku. Dari pembicaraan yang berujung sebuah perkenalan kecil, namanya Viera, akhirnya aku mendapatkan apa yang aku incar dari dia, apalagi kalau bukan nomor telepon, alamat rumah.
Selang beberapa hari yang kesetiap harinya aku selalu saja membuat alasan untuk membeli, permenlah, rokok, Indomie, pokoknya alasan yang bisa bikin aku ngobrol sama dia. Aku mengajaknya nonton bioskop, dan dia mau. Waktu itu aku menonton film yang agak panjang jalan ceritanya. Kalau engga salah filem berjudul "Brave heart" sebuah film kolosal yang penuh dengan drama. Awalnya kami hanya berbincang-bincang, tapi selanjutnya kami... hanya berciuman, (hanya) dan saat itulah aku merasa dunia ini mau pecah, ketika aku menciumnya dan dia membalas ciumanku. Bibir kami berdua benar-benar terpagut dan aku merasakan untuk pertama kalinya wanita mempunyai ciuman yang dasyat, hebat. Entah gaya apa yang dia pakai, tapi cukup membuat aku kerepotan membalasnya. Wanita hebat pikirku.
Dari hal tersebut di atas hubungan kami berkelanjutan sampai pada suatu hari kami menetapkan hari jadian kami berpacaran, tapi ada syarat yang dia ajukan, yaitu dia tidak mau terikat apapun dengan segala urusan yang berbau cemburu, ketidak bolehan dll yang pasalnya tidak mau repot dengan aturan undang-undang pacaran. Aku oke saja sebatas aku dan dia saling percaya.
Tambah satu koleksiku.
Seperti halnya anak kecil yang mempunyai mainan baru, aku hampir lupa bahwa aku tidak saja mempunyai pacar 1 tapi kini 2, dan aku harus bisa mengatur jadwal untuk Mengunjungi sang pacarku itu masing-masing.
Hubunganku dengan Viera biasa saja, tak ada yang spesial, hanya saja aku bangga bahwa aku bisa bergaul dengan gadis yang cantiknya seperti... tepatnya foto model yang biasa aku temukan di majalah remaja. Apa karena ia anak seorang jendral aku tidak pernah berani melakukan apa saja yang sifatnya mengarah ke hubungan intim, sejauh itu kami hanya berciuman, berpelukan. Yah, karena kebutuhan sexualku aku curahkan semuanya ke Irda. Aku masih perlu waktu.
September 1995.
Amel! Dia 'kan yang berjalan itu? aku bergumam sendirian. Yah pasti dia itu si Amel. Kemana saja dia selama ini, aku hampir lupa bahwa aku punya janji sama dia, janji bukan Adi kalau aku tidak bisa kenalan dengannya.
Pucuk di cinta ulam tiba, atau hanya suatu kebetulan, pagi hari aku dapat telpon, ternyata dari Amel.
"Ini mas Adi?" sahut suara di seberang telpon di sana.
"Iya ini Adi, ini siapa yah, dan ada perlu apa?"
"Ini Amel, ada perlu, sedikit minta tolong boleh kan?" Tanyanya dengan suara manja.
"Boleh aja tapi jangan minta duit, aku engga punya," aku berseloroh.
"Bukan, bukan itu yang dimaksud. Amel mau minta mas Adi nganter Amel bersama teman-teman ke tempat di mana Amel mau caving (baca=kegiatan mengarungi gua)."
"Oh bisa, kapan ya?" tanyaku.
"Besok, hari Sabtu jam 6 pagi Amel tunggu di depan Sekolah Amel. Ok!" manjanya.
Wow, yes, cihui, akhirnya aku dapat yang aku tunggu selama ini, awas yah kamu! Tapi aku bingung, darimana dia tahu nomor telepon dan namaku. Usut punya usut, ternyata selama ini dia adalah keponakan dari salah satu penghuni rumah di belakang kantorku, yang ternyata tantenya (janda=red) mempunyai hubungan khusus dengan salah satu bos-ku (bosku ada 4). Dia tahu tentang aku dari bosku itu.
Cerita mengantar Amel ke kegiatannya tidak menarik dan rasanya kurang rame bila aku menceritakannya. Karena tidak seperti yang aku harapkan sebelumnya, dia masih cuek. Tapi yang seru, ketika aku mengantarnya pulang ke rumah tantenya itu, didapati sang tante yang kelihatannya kurang enak badan. Sang tante dengan wajah yang kuyu itu minta diantar ke dokter yang letaknya tidak berjauhan dengan rumah Amel sebenarnya.
Sambil menunggu giliran diperiksa dokter aku diajak Amel ke rumah dia yang sebenarnya adalah rumah neneknya. Tapi selama ini, dari kecil dia diurus oleh neneknya yang kelihatan baik tapi wajahnya memancarkan sifat yang disiplin. Dari sana aku tahu banyak tentang dirinya, tapi tidak sampai pada latar belakangnya, dan itu tak ingin aku mengetahuinya, cukup sampai aku mulai kenal dan seterusnya.
Aku pulang dengan tantenya, karena Amel tidak harus menginap di rumah tantenya, maka seharusnyalah aku yang mengantar tantenya itu, dan itu beralasan karena rumah kami berdekatan.
Hari demi hari, minggu ke minggu, sampai dua bulan berlalu, Amel tidak mengetahui aku sudah punya pacar 2 orang. Dia hanya tahu bahwa setiap akhir Minggu aku harus pulang menjenguk orang tuaku. Dan selama itu kami sering bertemu, bercerita, bercengkrama, nonton, tanpa ada hal-hal negatif yang muncul dari pikiranku.
Kenapa yah aku ini? biasanya ada ikan langsung sambar tapi kali ini lain rasanya. Mungkin karena dia anak Sekolah dan aku harus menghormatinya dan tidak ingin merusak keluguan dari anak Sekolah yang mulai beranjak dewasa. (jadi agak dewasa nih). Sampai pada akhirnya dia mengungkapkan isi hatinya kepadaku bahwa dia selama dua bulan ini kagum kepada diriku, karena aku bisa membuat dirinya bahagia, keluar dari masalah keluarganya, dan pendeknya dia mulai mencintaiku.
29 Desember 1995, aku jadian dengannya. Amel gadis lugu dengan sifat yang sedikit egois, arogan dan cantik.
"Uhh ahh... teruskan Adi, jangan berhenti di situ."
Lala dengan mata terpejam-pejam dan tangan yang mengapai-gapai tak karuan, sehingga sedikitnya kukunya menggores pipiku. Ku masukkan lagi si kepala bajaku ke dalam vaginanya yang sudah penuh dengan cairan kewanitaannya sehingga menimbulkan suara yang ribut tapi indah.
Yah, aku dan Lala sedang bersenggama di dalam mobil temanku. Ceritanya aku pulang ke Bundang untuk menyambangi orang tuaku, dan ketika Lala mengajakku pergi keluar lewat telepon aku tidak menolaknya. Aku dan dia berteman dan aku sudah lupa tentang hubungan kami dulu, tapi kalau diajak keluar sekedar makan dan jajan aku tidak keberatan. Tapi yang dia minta ternyata lain, sesudah makan dan jajan dia mengajakku berhubungan intim. Tentu saja kami tidak mempunyai tempat selain dalam mobil, dan mobil itu aku pinjam dari salah seorang temanku.
"Adi oh.... Ufh nikmat sekali sayang, teruskan, teruskan."
Aku mengocok alat vitalku dengan hitungan rumus yang aku dapatkan dari salah satu buku sex, yaitu 1 s/d 9 secara pelan dan yang kesepuluh keras, lalu 1 s/d 8 pelan dan 9 s/d 10 keras begitu seterusnya, dan cukup membuat Lala membisikkan kata teruuuus.. karena perlakuanku.
Sampailah gelegak darah yang kurasakan pada pangkal leherku dan terus menjalar sampai keubun-ubun, dan bersamaan dengan itu rasanya ujung penisku mulai didesaki desakan hebat dari arah dalam. Pada kondisi tersebut kulihat Lala yang masih memejamkan mata dan sesekali merintih.
"Kamu sudah sampai belum?" tanyaku.
"Sedikit lagi sayang, sudah hampir," jawabnya.
"Aku sudah tak kuat lagi nih," Engahku.
Tanpa basa basi dia bangkit dan mengeluarkan penisku dari vaginanya.
"Sebentar sayang, jangan sekarang. Kita sama-sama menuju puncaknya yah." Tanpa aku kira sebelumnya dia menggemgam ujung penisku dan menekannya hingga aku merasa kesakitan.
"Ehh.. mau diapain itu," sergahku.
"Tenang, aku mau bikin kamu kuat 1 atau 2 menit lagi."
"Oh begitu", ternyata dia dapatkan sedikit ilmunya itu dari membaca buku. Setelah itu dalam posisi duduk dia mengangkangi aku dari atas dan tubuhnya menghadapku. Dia jongkok dan memasukkan penisku ke dalam vaginanya. Naik, turun, naik, turun tubuhnya, maju dan mundur dengan pagutan bibir yang tak henti-hentinya mengeluarkan bisikan uff heh dsb. Benar saja hal yang dilakukannya tadi membuat penisku yang tadinya terasa melesak hebat kini tidak terasa lagi. Aku jadi semangat untuk membuat kita menuju klimaks. Goyangan pinggulnya membuat mataku terpejam-pejam. Pagutan lengan kita berdua rasanya tidak bisa dilepaskan. Sampai akhirnya kamipun klimaks secara bersama-sama dengan kenikmatan yang luar biasa nikmatnya. Lalu kami pulang dengan sejuta membawa berjuta kenangan yang tak akan terlupakan.